Pertemuan Tak Disengaja

2041 Kata
Hanna baru saja sampai di apartemen. Sebenarnya Ae Ri bersikeras ingin menemani Hanna di apartemen, tapi dia ada pekerjaan di luar kota. Hanna tak ingin gadis itu meninggalkan pekerjaannya hanya karena Hanna. Berkali-kali Hanna meyakinkan Ae Ri, bahwa ia baik-baik saja jika tinggal sendiri di apartemen. Tapi gadis itu tetap saja meragukan ucapan Hanna. "Aku beneran sudah baikan Ae Ri. Kamu jangan khawatir. Sana buruan berangkat. Nanti malah ditinggal." Hanna mendorong tubuh Ae Ri agar segera keluar dari apartemen. "Kalau terus dibiarkan, dia akan tetap di sini." "Beneran loh ya? Kamu janji untuk mengabariku setiap dua jam. Kamu juga harus makan teratur dan minum obat. Jangan mikirin apa-apa. Jangan kerja dan kamu hanya boleh istirahat saja." Dia memberondong Hanna dengan banyak nasihat dan memaksa gadis itu untuk berjanji padanya. "Ia sayangku yang bawel. Sana berangkat. Kamu juga hati-hati." "Ya sudah, aku berangkat dulu ya." Akhirnya Ae Ri meninggalkan apartemen, meskipun Hanna yakin kalau dia masih merasa keberatan. Hanna segera menuju kamar. Mandi dan keramas. Selama di Rumah Sakit ia jarang keramas. Berhubung sekarang ia santai, lebih baik memanjakan diri. Setelah mengeringkan rambut, Hanna segera merebahkan diri. Ia senang bisa keluar dari Rumah Sakit. Ae Ri menyempatkan diri untuk menjemputnya tadi pagi, tepat sebelum dia harus pergi keluar kota untuk bekerja. "Sudah siap untuk kembali pulang nyonya Sura?" Sapanya pagi-pagi saat menjemput Hanna. Gadis itu menghadiahi tatapan mematikan pada Ae Ri. "Berhenti memanggilku dengan nama nyonya Sura. Memangnya aku isterinya apa?" "Calon. Sebentar lagi juga akan menjadi isterinya." "Kalau ngomong suka sembarangan saja." "Siapa juga yang ngomong sembarangan. Kenyataan kan? Hubungan kamu dan Sura lebih dari sekedar teman." "Ya memang dia sudah seperti kakekku yang selalu mengomel." "Hanna. Kau tahu kan yang aku maksud bukan itu." "Lalu apa lagi yang kau maksud?" Hanna berpura-pura tidak mengerti. Ae Ri mendelik malas. "Terserah nyonya Sura deh." Hanna hanya tertawa menanggapinya. Tak ada satupun yang tahu kalau Hanna sudah keluar dari Rumah Sakit. Sura pun juga tidak tahu. Hanna malas untuk menghubunginya. "Sepertinya dia tengah sibuk. Karena hampir seminggu ini, dia tidak menghubungiku lagi. Anggota Star One juga jarang mengobrol di grup akhir-akhir ini. Aku juga tidak mengetahui jadwal mereka, karena tidak ada lagi yang membocorkan jadwal mereka kepadaku. Biarkan saja, palingan sebentar lagi mereka bakalan heboh sendiri mencariku." Hanna menyecroll sns miliknya, mencari secara acak apapun yang bisa ia lihat. Hanna menemukan sebuah foto makanan yang tampaknya enak sekali. "Ah, aku jadi ingin memakannya." Hanna pun membrowsing akun tersebut dan menemukan alamatnya. Ia segera bangkit dan berganti pakaian. Ia ingin pergi ke sana. Hanna tengah berada di bis antar kota. Jarak Restoran dan apartemennya lumayan jauh karena letaknya di luar kota. Meskipun masih disekitaran Seoul. Hanna menyenderkan kepala ke jendela Bus. Memandangi jalanan yang mulai memperlihatkan laut. Hanna tersenyum, memandang dengan takjub pada ciptaan Tuhan yang satu ini. Hanna bersenandung lirih mengikuti lirik lagu yang tengah aku dengar melalui headfree. Setelah perjalanan beberapa jam, akhirnya bus berhenti di titik perhentian dekat Restoran. Hanna segera berjalan menuju Restoran yang persis berada di pinggir pantai. Restorannya mewah dengan pemandangan laut yang menyegarkan. "Selamat datang. Apakah anda sudah membooking terlebih dahulu?" Pelayan restoran menyambut Hanna begitu gadis itu masuk. Hanna tak menyadari jika ada mata yang kaget melihat keberadaannya. "Belum," jawabnya jujur. "Kalau begitu mari kami antar ke meja F." Hanna mengikuti pelayan tersebut. Dia membawa Hanna ke meja yang agak sedikit tersembunyi lokasinya, tapi mempunyai pemandangan yang sangat bagus. "Mari, silahkan dilihat dulu menunya. Mau pesan apa?" Hanna pun menyebutkan makanan yang tadi ia lihat di sns serta beberapa tambahan lain. Setelah mencatat pesanannya pada tablet. Pelayan pun meninggalkan meja. Hanna memotret pemandangan dengan ponsel, lalu kemudian membuat postingan. "Ada banyak hal di dunia ini yang masih menjadi misteri. Kelanjutan kisah kita, misalnya." Segera saja ponselnya bergetar. Banyak sekali notif like dan komentar yang ia dapatkan. "Wah dimana itu ka? Cantik sekali." "Kaka masih di Seoul?" "Kaka sudah keluar dari rumah sakit? Syukurlah." "Kau dimana?" Jun berkomentar. "Di hatimu." Hanna membalas dengan emot tertawa. "Na, nggak mau pulang?" Yanuar ikut berkomentar. "Ini udah pulang, bang," selorohnya. Padahal ia yakin sekali bahwa kata pulang yang dimaksud adalah pulang kampung. "Silahkan makanannya." Suara laki-laki itu mengagetkan Hanna. Suaranya terdengar familiar. Hanna mendongak dan mendapati wajah Sura yang dingin tengah menatapnya. Ada perasaan kesal yang terselip dari tatapannya. "Apa dia marah karena aku tak mengabari?" "Oppa." "Kenapa kau tidak mengabari kalau sudah keluar Rumah Sakit?" Benar dugaan Hanna, dia marah karena gadis itu tak mengabari mereka. "Kenapa oppa bisa ada di sini?" Bukannya menjawab pertanyaannya. Hanna malah bertanya balik. "Makan dulu makananmu." Hanna pun makan dengan enggan, bukan karena tidak enak tapi karena kesal pada Sura. "Kebiasaan sekali laki-laki satu ini. Selalu saja mengalihkan pembicaraan." "Oppa tidak makan?" "Hmm." Hanna mendesah malas. Ia pun mengambil sumpit dan menyerahkan pada Sura. Dia menerima begitu saja dan mulai makan. "Oppa tidak ada jadwal?" "Tidak ada." "Aku kira sibuk. Sampai tak sempat mengirim pesan. Anggota lain juga tak ada yang mengirim pesan." "Iya, kemaren-kemaren jadwal kami memang padat. Aku juga baru lowong dari kemaren siang." Hanna hanya mengangguk-angguk tak berniat untuk menanyakan lebih lanjut. "Ngomong-ngomong oppa ngapain di sini?" "Hmm." "Astaga. Dari tadi kok jawabannya hamm hemm hamm hemm mulu sih." Hanna mulai kesel. Dengan cemberut Hanna menyendok makanan. Sura sudah akan menjawab omelan Hanna, tapi dihentikan oleh kedatangan pelayan. "Servis gratis." Seorang pelayan mengantarkan satu mangkuk besar es krim saat hidangan di meja mulai habis. Hanna tak sadar kalau makanan kami mulai habis. Matanya langsung berbinar-binar melihatnya. "Kok bisa dapat servis gratis?" Hanna bertanya pada pelayan itu. "Iya nona, karena anda sudah memesan banyak makanan jadi anda dapat servis gratis. Ada lagi pesanan yang mau di tambah, nona?" "Nggak ada. Terimakasih." "Kalau begitu saya pamit dulu." Hannamulai menyendok es krim tersebut. Bahkan ia lupa menawarkannya pada Sura. Sementara Sura hanya menatap Hanna tanpa berkedip. "Kamu kenapa bisa sampai di sini? Dan kapan kamu keluar dari rumah sakit?" "Tadi pagi. Aku mendadak kepengen memakan makanan di restoran ini. Saat aku menyecroll i********: tadi pagi, aku menemukannya." "Lalu kamu ke sini pakai apa? Obat kamu sudah di minum? Di bawa kan?" "Sura Oppa tak ada bedanya dengan Ae-ri. Sama-sama cerewet." Hanna gemas melihatnya. "Aku tadi naik bus. Obatnya dibawa kok. Tapi aku belum minum. Sebentar lagi." "Mana obatnya?" Hanna pun menyerahkan tasnya begitu saja pada Sura. Dia langsung membukanya dan mengeluarkan obat. Kemudian menyisihkan satu persatu obat yang harus Hanna minum siang ini. Hanna memandanginya dengan intens. "Masih sama seperti biasa. Dia sama sekali nggak berubah. Dia bahkan tak merasa risih saat harus memeriksa tas seorang perempuan. Meskipun tak ada juga barang rahasia yang aku sembunyikan. Aku masih penasaran kenapa dia bisa ada di sini." Hanna dengan iseng menyuapi Sura dengan es krim yang diterima begitu saja oleh Sura. "Menggemaskan." Tanpa sadar Hanna tersenyum melihatnya. Usai menghabiskan es krim, Hanna pun meminum obat yang sudah disiapkan oleh Sura. Ia sedikit mengernyit akibat rasa obat yang pahit itu. Sura menyerahkan air minum banyak-banyak padanya. Hanna menerima dengan senang hati. "Oppa masih belum menjawab pertanyaanku. Kenapa oppa bisa berada di sini? Oiya tadi oppa jadi pelayan. Apa ini restoran milik oppa?" "Hmm.. Tebakan kamu kurang tepat. Oiya mau main di sana nggak?" Sura menunjuk pantai yang memang terhubung dengan restoran. Pengunjung bisa langsung mencapainya dengan cara melewati tangga yang ada di depan meja makan Hanna. Karena memang tempat ia makan berada di balkon luar. Pantainya seperti dilingkupi oleh restoran menciptakan kesan bahwa itu adalah pantai pribadi. "Mau." "Ya sudah ayo." Hanna ikut berdiri saat Sura berdiri. Entah sadar atau tidak, dia menggandeng tangan Hanna. Hanna sedikit kaget tapi membiarkannya saja. "Kalau sampai ada wartawan atau netizen nyasar. Aku bisa masuk tranding topik lagi di lambe turah." Genggaman tangan Sura sangat hangat. Hanna merasa sangat nyaman. Mereka berjalan menyusuri pantai dalam diam. Dia menggandeng tangan Hanna terus. Semakin lama malah semakin erat, seolah enggan melepaskan nya. "Oppa belum menjawabku. Siapa pemilik restoran ini? Kenapa oppa bisa bebas sekali?" "Restoran ini merupakan restoran keluarga yang dijalankan oleh ibuku. Makanya aku membantu saat punya waktu pulang kampung." Hanna terkejut saat mendengar jawaban Sura. "Berarti tadi juga ada ibunya Sura Oppa dong. Atau jangan-jangan ibunya sudah memperhatikan kita dari tadi yang dari tadi seperti orang pacaran saja." Hanna meringis kaget. Ingin melepaskan pegangan Sura tapi dia malah mengeratkan genggamannya. "Biarkan seperti ini lebih lama lagi." Akhirnya Hanna membiarkan Sura menggenggam tangannya sepanjang pantai. Mereka menyusuri pantai dalam keheningan. Tak ada seorangpun yang berniat untuk kembali berbicara. Diam-diam Hanna tersenyum menikmati momen ini. "Berarti oppa sering di sini kalau liburan?" "Lumayan. Aku selalu di sini kalau liburan." "Apa penggemarmu tak tahu kalau kamu lagi liburan? Yang aku tahu kalau punya penggemar mereka pasti seperti dewa. Lebih tahu jadwal idolnya dibanding si idol sendiri. Kenapa aku lihat tak ada seorang pun dari mereka di sini. Atau jangan-jangan mereka ada cuma lagi nyamar aja." Hanna bergidik ngeri. "Jangan mikirin yang nggak-nggak deh." Sura menyentil kening Hanna. Gadis itu melirik sebal padanya. "Dari awal sudah pernah mengatakan kalau aku nggak suka privasiku dan keluargaku diganggu. Jadi dari awal mereka tak pernah ke sini saat aku berada di sini. Bukannya tak tahu jadwalku. Tapi karena menghargaiku makanya mereka nggak ke sini. Aku tak pernah melarang mereka mengikutiku kemana saja. Asalkan bukan di sini saja." Hanna mengangguk paham. "Berarti mereka memang penggemar setianya oppa ya. Mereka mau menuruti maumu." "Iya, cuma kamu saka yang tidak mau menuruti mauku." "Ya, apa maksudnya itu? Memangnya aku penggemarmu." Hanna mendelik kesal. "Memangnya kau tidak menyukaiku?" "Apa hubungannya menyukai dengan menjadi penggemar?" "Jawab saja pertanyaanku!" Nada suara Sura kembali memerintah. "Dasar pemaksa." Bukannya menjawab Hanna malah berlari. Sura langsung mengejarnya. "Jangan lari-larian. Kamu belum sembuh sepenuhnya." "Bodo amat." Hanna mencibir ke arah Sura. Laki-laki itu mempercepat larinya dan langsung menangkap Hanna. Ia langsung merangkul pinggang Hanna agar gadis itu tak kabur kembali. "Lepasin oppa." "Tidak sampai kau berhenti berlari." "Oke, aku akan berhenti berlari. Mengerti." "Aku tak.percaya padamu." "Dasar menyebalkan,"gumam Hanna. "Kau bilang apa tadi?" "Kau tambah ganteng saja oppa," jawabnya asal. "Dasar pembohong." Sura mengeratkan pelukannya di pinggang Hanna. "Mau sampai kapan kau merangkulku seperti ini, oppa?" "Aku tak akan melepaskannya sampai kita kembali ke restoran." "Jangan mengada-ada deh oppa. Kalau sampai dilihat oleh orang lain bagaimana?" "Memangnya kenapa?" "Malah nanya kenapa." "Ya aku tak tahu kenapa makanya aku bertanya." "Terserah oppa deh." Hanna merenggut sebal. Sura malah tertawa melihat tingkahnya. Ia gemas sekali sampai ingin rasanya mencium gadis itu. Tapi ia tak mungkin melakukannya. Nanti Hanna akan menghadiahkan bogem mentah padanya. Ia tahu betul gadis itu tak suka disentuh-sentuh. Sekarang saja sudah termasuk beruntung Hanna tak memukulnya karena sedari tadi merangkulnya seperti itu. "Kau akan berada di Korea sampai kapan?" "Belum tahu oppa. Aku cuti sampai waktu yang tidak ditentukan." "Bagus itu. Kamu di sini saja, menemaniku." "Kenapa kau seperti anak kecil begini? Kemana-mana minta ditemani," sindir Hanna. "Memangnya kamu tidak mau menemaniku?" "Males banget." "Ngomong apa tadi?" "Aku ogah. Males banget. Menemanimu artinya aku harus menemani bayi besar. Tak cuma satu. Pasti tujuh orang." Sura tertawa mendengar ucapan Hanna. Ia tahu bayi besar yang mana yang dimaksud gadis itu. Ia tahu gadis itu hanya bercanda. Padahal Hanna senang sekali kalau sudah berkumpul dengan anggotanya yang lain. "Dasar lain di mulut lain di hati." "Apa?" "Nggak ada. Kamu tambah cantik aja." "Jangan membalikan perkataanku tadi oppa." "Kenapa? Aku kan hanya menyampaikannya kembali padamu." "Dasar pendendam." "Sudah. Jangan mengomel terus. Nanti tambah cantik." Sura semakin menjadi menggoda Hanna. "Dasar kakek tua menyebalkan." "Siapa yang kamu bilang kakek-kakek?" "Memangnya aku di sini sama siapa lagi kalau bukan sama oppa." "Mulutmu makin tajam ya." "Yang ngajarin kan oppa." "Sejak kapan aku mengajarimu seperti itu?" "Kau melakukannya padaku, ya aku hanya mempraktekkannya padamu oppa." "Jangan meniru yang tidak baik." "Jadi kau mengakui mulutmu itu tidak baik? "Hanna." Sura mengeram menahan kesal pada Hanna. Gadis itu hanya tertawa. "Kau tak akan bisa menang berdebat denganku oppa." "Ya, laki-laki memang tak bisa menang berdebat dengan perempuan." Gadis itu hanya tertawa. Udara dari angin laut mulai dingin. Hanna sedikit menggigil karena memang tak memakai jaket. Sura yang menyadarinya buru-buru membawanya kembali ke restoran. Hanna menurut saja, meskipun sebenarnya masih ingin bermain-main. Tapi Hanna juga tak mau jatuh sakit hanya karena terkena angin laut. Apalagi kondisinya tak sekuat biasanya. Semenjak sakit sistem kekebalan tubuhnya juga ikut menurun. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN