"Kamu menginap saja malam ini di sini." Sura menahan Hanna saat gadis itu tengah bersiap kembali ke Seoul.
"Heh?" Hanna mengernyit, memandanginya dengan penuh tanya. Hanna ingin memastikan bahwa telinganya tidak salah dengar.
"Iya kamu nginap aja di sini." Suara seorang wanita sukses membuat Hanna berpaling. Ia melihat seorang wanita paruh baya yang wajahnya masih terlihat cantik meskipun sudah berumur tengah menatap ia dan Sura.
"Dia mirip sekali dengan Sura oppa. Apa ini ibunya, oppa?" pikir Hanna. "Oiya, perkenalkan, tante Kim Yura, mamanya Sura." Hanna menyambut uluran tangan Yura dengan senyum ramah.
"Rana Hanna, tante."
"Aduh cantiknya. Ayok, kamu ikut tante ke rumah. Malam ini nginap saja di sini. Nanti baliknya bareng Sura. Atau nanti tante antar ke Seoul juga bisa. Kamu nginap yang lama aja di sini. Sura mah dia cuma beberapa hari di sini. Kamu bebas di sini sampai kapanpun kamu mau."
Ibunya Sura tak berhenti mengoceh. Tampak begitu bersemangat. Hanna melongo kaget, ia buru-buru menutup mulut agar ibunya Sura tidak tersinggung. Berbeda sekali dengan Sura yang irit bicara dan selalu terkesan datar. Ibunya malah cerewet dan ceria. "Apa Sura oppa keturunan Ayahnya?"
"Tapi, aku tidak bawa apa-apa ke sini, tante."
"Gampang mah itu, nanti pakai baju tante. Atau kalau kamu nggak mau memakai baju orang tua. Kamu bisa pakai baju Sura. Atau apakah kita pergi belanja dulu saja?" Tanpa menunggu jawaban Hanna, Yura langsung menariknya ke mobilnya yang terparkir tak jauh dari restoran. Sementara Sura hanya mengekor dari belakang.
"Mama, aku kok malah ditinggal," teriak seorang laki-laki. Reflek mereka melirik ke arah sumber suara tersebut. Seorang laki-laki yang sedikit mirip dengan Sura mengejar. Hanna memperkirakan laki-laki itu adalah abangnya Sura. Ia tahu kalau Sura mempunyai seorang saudara laki-laki.
"Kau seperti anak kecil saja, merengek seperti itu. Sana urus dulu restoran. Mama mau bawa calon mantu pulang." Hanna nyaris tersedak ludahnya sendiri saat mendengar ucapan Yura. "Wah-wah, alamat bakalan tidak beres ini." Sementara Sura hanya diam saja saat ibunya mengatakan bahwa Hanna adalah calon menantunya. Hanna menyipitkan mata kepada Sura, menuntut jawaban. Sementara itu, yang di tatap hanya buang muka. Acuh tak acuh.
"Ya sudah. Aku balik saja. Memang aku anak yang tak diharapkan," ujar abangnya sedikit mendramatisir. Yura nyaris saja melempar anak sulungnya itu dengan sandal. Sementara yang mau dilempar malah sudah terlebih dahulu kabur meninggalkan mereka.
"Maaf ya, anak tante yang satu itu memang rada-rada. Heran deh, dulu waktu hamil ngidam apa. Punya anak kok gini amat sifatnya. Yang satu b****k nggak ketulungan. Satunya lagi datarnya minta ampun." Yura terus mengomel, bahkan saat mereka sudah berada di mobil sekalipun. Aku dan tante Yura duduk di jok belakang. Sementara Sura sendiri menyetir di depan. "Dia seperti supir saja."
"Jadi, kamu asalnya dari mana sayang?"
"Indonesia, tante."
"Wah, jauh sekali ya. Tapi nggak apa-apa. Dari dulu tante selalu penasaran ingin pergi ke sana. Apalagi Lombok. Tante dengar di sana lebih indah dibanding Bali. Sayangnya belum ada waktu untuk pergi sekeluarga ke tempat sejauh itu."
"Benar tante. Bali juga indah, hanya saja karena pantainya sudah banyak dijamah jadi tak semenarik Lombok lagi, yang rata-rata masih perawan." Hanna mulai bersemangat menjelaskan. Ia selalu bersemangat setiap kali ada orang yang bertanya mengenai Indonesia.
"Kamu tinggal di Provinsi bagian mananya?"
"Kalau aku dari Provinsi Sumatera Barat, namanya tante. Disana juga ada banyak pantai. Ada pantai dan ada gunung berapi. Pantainya juga tak kalah indah, bahkan banyak yang masih belum di eksplor. Garis pantainya lebih panjang daripada Lombok. Sehingga banyak yang tak dijamah manusia. Di sana juga banyak Pulau terpencil yang sangat indah. Bahkan ada yang seperti merasa di Maldives."
"Tante jadi semakin penasaran. Pokoknya, kamu harus bawa tante kesana."
"Ayok tante. Besok kita ke Indonesia." Hanna mulai berapi-api. Mengobrol dengan Yura sangat menyenangkan bagi Hanna. Mereka bahkan tak mengacuhkan Sura sepanjang perjalanan. Ada saja yang mereka obrolkan. Entah itu makanan atau wisata. Pokoknya Hanna mendadak menjadi seperti pemateri yang tengah memberikan seminar ekowisata.
Tak terasa mereka sudah sampai di rumah orang tuanya Sura. Hanna kagum melihat rumahnya yang tidak terlalu besar itu, tapi tampak asri sekali. Ada lantai dua juga yang sepertinya juga dijadikan taman dan tempat bersantai. Hanna ingin mencoba tiduran di sana. Hanna membayangkan rumah orang tuanya Sura akan sangat mewah. Tapi ternyata tidak. Sepertinya, ini rumah lama mereka yang sedikit direnovasi. "Mungkin orang tuanya enggan pindah dan enggan menghapus kenangan rumah itu. Aku sangat menyukai rumah ini. Tampak hangat dan nyaman. Andai Ibu masih ada, aku juga ingin membuat rumah seperti ini. Kalau sekarang, apa gunanya lagi aku membuat rumah yang bagus. Tak ada juga yang menempati. Tak ada keluarga juga yang menungguku untuk pulang."
Hanna terlalut dalam emosinya sesaat. Ia melihat kesekeliling. Ada taman bunga dan ayunan. Pekarangannya lumayan luas. Ada beberapa kebun juga yang berisi sayuran dan bumbu masakan. Juga ada kolam ikan. "Sepertinya aku akan betah berlama-lama di sini."
"Rumah tante bagus. Hanna suka." Tanpa sadar dia berbicara sendiri.
"Kalau kamu suka kamu bisa tinggal di sini selama apapun yang kamu mau."
Hanna melihat Yura yang juga tengah menatapnya. Ia baru sadar kalau tadi tengah berbicara.
"Eh, aku bukannya bergumam dalam hati ya?" ucapnya dengan polos. Yura tertawa mendengar ucapan Hanna.
"Dasar anak gadis ini." Yura pun merangkul Hanna. "Ayo masuk sayang. Anggap saja rumah sendiri." Ia pun membuka pintu rumah dan menarik Hanna masuk.
Hanna kembali dibuat terpana saat melihat desain dalam rumah yang tampak simple tapi menurutnya sangat keren. "Rumah impianku." Tanpa sadar Hanna bergumam dalam Bahasa Indonesia. Ia kemudian berjalan menyusuri lemari yang banyak menyimpan foto-foto dan juga beberapa piala. Yura sudah meninggalkan Hanna menuju sebuah pintu, yang sepertinya adalah kamarnya. Sementara itu, Sura masih setia mengekorinya sambil terus mengikuti arah pandang mata Hanna.
Hanna berhenti di depan sebuah foto. Ia yakin sekali foto anak kecil itu adalah Sura. Tanpa sadar ia tersenyum saat memandang foto itu. Sura tampak sangat imut, dia tersenyum manis ke kamera dan tangannya tengah memegang setangkai Lollipop. Hanna tidak sadar jika Sura juga tersenyum melihat tingkahnya itu.
"Sayang. Sepertinya kamu pinjam bajunya Sura saja. Tante nggak bisa menemukan baju yang pas untukmu. Tapi untuk celana dan yang lainnya ada." Hanna paham maksud dari perkataan lainnya itu. Ia meraih pakaian yang sudah diserahkan Yura.
"Terimakasih tante. Aku pinjam punyanua oppa saja nanti."
"Sama-sama sayang. Sura, sana antar Hanna ke kamarmu. Biar Hanna mandi dulu dan beristirahat sebentar sebelum makan malam." Sura hanya mengangguk dan berjalan menuju lantai dua.
"Sana ikuti Oppa." Hanna mengangguk patuh dan pergi setelah mengucapkan terimakasih sekali lagi.
Senyum Hanna kembali terbit saat memandang kamar Sura. "Gaya kamarnya tidak jauh berbeda dengan yang ada di dorm. Jangan tanya aku tau darimana. Karena aku sering beberapa kali pernah tidur di kamar mereka. Selalu berpindah-pindah. Entah siapa yang mengangkatku saat ketiduran kalau berkunjung. Lebih jengkelnya lagi tak ada satupun yang mengaku atau paling tidak membangunkanku supaya aku bisa pindah sendiri. Aku akan sadar beberapa saat kemudian, bingung sendiri, memikirkan dimana aku berada."
"Oppa, kenapa tak ada yang membangunkanku," rengek Hanna suatu hari saat ia bermain di dorm Star One. Kejadian itu sebelum dia sakit dan masih sering bermain di sana.
"Kamu tidur nyenyak kayak gitu, siapa juga yang mau bangunin," ujar Jun.
"Siapa tadi yang mindahin aku? Ini juga udah jam berapa. Aku kan nggak mungkin pulang naik transportasi umum." Hanna mendengus jengkel saat ia melihat jam di dinding yang menunjukan pukul 01.00 malam.
"Kamu nginap di sini saja," ujar Vlo.
"Jangan bercanda deh."
"Siapa juga yang ngajak bercanda.
"Oppa aku serius lo."
"Aku juga serius Hanna. Ini udah jam berapa. Manager juga nggak ada. Kamu menginap saja."
"Aku pinjam mobilmu saja," ujar Hanna pada Jun.
"Mobilku di bengkel."
Hanna melirik jengkel. Jelas sekali dia membohongi Hanna. Padahal gadis itu melihat mobilnya tadi ada di basment.
"Sudah jangan manyun kayak gitu nuuna. Nuuna tidur di kamarku saja." Jeno segera mendorongnya masuk kembali ke kamarnya sebelum Hanna sempat protes.
"Ini bajunya. Kamu mandi di sana. Ada handuk baru dan sikat gigi baru juga di lemarinya." Hanna mengangguk saja dan menerima baju yang diserahkan Sura. Ia kemudian berjalan menuju kamar mandi dan menghilang di balik pintu.
"Aku heran dengan Tante Yura. Kenapa mau saja membiarkanku, yang notabenenya adalah orang asing, untuk menginap di rumah ini. Bahkan aku disuruh menginap di kamar anaknya. Meskipun dia belum mengatakannya. Tapi aku yakin sekali bahwa sesuatu yang mencurigakan tengah terjadi." Hanna tiba-tiba bergedik ngeri. Jangan-jangan aku disuruh tidur satu kamar dengan Sura, parahnya lagi disuruh tidur satu ranjang." Hanna buru-buru mengenyahkan pikiran konyolnya itu.
Usai mandi Hanna keluar dengan pakaian lengkap. Seperti biasa, baju Sura yang pada dasarnya ukurannya memang besar, dibadannya malah tambah besar lagi. Hanna nyaris tenggelam. Panjang kaos itu sampai bawah lututnya dan lengan kaos tersebut nyaris mencapai pergelangan tangan Hanna. Padahal itu baju berlengan pendek. Hanya celana Yura yang lumayan pas ia kenakan. Meskipun masih sedikit kebesaran. Hanna memakai kupluk seperti biasa. Entah mengapa ia tak suka, padahal biasanya juga ia memakai baju yang kebesaran.
"Oppa, apa tidak ada bajumu yang lebih kecil lagi?" Hanna bersungut-sungut mengadu padanya yang tengah berbaring sambil bersandar di kepala ranjang. Dia hanya melirik Hanna sekilas tadi saat ia keluar dari kamar mandi. Kemudian dia kembali sibuk dengan ponselnya.
Sura kembali memandangi Hanna saat ia mengadu. Tapi bukannya menjawab pertanyaan Hanna, dia malah melirik gadis itu dari atas ke bawah. Memindai penampilannya. Kemudian tersenyum smirk.
"Ih, jawab dong, oppa." Hanna sedikit menghentakkan kaki karena kesal diabaikan oleh Sura. Memang terkadang sikapnya pada Sura tidak bisa dikontrol. Hanna suka melewati batas saat bersamanya.
"Kamu seperti orang-orangan sawah," komentarnya. Dia tertawa sedikit, tapi di mata Hanna, kesannya malah mengejek.
"Udah tau kek orang-orangan sawah masih aja dikasih ini." Hanna bersungut-sungut dan mulai memasukkan baju ke celananya. Tak sadar kalau dia masih berada di depan Sura. "Otakku sepertinya sudah kutinggalkan di pantai tadi. Hal memalukan apa yang aku lakukan di hadapan laki-laki." Hanna sedikit kaget dengan kelakuannya. Tapi ia tetap tidak sadar dan terus saja mengomel sambil merapikan pakaiannya. Sura sedikit menarik lengan Hanna agar mendekatinya. Hanna menurut saja tak menyadari sikapnya yang sangat abstrak itu. Sura membantunya menggulung lengan baju. Dia seperti tengah menolong anak kecil yang kesulitan berpakaian. Dia lebih seperti bapak-bapak.
"Sudah kan? Nggak kayak orang-orangan sawah lagi." Dia tersenyum gemas dan mengusap-usap kepala Hanna yang ditutupi kupluk. Kalau saja Hanna mengurai rambut, pasti dia sudah mengacak-acaknya.
"Lumayan."
"Sini duduk dulu." Dia menarik Hanna duduk di dekatnya secara tiba-tiba. Nyaris saja Hanna menghambur dalam pelukannya kalau Hanna tidak bisa menahan keseimbangan. Jantungnya berdebar kencang. "Dasar ni orang." Hanna mengumpat dalam hati. Hanna nyaris tak bisa mengendalikan diri. Terlebih jarak wajah ia dan Sura hanya beberapa centi.
"Kamu istirahat dulu. Nanti bakalan dipanggil mama kalau sudah waktunya makan malam. Atau kamu mau tidur dulu?" Dia menepuk-nepuk kasur disebelah dia bersandar.
"Kau menyuruhku tidur, sementara kau masih duduk di sana, oppa?"
"Kenapa memangnya?"
"Dasar. Ini orang emang tidak peka atau bagaimana. Masak aku tidur dengannya. Jatuhnya seperti itu. Entahlah kalau otakku saja yang berfikiran seperti itu." Hanna hanya menarik nafas berat.
"Aku ke dapur saja, membantu tante masak." Hanna berdiri tapi langsung ditarik kembali oleh Sura. Tarikannya kali ini sukses membuat Hanna jatuh ke dalam pelukannya. Hanna kaget, begitupun Sura. Mereka saling bertatapan satu sama lain. Mendadak sekeliling menjadi hening. Hanna bahkan bisa mendengarkan jantungnya yang berdetak kencang. Hanna khawatir Sura akan ikut mendengarnya.
"Sayang, makanannya sudah siap. Ayo kita,.. " Suara pintu terbuka dan kemunculan Yura sukses membuyarkan lamunan Hanna dan Sura. Hanna langsung bangkit menarik diri dari pelukannya. Ia sedikit salah tingkah. Begitupun juga dengan Sura.
"Makan," sambung Yura menyelesaikan ucapannya yang tadi sempat terpotong.
"Aduh-aduh. Sepertinya mama masuk di waktu yang tidak tepat. Kalian santai saja. Mama ke dapur dulu. Take your time." Tante Yura langsung menutup pintu dan kembali ke dapur sambil bersiul senang. "Sepertinya sebentar lagi aku akan punya cucu dan mantu."
"Mama kenapa senyum-senyum sendiri?" Tegur suaminya yang baru saja sampai di rumah. " Oiya, Sura mana?" Baru saja suaminya akan melangkahkan kaki menuju lantai dua untuk menemui Sura. Tangannya langsung ditarik oleh Yura.
"Ih papa ngapain mau ke atas? Ganggu aja. Mama kan mau punya cucu."
"Hah?" Laki-laki itu langsung memasang tampang cengo. Tak paham dengan maksud perkataan istrinya yang sering tidak jelas itu.
"Sura lagi sama calon mantu mama. Jadi papa jangan ganggu." Tanpa menunggu interogasi lebih lanjut dari suaminya, Yura langsung kembali menuju dapur. Sementara suaminya hanya menatap istrinya itu sembari geleng-geleng kepala.
"Apa dia memasukkan perempuan lagi ke kamar Sura? Tapi tumben itu anak nggak berteriak heboh. Biasanya jika istrinya sudah melakukan itu, Sura akan berlari pontang panting menuju bawah." Park hanya menggelengkan kepala. "Lebih baik aku mandi dan nanti mencari tahu sendiri nanti."
****