Kali Ini Sayang

1361 Kata
Aku terbangun dengan tubuh yang lebih ringan. Aku melirik jam di sebelah meja makan sudah menunjukan pukul 07.00. Sura juga tak ada lagi di atas tempat tidur. Sepertinya dia sudah bangun dari tadi. Aku tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadian tadi subuh. Aku yakin itu bukan mimpi. Aku masih bisa merasakan pelukan Sura. Pelukan hangat yang mampu membuatku tidur dengan nyaman. Aku ingin merasakan pelukan itu setiap hari. Kemudian aku tersadar dari lamunan gilaku di pagi hari. Ayo dong, Hanna. Jangan mimpi terlalu jauh, nanti jatuh nangis. Aku mengutuk diriku sendiri. Akupun bangkit dan segera mencuci muka. Sebenarnya aku ingin mandi tapi aku tak berdaya. Begini nasib kalau menumpang. Kita tak bisa seenaknya begitu saja untuk menentukan apa yang ingin kita lakukan. Usai merapikan tempat tidur dan mencuci muka. Aku segera ke bawah menuju dapur. Aku mendapati Sura tengah masak. Tak ada ayah, ibu ataupun abangnya. "Ada yang bisa aku bantu, oppa?" Sura langsung mendongak begitu mendengar suaraku. Senyumnya langsung terbit mendapati aku yang sudah berada di dekatnya. Nafasku langsung tercekat mendapati senyumnya. Manis sekali. Aku bisa mabuk kepayang nanti. Baru sekali saja bangun tidur disambut senyum semanis itu, sudah membuatku salah tingkah. Apalagi kalau setiap hari. Aduh, duh. Sepertinya aku benar-benar harus mencuci otakku. Singkirkan khayalanmu itu, Hanna. Sejak kapan sih kamu jadi begini. Kayak abg lagi jatuh cinta saja. "Kamu udah bangun?" Aku mengangguk menjawab pertanyaannya. Ia mendekatiku dan mengusap kepalaku. Aku langsung salah tingkah. Jantungku berdetak hebat. "Kamu duduk saja ya di sana. Tunggu oppa menyelesaikan ini sedikit lagi." Dia menuntunku menuju meja makan." Aku menurut saja dan duduk memerhatikan dia masak. "Tante dan om kemana?" "Mereka harus berangkat subuh sekali tadi ke rumah sakit. Ada kenalan yang lagi sakit." "Hmm, berarti cuma ada kita berdua di rumah ini?" "Iya, memang nya kenapa?" "Nggak ada sih." Aku sebenernya nggak suka kalau harus berduaan dengan Sura. Terlebih semenjak kami tadi malam tidur berdua. Rasanya benar-benar canggung. Aku ingin menanyakan kepadanya tapi nggak enak. Nanti malah kesannya nggak sopan. Nggak ditanyakan, aku penasaran setengah mati. "Oppa, aku mau tanya sesuatu tapi jangan marah ya?" Aku memandanginya dengan serius. "Ya, kenapa?" Sura menghentikan kegiatan memasaknya sejenak untuk menatap ku kemudian melanjutkan lagi. "Hmm.. semalam, apa terjadi sesuatu?" "Maksudnya, sesuatu yang seperti apa?" "Ya, apakah ada sesuatu yang terjadi, yang menyebabkan kita tidur berdua?" Aku menahan malu setengah mati saat mengatakannya. Aku yakin mukaku sudah merah padam sekarang. Sura berhenti lagi memasak dan menatap ku lekat. "Kalau semisalnya terjadi sesuatu, gimana?" Dia malah menatapku dengan senyuman jahil. Astaga, kok dari tadi kita mengatakan sesuatu yang malah terkesan ambigu sekali ya. Tapi aku sudah kepalang basah menanyakannya. Tak ada alasan untuk mundur. "Ih, aku serius oppa. Kan awalnya oppa tidur di bawah, kenapa kita jadi berakhir sama-sama tidur satu ranjang. Apa aku melakukan sesuatu yang aneh? Menarik oppa ke tempat tidur misalnya." "Hmm, kenapa malah kamu mikir kalau yg berbuat aneh itu kamu? Dimana-mana kalau ada kejadian seperti itu, cewek adanya mikir si cowok yang berniat aneh ketika mereka bisa berakhir satu ranjang seperti itu." "Hmm, ya nggak gitu juga oppa. Dua-dua nya sama-sama aneh sih." "Ya sudah kalau begitu, berarti memang kita berdua yang aneh." "Ih, oppa. Aku serius, selalu saja dibecandain." "Yang bilang aku becanda itu siapa?" Sura menatapku dengan serius. Ya juga sih, dia kan tipikal orang yang jarang sekali bercanda. Aku yakin dia malah nggak pernah bercanda. Tapi aku nggak puas dengan jawabannya. Tapi malas berdebat lebih lanjut. "Ah, sudahlah. Terserah oppa saja. Aku sudah malas untuk bertanya." Aku malah merajuk. Memang aku sewenang-wenang sekali kepadanya. Suka merajuk dan bertingkah kekanak-kanakan. "Hmm. Nggak usah ngambek begitu. Nanti cantiknya hilang. Ayo makan dulu." Sura Oppa sudah selesai menghidangkan makanannya. Sementara aku dengan enggan menatapnya. Sura yang menyadari tingkahku menarik nafas berat. "Nggak ada yang terjadi, sayang." Dia mengusap kepalaku. Aku sedikit kaget, terlebih mendengar panggilan sayangnya. Dia memang agak aneh akhir-akhir ini. Aku bukannya tak menyadari kode yang dia berikan. Hanya saja aku tak mau berharap. Aku juga nggak mau terluka lagi jika membuka hatiku. "Ayok, makan dulu. Sebelum sarapannya jadi dingin." "Jadi kenapa?" "Apanya yang kenapa?" Sura bertanya balik padaku. "Ih oppa, jadi kenapa aku bisa tidur sama oppa?" Aku malah kembali membahasnya lagi. Aku juga menghentakkan kaki dengan kesal. Cemberut seperti anak-anak yang merajuk tak diberikan mainan. Sura malah tersenyum melihat tingkah ku. "Kamu semalam mimpi buruk, sayang. Kamu berteriak-teriak seperti orang ketakutan, aku nggak tega seperti nya kamu sangat bersedih makanya aku pindah tidur untuk menenangkan mu." Aku menatap Sura dengan tatapan sulit diartikan. Jadi benar aku semalam mimpi buruk lagi. Aku kira hanya khayalanku saja. Aku tidak terlalu menyadari nya, mungkin karena setelah aku tidur nyenyak sekali. Apa karena aku tidur dengan Sura, makanya aku bisa tidur nyenyak? "Sudah, nggak usah dipikirkan lagi. Ayo sarapan dulu." Sura kembali mengusap kepalaku. Apa mengusap-usap kepalaku menjadi bagian dari hobi nya sekarang? Aku menurut saja dan memakan sarapan ku. Kami tak berbicara apa-apa lagi setelahnya. Hanya menghabiskan sarapan dalam diam. Usai sarapan, aku membantu Sura mencuci piring. Sementara dia mencuci dan membilas, aku mengeringkannya. Setelahnya aku kembali ke kamar. Aku pengen tidur lagi, memang penyakitku akhir-akhir ini setelah makan ingin tidur kembali. Efek sakit kemaren sepertinya. Aku berbaring di atas kasur. Mataku benar-benar berat. Aku sudah setengah sadar saat mendengar pintu kamar terbuka. Aku mendengar suara langkah kaki mendekat, tapi mataku enggan sekali dibuka. Aku tau itu adalah langkah Sura. Dia seperti meletakkan nampan di atas meja kecil disebelah tempat tidur, kemudian dua duduk di ranjang di sebelahku. "Sayang, obatnya di minum dulu." Sura mengusap kepalaku. Fiks, sudah pasti mengusap kepalaku adalah menjadi bagian dari hobinya sekarang. Aku membuka mata dengan enggan. Menatapnya dengan malas. "Aku ngantuk, oppa." "Iya, aku tau. Tapi kamu minum obat dulu ya, habis itu baru tidur lagi." Dia membantuku untuk duduk. Padahal aku juga bisa duduk sendiri, tapi aku menurut saja. Tak berniat memprotesnya. Bahkan aku membiarkan saja dia memanggilku sayang. Apa aku sudah seperti orang yang suka memberi harapan palsu ya? "Sekarang kamu tidur dulu." Sura membantuku untuk kembali berbaring. Aku menurut tanpa protes, karena mataku sudah mengantuk sekali. Aku bahkan tidak sadar lagi saat dia membenarkan selimutku. "Tidur yang nyenyak, sayang." Sura mengecup pucuk kepala Hanna. Dia menatap lama sebelum memutuskan untuk meninggalkan kamar. Aku berjalan menuju dapur. Sebelum pikiran kotorku menjalar kemana-mana karena berduaan terus dengan Hanna. *** Hyung, Hanna dimana? Vlo langsung berteriak ketika aku akhirnya mengangkat teleponnya. Reflek aku langsung menjauhkan ponsel dari telinga. "Ada disini." "Ih, kenapa dak bilang kalau Hanna sudah keluar Rumah Sakit. Kita kan dah terlanjur ke Rumah Sakit ini." Jeino bersungut-sungut. "Kalian kan nggak nanya." "Benar juga sih." komentar Vlo dengan polosnya. Langsung saja kepalanya di pukul Jeimin. "Ya nggak gitu juga kali alurnya. Harusnya tanpa kita tanya pun, hyung ngasih tahu. Apalagi Hanna kayaknya nggak pegang ponselnya." "Ya.. sakit tau. Nggak usah mukuk-mukul juga kali." Vlo protes kepada Jeimin. "Kalian berdua bisa diam, nggak?" Jun mengetengahi Vlo dan Jeimin. Karena kalau dibiarkan mereka akan bertengkar sampai berhari-hari. Keduanya pun langsung menurut. "Jadi sekarang Hanna-si lagi di rumah kamu?" Jun bertanya pada Sura. "Iya, hyung." "Kalau begitu kami akan ke sana." Putus Jeno. "Ya,_" Belum sempat aku protes mereka sudah memutuskan sambungan. "Sialan. Mereka nggak peka amat sih. Katanya jodoh-jodohin aku sama Hanna. Tapi giliran aku sudah punya kesempatan untuk berdua dengannya, malah mengganggu kami terus." Aku berdecak kesal. Memang mereka sangat tidak pengertian. Tidak sama sekali. Membuatku kesal saja. Aku pun memutuskan untuk ke ruang tamu, menghidupkan televisi. Sebenarnya aku ingin menulis. Tapi di sini tidak ada mini studio ataupun alat musik. Aku memang sengaja tidak membuatnya di rumah. Karena prinsip ku di rumah adalah waktunya me time dengan keluarga. Jadi aku tak mau membawa pekerjaan pulang. Hal itu juga sudah menjadi kesepakatan keluargaku. Tak ada seorangpun yang boleh membawa pekerjaan pulang. Ayahku sudah menerapkan prinsip itu dari dulu saat menikah dengan ibu. Mungkin karena itu juga rumah tangga nya harmonis sampai sekarang. Aku juga ingin seperti itu nanti jika menikah dengan Hanna. Aku terus-terusan mengganti channel televisi. Tak ada satupun yang menarik perhatianku. Akhirnya aku memutuskan untuk tidur juga. Masih jam 09.00 juga. Hanna nggak mungkin bakalan segera bangun. Jadi aku bisa tidur dulu. Aku melupakan perkataan member yang katanya ingin ke rumahku. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN