Jeno dan kawan-kawan benar-benar menepati janjinya untuk menginap selama beberapa hari. Rumah Sura serasa seperti dorm. Tapi kali ini, kami serasa dibimbing oleh orang tua asuh karena ada orang tua Sura juga di rumah. Aku sendiri masih bingung sampai sekarang. Mereka punya banyak sekali kamar tamu tapi kenapa malah menempatkanku satu kamar dengan Sura. Sepertinya, keluarganya memang berniat sekali menjodohkanku dengan Sura. Aku nyaris menangis memikirkan ada saja ulah mereka setiap hari agar aku bisa terjebak berdua dengan Sura. Contohnya saja pagi ini;
"Na, bangunin Sura gih. Anak-anak yang lain biar tante yang bangunin."
Aku menurut saja, tak menaruh curiga sedikitpun pada Tante Yura. Sura memang tidur di ruang rahasia kecil miliknya yang masih terhubung dengan kamarnya yang kini aku tempati. Sementara anggota lain tidur di tiga kamar tamu yang berbeda di lantai bawah.
Setelah mengetuk beberapa saat, aku mencoba membuka handle pintu ruangan yang ia tempati. Untung saja bisa di buka.
"Oppa, kau sudah bangun?" teriakanku dari tadi sama sekali tak direspon. Aku pun melangkah masuk, mencoba menyipitkan mata agar terbiasa dengan ruangan yang gelap itu. Dengan hati-hati aku melangkah agar tidak tersandung sesuatu. Tapi meskipun aku berjalan sepelan mungkin, tetap saja aku tersandung dan menimpa sesuatu.
"Aaaa." Aku berteriak kaget karena tersandung sesuatu. Tubuhku langsung jatuh karena kehilangan keseimbangan. Aku berusaha mempersiapkan diri, menahan sakit karena akan membentur lantai. Tapi ternyata aku malah menimpa sesuatu yang sedikit empuk. Aku mencoba meraba-raba, memastikan bahwa yang aku timpa masih merupakan sesuatu yang layak untuk diraba. Nggak lucu kan, kalau ternyata yang aku timpa adalah mayat ataupun ranjau yang akan melukaiku. Otakku memang terlalu liar saat berfantasi, pikiranku suka mengada-ngada kalau membayangkan sesuatu.
Tiba-tiba saja benda yang aku timpa membalikkan badanku dengan cepat. Atau lebih tepatnya itu adalah orang karena aku bisa merasakan sesuatu yang kutimpa itu bernafas. Aku benar-benar kaget. Nyaris saja menjerit. Pikiranku kembali melayang kemana-mana.
Bagaimana kalau ternyata orang ini adalah maling. Aku nyaris menangis memikirkannya. Aku sekarang tidak berada dalam kondisi yang bisa melawan seseorang. Efek sakit selama satu bulan juga membuat tenagaku berkurang habis sehingga sekarang aku sendiri jadi mudah lelah.
"Hik..hik, apa ini?" Aku benar-benar menangis. Aku sendiri heran dengan diriku Kenapa akhir-akhir ini aku lemah sekali, mudah menangis, cengeng. Tiba-tiba saja tangan orang itu mengusap air mataku.
"Sstt. Aku mengagetkanmu, ya?" Aku langsung mendesah lega begitu mendengar suara Sura oppa yang tengah berbicara dari atasku. Dia masih setia dengan posisinya. Aku masih belum bisa melihatnya meskipun ternyata ruangan ini tak segelap itu. Karena mataku sudah ditutupi air mata, pandanganku juga ikut mengabur.
"Oppa, kenapa malah tidur di lantai. Hik..hik." Aku berbicara di antara tangisanku. Tak menunggu jawabanku, dia malah kembali membalik tubuhku agar berada di atasnya. Nyaris saja aku terpekik kaget akibat perlakuannya yang tiba-tiba itu. Dia mengalungkan lengannya dipanggangku. Memeluk dengan posesif.
Aku bisa merasakan detak jantungnya dengan jelas. Aku merasa ada kehangatan yang seketika menjalar ke dalam tubuhku. Perasaan ini membuatku sangat nyaman. Dengan susah payah aku menahan diri agar tak terlena, karena separuh hatiku menginginkan lebih. Aku ingin terus berada dalam pelukannya. Aku merasa sangat aman dan nyaman sekarang. Tapi separuh akalku berkata, aku tak boleh seperti ini. Bagaimana pun aku tak boleh jatuh terlalu jauh dalam lingkaran ini. Aku tak boleh membiarkan hatiku mengambil alih logika. Perasaan ini sama sekali tak benar.
"Jangan menangis," ujarnya. Dia menghapus air mataku. Sepertinya air mataku jatuh menimpa wajahnya, karena aku melihat dia juga menghapus sesuatu di wajahnya. Asal jangan air liurku saja yang menetes di wajahnya, pikirku kemudian. Aku tertawa sendiri dalam hati saat memikirkannya.
"Oppa lepaskan aku dulu. Aku datang ke sini disuruh tante Yura untuk membangunkanmu. Waktunya sarapan Ayok kita turun untuk makan."
Aku berusaha melepaskan diri dari pelukannya. Tapi bukannya melonggarkan pelukan, dia malah mempererat pelukannya itu. Tubuhku dan tubuhnya benar-benar bersatu sekarang. Aku malu sendiri memikirkan posisi kami. Jika ada yang sampai melihat, pasti akan langsung salah paham sendiri nanti. Aku tahu ini sangat tidak benar. Bagaimanapun hatiku menginginkannya, tapi logikaku menolak segala bentuk persentuhan fisik dengan laki-laki. Aku takut.
"Biarkan seperti ini untuk beberapa saat saja," gumamnya lantas kemudian memejamkan mata. Aku bisa melihatnya dengan jelas sekarang. Bahkan aku bisa merasakan hembusan nafasnya menerpa wajahku, karena posisi kami sangat dekat.
"Tapi aku tidak bisa bernafas, oppa. Kalau terus seperti ini, bisa-bisa aku mati karena kehabisan nafas."
Sura pun membalikkan tubuhku ke samping. Dia memelukku seerat mungkin. Kemudian ia membenamkan wajahku di dadanya. Aku bisa mencium samar bau parfumnya yang selalu berhasil membuatku tenang setiap kali aku berada didekatnya. Itu adalah bau khas Sura. Parfum yang dia gunakan adalah satu-satunya di dunia. Dia meraciknya sendiri. Wanginya sangat segar dan lembut serta misterius di saat bersamaan. Dari pertama kali menciumnya aku sudah menyukai bau nya.
Aku membiarkan dia memelukku seperti itu untuk beberapa saat. Aku nyaris tertidur karena terlena oleh rasa nyaman. Sura sendiri sepertinya juga kembali tidur. Aku ingin membangunkannya tapi tidak tega. Sepertinya tidurnya nyenyak sekali. Tapi kalau tidak dibangunkan, orang-orang akan curiga jika kami tak segera kembali ke meja makan. Akhirnya setelah memutuskan untuk menunggu selama beberapa menit. Aku pun kembali membangunkannya.
"Oppa, ayo bangun. Semua orang menunggu kita di meja makan." Aku sedikit menarik diri dari pelukannya. Tapi dia tetap mempertahankan pelukannya. "Oppa." Aku kembali merengek kepadanya.
"Kenapa sayang?"
Dia mulai lagi memanggilku dengan panggilan itu. Kadang aku bingung dengan sikapnya yang tak bisa ditebak itu. Apa dia benar-benar suka padaku? Ah, sudahlah. Pergi kau jauh-jauh pikiran aneh. Aku menyugesti diri sendiri.
"Ayo bangun dan sarapan, aku sudah lapar." Dengan enggan, akhirnya Sura melonggarkan pelukannya.
Aku segera bangkit untuk membebaskan diri. Karena terlalu terburu-buru bangun, aku nyaris kembali terjungkal tersandung karpet. Untung saja Sura dengan sigap memegang lenganku. Aku sedikit heran, cepat sekali dia bangun. Perasaan barusan masih berbaring di lantai. Tak menghiraukan rasa malu. Aku bergegas menuju pintu dan membukanya. Tapi pintunya sama sekali tak bisa di buka. Aku mencoba beberapa kali. Tetap saja sama. Pintunya sama sekali bergeming seolah dikunci dengan rapat.
"Oppa kenapa pintunya tak bisa dibuka?" Aku menatapnya dengan panik.
"Pintunya memang macet dari dulu. Tak bisa dibuka dari luar."
"Eeeeh? Kenapa oppa nggak bilang dari tadi?"
"Kau tidak menanyakannya." Astaga, aku menepuk jidatku sendiri. Gemas dengan sikapnya yang terlalu cuek itu. Ingin aku menabok mulutnya itu.
"Lalu bagaimana cara kita keluar dari sini?"
"Tunggu saja sampai ada yang membukakan."
"Haa? Oppa cepat hubungi seseorang untuk membukakan pintu." Aku menatapnya dengan panik. Karena aku sendiri tak bawa ponsel tadi.
"Ponselku kehabisan daya dan disini tak ada chargeran." Aku menatapnya dengan ngeri.
"Oppa.." rengekku.
"Sudah, nanti ada yang bakalan bukain kok. Mereka pasti sadar kalau kita belum ada di meja makan. Ayok tidur lagi." Dengan santai Sura menarik lenganku yang dengan pasrah menurut saja. Dia membawaku ke atas tempat tidur dan berbaring. Dia kemudian kembali menarikku dalam pelukannya. Aku diam saja menurut. Sepertinya aku benar-benar kehilangan tenaga untuk memprotes.
"Tidurlah!" gumamnya seraya menepuk-nepuk punggungku dengan lembut. Dia juga mengusap rambutku dan memainkannya. Dia selalu melakukan itu kalau mendapati rambutku terbuka saat berdua dengannya. Aku benar-benar tertidur karena perlakuannya. Melupakan kenyataan kalau kami terkunci di atap. Sementara di ruang makan, anggota Star One yang lain dan orang tua Sura makan sambil berbincang-bincang dengan hangat. Mereka lupa sama sekali dengan kami berdua.
Aku bangun kembali dan mendapati Matahari sudah sangat tinggi. Sepertinya sekarang sudah tengah hari. Sura sendiri sudah bangun. Aku baru sadar kalau ruangan ini punya jendela di atasnya. Tadi sepertinya ditutup oleh sesuatu makanya ruangan gelap saat aku masuk. Aku mengerjap silau mencoba menyesuaikan mataku dengan sekeliling. Pandanganku melihat pada Sura yang entah kapan mau melepaskan pelukannya itu. Ia juga tengah menatapku. Aku sampai heran, bisa-bisanya dia terus-terusan menempel seperti perangko padaku.
"Oppa, lepas ih. Nggak gerah apa?" Aku bersungut-sungut padanya.
"Kalau gerah tinggal digedein AC nya." Diapun meraih remot AC dan menyetelnya lebih dingin. Aku nyaris saja melayangkan pukulan padanya. Bukan itu yang aku maksud. Aku tu malu kalau harus diposisi seperti ini terus dengannya. Tapi dia nggak peka-peka.
"Aish, sudahlah. Terserah,oppa. Mereka kok nggak buka-bukain pintu juga sih dari tadi?"
"Mereka sepertinya lupa dengan keberadaan kita." Dia menjawab dengan santai.
"Kasian sekali kita dilupakan. Apa nggak ada cara lain untuk keluar dari sini? Aku lapar sekali oppa. Kamu nggak kasihan melihatku?"
"Kamu lapar?" Aku mengangguk dengan penuh semangat, sebenarnya cuma akal-akalanku saja agar Sura melepaskanku. Tapi sepertinya Tuhan belum berpihak padaku. Sura membuka laci di samping tempat tidur dan mengeluarkan beberapa cemilan penunda lapar. Aku melongo kaget, wajahku benar-benar kecewa. Dia menyerahkannya setelah membuka bungkusnya, kemudian kembali memelukku.
'Ada apa sih sama ni orang? Kok nggak mau banget lepas.' Aku mendumel terus dalam hati dan dengan gemas memakan cemilanku. Sura merebut gigitan terkahir dari tanganku.
"Ya, oppa. Kok diambil sih. Kan bisa buka sendiri." Aku memasang tampang cemberut. Bukannya minta maaf dia malah dengan kurang ajar mengecup bibirku. Aku tegaskan sekali lagi, dia dengan lancang mengecup bibirku. Aku melongo kaget. Kupastikan wajahku sekarang sudah merah padam.
"Ya... oppa." Aku langsung memberontak dari pelukannya, bangun dan memukulinya dengan bantal yang tadi aku gunakan. Sementara dia hanya terkekeh melihatku. Aku benar-benar kesal dan ingin membunuh seseorang. Heran dari kemaren dia hobi sekali membuatku kesal dan sekarang berani-beraninya dia mencuri ciumanku.
Aku bangkit membuka jendela dan melongok keluar. Ternyata jendela atap ini menghadap kolam Ikan di samping rumah. Aku melihat Vlo dan Jeimin tengah bermain ayunan. Mereka seperti anak TK saja.
"Oppa.." teriakku. Mereka langsung melirik ke atap.
"Hanna, kamu ngapain di atas sana?" ujar Jeimin.
"Aku terkunci. Bukain pintunya."
"Lah kok bisa? Oh, iya. Ngomong-ngomong aku baru sadar jika dari tadi kau dan Sura hyung itu tidak kelihatan."
"Jahatnya kalian melupakan kami. Ayo cepat bukakan pintunya. Aku lapar sekali. Aku juga belum minum obat, kalau sampai aku pingsan bagaimana?" Aku mengeluarkan jurus andalan, agar keinginanku segera dituruti.
"Sebentar."
"Jun Hyung, pergi ke kamar Sura hyung dan bukakan pintunya." Vlo malah berteriak pada Jun yang sepertinya tengah berada di beranda rumah.
"Oke." Tak lama kemudian aku mendengar suara langkah kaki mendekat dari bawah. Aku segera berlari ke arah pintu tak menghiraukan Sura sama sekali.
"Kok bisa kamu kekunci?"
"Tau tuh pintu, nggak bisa diajak kompromi banget." Jun hanya cengengesan mendengar omelanku. Dia merangkulku menuju dapur. Perlu diingat juga kalau anggota Star One suka dengan lancang merangkulku semenjak aku masuk dalam lingkaran mereka. Awalnya aku risih, tapi lama kelamaan mulai terbiasa. Kami meninggalkan Sura yang mengekor di belakang.
Aku menyantap sarapan di jam makan siang dengan rakus. Jun yang melihatku hanya menggeleng-geleng saja. Sementara Sura sibuk menambahkan lauk ke piringku. "Kau seperti orang yang tak ketemu nasi berhari-hari, nuuna," komentar Jeno. Aku hanya nyengir malas menanggapi.
"Mana Tante dan Om?"
"Mereka sudah berangkat kerja dari tadi." Aku hanya mengangguk-angguk.
***