Hanna mengikuti Sura ke kamarnya. Laki-laki otu mengambil bantal, selimut, dan kasur satu lagi dari dalam lemari. Kemudian menggelarnya di lantai sebelah tempat tidur. Hanna hanya memandangi tingkah Sura.
"Apa jangan-jangan kita beneran harus tidur satu kamar?" gumamnya. Hanna tidak menyukai gagasan itu. "Kenapa Sura oppa tidak tidur di kamar abangnya saja? Aku yakin dia tidak akan keberatan menampung adiknya selama beberapw hari Hanna berada di rumah ini. Atau kenapa aku tidak tidur d kamar tamu saja? Aku yakin rumah ini juga memiliki kamar tamu. Tidak mungkin rasanya rumah sebesar ini tidak mempunyai kamar tamu."
"Nah, sudah selesai. Kamu tidur di atas sana, biar aku yang tidur di bawah," ujar Sura. Hanna menatapnya dengan ekspresi susah ditebak. Bukannya menuruti perkataannya. Hanna malah diam saja di depan pintu kamar. Sura mendekati Hanna dan menarik tangan gadis itu. Gadis itu hanya menurut tanpa sepatah katapun. "Sial banget ini tubuhku, bukannya menolah malah nurut begitu saja. Memang dasar otakku selalu tak sejalan dengan perbuatanku. Dasar penghianat!" Umpat Hanna dalam hati.
"Ayo, sekarang kamu tidur." Sura menuntun Hanna untuk berbaring lantas kemudian menyelimutinya. Hanna kembali menurut saja. Ia kembali tersadar setelah Sura melangkah menuju ke kamar mandi.
"Apa oppa yakin kita tidur satu kamar?" Sura menghentikan langkahnya kemudian memandangi Hanna dengan ekspresi yang tak bisa Hanna tebak.
"Kenapa memangnya? Kau keberatan kalau kita satu kamar? Kalau iya, aku bisa tidur di ruang tamu." Hanna menatap Sura dengan heran. "Maksudku bukan seperti itu juga. Nggak mungkin aku membiarkannya tidur di ruang tamu dengan cuaca seperti ini."
"Kamu nggak usah mikir aneh-aneh. Aku nggak bisa tidur bareng hyung karena memang dia kalau tidur harus di atas tempat tidur yang luas. Setiap aku mencoba tidur dengannya. Aku akan berakhir di lantai setiap saat. Kalau kamar tamu nggak bisa kata mama, sudah lama dijadikan gudang." Hanna bisa mihat sedikit ragu di wajahnya saat mengatakannya.
"Oh..eh, iya oppa. Oppa tidur di sini saja." Akhirnya Hanna mengalah. Tanpa menunggu jawaban Hanna lagi, Sura langsung ke kamar mandi. Hanna menghembuskan nafas dengan kasar yang sedari tadi ia tahan-tahan.
"Apa sih yang sebenarnya dipikirkan oleh Tante Yura. Aku kok nggak yakin soal kamar tamu yang sudah dijadikan gudang itu. Memikirkan harus tidur satu kamar dengan Sura oppa membuat otakku pusing saja."
"Apa jangan-jangan tante Yura salah paham sama hubunganku dengan Sura oppa?"
"Tapi sepertinya orang tua mana pun juga bakalan salah paham kalau anak laki-lakinya tiba-tiba membawa seorang gadis pulang. Aku lupa kalau di sini tu adalah budaya timur. Ini akibat aku terlalu santai dulu menginap di rumah Robert. Padahal kan aku hanya menginap saja karena sudah mengenal ibunya. Bahkan aku tidak tahu kalau ibunya adalah ibu Robert. Aku mengenal mereka di saat yang berbeda. Tapi kan itu budaya barat."
"Aduh. Apa yang harus aku lakukan. Kalau mereka sampai salah paham dengan hubungan kami bagaimana?"
"Sura oppa kenapa juga nggak menolak sedikitpun."
"Semua orang benar-benar menjodohkanku dengannya."
"Oh iya. Kalau dipikir-pikir sepertinha tante Yura tak hanya sekali ini memasukkan perempuan ke dalam kamar Sura. Apa sebelumnya juga sering terjadi? Apa nggak pernah bermasalah ya saat tante Yura memasukkan perempuan ke sini? Kalau sampao hal itu mempengaruhi karir oppa bagaimana? Ah sudahlah. Bukan urusanku. Sudah kepalang tanggung juga aku sekarang berada di sini."
Hanna merebahkan kembali tubuhnya. Ia kemudian melamun memikirkan bagaimana kalau Sura tau kalau ia suka berteriak dalam tidur. Hanna khawatir kalau mimpi buruknya akan muncul di saat seperti ini.
"Bagaimana kalau sampai Sura oppa mengetahui tentang mimpi burukku?"
"Bagaimana kalau aku sampai mengganggu orang satu rumah karena teriakanku nanti.
"Aku tak ingin mereka tahu tentang masa kelamku ini."
"Aku tak mau mereka tahu hal ini."
"Bagaimana kalau Sura oppa menjauhiku begitu mengetahui penyakitku? Aku belum siap untuk berjauhan dari mereka. Aku terbiasa dengan kehadiran mereka selama ini."
Karena kebanyakan berfikir dan melamun, sementara Sura belum juga keluar dari kamar mandi, Hanna sudah tertidur saat Sura kembali.
Sura berjalan menuju tempat tidur dan membenarkan selimut Hanna. Ia memandangi wajah Hanna cukup lama. Ia tersenyum melihat Hanna yang tampak tidur damai. Wajahnya sangat polos, dengan susah payah ia menahan diri untuk tidak mengecupnya. Kemudian dengan lancang Sura mengecup kening Hanna. Ia tidak bisa menahan keinginannya.
"Tidur yang nyenyak, sayang," bisiknya di telinga Hanna.
Ia kemudian ikut tidur di kasur yang di gelar di lantai. Sura sama sekali tak bisa tidur. Ia terus memandang langit-langit kamar. Memikirkan bagaimana cara mengungkapkan perasaannya pada Hanna. Lamunannya terputus oleh teriakan Hanna. Awalnya dia memang sudah mendengar suara-suara dari tempat tidur. Tapi karena ia tengah melamun, membuatnya tidak terlalu memikirkan suara tersebut.
"Tidak, jangan. Ibu." Hanna terus berteriak meskipun tidak kencang.
Sura langsung bangkit dan duduk di kasur. Memegang tangan Hanna. Berusaha untuk membangunkannya. Gadis itu tampak kesakitan, ketakutan, sedih. Air matanya sudah membanjiri pipinya.
"Hanna, kamu kenapa? Bangun." Sura terus menepuk pelan pipi Hanna. Sementara yang empunya tetap tidak bangun dan terus menggeleng-gelengkan kepalanya seolah menolak sesuatu yang tengah mendekatinya.
"Tidak, jangan. Hikhik. Ibu, maafkan Hanna. Maafkan Hanna. Tidak jangan sakiti aku.Jangan menyalahkan aku saja." Sura yang tak bisa membangunkan Hanna kemudian naik ke atas tempat tidur di sebelah Hanna. Ia juga tidak paham gadis itu berkata apa karena ia berbicara dalam bahasa Indonesia. Ia menyusup dibalik selimut dan mendekat pada Hanna. Membawa gadis itu dalam pelukannya.
"Sstt. Tenang, ada aku di sini. Aku tidak akan meninggalkanmu. Tenang ya sayang. Semua akan baik-baik saja. Itu hanya mimpi buruk. Aku tak akan membiarkan orang menyakitimu. Aku tak akan meninggalkanmu. Aku akan selalu menemanimu."
Sura menepuk-nepuk punggung Hanna yang kini berbaring dalam pelukannya. Sementara Hanna mulai sedikit tenang. Lalu perlahan mulai kembali tidur tanpa berteriak-teriak lagi.
Sura semakin mengeratkan pelukannya. Menghirup dalam-dalam wangi rambut Hanna. Ia ingin mengingat momen ini sebaik mungkin. Ia mengusap-usap punggung Hanna agar gadis itu merasa nyaman dan bisa tidur dengan tenang. Tanpa sadar Sura juga ikut tertidur.
"Tidak, jangan pukul. Jangan hakimi aku saja. Hanna memohon-mohon dengan pilu. Orang-orang ramai berkumpul mengelilinginya. Sementara Hanna diikat dan dilempari batu. Hanna bisa melihat semua orang, mulai dari guru di pondok, teman-teman dan keluarganya memandanginya dengan benci. Hanna juga bisa melihat Nanda dan keluarganya memandanginya yang terbaring tak berdaya. Hanna menangis memandangi mereka dengan penuh benci.
"Kau pantas mendapatkan itu jalang!" Teriak isteri Nanda.
"Hanna, kau pikir selama ini aku mencintaimu? Untuk lima tahun hubungan kita. Aku ucapkan terimakasih. Aku sangat puas." Nanda ikut mencemooh Hanna. Gadis itu semakin merasa sakit. Ia memandangi mereka dengan perasaan benci.
"Rana, kamu sudah mengecewakan keluarga kita." Bibinya ikut melemparkan tatapan jijik pada Hanna.
"Kamu tidak seharusnya menjadi bagian dari keluarga kita." Yanuar menambahi. Hanna menarik rambutnya dengan frustasi. Ia merasa semakin sesak. Semua orang tak ada yang berniat menolongnya satu pun. Mereka hanya sibuk mencemooh dan melemparinya.
Saat ia merasa tidak ada yang menolong. Hanna melihat ada yang mendekatinya. Semakin dekat ia semakin bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tidak salah lagi itu adalah Sura.
"Apakah dia juga akan ikut melempariku? Apakah dia juga tidak memercayaiku?"
Hanna semakin sedih. Rasanya ada batu besar yang menghimpit dadanya. Semakin lama ia semakin merasa sesak. Kemudian Sura jongkok di hadapan Hanna. Lantas kemudian menarik tubuh Hanna ke dalam pelukannya. Ia menepuk-nepuk punggung Hanna.
"Tenang saja, aku tak akan meninggalkanmu. Ada aku di sini, kamu tak perlu menghadapi semua sendiri. Aku tak akan meninggalkanmu. Aku tak akan membiarkan kamu menghadapinya sendiri." Sura terus menepuk-nepuk punggung Hanna. Entah mengapa ia merasa lega. Semua beban yang ia rasakan mendadak hilang. Menguap begitu saja. Hanna menikmati pelukannya, mencium aroma nya erat-erat. Sekelilingnya mendadak buram lalu menghilang. Tanpa sadar Hanna sudah tertidur.
Hanna bangun keesokan paginya dengan perasaan lebih baik. Ia masih memejamkan mata. Mencoba memeluk guling dengan erat. Tapi merasa heran kenapa gulingnya terasa keras. Hanna menghirup udara dalam-dalam. Ia bisa mencium wangi parfum Sura.
"Apa karena ini kamarnya ya makanya wangi Sura tercium dengan jelas?" Kemudian kesadaran Hanna mulai perlahan kembali. Meskipun matanya masih enggan untuk di buka, seperti diberi lem super.
Hanna masih ingin tidur, sudah lama sekali ia tak bisa tidur senyaman ini. Meskipun tadi sempat mengalami mimpi buruk juga.
Hanna baru menyadari sepertinya ada sebuah benda berat yang kokoh tengah melingkar pinggangnya. Ia memutar otak dan sontak terbangun membuka matanya. Benar saja dugaannya. Hanna sadar jika itu adalah tangan dan di depan matanya sekarang adalah d**a. Hanna bisa menebak ini d**a siapa. Tidak salah lagi, ini adalah d**a Sura. Hanna hafal betul baju dan wanginya. Hanna bisa merasakan hembusan nafas yang hangat di atas kepalanya. Hanna sedikit menarik tubuhnya dengan pelan. Tidak mungkin ia membiarkan ini.
"Apa sih yang ada di otakku. Kenapa aku bisa tidur dengan Sura. Apa jangan-jangan kemaren malam aku benar-benar bermimpi dan oppa melihatnya?"
"Apa aku menariknya untuk tidur bersamaku?"
"Oh Tuhan, aku malu sekali."
Sedikit pelan Hanna memegang tangan Sura yang melingkari pinggangnya. Meskipun ia mengakui bahwa ia merasa nyaman dalam pelukan Sura. Bahkan ia bisa mengetahui bahwa mimpi buruknya semalam dan Sura yang datang dalam mimpinya mungkin adalah sebuah kenyataan. Mungkin perlakuan Sura di dunia nyata terbawa di dunia mimpi saat Sura mencoba menenangkan Hanna.
Sura langsung bergerak saat Hanna mencoba melepaskan diri pelukannya. Bukannya menjauh, dia malah menarik Hanna lebih dalam lagi ke dalam pelukannya.
"Stt.. Tidur dulu, ini masih subuh." Hanna kaget saat mendengar suara serak Sura dari atas kepalanya.
Ia menarik diri sedikit dan mendongak. Kini mata Sura sudah terbuka. Pandangan mereka saling bertemu. Dia mendekatkan wajahnya pada wajah Hanna. Ia bisa merasakan hembusan nafas. Hanna langsung salah tingkah. Ia menyadari bahwa ia sangat salah tingkah sekarang. Tiba-tiba Sura mengecup keningnya. Hanna terkejut, jantungnya berdetak lebih cepat. Wajahnya langsung merah padam. Sura tersenyum melihat Hanna yang salah tingkah. Dia semakin mengeratkan pelukannya. Tak berniat membiarkan Hanna pergi sedikitpun.
"Ya, oppa. Apa yang kamu lakukan," ujarnya akhirnya dengan susah payah. Ia mencoba menyembunyikan sikapnya yang salah tingkah di depan Sura.
"Tentu saja memberikan salam selamat pagi," jawab Sura ala kadarnya.
Hanna menarik diri dari pelukan Sura. Ia memandangi laki-laki itu dengan sebal.
"Salam selamat pagi seperti apa itu."
"Kenapa? Kamu mau salam selamat pagi yang beda?" Hanna memandang Sura tak mengerti. Otaknya mendadak berjalan lambat. Tapi saat ia paham maksud Sura, wajahnya langsung memerah.
"Kau.. kau. Kau menyebalkan oppa."
Sura kembali menarik Hanna dalam pelukannya. Mereka saling tatap satu sama lain. Hanna mencoba untuk menyembunyikan kegugupannya.
"Bukankah aku memang selalu menyebalkan di matamu." Hanna tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Sudah. Ayo tidur sebentar lagi. Masih jam lima."
"Tapi.."
"Ssstt, tak usah memikirkan apa-apa. Cukup istirahat saja." Ia kembali menepuk-nepuk punggung Hanna. Tanpa sadar gadis itu langsung kembali tidur.
Sura memandangi Hanna dengan sayang. Gadis itu sudah kembali tidur lagi. Ia mengeratkan pelukannya. Mencoba untuk menghafal setiap detik dari momen berharga mereka.
"Jadi itu sebabnya mengapa Hanna kesulitan tidur dan selalu saja begadang. Terlebih biasanya dia juga sepertinya harus mengonsumsi obat tidur setiap ingin tidur." Sura mengetahui itu saat berbincang dengan dokter psikiater yang merawat Hanna sewaktu dia sakit kemaren.
"Dia selalu bermimpi buruk." Sura mendesah berat. Ia semakin penasaran dengan masa lalu Hanna. Beban berat apa yang dia pikul. Ingin sekali ia berkata pada Hanna supaya gadis itu mau bercerita dan membagi beban itu kepadanya. Ia tak akan membiarkan gadis itu menanggungnya sendiri. Ia kembali mengecup kening Hanna dan ikut larut dalam mimpi.
Hanna kembali masuk ke dalam mimpi. Kali ini mimpinya terasa berbeda. Ada lautan bunga yang dihiasi oleh Kupu-kupu dan burung yang beterbangan.
"Ayo kita kesana, oppa." Ia menarik tangan seseorang dan kemudian berlari. Awalnya Hanna tak bisa melihat begitu jelas laki-laki yang ia panggil oppa itu. Lalu kemudian wajahnya semakin lama semakin jelas. Laki-laki itu adalah Sura. Mereka bermain dan tertawa.
"Ayo kejar aku oppa."
"Jangan lari-lari sayang."
"Ayo tangkap aku kalau berani."
"Dasar ya. Awas aja kalau kamu tertangkap." Sura mempercepat larinya dan berhasil menangkap Hanna. Gadis itu tertawa saat Sura memeluk dan menggelitikinya.
"Ampun oppa. Aku ngaku kalah deh."
"Jangan harap ya aku bakalan ngasih ampun." Sura tambah menggelitiki Hanna. Gadis itu semakin tak bisa menghentikan tawanya.
"Mama papa, tungguin aku." Seorang anak kecil tampak mengejar mereka dari kejauhan. Hanna tersenyum melihat anak itu.
"Ih papa mama jahat, malah ninggalin Yuna sendiri." Gadis itu bersungut-sungut pada mereka.
"Sayangnya papa sini. Habis mama kamu tadi tiba-tiba lari." Sura membujuk gadis tersebut. Ia masih tak melepaskan pelukannya pada Hanna.
"Gendong dulu. Kalau nggak, Yuna nggak bakalan maafin." Gadis itu memasang wajah cemberut dan melipat kedua tangannya di d**a. Hanna dan Sura saling pandang. Mereka tertawa saat melihat tingkah menggemaskan anak gadisnya.
****