Sura Bercerita Dua

2937 Kata
Aku merindukannya. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya. Melihat dia cemberut ataupun tertawa saat dijahili oleh kami. Reaksinya itu selalu menyenangkan. Meskipun dia cenderung pendiam, tapi mulutnya lumayan cerewet kalau sudah mengomeli anak-anak. Aku benar-benar ingin bertemu dengannya. Tapi kami tak bisa meluangkan waktu sama sekali. Jadwal kami sangat padat. Dia juga sepertinya sibuk sekali, sampai chat di grup ataupun pesan pribadi yang kukirim tak pernah dibaca. Aku tiba-tiba melihat postingannya di Indonesia. Ternyata dia pulang kampung. Tanpa membuang-buang waktu aku langsung menghubunginya. Saat melihat dia merespon pesanku, aku langsung bahagia. “Aku nanti akan mengirimkan foto saat memakai pakaian lebaran pada oppa.” Benarkah? Aku tak sabar untuk menunggu esok datang. Aku penasaran sekali. Pasti dia akan sangat cantik nanti. Meskipun dia sekarang di mataku juga selalu cantik. “Oppa harus tidur dulu. Waktunya masih lama kalau mau menungguku lebaran. Aku juga akan tidur sebentar. Masih bisa tidur beberapa jam.” Dengan berat hati aku iyakan. Padahal aku masih kangen. Dasar, dia tidak peka sama sekali. Padahal aku sudah lama tidak berkomunikasi dengannya. Aku memutuskan untuk kembali mengerjakan lagu. Pagi-pagi dia sudah mengirimiku foto. Aku terpana melihatnya. Dia benar-benar cantik. Biasanya dia juga cantik. Tapi sekarang polesan make up tipis mampu menambah kecantikannya. Karena aku tahu, biasanya dia tak pernah berdandan. Bahkan aku ragu dia memakai bedak apa tidak saat kita bertemu. Tapi aku suka melihat wajah naturalnya. “Kau cantik sekali.” Aku menghapus kembali pesan yang belum sempat aku kirim. Aku masih belum siap jika harus membiarkan dia mengetahui perasaanku. Aku memutuskan untuk tidur karena katanya dia akan menghabiskan waktu dulu dengan keluarganya. *** “Hyung, coba periksakan rekamanku. Apa sudah sesuai? Aku masih belum puas dengan hasilnya.” Jeno berteriak dari ruang tamu. Aku baru saja kembali dari pemotretan untuk sebuah iklan. Hanya aku yang ikut, yang lain punya jadwal sendiri-sendiri. “Mana?” “Ini, hyung.” Jeno menyerahkan ponselnya padaku. Aku mendengarkannya dengan headphone-ku. Sudah sempurna, hanya perlu polesan sedikit di akhir lagu. “Kau bisa menambahkan cengkok sedikit di akhir lagu.” Aku kembali menyerahkan ponselnya. Jeno tampak berfikir dan mengulang lagunya beberapa bait terakhir. Setelah mengulang-ulang beberapa kali, dia tersenyum lebar. “Bagus, hyung. Aku akan membicarakannya dengan produser. Aku menyukai laguku sekarang. Thank you.” Tak menunggu jawabanku, Jeno langsung berlari ke ruang rekaman. Kami memang tengah berada di perusahaan. Tiba-tiba aku kepikiran untuk menghubungi Hanna. Baru dering pertama vidio call-ku langsung diangkat. Dia tersenyum sumringah. Ternyata dia tak sendiri, ada keponakannya juga bersamanya. Aku benar-benar gemas melihat keponakannya yang sama-sama cerdas seperti tantenya. Tiba-tiba aku membayangkan jika aku menikah dengan Hanna nanti anakku akan seperti dia atau seperti aku ya? Astaga.. Aku mikir apa sih. Aku senyum-senyum sendiri dengan pemikiran liarku itu Lamunanku terputus karena dikagetkan oleh teriakan 2 di sana. Tampaknya Hanna tengah terlibat cekcok. Belum sampai aku mencerna apa yang terjadi, tiba-tiba keponakannya menangis. Aku melihat Hanna ditampar. Aku melongos tidak percaya. Siapa yang berani melukai Hannaku. Tanpa sadar aku mengepalkan jari tanganku. Keponakannya mengadu padaku. Aku ingin sekali bisa berada di sana sekarang untuk menarik Hanna agar pergi dari sana. Minimal melempar orang yang berani memaki dan menyakitinya. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku melihat Hanna masih menahan emosinya terbukti dari gaya bicaranya yang tenang sekaligus sakartis. Aku tambah kagum padanya. Dia memang tenang sekali meski aku yakin hatinya tak baik-baik saja. Untungnya abangnya Hanna datang. Aku asumsikan jika itu abangnya karena tampak istrinya mengambil keponakan Hanna. Tadi dia sudah memberitahukan jika dia tengah jalan-jalan dengan abang dan iparnya juga. Hanna memutuskan sambungan telepon dan semenjak itu ponselnya tak pernah diangkat. Sejauh apa dia terluka? Aku tak bisa tenang sama sekali. Aku ingin sekali berada di sana dan memeluknya. Menenangkannya. Mengatakan kepadanya bahwa masih ada aku yang akan melindunginya. Masih ada aku yang akan mencintainya setulus hati. Masih ada aku yang akan memperlakukan nya dengan baik dan menjadikannya satu-satu nya ratu di dalam hatiku. Aku semakin yakin jika Hanna tengah tidak baik-baik saja sekarang Terlebih aku percaya sekali jika laki-laki yang ikut ribut tadi adalah mantan pacarnya yang tak bisa dia lupakan. Aku bisa melihat rasa sakitnya dari postingan-postingannya selama ini. Meskipun aku yakin dia tidak memiliki perasaan lagi terhadap laki-laki itu selain perasaan luka. Luka yang menganga lebar yang membuat dia enggan membuka kembali hatinya. Luka yang membuat dia lupa jika masih ada orang yang menantinya. Mencintainya dengan tulus. **** Aku mengurung diri di studio selama tidak ada jadwal. Anak-anak berulang kali memanggilku agar aku tak lupa makan. Iya, aku lupa waktu. Aku bahkan tak menghiraukan kesehatanku. Aku yakin Hanna akan mengomel jika tahu. Dia selalu mengomeli kami terkait kesehatan. Padahal aku sendiri tau dia juga tak bisa menjaga kesehatannya. Saking semangatnya menulis lagu, aku menghabiskan seluruh waktuku di studio. Sebenarnya aku melakukannya agar pikiranku bisa teralihkan dari Hanna. Dia belum juga membalas pesannya. Bahkan pesan di grup juga tidak di baca. “Hyung, makan dulu.” Vlo memanggilku di depan pintu. “Ya.” “Jangan iya-iya aja, hyung. Kau sudah di sana berapa lama.” Kali ini Rein ikut meneriakiku. “Sura. Makan dulu. Aku sudah memasakkanmu nasi goreng.” Jun hyung ikut membujukku. Astaga, aku merasa seperti anak kecil yang perlu dibujuk. Mereka benar-benar sesuatu. Enggan mendengar omelan, aku pun keluar. Toh juga lagu yang aku persiapkan untuk Hanna sudah selesai. Aku juga sudah mengirimkan lagu tersebut kepadanya. Meskipun pesanku masih belum di baca. “Berisik kalian.” Aku menatap mereka dengan datar. Mereka hanya cengengesan. “Ayo hyung, makan. Galau juga butuh tenaga," kata Jeimin. Aku mendelik malas. “Siapa yang galau?" “Alah, kalau kau tidak galau. Ngapain mengurung diri berhari-hari di sana. Pasti ini karena Hanna.” “Ngomong-ngomong soal Hanna. Dia kemana ya? Ponselnya sama sekali tidak direspon. Apa dia ingin quality time dengan keluarganya, makanya dibiarkan saja?” Jacop memandangiku. “Kau ngapain menatapku seperti itu?” “Ya, aku bertanya padamu, hyung.” “Kalau kau bertanya padaku, aku bertanya pada siapa?” “Ah, kau nggak seru.” Jacop mengejekku. “Jangan-jangan benar. Karena Hanna tidak jelas keberadaannya, kau jadi uring-uringan seperti ini. Aku belum pernah melihat kau bertingkah seperti ini selama kita saling kenal.” Dia tertawa terbahak-bahak sampai tersedak makanannya sendiri. “Astaga, hyung. Hati-hati dong. Jangan berhenti menggoda Sura hyung.” Jeimin menepuk-nepuk punggung Jacop dan kemudian ikut tertawa terbahak-bahak. “Terus saja tertawakan aku.” Aku benar-benar kesal dengan kedua anak ini. Selalu saja mengejekku. Walaupun sepenuhnya perkataan mereka itu benar. Karena benar, makanya aku kesal. Aku seperti maling yang tertangkap basah tengah mencuri. Usai makan, kami duduk-duduk di sofa. Semua sibuk sendiri. Waktu luang seperti ini benar-benar harus dimanfaatkan sedemikian rupa. Karena jarang sekali terjadi. Tiba-tiba Vlo bangkit dan berseru. “Hanna-si sepertinya online.” Aku langsung membuka aplikasi chat. Benar saja. Notife di grup mendadak heboh. Member lain langsung menyerang Hanna di grup. Aku mendesah lega. Dia akhirnya kembali. Seperti nya dia benar-benar bersedih akibat kejadian kemaren. Buktinya saja dia sedang makan es tengah malam. Aku yakin sudah lebih lima kotak es yang dia habiskan selama menghilang beberapa hari. Sebenarnya aku hanya menduga saja. Aku langsung beranjak ke studio. Ingin menghubunginya. Benar seperti dugaanku, dia menghabiska lima kaleng es krim. Dia hanya cengengesan saat aku tanya. Gadis nakal itu. Aku ingin menemuinya dan memberi hukuman. Tapi aku benar-benar lega melihatnya. Setidaknya sekarang dia tampak baik-baik saja. Setelah memastikan dia baik-baik saja dan memastikan dia benaran tidur. Aku bangkit untuk berangkat tidur. Aku memutuskan untuk tidur di kasur malam ini, bukan di studio. Hatiku sudah lega. Aku yakin gadisku adalah wanita yang kuat. *** Aku dan Hanna sama-sama sibuk. Dia sepertinya sibuk dengan pekerjaannya. Begitu juga aku tengah sibuk dengan jadwal world tour grupku. Berbulan-bulan aku tidak bisa berkomunikasi dengannya. Dia juga tidak pernah membalas pesanku. Sepertinya dia tidak memegang ponsel. Aku mengetahuinya dari timeline instagramnya. Banyak akun yang menandainya. Foto-fotonya banyak yang diambil secara candid. Hanna tengah berada di negara-negara konflik, dia bahkan juga tampak ada di tengah kongres. Aku masih penasaran dia bekerja dimana. Hanya saja sekian banyak foto yang menandainya tak ada yang bisa menjelaskan dengan pasti apa pekerjaannya dan siapa dia. Kemaren sepertinya dia juga sempat ke Korea. Tapi aku tak bisa bertemu karena sedang berada di Eropa. Aku bisa gila jika terus seperti ini. Aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Aku harus segera melihatnya dalam waktu dekat. Tiba-tiba sebuah notife masuk. Aku berulang kali mengucek mata saat melihat nama yang tertera. Ternyata benar, dia membuat status setumpuk dokumen. Apa dia sedang di New York? Tak menunggu lama, aku langsung mengiriminya pesan. Anak-anak juga langsung mengirim spam di grup.Tapi dia sama sekali tidak membalas. Kami sama-sama mendesah kecewa. Sebenarnya aku heran, pesona apa yang dimiliki Hanna? Sampai-sampai semua member menyukainya dan mau membuat grup khusus hanya agar bisa berkomunikasi dengannya. Sepertinya mereka nyaman dekat dengan Hanna. Hanya Hanna yang tidak kaget atau memandangi kami dengan terkagum-kagum atau dengan tatapan memuja, karena ingin memiliki. Hanya Hanna yang mampu mengomeli kesehatan kami, mengomentari kami, mendengar curhat galau sekalipun. Aku tahu anggota lain suka berkomunikasi secara pribadi dengannya. Hanna seperti tempat bagi mereka untuk bercerita. Tanpa berusaha menghakimi tanpa berusaha membenarkan kami. Dia menjadi pendengar setia. Dia juga seperti adik bagi anggota kami yang ingin selalu dilindungi. Aku tau semua menyayanginya. Meskipun terkadang aku was-was. Apakah ada yang memiliki perasaan khusus terhadap Hanna. Semoga saja tidak. Karenaa jika benaran ada dan Hanna juga memiliki perasaan yang sama kepadanya, aku sama sekali tak bisa mendekat lagi. Bagiku kebahagiaannya adalah yang utama. Entah denganku, entah dengan cara merelakan dia dengan orang lain. “Sura, kau sudah membaca pidatomu?” Manager mengagetkanku yang tengah melamun. “Sudah, hyung.” “Bagus. Kalian tidurlah lebih cepat. Agar besok pagi kalian bisa tampil fresh di kongres.” Kami mengangguk patuh. Memang sebenarnya badanku rasanya sudah remuk. Menempuh perjalanan berjam-jam dari Korea ke New York. Meskipun di pesawat aku juga tidur. Tetap saja berbeda. “Hanna lagi ngapain ya? Kok pesanku nggak di balas," gumamku. Aku memandangi langit-langit kamar dengan jenuh. Hanna benar-benar sukses mencuri pikiranku. “Jangan melamun terus, hyung. Besok juga bakalan ketemu dengan Hanna.” Jacop menegurku. Aku memandanginya penuh tanya. “Darimana kau tahu, aku bakalan ketemu Hanna besok?” “Feeling aja. Aku yakin kau akan mendapatkan cintanya. Aku akan mendukungmu. Aku setuju jika kau bersama Hanna.” Aku memang tidak pernah membicarakan perasaanku dengan anak-anak. Tapi sepertinya tingkahku membuat mereka mengetahui perasaanku dengan sendirinya. Mereka tidak membicarakannya, hanya mengejek-ejekku dengan Hanna. Tapi sepertinya mereka mendukungku. Aku berterimakasih untuk itu. *** Aku memandang sekeliling. Bangga rasanya bisa berada di sini. Perlahan-lahan semua yang dulu hanya angan sekarang bisa kugenggam. Satu persatu impianku tercapai. Orang-orang yang dulu mencemooh sekarang ikut memuja. Memang begitulah manusia, mereka mudah sekali menghakimi seseorang hanya berdasarkan apa yang mereka lihat saja. “Hyung, kamu lihat ke depan deh.” Jeno menepuk-nepuk pahaku dengan tidak sabar. “Apa?” “Itu loh.” Dengan tidak sabar Jeno langsung memutar kepalaku agar melihat ke arah yang dia maksud. Aku langsung kaget. Benar-benar terkejut. Aku tidak bisa menyembunyikan rasa takjubku. Gadis itu. Dia berhasil lagi memberikan kejutan untukku. Aku tak bisa menyembunyikan senyumku saat melihatnya. Aku tertawa saat melihat dia salah tingkah karena lupa teks. Dia benar-benar menggemaskan. Tiba giliran kami tampil di depan. Aku bisa melihat raut kagetnya juga saat mendengar nama kami dan saat bertatap muka. Aku mencuri-curi pandang, beberapa saat tatapan mata kami bertemu. Aku tidak sabar ingin mengobrol dengannya. Berharap acara cepat usai. Pada saat acara foto bersama. Entah kenapa tiba-tiba aku sudah berada di sebelahnya. Susah payah aku menahan diri agar tak menggandeng tangannya. Dia mengoceh terus sedari tadi dengan sekretarisnya itu. Aku ingat, laki-laki ini sepertinya adalah laki-laki yang sama yang menolongnya saat dulu dia hampir kena masalah dengan PD Nim. Hanna berbicara dengan menggebu-gebu. Bahkan terkadang beberapa kata bahasa asing ikut terselip dalam ucapannya. Sepertinya dia tidak sadar jika sedari tadi dia berbicara dalam banyak bahasa. Mereka seolah melupakan keberadaan kami. Kemudian dia kembali melirik kami dan bersiap untuk mengajak tour. “Nuna ayo foto dulu.” Aku berterima kasih sekali dengan usulan Jeno. Dia benar-benar peka. Kita berfoto selfi bahkan foto bersama. Aku langsung mengunggahnya di media sosial pribadiku. Langsung saja banyak komen mengenai Hanna. Aku lega banyak orang yang menyukai dia, meski pun ada juga yang menghujat. Aku tidak peduli. Aku juga yakin kalau Hanna bisa menyaringnya. Karena media sosialnya sendiripun juga mempunyai banyak pengikut. Jadi pasti sudah terbiasa. Aku berharap waktu berjalan lama. Agar aku bisa berlama-lama dengan Hanna. Beruntungnya anak-anak menahan Hanna di hotel. Aku lega dia mau tinggal lebih lama. Meskipun aku yakin dia lelah sekali dan ingin segera tidur. Tapi untuk sekali ini saja aku ingin bersikap egois. Aku langsung memasakkannya banyak makanan. Usai memasak aku langsung bergegas ke luar dapur. Aku mencari keberadaannya dan menemukannya di tepi kolam. Dia tampak kelelahan sekali. Dari awal bertemu tadi aku kasihan melihatnya. Mata Pandanya menandakan bahwa dia terlalu banyak bekerja. Terlebih tadi saat mendengar pembicaraannya dengan Kevin. Tampaknya dia sudah tidak tidur berhari-hari. Dia sendiri juga berkata kalau dia tidak ingat kapan terakhir kali makan. Aku ingin marah tapi tidak tega melihat wajah lelahnya. Aku harus cepat-cepat memilikinya, agak dia tidak perlu lagi bekerja keras. Aku berjongkok. Berniat memasangkan plester di tumitnya. Aku paham sekali dia jarang memakai heels. Dia tampak tidak nyaman dari tadi dan bahkan beberapa kali nyaris terjatuh. Pasti tumitnya terluka. Dia kaget saat aku menyentuh kakinya. Mata kami pun bertemu. Wajahnya langsung merona. Itu terlihat sangat cantik di mataku. Tapi sepertinya dia tidak sadar. Dia sepertinya tidak menyadari perasaanku, meskipun sudah banyak kode yang aku tinggalkan termasuk memaksa agar bisa mengantarkannya ke apartemen malam ini. Dengan berat hati aku meninggalkannya. Berharap semoga waktu segera mempertemukan kembali. Setelah pertemuan kami itu, aku tak bisa lagi bertemu dengan Hanna. Bahkan kami juga jarang sekali bertukar kabar. Aku sempat merasa frustasi. Tapi aku juga tak bisa menyalahkan. Bagaimana pun dia pasti sangat sibuk sekarang. Tubuh kecil itu pasti tak bisa membendung banyaknya tanggung jawab yang harus dia emban. Aku masih setia mengikuti perkembangannya entah dari berita-berita maupun sosial media yang menyebutkannya. Hingga akhirnya, kejadian itu terjadi. Aku terlibat skandal dengan penyanyi bernama Min Ae. Dia adalah salah satu penyanyi yang aku produseri. Namun entah dari mana awal mula pemberitaan itu. Akhirnya foto yang memperlihatkan kami berjalan berdua dan banyak foto lain menyebar. Sialnya pihak Min Ae tak menyangkal. Aku ingin marah sampai ke ubun-ubun. Aku uring-uringan terus entah di dorm ataupun di perusahaan. "Hyung, kapan perusahaan akan melakukan klarifikasi." Aku terus menghantui manager Han. Bahkan aku sudah berbicara dengan PD, CEO perusahaan. Mereka memintaku untuk bersabar karena bagaimana pun kejadian kali ini tak bisa dipadamkan begitu saja. Karena pihak Min Ae seperti enggan untuk segera mengungkap kebenaran. "Sialan." Aku terus mengumpat di dorm. Anak-anak menatapku prihatin. "Sabar ya, hyung. Aku yakin semua ini akan cepat berlalu." Jeno terus menerus menyabarkan ku. "Aku tak bisa bersabar lagi. Ini sudah satu bulan lamanya. Bagaimana kalau Hanna sampai melihatnya dan salah paham." Aku mengacak rambut frustasi. Bahkan penampilanku sekarang tak karuan, terlebih Hanna juga tak bisa dihubungi. "Tenang saja. Aku yakin Hanna akan mengerti. Dia adalah gadis cerdas. Dia akan bisa menerima penjelasanmu nanti." Jun ikut menenangkanku. "Tapi tampaknya itu tidak benar." Vlo segera berucap. "Apa maksudmu?" Jeimin menatapnya penasaran. Vlo segera memperlihatkan ponselnya. Disana ada artikel mengenai Hanna yang dilarikan ke Rumah Sakit dari Gedung Biru. Gadis itu tiba-tiba pingsan usai melakukan pertemuan di sana. Aku bagai di sambar petir waktu itu. Ada apa dengan gadisku. Langsung saja aku berdiri dan berlari menuju pintu. "Kau mau kemana, Hyung?" Rein menghentikan langkahku. "Aku harus menemui Hanna dan menjelaskan semua." "Memangnya kau tau dia di rawat dimana? Bahkan wartawan saja tak bisa menemukan keberadaan nya. Presiden menyuruh merahasiakan lokasinya." Aku mengeram frustasi. "Bersabarlah, hyung. Tak cuma kau yang mengkhawatirkannya, kami juga. Dia juga adalah saudara yang berarti untuk kami. Aku sudah menghubungi manager. Meminta dia mencari keberadaan Hanna." Aku pun duduk menurut pada Jeimin. Berhari-hari kami menanti kabar Hanna, namun tak juga menemukan keberadaannya. Hingga akhirnya dia mengunggah foto tangannya yang dipasangi infus. Jelas berat badannya turun drastis. Aku sedikit lega melihat dia bisa bermain sns kembali tapi juga kecewa saat membaca judul yang ia buat. Dia mengatakan bahwa dia tak tahu kalau aku tengah dirumorkan berkencan. Apa dia masih menutup hati, makanya dia tak peduli denganku. Tapi aku lega setidaknya dia sudah kembali lagi. Meskipun pesan kami tetap saja tak dibaca. "Aku menemukan keberadaannya." Manager yang baru sampai langsung berlari ngos-ngosan menuju ruang latihan kami. Aku langsung berdiri dan tanpa ada yang protes kami langsung berangkat menuju Rumah Sakit tempat dia di rawat. Aku mengucapkan beribu terima kasih pada manager di dalam hati. Kami sampai di kamar tempat dia di rawat, tapi sepertinya dia sedang keluar. Kata perawat yang kami tanyakan. Biasanya Hanna jam segini sedang berada di taman. Dia selalu di sana usai melakukan sesi konseling. Aku sampai kaget mendengar dia mengikuti sesi itu. Apa mentalnya benar-benar terluka? Sejauh apa hatinya terluka? Aku pun berlari menuju taman. Anak-anak membiarkanku pergi sendiri, sepertinya mereka paham jika kami juga butuh privasi. Atau lebih tepatnya aku butuh waktu untuk berdua dengan Hanna. Aku menemukannya tengah duduk di kursi roda sembari memandang hamparan bunga. Aku mendekat dan langsung memasangkan headsfree ke telinganya saat aku berjongkok di hadapannya. Dia tampak kaget dan langsung membuka matanya. Mata kami bertemu. Aku tak bisa menyembunyikan rasa lega saat memandangnya. Aku benar-benar merindukannya. Aku kemudian berdiri dan mengajaknya berkeliling. Tak ada satupun percakapan yang keluar dari mulut kami. "Bagaimana?" "Apanya yang bagaimana?" ujarnya. "Lagunya." "Bagus, aku suka." Aku bahagia mendengarnya. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN