Kesehatan Hanna perlahan mulai membaik. Tepat setelah satu bulan menempati kamar Rumah Sakit, ia pun diperbolehkan pulang. Setelah kedatangan pertama member Star One tempo hari.
Mereka tak pernah absen mengunjungi Hanna disela jadwal mereka yang padat. Untung saja mereka tak mempunyai jadwal di luar Korea bulan ini. Jadi dengan senang hati mereka menemani Hanna. Meskipun Hanna suka pusing kalau mereka sudah mengunjunginya secara berbarengan.
Kamarnya mendadak jadi seperti taman bermain anak. Ada saja yang mereka perdebatkan. Hanna merasa salut dengan manager mereka yang mampu menangani sifat mereka. Terlebih kejahilan Vlo dan Jeimin. Jeno jangan ditanya. Dia adalah dongsaeng yang bebas berbuat semaunya terhadap hyung-nya. Tapi tak ada yang marah jika dijahili oleh Jeno.
"Hanna, Jeimin jahat sekali padaku," adu Vlo.
"Kenapa dia oppa?"
"Masak dia tidak mau mengajariku menari."
"Bukannya yang biasanya mengajarimua Jacop oppa?"
"Iya. Tapi hyung menyeramkan sekali kalau marah." Vlo baru tersadar kalau ia keceplosan langsung berlari tepat sebelum bantal yang dilempar oleh Jacop mengenai kepalanya. Hanna menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah mereka. "Mereka sudah tua tapi lebih kekanak-kanakan dari pada aku."
"Hanna-si bantu aku. Hyung mau menyiksaku." Vlo langsung bersembunyi di belakang punggungku. Waktu itu Hanna tengah berdiri setelah kembali dari kamar mandi.
"Jangan libatkan Hanna pada urusan kita," seru Jacop jengkel.
"Oppa selamatkan aku dari peperangan mereka." Hanna ikut mendramatisir keadaan.
"Sudah..sudah. Kalian ini nggak bisa tenang sedikit aja. Kasian Hanna bukannya cepat sembuh malah bakalan tambah parah gara-gara melihat kelakuan kalian," relai Jun. Ia pun membantu Hanna kembali ke kamar tidur. Saat itu hanya mereka berempat yang mengunjungi Hanna.
"Hanna, lain kali kamu nggak usah terima Jun hyung buat jengukin," ujar Jeno.
"Loh kenapa aku yang kena?"
"Kau memang menyebalkan, hyung," ungkap Vlo. Jun hanya geleng-geleng kepala diserang oleh dua maknae-nya.
"Kasian sekali aku. Nggak punya salah apa-apa tetap aja kena."
"Haha. Sabar ya oppa. Lain kali kalau datang buat persiapan dulu," sahut Hanna.
Di antara semua anggota Star One, Sura yang paling sering mengunjungi Hanna. Hampir setiap hari. Dia hanya absen kalau harus ke luar kota yang memakan waktu 2 jam-an dari Rumah Sakit. Jika dia keluar kota dan masih bisa ditempuh perjalanan 2 jam dari Rumah Sakit. Dia akan memaksakan diri untuk menemui Hanna.
Seperti malam ini, dia tiba-tiba saja sudah berada di sofa dan tidur. Hanna kaget saat keluar dari kamat mandi. "Astaga. Aku kira siapa." Terlebih lampu kamar sudah ia matikan. Untung saja Hanna bisa mengenalinya. Kalau tidak, mungkin sandal jepitnya sudah melayang ke kepala sura.
Hanna mendekati Sura. Dia sama sekali tak terusik dengan keberadaan gadis itu. Hanna berjongkok didekat kepalanya. Merasa penasaran. "Tumben sekali dia tidur. Tidak biasanya dia datang lantas langsung tidur," gumam Hanna sepelan mungkin. Padahal ia yakin Sura ke sini membawakannya makanan. Biasanya dia akan langsung menyambut Hanna untuk makan bersama. Kalau dia sampai tidur seperti ini, artinya ada yang tidak beres dengan nya. Hanna menempelkan punggung tangannya ke kening Sura. Benar saja dugaannya, dia ternyata demam. "Keras kepala sekali anak ini. Di cuaca seperti ini dia malah memaksakan diri untuk datang menemuiku. Padahal besok dia harus syuting iklan juga." Jangan heran darimana Hanna tahu. Karena Sura menyebutkan semua jadwalnya pada Hanna dan Hanna secara otomatis langsung menghafalnya.
Hanna pun bangkit berniat untuk menemui Suster untuk meminta kompres pereda demam. Karena ia yakin Sura tidak akan mau diobati oleh Dokter. Tiba-tiba dia mencekal tangan Hanna.
“Jangan pergi.”
Hanna kaget dengan sentuhan Sura. Ia diam sebentar mencoba melihat reaksinya. "Sepertinya dia tidak bangun. Apa dia tengah bermimpi?"
“Oppa sudah bangun?” Hanna berbisik pelan ditelinganya. Tak ada jawaban darinya. Dengan hati-hati ia melepaskan cekalan Sura dan segera mencari perawat.
“Yura eouni. Aku boleh mendapatkan kompres demam instan?” ujarnya pada salah seorang perawat yang ia kenal.
Beberapa Perawat dan Dokter Rumah Sakit ini, bahkan petugas kebersihan sudah menjadi teman Hanna. Sebulan berada di Rumah Sakit membuat mereka mengenali Hanna. Terlebih ia selalu berkeliaran karena tidak betah berada di kamar. Dan yang paling penting karena banyak orang penting yang mengunjunginua, Presiden dan Star One contohnya. Tapi untungnya Rumah Sakit ini sangat menjaga privasi. Jadi tak ada satupun kejadian itu yang bisa bocor ke media. Salah satu perawat yang dekat dengan Hanna adalah Yura eouni ini. Dia sangat baik pada Hanna, makanya ia betah ngobrol dengannya.
“Untuk apa? Kau sakit?” Dia menempelkan punggung lengannya ke kening Hanna.
“ Tidak. Hanya saja Sura Oppa sepertinya demam. Keningnya panas sekali tadi. Jadi aku berniat mengompresnya. Karena aku yakin dia tidak akan mau diperiksa oleh Dokter.”
“Ya sudah aku saja yang coba periksa.”
“Mau periksa apa mau modus," ujar Hanna berniat menggodanya.
“Arasso arasso, nggak usah cemburuan gitu. Nih, kamu pakai punyaku.” Dia tersenyum jahil berbalik menggoda Hanna.
“Lah, kamu sering demam juga, eouni?” Hanna mengalihkan pembicaraan. Dia sama saja seperti anggota Star One. Suka menjodoh-jodohkan Hanna dengan Sura.
“Nggak juga. Cuma kalau lagi sibuk dan ngerasa demam sementara aku nggak bisa istirahat. Aku suka menempelkannya ke kepala. Sana, segera obati. Kasian dia pasti merasa tak nyaman.” Hanna mengambil kompres darinya.
“Thank you, eounni.” Hanna pun meninggalkan tempat jaganya.
Saat Hanna sampai di kamar rupanya Sura sudah bangun. Dia menatap Hanna dengan seksama sampai ia duduk di kursi dekatnya.
“Dari mana saja?” Seperti biasa, suaranya selalu datar. Hanna ingin menabok mulutnya itu. "Bisa nggak sih dia berkata dengan nada yang lebih lembut?" Tak menjawab pertanyaannya. Hanna langsung menyibak rambut Sura setelah membuka kemasan kompres. Dia agak sedikit kaget saat keningnya disentuh oleh Hanna. Gadis itu kemudian memasangkan kompres. Sura tak membantah sama sekali.
"Kalau sakit itu, istirahat oppa. Bukannya kesini." Tanpa sadar Hanna merapikan rambutnya.
Matanya beradu pandang dengan Sura. Dia menatap Hanna dengan tak berkedip. Hanna merasa cara pandang Sura terhadapnya berbeda. Bukan tatapan tajam yang menyiratkan keengganan ataupun ketidaksukaan. Tapi tatapan tajam yang menyimpan kerinduan. Entah Hanna saja yang kegeeran atau bagaimana. Sura mendekatkan wajahnya pada Hanna. Gadis itu langsung kaget. Otaknya mulai berpikir yang tidak-tidak. Bukannya ia tidak tahu. Hanya saja ia tak mau memikirkan hal yang seperti itu.
Tiba-tiba saja Sura menyentuh rambut Hanna dan menyisirnya ke belakang. "Ia hanya merapikan rambutku. Astaga, aku malah berfikiran kemana-mana." Hanna yakin wajahnya sudah memerah sekarang. "Ampuni hamba, Tuhan," gumam Hanna.
"Kamu sudah makan?" Dia bertanya sambil meraih paper bag yang berada di atas meja. Lantas kemudian berdiri untuk menghidupkan lampu. Setelah itu dia menyusun bekal yang dibawanya.
Hanna tahu itu adalah masakan Jun, karena Sura tidak mungkin sempat untuk masak. Sepertinya dia sudah meminta Jun untuk memasak kemudian singgah sebentar ke dorm mereka untuk mengambilnya. Hanna tahu karena jalan menuju ke sini harus melewati dorm mereka.
"Tadi Jun hyung menitipkannya padaku. Maaf aku tidak sempat memasak." Dia lantas menyerahkan sumpit dan sendok pada Hanna.
Hanna menarik nafas berat. "Bukannya harusnya oppa yang makan?"
"Aku sudah makan tadi di perjalanan."
"Junk food lagi?"
Dia hanya mengangguk. Hanna mengambil sesuap makanan dengan sendok lantas menyuapi Sura. Dia kaget dengan perlakuan Hanna. Tapi tak menolak. Hanna sendiri juga ikut makan menggunakan sendok yang sama. Ia lupa kalau Sura dan dirinya berbeda. Bisa saja Sura merasa jijik. Tapi Hanna tak peduli.
Kebiasaannya saat masih sering berada di lapangan. Hanna dan teman-temannya selalu memakai sendok yang sama dan saling menyuapi. Tapi Sura tidak menolak ataupun tampak merasa jijik. Dia makan dengan lahap.
"Oppa pulang saja sehabis makan. Istirahat langsung begitu sampai rumah. Jangan melakukan hal lain lagi, yang paling penting kamu dilarang masuk ke studio malam ini oppa. Demammu itu lumayan parah. Kamu juga ada syuting iklan kan besok? Sehabis syuting jadwalmu kosong kan? Kau harus langsung pulang dan tidur. Kalau perlu melakukan hibernasi." Tanpa sadar Hanna mengomel sambil terus menyuapi Sura. Hana merasa seperti mak-mak yang tengah menyuapi anaknya yang sedang sakit sembari mengomeli anak tersebut yang masih saja bandel.
Sura merebut sendok dari tangan Hanna. Mengambil sejumlah lauk dan nasi lantas menyuapinya.
"Kau kalau dibiarkan mengomel terus, perutmu itu tak akan pernah terisi."
Hanna memanyunkan bibirnya. Kesal dengan tanggapan Sura.
"Jangan manyun-manyun gitu. Tambah jelek."
"Ish. Kau mengesalkan sekali, oppa." Hanna bertingkah seolah merajuk tapi tetap menerima suapan darinya.
"Kau minum obat dulu. Setelah itu tidur. Aku akan pulang setelah kamu berangkat tidur."
"Aku masih belum mengantuk oppa."
"Ini sudah jam 10.00 Hanna. Kau bahkan baru makan dan minum obat. Kau mengelabui perawat lagi kan tadi?" Dia selalu bisa menebak Hanna dengan benar. Benar sekali, Hanna seringkali membohongi perawat, mengatakan akan makan sebentar lagi dan meminum obat. Tapi setelahnya, obatnya langsung ia sembunyikan. Hanya makanannya yang ia makan karena tak ingin membuang-buang makanan.
Harna pernah ketahuan Sura saat melakukan itu. Semenjak itu dia selalu menyempatkan datang setiap saat dia luang. Mengawasi Hanna minum obat. Padahal Hanna tak mau minum obat yang tak ada habis-habisnya itu. Dari kecil ia memang selalu susah saat disuruh minum obat.
"Iya bawel. Ih, padahal aku masih pengen main ponsel." Sura bersedekap memandangi Hanna dengan tajam. Tapi di mata Hanna ia tampak lucu karena ada kompres di dahinya.
"Arasso. Arasso." Hanna lantas berbaring, menuruti kemauannya setelah meminum obat dengan amat sangat terpaksa. Sura kemudian menyelimuti Hanna. Membenarkan rambutnya agar Hanna merasa nyaman untuk tidur.
"Ayo pejamkan matamu." Hanna mendesah malas tapi tetap menurutinya. Beberapa saat kemudian ia membuka kembali matanya.
"Tapi aku ingin melihat Oppa dulu."
"Entah darimana asal pikiranku itu. Mulutku selalu saja bertindak secara tiba-tiba tanpa permisi." Menyadari ucapakannya, Hanna langsung menutup mulut.
"Aku rasa pipiku sudah merah padam. Oh Tuhan. Aku malu sekali. Aku ingin melipat tubuhku."
Sura tertawa. Dia benar-benar tertawa lepas. Hanna sampai takjub. Jarang-jarang sekali ia melihat tawanya seperti itu.
"Jadi kau sekarang selalu memikirkanku? Sampai-sampai betah memandangiku?" Dia mendekatkan wajahnya pada Hanna. Sementara Hanna semakin membenamkan diri dalam selimut. Satu hal yang baru ia sadari. Hanna begitu tidak canggung dengan Sura.
Bahkan ia santai saja memperlihatkan rambutnya pada Sura. Padahal tadi saat keluar ia masih memakai topi kupluk. Saking tak pernah melepaskan kupluk, Hanna sampai dikira sakit kanker oleh pasien lain ataupun orang-orang yang baru pertama kali menemuinya. Tadi saat sampai kamar. Hanna membuangnya sembarangan. "Dasar, aku lengah. Pantas saja dari tadi ada yang terasa beda."
"Sana tidur baby. Aku akan menunggumu tidur baru pulang." Sura mengacak-acak rambut Hanna.
Gadis itu kaget saat dia menyebutnya dengan panggilan baby. "Astaga, apa kupingku bermasalah? Atau aku mulai berhalusinasi sekarang?"
Sura lantas bangkit kemudian mengambil kupluk dan menaruhnya di sebelah bantal. Karena tak kuat menahan malu, Hanna pun segera memejamkan mata berharap Sura segera pergi. Lama ia menunggu, Sura tidak juga beranjak dari kursi di sampingnya. "Sepertinya dia sadar jika aku hanya pura-pura tidur." Akhirnya Hanna ketiduran sendiri saat menunggu Sura pergi.
***
"Tidur yang nyenyak, sayang." Aku berbisik di telinga Hanna. Kemudian dengan kurang ajar mencuri ciuman kecil di kepalanya. Kalau dia mengetahuinya, kupastikan dia akan menghadiahkan sebuah bogem untukku. Dia sangat tidak suka disentuh. Oleh siapapun.
Aku tersenyum-senyum sendiri mengingat tadi dia keceplosan mengatakan ingin melihatku. Apa dia juga akhirnya mulai menyadari perasaannya? Atau apakah tanpa sadar dia sudah menerima kehadiranku dan mulai terbiasa? Aku berharap dia mulai menerima kehadiranku. Setelah memastikan dia benar-benar tidur. Aku bangkit dan meninggalkan ruangannya menuju dorm. Sepanjang perjalanan aku berkali-kali menyentuh kompres yang masih menempel di kening. Aku tidak merasakan demam lagi. Tadi memang aku sedikit tidak enak badan, mungkin karena kelelahan. Karena tak bisa menemukannya begitu sampai di kamar tempat Hanna dirawat. Aku langsung saja tidur di sofa karena kepalaku yang sudah sakit sekali.
"Hanna, kapan kamu akan menyadari perasaanku? Aku ingin hubungan kita bisa bergerak maju. Aku ingin segera memilikimu. Aku ingin menjadi milikmu seutuhnya agar bisa melindungimu dengan sepenuhnya." Aku terus menggumam dalam hati.
"Aku masih penasaran dengan masa lalunya itu. Apakah ia benar-benar tidak bisa berpaling?"
"Kau masih memikirkan Hanna?" ujar managernya.
"Apa menurut hyung dia memiliki perasaan padaku?"
"Gadis itu sulit ditebak. Tapi melihat cara dia memperlakukan kalian, jelas kalau perlakuannya padamu dan pada anggota lain beda."
"Apa menurut hyung kita bisa menjalin hubungan kedepannya?"
"Tentu saja. Sejak awal agensi kan tidak pernah melarang kalian pacaran."
"Tapi tetap saja banyak penggemar yang tidak suka kalau kami memiliki hubungan."
"Tidak semua seperti itu. Kebanyakan mereka sangat mendukung hubungan kalian. Kau buka saja komentar-komentar mereka di sns Hanna. Kebanyakan mereka mendukung. Soal yang tidak mendukung, kita juga perlu hati-hati menghadapinya. Bukan tidak mungkin kedepannya mereka akan membuat ulah dan merugikan kalian nantinya."
Aku diam untuk mencerna kata-kata manager.
****