Kepergok

1363 Kata
Aku terbangun oleh suara ponselku yang berisik sedari tadi. Aku menggapai-gapai meja di samping tempat tidur. Begitu menemukan ponsel, aku langsung mengangkatnya. "Ya, hallo?" "Kau sudah keluar dari rumah sakit Hanna?" Suara boss ku dari seberang membuat mataku langsung jernih. "Sudah boss, kemaren." "Syukurlah. Aku dengar dari dokter, katanya kau masih harus beristirahat dulu." "Hmm, seperti nya begitu." "Bukan sepertinya sepertinya. Aku sudah membicarakan nya kemaren dengan yang lain. Kau bisa libur satu bulan lagi untuk pemulihan. Aku harap selama satu bulan ini, kau tinggal di Korea saja. Sepertinya pikiranmu lebih tenang saat berada di sana. Jangan terlalu banyak bermain di sosial media juga. Kau harus memerhatikan kesehatan psikismu itu." Aku sedikit terkejut mendengar perkataan boss ku. Aku kira dia menelpon untuk menyuruhku balik. Ternyata malah sebaliknya. Suaranya tampak khawatir. Aku tau, dia menyayangiku seperti anaknya sendiri. Meskipun dia sering mengomel seperti itu dan sering bertindak semaunya padaku. "Kau tak usah memikirkan apapun, terlebih soal pekerjaan. Semuanya akan ku handle dibantu oleh anak-anak. Mereka dengan senang hati menawarkan diri. Terlebih selama ini kau juga sudah banyak menghabiskan tenaga lembaga. Tak ada salahnya, jika kau mengambil istirahat panjang sekarang." Aku terharu mendengar perkataan boss ku. Sama sekali tak menyangka jika mereka memikirkan keadaan ku seperti itu. "Apa kau serius boss?" "Tentu saja. Kapan aku pernah bercanda." Aku pikir iya juga sih. Memang boss nya itu tak pernah becanda. "Terimakasih boss." ucapku tulus. "Tentu. Ya sudah, aku menelpon cuma untuk mengabari itu. Selamat beristirahat. Kalau perlu pergi liburan sana." "Siap boss." Aku mengakhiri obrolan ku. Merasa tak mengantuk lagi, aku bangun dan turun ke lantai bawah. Aku mendapati Sura yang tengah tidur di ruang tamu. Aku mendekati nya dan membungkuk di dekatnya. Mengamati dari dekat wajahnya. Entah mengapa, aku suka sekali berlama-lama mengamati wajahnya. Saat aku tengah asik mengamati nya. Tiba-tiba saja tangannya meraih pinggang ku dan menarikku dalam pelukannya. Aku kaget setengah mati. Matanya terbuka dan dia menatapku dengan tatapan yang tak bisa aku artikan. Jantungku berdetak kencang, aku merasa aliran darahku mengalir ke seluruh permukaan wajahku. Aku yakin muka ku sudah semerah Tomat sekarang. Bahkan aku bisa merasakan hembusan nafas Sura. Aku berusaha untuk menarik diri. Tapi pelukannya kuat sekali. "Kau tak mau melepaskanku, oppa?" Bukannya menjawab, dia malah diam mengamatiku. Aku mengalihkan pandanganku, tak ingin saling bertatapan dengan Sura. "Oppa." ulangku lagi. "Jangan pergi. Biar seperti ini saja, sebentar saja." Tiba-tiba tatapannya berubah menjadi lembut, bahkan pelukannya juga terasa lembut. Tapi aku tak mau berada diposisi ini lama-lama. Bisa-bisa orang yang melihat akan salah paham. "Hyung, kami da_." Kan baru saja aku omongin, sudah ada yang memergoki kami. Dengan cepat aku langsung menarik diri dari pelukan Sura. Aku merasa wajahku benar-benar semerah Tomat matang sekarang. "Aduh, sepertinya kita datang di waktu yang tidak tepat." ujar Jeimin. Mereka saling pandang kemudian senyum-senyum sendiri. Sementara Sura yang ditertawakan malah melanjutkan tidurnya. Dengan santai ia menaruh kedua tangannya di belakang kepala dan tiduran dengan santai. Dia hanya tiduran bukan tidur benaran. "Kalian ke sini sama siapa?" ujar Sura. "Jun hyung yang menyetir." jawab Vlo. "Tumben manager melepaskannya." "Ia, soalnya dia lagi ada kepentingan lain. Dan juga ini kan liburan di luar jadwal kita semua. Jadi dia terpaksa memberi izin." "Hanna, kamu sudah sehat? Jun oppa memandangiku dengan khawatir. "Sudah kok, oppa. Aku berusaha menormalkan kembali ekspresiku. Tak ingin memancing mereka berfikiran yang macam-macam lagi. "Syukurlah. Kami membawakan makanan kesukaanmu Dia meletakkan paper bag berisi cake yang memang sangat aku suka. "Jadi kenapa kamu bisa sampai di sini?" Vlo bertanya dengan penuh penasaran. "Hmm, kemaren aku tidak sengaja bertemu dengan Sura oppa di restoran keluarga nya." "Kenapa bisa sampai sana?" ujar Rein. "Pengen makan makanan di sana." "Kamu menyetir sendiri?" Kali ini Jeimin ikut bertanya. Mereka ini sedang mengintrogasi ku atau bagaimana? Dari tadi banyak sekali pertanyaan nya. "Tidak, aku naik bus." "Trus gimana bisa berakhir disini?" Kali ini Jeno yang bertanya. Aku manarik nafas pasrah. Mereka seperti kakak laki-laki yang tengah menyelidiki adik yang kedapatan melakukan kesalahan. "Kemaren diajak sama Tante Yura." "Wah, kamu bahkan sudah berkenalan dengan ibu mertua." Jacop oppa menggodaku. Anggota lain malah cekikikan mendengarnya. Aku mesem-mesem sendiri. "Jadi ngapain oppa kesini?" "Wah, kita nggak boleh ke sini ya? Sepertinya tadi kita benaran mengganggu." Vlo malah tambah menggodaku. "Ih, bukan seperti itu. Aku tu bertanya, kali aja ada pekerjaan penting yang harus kalian lakukan." "Tidak ada. Memangnya kenapa?" Ujar Jacop. "Aku berniat untuk memasak makan siang. Kalau kalian di sini masih lama. Aku akan menambahkan porsi." Mata Vlo langsung berbinar-binar. "Kami di sini sampai beberapa hari kok." "Lo, bukannya kita cuma mau di sini sampai nanti sore?" Ujar Jun. "Siapa yang bilang. Kita kan mau liburan di sini." Jeno ikut berkomentar. "Aish sudahlah, terserah kalian saja." Sura kesal sekali dengan membernya ini. Mereka sama sekali tidak peka. "Kalau begitu aku belanja dulu deh." ujarku. "Kenapa Hanna-si?" Jun menatapnya bingung. "Ia kalau oppa mau nginap di sini, sepertinya bahan makanan nya kurang." "Darimana kamu tahu? Kau seperti hafal saja dengan penyimpanan di rumah ini." Aku merasa mukaku kembali memerah sekarang. Dengan susah payah aku menjelaskan."Tadi sebenarnya Tante Yura memintaku untuk memasak dan memberitahukan tempat penyimpanannya." "Kalau begitu, ayo kita pergi belanja." "Jangan, aku sendiri saja." "Kau tak boleh pergi sendiri, nanti kalau ada yang menyakiti di jalan bagaimana. Atau kalau kau tiba-tiba pingsan bagaimana? Lagi pula kau baru di sini, yang ada nanti nyasar." ujar Sura tegas. "Tapi pergi dengan kalian lebih tidak aman lagi. Apa kalian tidak sadar wajah kalian itu terkenal? Kalau sampai aku ketahuan jalan sama kalian, bisa-bisa aku bakalan diserang." "Kita bisa berangkat bareng dengan manager dan syuting sekalian untuk kamuflase." Jeno memberi saran. "Disini kan tidak ada manager, Jeno." "Oh iya, aku lupa." Dia menepuk jidatnya sendiri. "Sudahlah, yang paling benar itu aku pergi sendiri." "Tak ada ceritanya pergi sendiri. Biar aku antar." ucapan Sura kali ini benar-benar tegas dan tak ingin dibantah sedikit pun. Aku memutar bola mata sebal. "Terserah lah. Aku malas berdebat. Awas saja kalau aku sampai masuk berita. Aku nggak mau lagi bertemu kalian." Aku bersungut-sungut kesal, bahkan menghentakkan kaki ku dan berjalan meninggalkan dapur menuju kamar. Bersiap untuk berangkat. Bukannya membujukku mereka malah menertawakan ku. Benar-benar lucknut, pikirku. "Sana, hyung. Susul." Vlo menyuruh Sura untuk menyusulku. Sura menurut saja. "Hanna, kamu jangan ma_" Sura yang membuka pintu langsung kaget saat melihat Hanna tengah membuka baju. Dia langsung menutup kembali pintunya. Sementara Hanna yang tidak tahu Sura akan masuk begitu saja langsung berteriak histeris saat Sura melihatnya. Jangan pikirkan Sura melihatnya tanpa sehelai benang. Sura hanya melihat dia memakai thanktop. Tapi tetap saja itu sangat-sangat memalukan sekali bagi Hanna. "Hyaa, oppa. Kalau mau masuk ketuk dulu." Hanna meneriaki Sura yang masih setia bersender dibalik pintu. "Maaf, aku tak sengaja. Aku pikir kau ke kamar karena marah." Suara Sura benar-benar terdengar penuh penyesalan. "Ih, aku tu bukan marah. Aku mau mengganti baju dulu. Tapi sekarang aku beneran marah. Aku sebel sama kamu, oppa." Hanna menghentak-hentakkan kakinya dan membuka pintu. Sura terkejut dan nyaris saja terjengkang karena dia dari tadi bersender di pintu. Hanna tidak memedulikan nya. Dengan langkah kaki yang kasar, dia berjalan menuju ruang tamu. Jangan lupakan mukanya yang ditekuk dan mulut cemberut nya. Anggota lain sampai heran, ada apa gerangan yang terjadi. "Kenapa Hanna?" Vlo yang penasaran langsung saja bertanya. "Jangan mengajakku bicara." Langsung saja dia pergi berjalan menuju pintu keluar. Sura segera menyusul ke ruang tamu dihentikan oleh tatapan penuh penasaran dari anggotanya. "Kenapa?" Kali ini Jun yang bertanya. "Aku membuka pintu kamar tanpa mengetuk dulu, dan dia_." Tanpa meneruskan lagi ucapan nya, member lain langsung paham. "Aish bodoh sekali kau, hyung. Sana susul sebelum Hanna mengamuk dan tak mau kembali." ujar Jeimin. Sura langsung menyusul Hanna, mengikuti saran dari Jeimin. "Hanna, tunggu aku." Kali ini mereka sudah berjalan dipinggir pantai. Tapi Hanna sama sekali tak mengacuhkannya. Berjalan lurus menuju pasar. Jangan tanya dia bisa tahu pasar darimana. Sura tadi sempat melihat dia bertanya pada orang yang dia temui di jalan. "Hanna,_" "Apa sih oppa, berisik aja dari tadi. Jauh-jauh, aku nggak mau dekat-dekat oppa." Dia malah mempercepat langkahnya. Sura mengikut saja. Tak ada gunanya membujuk Hanna yang memang keras kepala itu. Dengan sabar dia mengikuti gadis itu yang tengah sibuk berbelanja dan menerima saja barang belanjaan yang disuruhnya untuk dibawakan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN