Usai makan, aku kembali berbaring dan menutup mata. Sura menyelimutiku kemudian mereka meninggalkanku sendiri agar bisa beristirahat dengan nyaman. Setelah kepergian mereka, aku membuka kembali mataku. Bergerak dengan gelisah ke kanan dan ke kiri. Aku sama sekali tidak nyaman dengan keadaan ini. Aku masih penasaran dengan kelanjutan kasus tadi. Akhirnya aku membalikkan tubuhku dan tidur tengkurap. Kemudian membuka ponsel yang sedari tadi ada di kantong celanaku.
Aku melihat banyak sekali panggilan tak terjawab dari boss-ku. Apa dia juga sudah mengetahui masalah ini? Beberapa detik kemudian, ponselku kembali berbunyi. Akupun mengangkatnya.
"Ya, boss?"
"Kau baik-baik saja?"
"Tentu saja."
"Kau yakin?"
"Iya boss."
"Tapi berita mengenaimu benar-benar mengerikan." Aku bisa mendengar keketiran dalam suaranya.
"Kau mengetahuinya?"
"Tentu saja, kantor juga ikut diserang oleh wartawan dan fans Star One di New York." Aku sedikit menghembuskan nafas dengan kasar.
"Tenang saja. Keadaan tak sekacau itu di sini. Mereka lebih tenang, dibanding apa yang aku lihat di Korea. Di sini mereka lebih mempertanyakan, apakah berita itu benar? Kalau kau berkencan dengan Sura. Tapi banyak juga yang memberitakan bahwa fans mereka berasumsi, kau tengah ada pekerjaan dengan Star One, melihat foto yang kau upload mirip dengan yang di upload Jacop."
"Maafkan aku, membuat keributan sampai sebesar ini."
"Tak usah dipikirkan. Aku akan menghubungi agensi mereka dan membicarakan langkah apa yang akan kita ambil. Agar tak ada miskomunikasi. Ingat! Kau tak boleh memikirkan apapun. Sekarang adalah waktu untukmu beristirahat. Kau dilarang sama sekali untuk membuka media sosialmu itu." Aku mendesah pelan.
"Baiklah boss. Terimakasih bantuannya."
"Tentu. Aku cuma mau mengabari itu saja. Kau jangan lupa makan obat dan beristirahat."
"Baik boss." Telpon pun dimatikan secara sepihak. Aku kembali mendesah berat. Meskipun sudah diwanti-wanti untuk tidak membuka media sosial. Aku tetap saja membukanya. Aku tak menyadari jika seseorang dari tadi sudah masuk tenda dan memperhatikanku dari belakang. Aku kini duduk dengan memeluk lutut sambil membuka satu persatu berita mengenaiku.
"Salah satu anggota Star One kedapatan berkencan dengan Hanna."
"Meski sebelumnya mereka tampak mengelak kedekatan hubungan mereka, namun foto ini bisa membuktikan jika mereka punya hubungan khusus."
"Fans Amerika meragukan kebenaran berita kencan Hanna dan Sura. Ini alasannya."
"Fans Korea tak terima dan menggeruduk kantor agensi Star One."
Dan masih banyak lagi judul berita lain yang menurutku tidak masuk akal. Memang, judul sebuah berita selalu saja melebih-lebihkan kenyataan. Aku sangat dongkol melihatnya.
Kemudian aku membuka instagramku. Ada ribuan komentar di postinganku yang terakhir.
"Ka, apa benar berita itu? Kalau memang benar, kami sama sekali tak keberatan."
"Dari awal kami sudah mendukungmu dengan Sura oppa. Jadi tak ada salahnya jika kalian benaran berkencan."
"Aku yakin Hanna eounni tak hanya pergi berdua dengan Sura oppa. Kita bisa melihat sendiri postingannya mirip dengan Jacop Oppa. Artinya ada anggota lain bersama mereka."
"Aku malah yakin kalau mereka sekarang tengah syuting sebuah program."
"Kau harus Mati."
"Aku tak akan membiarkan kau hidup tenang." Lagi-lagi komentar seperti itu. Aku kaget saat membacanya. Baru kali ini ada komentar yang begitu kejam di postinganku. Sebelumnya tak ada yang sampai mengancam seperti ini.
Aku pun membuka pesan DM. Ada sebuah pesan yang menarik perhatianku. Aku pun membukanya. Seseorang mengirimkan video. Aku kaget saat membukanya. Video pembunuhan seekor Kucing dan namaku yang di ukir dengan darah Kucing itu. Benar-benar kejam sekali. Aku menutup mulutku sendiri agar tak berteriak. Tiba-tiba seseorang merebut ponselku.
"Sudah, jangan dilihat lagi." Aku menoleh mendapati Sura tengah memandangku dengan tatapan yang tak bisa aku artikan.
"Kau kalau dibiarkan sendiri, bandel sekali ya." Aku hanya menatapnya. Badanku masih terasa kaku. Video tadi masih membayang-bayangi pikiranku. Kemudian aku merasakan Sura merangkulku dan membawaku ke dalam pelukannya.
"Tenang saja. Aku tak akan membiarkan siapapun menyakitimu. Aku akan melindungimu." Dia mengusap-usap punggungku. Mendadak semua perasaan khawatir sirna dari dalam diriku. Aku selalu nyaman berada dalam pelukan Sura. Dia memelukku untuk waktu yang lama. Sampai-sampai aku tak sadar sudah tertidur dari tadi.
Sura menatap Hanna yang sudah tertidur dalam pelukannya. Ia enggan melepaskan pelukannya. Tapi masalah ini perlu diselesaikan. Setelah membaringkannya dengan hati-hati dan menyelimutinya. Sura meninggalkan tenda menuju member dan manager Han yang tengah berkumpul.
"Bagaimana dengan Hanna?" Tanya Jun.
"Dia kedapatan main ponsel lagi. Sekarang dia sudah tidur."
"Apa ada yang salah?"
Sura mengeluarkan ponsel Hanna dan memperlihatkan video yang di kirim ke pesan pribadi Instagramnya. Semua berkerumun melihat video tersebut dan seketika berjerngit kaget saat melihat isinya. Siapa pun yang mengirimkan itu, dia benar-benar kejam.
"Ini ancaman yang nyata," ujar manager Han.
"Benar. Hanna dalam bahaya," sambung Rein.
"Aku penasaran siapa orang ini? Apa mungkin itu fans fanatik? Tapi apa mereka benaran akan melakukannya sampai sejuah ini?" ujar Jeno mengutarakan kebingungannya.
"Pantas saja, Hanna aneh sedari awal tadi. Kalian ingat sebelum manager menelpon, Hanna sudah bersikap aneh kan?" ujar Vlo.
"Ia, makanya aku heran saat melihat dia sampai muntah seperti itu. Tak mungkin hanya karena berita yang beredar. Karena kalau dari yang aku baca, beritanya tak banyak menghujat sampai parah seperti itu. Hanya seperti menunjukkan kekecewaan dan kekesalan saja."
Tiba-tiba ponsel Hanna berdering. Dari nomor tak dikenal. Sura segera mengangkatnya dan me load speaker.
"Kau sudah melihat apa yang aku kirim? Untuk selanjutnya kau yang akan berada dalam posisi seperti video itu." Suara itu kemudian tertawa. Tak jelas apakah perempuan atau laki-laki yang tengah berbicara karena dia menggunakan mesin pengubah suara.
"Jauhi Sura sekarang. Atau hidupmu akan berakhir mengerikan." Setelah mengucapkan ancaman itu, telepon langsung dimatikan. Sura dan yang lain langsung saling pandang.
"Sepertinya ancamannya tak main-main," ujar manager Han.
"Jangan biarkan Hanna memegang ponselnya sekarang," ujar Jeimin.
"Juga jangan biarkan dia sendiri. Kita harus memantaunya terus. Jangan sampai kecolongan lagi. Terlebih kita tidak tau orang yang mengancam itu ada dimana sekarang. Bisa jadi dia di sekitar sini," ujar manager.
Semua menghembuskan nafas berat dan memandangi tenda yang tengah di tempati Hanna.
"Apa kita kembali saja, Hyung? ujar Rein pada Manager Han.
"Menurutku kita tetap saja di sini. Kita ganti tempat ini jadi lokasi syuting, meskipun harus merubah tempat tapi hanya sedikit yang perlu disesuaikan. Aku juga sudah mengurus izin tadi. Sepertinya kata-kata Hanna pada wartawan tadi ada bagusnya juga. Kita tengah melakukan syuting, namun Hanna terlibat karena menjadi model perempuannya."
"Ide yang bagus, hyung." Jeno mengacungkan jempol.
"Baiklah, kalau begitu kita mulai membicarakan konsepnya dengan semua kru dan produser juga penulis."
Mereka pun segera melakukan rapat dadakan dan menyesuaikan beberapa adegan yang akan di ambil di sini. Untuk adegan dengan Hanna sendiri akan di ambil besok pagi. Sekalian menunggu dia sedikit baikan juga. Karena tidak mungkin untuk kembali ke daratan. Akhirnya mereka memutuskan untuk menginap di tenda malam ini. Syuting pun dilakukan sampai waktu makan malam.
Aku terbangun mendengar suara ribut-ribut di luar. Dengan mata yang masih setengah terpejam, aku bangkit dan membuka kancing tenda. Mengedarkan pandangan le sekeliling yang ternyata sudah gelap. Mataku terpaku pada anggota Star One yang tengah syuting. Sepertinya mereka syuting MV karena sekarang mereka tengah menari bersama. Aku pun bangkit dan berjalan ke arah mereka. Sedikit menjaga jarak, takut mengganggu syuting. Aku memandangi mereka dengan antusias. Melupakan masalah tadi siang.
"Kau sudah bangun?" Manager Han mengagetkanku yang tengah senyum-senyum sendiri, terlebih melihat Jeno yang sengaja membuat ulah saat syuting.
"Sudah, Manager." Aku menerima kaleng s**u yang dia ulurkan padaku. 'Kenapa semua orang memberikan s**u padaku akhir-akhir ini?' Aku bergumam sendiri dalam hati. Aku pun mengucapkan terimakasih.
"Oke, cut. Semua sudah bagus." Teriak sutradara yang entah kapan datang ke pulau ini. Padahal aku tadi tak melihatnya sama sekali.
"Oke, hari ini cukup sampai di sini," ujar kru lain. Anggota Star One segera menghampiriku, setelah mengucapkan terimakasih pada semua kru. Sura menghilang entah kemana namun beberapa saat kemudian muncul dengan selimut di tangannya. Dia kemudian menyelimutiku.
Perlakuannya tak luput dari perhatian semua orang. Yang ada di kepala semua orang sekarang adalah, Sura benar-benar jatuh cinta pada Hanna, bahkan sepertinya ia tak keberatan dengan gosip yang beredar. Atau perlakuannya sekarang malah terlihat seperti membenarkan gosip yang tengah beredar. Tapi sayangnya, Hanna tak peka dengan perasaan Sura. Sutradara sampai geleng-geleng kepala melihat Hanna yang biasa-biasa saja menerima perlakuan Sura.
"Hanna, kamu baik-baik saja?" ujar Jun.
"Tentu, aku kan kuat." Aku tertawa sendiri saat memeragakan tanganku ala binaragawan. Rein menepuk jidatnya sendiri melihat ulahku.
"s**u nya dihabiskan." Perintah Sura.
"Siap, boss."
"Aku bukan boss-mu."
"Siap Tuan."
"Aku bukan tuanmu."
"Siap kakek."
"Ya." Sura berteriak jengkel pada Hanna. Tapi yang diteriaki malah tertawa saja.
"Aku lapar, tak ada kah makanan?" ujarku.
"Aku juga," Ujar Jeno sembari mengusap-usap perutnya. Kemudian dia mengeluarkan cemilan dari kantong celananya. Memang dasar anak yang satu ini, ada saja ruang penyimpanannya. Jeno kemudian membagi cemilan wafernya menjadi dua dan memberikannya separuh pada Hanna.
"Gomawo." Aku menatap penuh terimakasih.
"Hanna saja yang di kasih. Aku tidak." Vlo bersungut-sungut kesal.
"Hanna nuna kan guruku, jadi harus diperlakukan dengan baik."
"Sejak kapan aku jadi gurumu?" Aku memandanginya dengan bingung.
"Sejak pertama bertemu. Pokoknya kau masih punya banyak hutang padaku, nuna." Dia kemudian memakan cemilannya sementara aku hanya melongos tak percaya. Utang yang mana?
"Hutang apa?"
"Banyak pokoknya. Nanti aku akan menagihnya satu persatu setelah kau sembuh."
"Terserah kau lah."
"Tentu saja. Aku sudah mencatat semuanya. Kau harus bersiap." Aku melongos tak percaya. Masih bingung. Hutang yang mana sih.
"Sudah tak usah dipikirkan. Jeno memang seperti itu. Paling dia menagih janji untuk minta diajarkan jadi hacker," ujar Rein. Aku menepuk jidat. Ternyata itu yang dimaksud. Tapi perasaan aku tak menjanjikan apa-apa.
"Aku mau bayarannya menikah dengan Sura oppa." Tiba-tiba saja ingatan itu melintas di benakku. Mukaku langsung memerah.
"Kau kenapa? Sura malah menaruh punggung tangannya ke keningku. Sontak saja wajahku tambah memerah. Aku juga salah tingkah. Tawa anggota Star One langsung meledak melihat mukaku yang sudah seperti Kepiting rebus.
"Hanna..Hanna." Jun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka heran melihat Hanna. Bagaimanapun tindakannya sangat berlawanan sekali dengan ucapannya. Memang anggota tubuh tak pernah bisa berbohong.
Aku merasa malu sekali diperlakukan seperti itu. Semua orang menertawakan kekonyolanku akibat salah tingkah. Sementara Sura seperti tak menyadari bahwa sikapnya itulah yang membuatku salah tingkah.
"Sepertinya kau masih demam. Kau harus beristirahat, tapi kita makan dulu baru kau kembali tidur."
Aku memandangi Sura dengan kesal. Dia sama sekali tak peka.
"Haha. Hyung, hyung. Kau sama saja dengan nuuna. Sama-sama tak peka." Aku melirik ke arah Jeno dan memelototinya.
***