"Ayo kita makan dulu ke bawah." Sura memutuskan kecanggungan di antara mereka. Hanna mengangguk dan kemudian mengekorinya. Saat mereka sampai di dapur, semua orang sudah terlebih dahulu duduk berkumpul. Hanna yakin pria paruh baya yang tengah menatapnya itu adalah ayahnya Sura. Selain itu ada juga abangnya Sura yang sudah pulang.
"Ayo duduk di sini sayang." Hanna mengangguk kepada Yura dan duduk di seberang kursi yang dia duduki. Yura mulai mengambilkan nasi. Sementara Hanna membantu mengisikan minum. Hanna juga ikut mengambilkan beberapa lauk untuk Sura. Hanna hafal makanan kesukaan Sura. Apa yang ia lakukan tidak luput dari perhatian keluarganya Sura. Mereka saling pandang dan tersenyum penuh arti. Mereka mulai makan dalam diam.
"Jadi nama kamu siapa?" Ayah Sura memutuskan keheningan di antara mereka. Hanna mendongak menatapnya dan menghentikan makannya.
"Rana Hanna, Om". Hanna tersenyum ramah.
"Saya Kim Jeoun Hyun. Ayahnya Sura.
"Aku Kim Sean," celutuk abangnya Sura. "Abang nya tentu saja. "Aku Rana Hanna, oppa," balas Hanna ramah.
"Asal kamu dari mana?"
"Indonesia, om."
"Wah, jauh ya. Om pernah ke Ambon dulu sewaktu muda. Lumayan lama, sekitar dua bulanan. Ada projek di sana dulu. Pantainya di sana indah-indah. Makanannya juga lezat-lezat."
"Wah, benarkah Om?" Hanna langsung bersemangat menanggapinya. Kebiasaannya memang selalu seperti itu saat ada yang membahas Indonesia. Meski jarang pulang, Hanna adalah tipikal orang yang sangat mencintai tanah air. Jadi ia sangat bersemangat setiap ada yang membahas Indonesia. "Pantai di sana memang bagus-bagus, Om. Di Indonesia, Ambon termasuk daerah Indonesia timur. Daerah Indonesia timur terkenal akan keindahan alamnya, utamanya pantai. Karena banyak yang belum di sentuh oleh manusia."
"Ia, tapi sayangnya infrastrukturnya kurang memadai. Tak sama seperti Jakarta."
"Benar om, infrastruktur daerah timur tak sebagus daerah yang ada di pulau Jawa. Bagaimana pun pembangunan di Indonesia belum merata. Akses terhadap suatu daerah, terlebih daerah perbatasan dan terpencil jauh dari kata layak. Pekerjaan rumah yang besar bagi pemerintah untuk meratakan pembangunan. Tak hanya pemerintah sebenarnya. Masyarakat juga ikut andil dengan tertib bayar pajak misalnya."
"Ia benar sekali. Bahkan saat Om di sana. Ada wanita yang meninggal saat melahirkan anak karena terlambat mendapatkan pertolongan medis. Waktu itu, si ibu mempunyai kelainan jadi tidak bisa melahirkan secara normal. Anaknya meninggal diperjalanan di atas perahu yang mereka gunakan untuk membawanya dari pulau."
Tak terasa makan malam pun usai, sementara Hanna dan Hyun asik mengobrol. Bahkan sampai melupakan orang sekitar. Mereka terus mengobrol sampai pindah ke ruang tamu.
"Jadi kamu bekerja di mana Hanna? Sepertinya kamu sangat lihai dalam isu lingkungan dan sosial." Hyun melanjutkan pertanyaannya saat mereka sudah duduk di ruang tamu. .
"Ayah, biarkan Hanna meminum susunya dulu. Jangan diajakin ngobrol terus. Dia juga harus meminum obatnya." Sura memotong percakapan seru di antara Hanna dan ayahnya.
"Iya ih papa dari tadi ngobrol terus. Ibu sampai nggak punya celah untuk ikut nimbrung." Yura bersungut-sungut menatap suaminya. Tak terima jika dari tadi dia tak punya kesempatan untuk mengobrol dengan calon menantunya itu. Padahal dia yang pertama mengetahui Hanna. Harusnya dia yang lebih banyak mengenal Hanna.
"Arasso- arasso. Hanna minum dulu s**u dan obatnya." Hanna menurut saja. Sura menyodorkan s**u kepadanya. Hanna langsung meminumnya sampai habis.
"Sepertinya keluarga ini memang mempunyai kebiasaan minum s**u sebelun tidur, makanya yang dihidangkan adalah susu."
Kemudian Sura juga membantu Hanna minum obat yang sudah dia sediakan dari tadi. Interaksi antara Hanna dan Sura tak luput dari pandangan kedua orang tuanya. Sementara abangnya Sura sudah kembali ke kamarnya. "Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Aku naik dulu," ujarnya. "Hanna anggap saja seperti rumah sendiri. Nggak usah sungkan." Gadis itu mengangguk mengiyakan.
"Jadi kamu kerja dimana?" Hyun kembali mengulang pertanyaannya."
"Di New York, Om." Hanna sebenarnya malas mau menjelaskan lebih lanjut. Untungnya Sura memotong percakapan mereka. Dia paham betul bahwa Hanna tak terlalu suka menjelaskan pekerjaannya. Jadi dia membantu gadis itu menjelaskan.
"Dia bekerja di PBB. Wakil ketua bidang kemanusiaan."
"Benarkah sayang?" Yura memandangi Hanna dengan wajah tak percaya. "Maaf sebelumnya, umur kamu berapa sayang? Sepertinya kamu masih sangat muda."
"Iya tante, umurku 28. Sebenarnya sudah tua sih." Hanna menggaruk kepalanya karena gugup.
"Wah, kamu masih sangat muda sekali. Umur segitu masih sangat muda Hanna. Kamu hebat sekali bisa menjabat jabatan penting seperti itu di usia muda," puji Hyun dengan tulus. "Mungkin kamu merasa tua karena jika mengikuti culture umur di Indonesia memang umur 28 tidak lagi muda." Hanna mengangguk.
"Iya benar, kamu hebat sekali sayang. Kamu masih muda kok. Jangan kawatir masalah umur. Masa depan kamu masih panjang." Yura mengangguk setuju.
"Berarti kamu sering ke daerah konflik, ya?" ujar Hyun.
"Iya Om, dulu sebelum diangkat menjadi wakil. Aku bekerja sebagai penasihat yang menjadi penengah berbagai permasalahan kemanusiaan. Jadi lebih sering berada di daerah konflik untuk memberikan nasihat."
"Kamu tidak takut sayang berada di tengah perang seperti itu? Pindah-pindah kan berarti?" Tante Yura ikut bertanya.
"Iya tante. Hehe, sebenarnya ada terbersit rasa takut juga, saat terlibat dalam suasana konflik seperti itu. Terlebih kita juga harus berada di pengungsian. Memberikan support moral bagi anak-anak, orang lanjut usia dan perempuan. Tapi melihat mereka saja yang berani terlibat langsung dengan kondisi tersebut setiap hari, yang mana nyawa mereka bisa melayang begitu saja setiap saat. Membuat keberanian itu ikut muncul. Bagaimanapun kita harus mengutamakan kepentingan bersama untuk segera mengakhiri perang yang tidak berkesudahan ini. Korban yang tidak bersalah harus dihindari. Jadi tak ada gunanya juga jika Hanna terlalu menyayangi nyawa sendiri."
"Benar sekali. Om pikir itu tak hanya tugas orang-orang sepertimu. Tapi adalah tugas semua orang sebagai seorang manusia. Itu adalah pekerjaan rumah untuk kita semua." Hanna mengangguk setuju.
"Jadi kamu sekarang lagi liburan atau ada pekerjaan di sini sayang?" ujar tante Yura. Hanma tak menjawab.
"Hanna tengah istirahat panjang dulu." Sura berbaik hati menjawab pertanyaan ibunya.
"Kenapa? kamu sakit? Tadi kamu minum obat apa? Maaf ya kalau tante terlalu kepo." "Pertanyaan tante Yura tepat sasaran sekali," pikir Hanna.
"Hehe, sedikit sakit tante." Hanna sedikit salah tingkah.
"Sedikit apanya." Sura mulai mengomel. "Kamu di rawat sampai sebulan begitu, kamu bilang sedikit? Nyawa kamu hampir melayang karena kebanyakan kerja. Masih saja bilang sakit sedikit." Sura menatapnya tajam. Ayah dan ibunya saling pandang dengan tatapan penuh arti sementara Hanna hanya diam.
"Kamu sakit apa sayang?"
"Tipus tante. Terlalu kecapean. Akhir-akhir ini ada banyak sekali pekerjaan, terlebih semenjak tak lagi bekerja di lapangan. Aku lebih sibuk dari pada biasanya, jadi kurang istirahat."
"Usia kamu masih sangat belia. Terlebih dengan jabatan yang diemban, pastinya sangat melelahkan. Kamu harus banyak istirahat. Jangan menerima semua pekerjaan. Kamu harus membaginya dengan orang lain. Bukannya kamu juga punya tim yang bisa membantu pekerjaanmu. Jangan keseringan membawa pekerjaan ke rumah. Harus makan yang cukup. Bagaimana pun kesehatan itu penting. Tak ada gunanya karir yang bagus dan uang yang banyak kalau kita harus menukarnya dengan kesehatan." Nasehat Hyun pada Hanna yang hanya menjawabnya dengan anggukan saja.
"Orang yang tak bisa berkata tidak seperti Hanna susah untuk hidup tenang, Pa," sindir Sura. Gadis itu mendelik sebal pada Sura.
"Bukannya oppa juga selalu seenaknya menyuruhku sampai aku tak bisa menolak."
"Aku menyuruhmu untuk kepentinganmu sendiri," bela Sura.
"Kepentinganku atau kepentinganmu." Hanna tak terima. Hyun dan Yura hanya tertawa melihat pertengkaran kecil kedua pasangan itu.
"Kalian berdua sama-sama keras kepala," gumam Hyun. Hanna dan Sura akhirnya diam tak melanjutkan perdebatan mereka.
"Kamu pergi ke Korea untuk istirahat berarti?" ujar tante Yura.
"Tidak tante."
"Lalu?" Hanna enggan untuk menjawab.
"Dia sakit saat tengah berkunjung di sini. Saat selesai melakukan pertemuan di gedung Biru, dia pingsan dan dilarikan ke Rumah Sakit. Akhirnya dia di rawat selama sebulan di sini. Hari ini baru keluar Rumah Sakit," jawab Sura.
"Astaga sayang. Berarti kamu baru saja sembuh. Kenapa kamu malah nyampe di sini. Tante lihat tadi kamu juga datang sendiri. Kamu sepertinya tidak janjian dengan Sura. Pokoknya kamu nggak boleh kecapean. Apalagi bergadang." Yura terlihat panik.
"Hanna baik-baik saja tante. Hanna suntuk sebulan terakhir ini di rumah sakit terus. Tadi Hanna tergiur melihat masakan di restoran tante makanya bisa sampai di sini."
"Ya, sampai-sampai keluar rumah sakit saja nggak ngasih kabar," sindir Sura.
"Pendendam sekali ya anda."
"Aku hanya mengatakan fakta."
"Iya, maaf tuan Sura. Lain kali hamba lapor kalau kemana-mana."
"Sudah. Kalian jangan bertengkar terus. Yang penting Hanna sudah sampai di sini. Tandanya kalian jodoh kalau sampai Hanna menemukan tempat ini tanpa kamu kasih tahu. Sudah, Sura, ajak Hanna istirahat dulu. Besok kita lanjut ngobrol lagi," Ujar ayahnya.
"Benar. Ajak istirahat di kamarmu sana. Biar Hanna lekas pulih."
"Entah mengapa aku malah merasa ada maksud tersembunyi dari perkataan Tante Yura. Sepertinya dia kembali pada keinginan utamanya untuk menjodoh-jodohkan ku dengan anaknya." Sura mengangguk dan berdiri.
"Ayo Hanna. Ikuti Sura.l," ujar Hyun. "Kita bisa lanjutkan lagi obrolan besok. Kalian harus istirahat dulu." Hanna hanya mengangguk patuh.
"Kalau begitu Hanna istirahat dulu ya om, tante." Ia kemudian mengekori Sura yang sudah terlebih dahulu naik ke lantai atas.
"Sepertinya Sura sangat menyukai Hanna," ujar Hyun.
"Papa juga merasa seperti itu kan? Menurut mama dia malah sudah cinta mati. Nggak biasa-biasanya dia mau mengajak perempuan. Apalagi dari tadi mama masukin Hanna ke kamarnya dia tak protes sama sekali. Papa tau, tadi mama melihat mereka bergandengan tangan di pantai. Awalnya mama nggak percaya waktu anak-anak di restoran melaporkan ke mama kalau Sura tengah melayani pelanggan, bahkan duduk satu meja dengannya. Mama nggak percaya sampai melihatnya dengan mata kepala sendiri. Sura bahkan tak mengalihkan pandangannya dari Hanna dari awal
"Yura tersenyum-senyum sendiri saat mengingat kejadian manis dua sejoli itu di pantai.
"Wah, benarkah sayang? Berarti kita harus menyiapkan diri. Kita harus membuat Hanna nyaman agar mau terus bersama Sura. Sudah sangat bagus, anak bungsu kita itu mau berinteraksi dengan perempuan. Apalagi sampai mau mengajak pulang seperti itu. Papa lihat Hanna juga gadis baik dan sebenarnya sangat penurut."
Kedua suami istri itu saling mengangguk dan tersenyum. Mereka sangat bahagia mengetahui anaknya itu menyukai seorang gadis juga. Melihat bagaimana selama ini dia selalu kabur saat ibunya memasukkan perempuan membuat mereka berfikir jika anaknya ada kelainan. Ternyata tidak. Bahkan anaknya tak menyembunyikan sama sekali rasa sukanya pada Hanna.
Bagi mereka, tak penting siapa yang akan menjadi menantunya kelak. Asal gadis itu baik dan bisa menyayangi anaknya dengan sepenuh hati. Mereka akan menerimanya, tak peduli latar belakang gadis itu. Prinsip keluarga mereka adalah, kebahagiaan diri adalah hal yang paling utama. Jika ada sesuatu yang bisa membuatmu bahagia. Selama itu berasal dari sesuatu yang baik. Maka akan dipertahankan.
"Ya, menurut mama juga seperti itu. Meskipun sepertinya jalan Sura masih panjang. Sepertinya Hanna tak terlalu peka dengan perasaan Sura."
"Iya. Dia sepertinya tak menyadari perasaan Sura. Tapi nggak apa-apa. Semua bisa dilakukan dengan perlahan. Nanti mereka akan menyadari dengan sendirinya. Kita hanya perlu membantu."
"Ah, mama jadi nggak sabar menunggu kelanjutan hubungan mereka. Menurut mama Hanna sepertinya muslim."
"Kalau papa lihat juga seperti itu. Tapi bagi papa pribadi tidak masalah kalau Sura berpindah keyakinan mengikuti istrinya."
"Mama juga. Asalkan mereka bahagia."
"Iya. Biarkan anak-anak yang menentukan. Mau seperti apa nanti kelanjutan hubungan mereka. Kita hanya perlu mendukung sepenuh hati."
"Menurut mama, Hanna tidak baik-baik saja. Mama lihat dia juga banyak melamun saat bersama kita. Apakah papa pikir dia mempunyai banyak masalah? Mama ingin mengetahui masalahnya. Sepertinya ada banyak luka dan beban yang ia simpan. Tado saja saat mau masuk di rumah. Ia mengatakan rumah kita bagus. Dia menyukainya. Awalnya mama kora dia menyukai desain rumah kita atau besarnya rumah kita. Tapi saat mendengar pekerjaannya dan juga memikirkan jika nanti dia menikah beneran dengan Sura. Tentu saja ia bisa mendapatkan rumah yang jauah lebih mewah dan besar daripada rumah kita."
"Papa paham. Jadi maksud mama, mungkin maksud dari perkataan Hanna adalah, ia sebenarnya menyukai rumah kita karena menyukai kesan klasik dan kehangatan dan kenangan yang terbentuk selama keluarga kita menempatinya."
"Iya, menurut mama seperti itu. Ada kekosongan dan kesedihan dari ucapannya. Ia seperti merindukan masa lalu dan keluarganya. Mama penasaran, apakah ia merindukan keluarganya? Apakah dia tidak pernah pulang? Mama ingin tahu. Tapi mama takut menyinggung perasaanya. Mama pikir penyakitnya bukan datang karena terlalu lelah bekerja. Ia mungkin lelah berfikir dan membutuhkan orang untuk berbagi beban dengannya."
"Setelah mendengar cerita mama, papa pikir juga seperti itu. Mama ingat tadi dia bilang, dia suka masakan mama. Membuat ia teringat masakan ibunya. Apakah ibunya sudah meninggal?"
"Kita akan mengetahuinya pelan-pelan."
"Iya, tidak usah menanyakan langsung padanya. Kalau iya takutnya malah membuat dia tambah sedih. Kita bisa bertanya pada Sura nanti." Yura mengangguk menyetujui usulan suaminya.
***