Saat kami bersiap-siap untuk menyiapkan makan malam. Tiba-tiba saja ada Kapal yang datang. Semua mata langsung tertuju pada Kapal itu. Kami kebingungan, karena seharusnya tak ada yang bisa datang ke pulau ini selama kami booking.
"Delivery Order." Tiba-tiba Tante Yura menongolkan kepalanya dari balik kaca di ruang kemudi. Wajahnya ceria sekali, kontras sekali dengan wajah si pengemudi.
"Mama. Ngapain ke sini?" Sura langsung maju begitu mengetahui ibunya datang.
"Aku tau kalian pasti kelaparan. Malam ini khusus jamuan dari Restoran Yu-ishi." Tante Yura turun dari kapal membawa satu kardus bahan makanan. Di belakangnya juga turun Ayah Sura dan abangnya. Wajah mereka terlihat pasrah. Aku nyaris tertawa melihatnya. Pasti mereka dipaksa oleh Tante Yura.
Sura segera naik ke Kapal untuk menolong membawakan bahan-bahan lain. Anggota Star One lain juga ikut. Tiba-tiba Sutradara merekam. Sepertinya dia mendapatkan ide secara tiba-tiba dari kejadian tak terduga ini.
"Harusnya anda tak perlu repot-repot, nyonya," ujar Manager Han.
"Aku sama sekali tak merasa repot. Aku hanya menyampaikan terimakasih karena sudah menjaga anakku. Kalian datang ke sini, berarti kalian tamu kami." Semua orang langsung membungkuk dan berkali-kali mengucapkan terimakasih. Sementara aku yang ingin ikut membantu langsung di tahan oleh Sura.
"Kau duduk saja di sana." Aku yang sudah setengah jalan tak mengacuhkannya dan tetap berjalan ke arah Kapal.
Sura yang berjalan dari arah Kapal langsung saja menyambar lenganku dan menyeretku. "Hya, oppa. Aku bukan karung Beras."
"Kau bandel sekali, disuruh duduk masih aja ngeyel."
"Ngapain aku duduk saja di sana?"
"Istirahat."
"Aku sudah istirahat dari tadi." Sura yang dari tadi menyeretku langsung berhenti mendadak. Nyaris saja aku terjungkal akibat ulahnya. Dia menatapku dengan sengit, aku balas menatapnya dengan sengit.
"Action." Suara menggelegar dari Sutradara Min Hae langsung mengalihkan perhatian kami. Aku menatap kesekeliling, tersadar jika ulahku dan Sura menjadi pusat perhatian mereka. Tak sedikit dari mereka yang berusaha menyembunyikan muka agar tak ketahuan jika sedang menahan tawa. Aku merasa malu sekali. Tapi Sura sama sekali tak acuh.
"Akting kalian bagus sekali. Sudah cocok memerankan peran suami istri, musuh bebuyutan tapi serumah," komentar Sutradara Min. Tawa anggota Star One langsung meledak. Kru lain yang semula berusaha menahan tawa, juga ikutan tertawa. Mukaku sudah seperti kepiting rebus.
"Mereka manis sekali kan, Sutradara," ujar Tante Yura.
"Sangat manis." Tiba-tiba Sura langsung melepas cekalannya dari lenganku dia berjalan ke arah tempat kami memasak dan aku juga berjalan berlawanan arah menuju Kapal. Semua orang tak bisa berhenti menertawakan kami. Aku sampai bersembunyi cukup lama di dalam Kapal. Aku sangat malu. Bodo amat dengan pengemudi Kapal yang bingung melihat tindakanku.
"Sampai kapan kau mau bersembunyi di situ?" Tiba-tiba saja Sura sudah berada di belakangku. Padahal aku tengah berjongkok di balik peti sembari memegang daun bawang yang sedari tadi malah aku pretelin sampai hancur.
"Hyaaa. Kaget anjir." Aku mengumpat dalam Bahasa Indonesia.
"Kau mengumpatiku?"
"Nggak, nggak. Aku nggak mengumpat kok."
"Bohong. Kau pasti mengumpatiku."
"Aish, sudahlah. Dari tadi ngajak berantem terus. Heran deh." Aku bersungut-sungut dan terus-terusan mengutili Daun Bawang. Tak peduli jika tanganku sudah bau Bawang.
"Ayo, sini makan dulu. Semua orang sudah berkumpul." Sura mengamit tanganku.
"Masaknya sudah selesai memangnya, oppa?" Aku bertanya dengan wajah polos.
"Sudah, ini sudah satu jam lebih kau ngumpet di sana."
"Cinca?" Aku kaget setengah mati. Bagaimana tidak, ngapain aku ngumpet di sini kayak anak kecil. Sura menarik lenganku menuju tempat makan malam. Semua orang langsung melihat kami terlebih Sura menautkan kedua tangan kami. Mereka tersenyum-senyum jahil. Aku yang tak menyadarinya, bersikap seolah tak terjadi apa-apa.
"Tante masak apa?" Aku mendekati Tante Yura yang terlihat masih sibuk memasak sesuatu.
"Sesuatu yang spesial dong." Dia mengerlingkan sebelah matanya padaku. Aku hanya tersenyum-senyum menanggapinya.
"Tadi kamu ngumpet dimana?"
"Ih tante mah ikut-ikutan lagi ngejekin aku." Aku bersungut-sungut kesal.
"Hihihi. Habis, kalian berdua itu lucu sekali. Kamu tahu? Baru kamu wanita pertama yang bisa membuat Sura bersikap seperti anak kecil begitu. Dia biasanya kurang pandai berekspresi. Apa-apa selalu dipendam sendiri. Tapi sama kamu, tante lihat dia berantem terus."
"Yah tante. Berantem tandanya hubungan kami tidak baik donk."
"Siapa bilang? Biasanya orang kalau berantem terus, tandanya saling cinta." Tante Yura tersenyum-senyum menggodaku. Terlebih dia memberikan isyarat padaku agar melirik Sura. Aku pun melihat Sura yang juga tengah melihat ke arahku. Astaga. Apa sekarang semua orang menjodoh-jodohkan kami? Aku hanya mengeleng-geleng kepala dengan heran.
Makan malam dimulai dengan menyenangkan. Aku berebut lauk dengan Jeno yang membuat Sura akhirnya turun tangan untuk menghentikan kami. Jeimin dan Vlo sampai perang lempar Selada. Rein akhirnya turun tangan untuk menghentikan mereka. Manager mereka berkali-kali mendesah melihat kelakuan kami. Terlebih Jun dengan iseng mengerjai Jeno yang kemudian dibalas oleh Jeno berkali-kali lipat.
"Astagah. Kalian ini benar-benar." Manager bersorak untuk menghentikan kami. Sura juga memegang tanganku agar tak usil lagi. Sutradara hanya geleng-geleng kepala. Sering menjadi sutradara untuk acara mereka, membuat dia sudah hafal dengan tingkah laku anggota Star One.
"Hyung, kau tolong aku," rengek manager pada sutradara.
"Haha, kau biarkan saja. Ini sangat bagus lo direkam."
"Astaga, kau bukannya membantu meredakan malah sibuk mereka."
"Sudah anak-anak. Makanannya dihabiskan dulu." Akhirnya Tante Yura juga ikut turun tangan. Mungkin dia ikut pusing melihat kami atau kasihan pada manager yang kewalahan mengontrol kami.
"Hanna, nasinya dihabiskan." Sura menyendokkan satu sendok lagi nasi yang sengaja aku tinggalkan.
"Masih banyak orang di luar sana yang lebih susah untuk mendapatkan sesuap nasi. Aku yakin kau lebih tahu itu."
Aku membuka mulut dengan enggan, bukannya tak mau menghabiskan. Tapi kebanyakan tertawa membuatku ingin muntah kembali. Benar saja usai menelan satu sendok nasi yang disodorkan Sura, aku langsung berlari ke belakang tenda untuk memuntahkan isi perutku.
Sura berlari mengejarku. "Kau baik-baik saja?" Dia kemudian mengusap-usap tengkukku.
Tante Yura datang membawakan air hangat. Aku segera berkumur-kumur dan kemudian minum untuk menghangatkan perutku. Tanpa di duga Sura menggendongku. Nyaris saja aku terpekik karena kaget. Dia membawaku ke dalam tenda dan membaringkan ku dengan hati. Kemudian menyelimutiku.
"Tidurlah. Semoga besok kamu lebih baikan. Tak usah kembali ke luar. Di luar semakin dingin. Nanti kamu semakin tidak enak badan." Aku menurut saja dan menutup mataku. Aku merasa Sura tak juga beranjak dari sebelahku. Dia sepertinya ingin memastikan kalau aku benar-benar tidur.
"Hanna baik-baik saja?" samar aku mendengar Tante Yura bertanya. Sepertinya dia belum mengetahui masalah yang menimpa kami.
"Dia baik-baik saja," ujar Sura. Kemudian aku sudah tidak ingat apa-apa lagi. Aku sudah sampai di alam mimpi.
Kali ini aku bermimpi indah. Bukan mimpi buruk seperti biasa. Ada Ibu didalamnya. Ibu menatapku sambil tersenyum. Aku mengejar Ibu yang kian lama kian menjauh. Kemudian aku sampai di sebuah Kebun Bunga. Ada Ibu di sana yang tengah memetik Bunga. Dia kemudian menyerahkannya padaku. Aku menerimanya.
"Hidupmu masih panjang, nak. Jangan sia-siakan masa depanmu untuk masa lalu yang tak akan bisa diubah lagi. Kau berhak untuk bahagia. Relakanlah apa yang sudah terjadi di masa lalu. Ibu akan berbahagia melihatmu bahagia. Ibu bangga mempunyaimu. Ibu bangga melihatmu sekarang. Masih ada orang lain yang tulus mencintaimu. Kamu harus mulai membuka hati. Jangan sampai kau menyesal untuk kesekian kali."
Ibu kemudian pergi meninggalkanku usai mengucapkan nasehat itu. Aku mencoba mengejar, tapi bayangan Ibu sudah menghilang. Aku terbangun saat di dalam mimpi aku tersandung dan terjatuh.
Aku melihat ke langit-langit. Mulai gelap karena tak ada lagi bayangan unggun dan juga sunyi karena tak ada lagi suara-suara. Aku merasakan ada yang menggenggam tanganku. Aku menoleh dan mendapati Sura tengah tidur berbaring di sampingku. Aku pun membalikkan tubuhku ke samping dengan hati-hati. Memandangi Sura yang terlihat damai sekali dalam tidurnya.
"Apakah ini yang Ibu maksud? Apakah aku harus mencoba membuka hati?" Aku terus memandangi Sura sampai akhirnya terlelap kembali.
Tiba-tiba saja aku merasakan ada pergerakan aneh disekitarku. Aku membuka mata dan kaget saat melihat ada sebuah pisau yang mengarah padaku. Langsung saja aku menangkap pisau itu tepat sebelum menghujam dadaku. Aku langsung maraih lengan orang yang berusaha menyakitiku. Kemudian menendang area vitalnya. Sura terbangun kaget saat mendengar keributan.
"Ada apa ini?" Tampaknya dia masih belum sadar dengan apa yang terjadi. Aku meliriknya sedikit takut orang yang dihadapanku malah balik menyerang Sura. Aku juga takut Sura melakukan tindakan yang gegabah. Karena sibuk melirik Sura, aku pun menjadi lengah. Orang itu kemudian mendorongku dengan kasar dan berlari keluar tenda. Aku langsung bangun dan mengejar. Sura yang sadar dengan apa yang terjadi langsung ikut mengejar.
"Ada apa?" Manager yang tampaknya bangun karena ingin ke toilet heran melihat kami yang berlari kemudian ikut mengejar.
"Maling," teriaknya untuk membuat keributan agar orang-orang bangun. Benar saja semua orang langsung ke luar tenda. Aku terus mengejar namun tenagaku mulai habis. Beberapa kru berlari mendahuluiku dan berhasil menangkap orang itu. Aku memperlambat gerakanku lantas kemudian berhenti. Nafasku benar-benar terasa habis.
Sura dengan sigap menopang tubuhku. Ia kemudian menggendongku kembali ke tenda. Anggota Star One juga sudah kembali. Tante Yura menatapku dengan khawatir.
"Hanna, kamu tidak apa-apa?" Aku menggeleng lemah. Kepalaku mulai terasa berdenyut terlebih tanganku perih sekali. Aku baru sadar jika tadi aku menggenggam pisau dengan tangan terbuka.
"Hanna, tanganmu," Jacop berteriak histeris. Semua orang langsung mengalihkan perhatiannya pada tanganku.
"Tunggu, aku akan menghubungi Dokter." Ayah Sura langsung menelepon seseorang. Sementara Sura dan Jun sibuk melakukan pertolongan pertama pada tanganku. Aku merasa kebas karena saking sakitnya.
Beberapa saat kemudian sebuah speadboad datang. Dokter turun diikuti oleh Kapal Polisi yang menyusul kemudian. Aku tak tahu apa-apa lagi karena Sura sudah membawaku ke bangunan yang memang sudah disediakan dari sananya. Hanya saja bangunan ini tidak memiliki dinding. Biasanya kami menggunakannya untuk memasak atau pun hanya sekedar duduk-duduk agar tak terkena Matahari secara langsung.
Dokter langsung mengeluarkan cairan Antiseptik dan menyiramkannya ke tanganku. Aku berjerngit karena perih. Sejujurnya aku sudah pernah mengalami hal seperti ini pada saat berada di Suriah dulu. Aku yang waktu itu menyelamatkan seorang anak malah ikut terkena reruntuhan bangunan yang kemudian menimpaku.
Mungkin karena Tuhan masih memberiku umur panjang, aku baik-baik saja. Hanya saja punggungku terluka parah akibat sebuah besi yang menggores punggungku. Goresan yang dalam membuat punggungku harus di jahit dan sampai sekarang menyisakan bekas luka.
Keadaanku kali ini kurang lebih sama seperti kemaren, karena aku diobati seadanya. Mungkin masih bagus di sini karena semua lebih terjamin untuk kebersihannya. Sedangkan sewaktu di pengungsian. Jangan harap kamu bermimpi untuk perawatan di ruang VIP. Bisa mendapatkan perawatan saja sudah bersyukur sekali. Semua akses memang dibatasi.
Aku merasa lebih lemah sekarang mungkin karena disebabkan kondisi fisikku yang belum sepenuhnya pulih, sementara dalam dua hari ini aku sudah mengalami hal menegangkan yang lumayan menguras tenaga sebanyak dua kali.
Jeimin memandang ngeri tanganku yang tengah dijahit. Padahal lukaku tak separah itu, ralat, tak separah luka di punggungku. Aku tertawa melihat ekspresi Jun yang nyaris menangis.
"Ya, tampangmu lucu sekali, oppa." Aku tak bisa menghentikan tawaku. Bahkan Dokter harus berkali-kali memperingatiku agar tak bergerak terus.
"Kau tak terlihat kesakitan sama sekali," ujar Dokter. "Atau kau sedang menahan tangis, makanya tertawa seperti itu." Aku mencebik kesal mendengar sindirannya.
"Oke, selesai. Aku sudah menjahit dengan rapi dan bersih. Besok saat kembali ke daratan, Hanna bisa diperiksakan kembali ke Rumah Sakit untuk memastikan kondisinya lebih lanjut. Takutnya ada yang terlewatkan, meskipun menurut pemeriksaanku semua normal."
"Terimakasih, Joon," ujar Tante Yura.
"Sama-sama bibi. Btw jadi ini calon menantu tante yang baru?" Tante Yura tersenyum penuh arti sementara aku memandangi Dokter dengan mata penuh laser.
"Wow wow, santai Hanna. Perkenalkan, aku Kim Joon Si, sepupu Sura." Dia mengulurkan tangannya yang sama sekali tak ku indahkan. Perlu dicatat aku masih kesal dengan Dokter tampan satu ini. Mengapa aku mengatakan dia tampan? Karena memang itu lah kenyataannya.
"Oppa, aku mau beristirahat. Besok ada syuting kan?" Aku mengalihkan atensiku sepenuhnya pada Sura. Tante Yura hanya tertawa melihat Joon yang kesal karena aku cueki.
"Dasar, sama saja kalian berdua. Sama-sama frozen." Aku balik menatapnya.
"Anda berbicara pada saya Pak Dokter?"
"Nggak, saya berbicara pada tembok."
"Oh ya sudah." Akupun langsung berbalik menghadap Jeno yang tengah memegang snack. Entah sejak kapan dia membuka bungkus snack-nya. Durhaka sekali ini anal, bukannya prihatin melihat keadaanku malah enak-enakan makan.
"Jeno, bagi." Dia segera mengulurkan bungkus snack yang sudah tinggal sisa tiga biji padaku. Aku yang awalnya sumringah menerimanya langsung menekuk muka saat melihat isinya.
"Fiks, aku tak akan mengajarimu meretas." Aku pun berdiri kemudian berpamitan pada Tante Yura dan berlalu masuk ke tendaku tanpa mengindahkan siapapun, termasuk Jeno yang berusaha membujukku. Sebenarnya aku penasaran pada pelaku yang hampir saja menghilangkan nyawaku itu. Tapi badanku sangat letih dan aku hanya ingin istirahat.
"Apakah Hanna baik-baik saja?" ujar Rein.
"Tidak. Dia hanya berusaha untuk terlihat baik-baik saja," ujar Sura.
"Kamu temani dia Sura!" perintah Ibunya. Sura hanya menurut dan kemudian masuk ke dalam tenda menyusul Hanna.
Ia melihat gadis itu sudah tidur. Ia pun ikut menyelusup ke sebelah gadis itu, berbaring dan membawa tubuh Hanna ke dalam dekapannya. Gadis itu sama sekali tak bereaksi, artinya dia benar-benar sudah tidur.
"Beristirahatlah sayang. Kau pasti sangat ketakutan. Aku minta maaf karena tak bisa menjagamu. Aku membiarkanmu di lukai tepat di hadapanku. Sura mengeratkan pelukannya. Berhati-hati supaya tangan gadis itu tak tersentuh.
***