Ketahuan

1865 Kata
Sekarang kami tengah jalan-jalan di pantai yang berada di pulau. Orang tua Sura sengaja menyewa perahu agar kami bisa jalan-jalan dengan bebas. Terlebih pantai itu tidak ada penghuni, jadi kami bisa bebas dari wartawan ataupun netizen. Usai mendirikan tenda bersama Rein dan Jacop, aku duduk sambil memandangi Jun dan Sura yang tengah memasak BBQ. Sementara itu Jeimin, Vlo dan Jeno sibuk bermain air. Mereka bahagia sekali dan tidak terlihat capek sedikitpun. Rein sudah tiduran di kursi santai sambil membaca buku, sementara Jacop sibuk membangun rumah pasir. Aku mendekati Jacop. "Kamu bikin apa, oppa?" "Hamba tengah membangun istana untuk tuan putri." Dia berkata dengan gaya bicara ala-ala kerajaan. Aku tertawa terbahak melihatnya dan kemudian memotret istana itu dengan latar laut. "Kalau kata si boss, sana pergi liburan dulu. Jangan mikirin kerjaan mulu," tulisku di caption-nya. "Wah, kakak liburan sama siapa?" "Kak, kok istana pasirnya sama dengan yang Jacop oppa upload." Aku kaget saat membacanya. "Oppa kamu juga update istananya?" Aku bertanya dengan panik pada Jacop. "Iya. Memangnya kenapa?" "Aduh, mati aku. Aku juga update. Gimana dong." Aku bersungut-sungut merutuki kebodohanku. "Haha, biarkan saja. Nggak ada yang salah. Biarkan mereka menduga-duga." Ujar Jun. "Ih, kok kalian santai sekali sih." Mereka hanya tertawa mendengar protesku. Aku pun kembali membaca komentar. "Wah, seperti nya eounni tengah jalan-jalan dengan anggota Star one." "Eounni, kamu beruntung sekali." "Eounni, berikan kami tips supaya bisa seberuntung kamu." "Hoi, aku tak rela jika kau bisa dekat dengan mereka semudah itu. Kau lihat saja nanti!" Aku sedikit kaget membaca komentar itu. Memang selama ini tak semua orang berkomentar positif padaku, tapi entah mengapa perasaanku kali ini tidak enak saat membaca komentar yang satu itu. Tak mau melanjutkan membaca komentar-komentar mereka, akupun mematikan ponselku. "Hanna, kamu kenapa?" Vlo menatapku sedikit khawatir. "Nggak ada, oppa." Aku berusaha mengenyahkan pikiran burukku. Pasti nggak akan bermasalah. Selama ini kan juga banyak yang memberikan komentar negatif. Aku terus berusaha untuk berpikiran positif. Sura menyerahkan satu tusuk BBQ padaku saat aku tidur-tiduran di kursi santai. Ia ikut duduk juga sambil menatapku makan. "Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" "Nggak ada, oppa." Aku tak mungkin menceritakan padanya. Bagaimana pun harusnya aku terbiasa dengan komentar-komentar seperti itu. Bukannya itu sudah resiko jika menjadi pusat perhatian publik. Terlebih karena sekarang aku sangat dekat dengan mereka. "Ya, malah melamun. Kalau ada yang mengganggu pikiranmu, ceritakan saja." "Iya, oppa. Aku baik-baik saja." Kami menghabiskan hari itu dengan bermain di pantai dan kejar-kejaran. Tak menyadari jika ada seseorang yang memotret kami sedari tadi. Disaat kami sibuk bercanda tawa, foto-foto kami sudah merebak luas di dunia maya. Agensi yang menaungi Star One sudah diserang fans dan wartawan yang meminta klarifikasi. Sementara ponsel kami satupun tak ada yang bisa dihubungi. Karena kami sengaja tak mengacuhkan ponsel dari tadi. Aku duduk di pinggir pantai seraya menatap Matahari terbenam. Entah kenapa, perasaanku tidak enak sedari tadi. Bukan apa-apa, biasanya feeling-ku selalu benar jika sesuatu yang buruk akan menimpa. Aku pun membuka ponselku. Kaget melihat ratusan panggilan tak terjawab. Manager Han kembali menelepon. Aku langsung mengangkat nya. "Ada apa, Manager?" "Hanna, kalian dimana?" "Di pulau terpencil dekat rumah keluarga Sura Oppa." "Kalian tetap saja di sana sampai aku datang. Tunggu, sebentar lagi aku sampai pelabuhan." "Ada apa memangnya?" "Nanti aku ceritakan." Manager Han segera memutus sambungan telepon. Aku berlari ke arah member yang tengah berkumpul di kursi santai. "Ada apa Hanna?" Vlo menatapku penasaran terlebih saat melihat wajahku tampak panik. "Sepertinya terjadi sesuatu. Manager dalam perjalanan ke sini." Mereka kaget mendengar omongan ku. Langsung saja mereka membuka ponsel masing-masing. Benar saja ada ratusan panggilan tak terjawab termasuk dari pemilik perusahaan. Aku memberanikan diri membuka media sosial. Ternyata sudah banyak berita yang memperlihatkan fotoku dan Sura di mana-mana. Dalam sekejap kami menjadi tranding topik. Bahkan tak sedikit fans yang menghujat. Lebih tepatnya mereka menyumpah-nyumpahiku. Semua foto di ambil di sini. Artinya ada orang yang mengikuti kami. Aku melihat ke sekeliling dan tak menemukan satu pun. Tiba-tiba mataku menangkap sosok yang bersembunyi di atas pohon Bakau yang lumayan jauh dari lokasi kami berada. Langsung saja aku berlari mengejarnya. Menyadari tindakanku, orang itu turun dan berlari. Anak-anak yang melihatku berlari ikutan lari mengejar. "Hanna, tunggu. Ada apa?" Rein berteriak melihat aku yang berlari kencang sekali. Sementara aku tak menjawab panggilannya. Aku terus berlari dan nyaris saja kehilangan jejak. "Di sana," seru Jeno. Dia berlari mendahuluiku. Aku pun ikut mengejar. Akhirnya laki-laki itu tertangkap setelah kami memutari Pulau satu ronde. Dia dikepung di tengah oleh Sura dan Jun yang menanti di tempat awal kami mengejar. "Kau siapa?" Tanpa basa basi aku langsung menodong pria itu dengan tatapan mengintimidasi. Banyak menghabiskan waktu di lapangan, tak hanya membuatku bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Tapi aku juga sedikit banyak belajar cara menginterogasi ala militer. "Saya... Saya...." "Jawab saja yang benar." "Jangan galak-galak dong nona." "Aku tak akan bersikap lembut pada pencuri." "Aku tak pernah mencuri." "Kau mengambil gambar tanpa izin dan mengganggu privasi serta menyebabkan kerugian pada orang lain. Apa itu bukan pencuri namanya? Kau mau aku sebutkan satu-persatu pasal apa saja yang telah kau langgar? Sekalipun kau adalah wartawan, tetap saja aku bisa memastikan kau akan dihukum." Laki-laki itu sedikit terkejut mendengar ucapanku. Memang tindakannya tak akan membawanya di hukum penjara dengan waktu lama, tapi aku bisa membuat tuntutan yang lebih. Sedikit kejam memang, tapi aku sedikit tidak suka dengan orang yang berbuat curang seperti itu. "Kau cerdik rupanya." "Tak usah memuji, aku tak akan bersikap lunak pada mu." Dia pun terkekeh. "Kau pikir apa yang akan menimpamu jika semua foto ini tersebar? Kau tidak hanya akan di hujat, tapi kau juga akan menghancurkan karir orang lain." Dia balik mengancamku. 'Oh, jadi bukan dia yang menyebarkannya.' pikirku. "Oh, ya? Lalu bagaimana kalau kita ubah sedikit ceritanya. Seorang gadis yang tengah menenangkan diri di pulau terpencil untuk kesembuhannya. Diganggu oleh penguntit tidak bertanggung jawab karena secara kebetulan gadis itu bertemu anggota Star One yang akan syuting di pulau tersebut." Aku tersenyum smirk pada laki-laki itu. Senyumku tambah lebar saat melihat Manager Han datang dengan kru lain. Pria tadi tampak terkejut, tak menyangka jika keadaan kini berbalik padanya. Aku melepaskan cekalanku pada kerah bajunya. "Jadi siapa sekarang yang akan dipercaya? Mengetahui aku di sini pun, paling-paling aku hanya akan dihujat sebentar. Tapi setelah mereka mengetahui faktanya, mereka akan berbalik mendukungku." Aku melangkah pergi meninggalkan wartawan itu, Star One mengikutiku. Sementara wartawan itu langsung dibawa oleh kru agensi. Aku menghempaskan pantatku di kursi santai. Sedikit kesal memikirkan kejadian barusan. Kalau wartawan tadi mengancam akan menyebarkan, berarti foto-foto yang beredar di internet bukan dia yang menyebarkannya. Bahkan sepertinya dia tidak sadar jika beritanya sudah menjadi basi duluan. Jika hanya ada kami yang berada di pulau ini. Berarti kemungkinan lain hanya ada satu, orang yang menyebarkannya adalah pengemudi kapal yang tadi mengantarkan kami. Manager Han mendekati kami. "Kalian baik-baik saja?" Aku hanya mengangguk begitu juga yang lain. Aku capek sekali setelah berlari keliling Pulau. Di tambah lagi keadaanku belum pulih sepenuhnya. Sura menyerahkan sebotol minuman kelapa padaku. Aku menerima dan meminumnya dengan rakus. "Jadi bagaimana dengan wartawan itu, hyung?" tanya Jacop. "Dia tidak bersalah," ujarku. "Sepertinya dia bahkan belum tahu ada berita mengenai kita. Kalau dia tau, dia tak akan mengancam seperti tadi." "Lalu siapa yang menyebarkannya?" "Menurutku, pengemudi kapal yang tadi mengantar ke sini. Pada saat mengejar wartawan tadi, aku mendengar suara kapal yang pergi meninggalkan pulau." "Sialan," maki manager Han. Manager Han segera menghubungi seseorang yang entah siapa. Aku tak peduli lagi. Kepalaku mendadak terasa nyut-nyutan. Aku tak bisa membayangkan bagaimana nanti aku hidup di bawah sorotan mata setiap orang. Aku belum siap. Apalagi kalau sampai ini memengaruhi karir Star One. Aku tak mau mereka sampai menjadi korban. Pikiran buruk kembali bercokol di kepalaku. Seperti kaset rusak semua berputar begitu saja. "Kau baik-baik saja?" Sura mendekatiku dengan wajah khawatir. Aku menggeleng lemah, rasanya ingin muntah. Aku mungkin baik-baik saja selama ini, tapi kondisi mentalku benar-benar tidak baik. Berobat pada psikiater pun rasanya percuma karena meskipun aku rutin mengonsumsi obat, sama sekali tak memberi pengaruh apapun. Aku segera berdiri dan berlari ke arah hutan. Sura yang kaget berlari mengejarku. Manager Han yang tengah menelpon juga kaget melihat aku berlari, tak terkecuali member Star One. Aku memuntahkan semua isi perutku. Jun segera menyusul dengan satu botol air mineral di tangannya. Sura mengusap-usap tengkukku. Aku benar-benar lemas. Tapi tetap memaksakan diri untuk berkumur. Aku dibantu oleh Sura dan Jun kembali ke tenda untuk beristirahat. Aku menurut saja dan langsung menutup mata saat sudah berbaring. "Hanna-si kenapa?" Aku mendengar manager Han mendekat. "Dia hanya kurang enak badan," kata Sura. "Biarkan dia istirahat dulu. Aku akan membuatkan sup hangat agar perutnya tak kosong." "Biarku bantu," ujar Jun. "Biar aku yang menjaga nuna," ujar Jeno. Sementara itu anggota lain bergabung dengan manager Han untuk membicarakan masalah ini. Mereka butuh solusi agar semua bisa terlepas dari masalah ini, terutama Hanna yang sepertinya tidak siap menerima hujatan publik. Itu juga yang sudah di wanti-wanti oleh CEO mereka. Bagaimanapun Hanna adalah orang biasa, meskipun dia terbiasa hidup di bawah perhatian orang lain. Tapi tak akan membuat dia lebih baik saat menghadapi kejadian ini. "Kau yakin Hanna baik-baik saja?" Vlo masih khawatir dengan Hanna. "Aku yakin dia akan baik-baik saja. Sepertinya dia seperti itu karena efek baru saja keluar Rumah Sakit ia sudah lomba lari mengelilingi pulau." Jacop sedikit bercanda untuk mencairkan suasana. Manager Han, Rein dan Jeimin hanya menggeleng-geleng kepala mendengar candaan Jacop. Aku dibangunkan oleh Sura beberapa saat kemudian. Ia membantuku bersandar. Atau lebih tepat aku menjadikan tubuhnya sebagai tempat bersandar. Jun pun menyuapiku. Sementara Jeno menyiapkan diri untuk menyuapiku minum jika sewaktu-waktu aku haus. Aku sedikit tertawa melihat tingkah mereka. "Ya, aku bukan habis pingsan lo." "Diam saja nuna. Kau harus istirahat yang banyak. Lagi pula, apa sih yang ada dipikiranmu itu? Bisa-bisanya kau main lomba lari dengan wartawan itu." "Mana ada aku lomba lari. Kau nggak liat tadi, dia akan kabur kalau nggak kita kejar." "Sudah, kalian berdua jangan bertengkar terus. Aku pusing melihatnya," ujar Jun. Aku dan Jeno hanya cengengesan tertawa. Sementara Sura hanya diam saja dari tadi. Entah apa yang dia pikirkan, aku juga tidak tahu. "Lalu apa yang terjadi dengan wartawan itu?" Aku yang masih penasaran akhirnya bertanya pada mereka. "Dia dibawa oleh salah satu staf ke perusahaan. Semua akan diurus oleh perusahaan. Kau tak usah memikirkannya." "Lalu dengan pengemudi kapal tadi?" "Dia sudah dibawa ke kantor polisi. Sekarang tengah di interogasi untuk mengetahui apa motif sebenarnya dia melakukan itu." "Hmm. Kenapa sih orang-orang selalu kepo mengulik kehidupan orang lain?" "Karena itu memang pekerjaan mereka." "Ya aku tahu, tapi aku masih tak terima kalau sampai orang seperti pengemudi kapal itu melakukan hal seperti itu. Dia dibayar oleh siapa sih?" "Aku yakin ada seseorang yang menyuruhnya diam-diam dan kemudian memintanya melakukan itu," ujar Jeno. "Orang itu pasti adalah orang yang ingin memastikan bahwa kami tak akan pernah berpaling dari dia. Entah mengapa aku merasa kalau itu adalah ulah fans fanatik." "Hmm. Memang mengerikan ya mempunyai banyak penggemar seperti kalian. Aku tak mau jadi artis." "Nuna tanpa jadi artis pun kau sudah terkenal. Sudah sana tidur. Mengoceh terus dari tadi." "Hya, harusnya itu adalah bagianku. Aku yang harusnya berkata seperti itu pada Hanna." Sura menatap Jeno dengan kesal. "Haha. Arasso, arasso." "Sudah kalian berdua pergi sana. Bagaimana caranya aku beristirahat kalau terus direcoki seperti ini. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN