Dijenguk

2056 Kata
Hanna selalu mengunjungi taman ini setiap hari. Sudah menjadi jadwal rutinnya untuk berada di taman pagi hari. Sekarang sudah hari kesepuluh ia berada di Rumah Sakit. Hanna bahkan tidak mengacuhkan ponselnya semenjak terakhir kali ia mengunggah foto. Hanna tidak berniat memberitahukan mereka keberadaannya ataupun keadaannya. Terakhir kali ia berinteraksi dengan orang ramai adalah saat ketuanya datang langsung ke Korea dua hari yang lalu. Dia ditemani oleh Kevin yang berkali-kali mendesah berat melihat keadaan Hanna. Di sana juga ada seorang fotografer yang mengambil foto untuk media. Dia memang wartawan resmi PBB yang selalu meliput setiap gerakan anggota PBB. "Ya, begitulah kalau kita menjadi orang penting. Setiap gerakan kita akan selalu ada yang memantau. Hal-hal remeh pun juga akan disorot. Aku sama sekali tidak menyukainya," pikir Hanna. Karena ia yakin ini akan dirilis menjadi berita. Hanna memoles sedikit lipstick dan tersenyum lebar. Tentu saja ia tidak melupakan topinya. "Anda kenapa berdandan seperti ini? Memangnya mau ke pesta?" Sela wartawan itu. “Kau harus merahasiakan tingkahku kali ini, bibiku bisa mengamuk kalau mengetahui aku belum sembuh. Aku membohongi mereka soal kondisiku.” Hanna meletakkan jarinya di bibir mengisyaratkan untuk tutup mulut. Sementara wartawan itu hanya menggeleng-geleng kepala mendengar alasan.Hanna. Bosnya tidak mengomentari apa-apa. Dia tidak jauh berbeda dengan Kevin. Berkali-kali menghembuskan nafas berat begitu melihat kondisi Hanna. Dia bahkan berkata pada Hanna. "Kau bisa berlibur selama apapun yang kau inginkan. Yang terpenting sekarang adalah kau sembuh dulu." Hanna menatap seekor Kupu-Kupu yang tengah terbang di atas kumpulan bunga Mawar. Ia menghirup udara dalam-dalam dan meresapinya. Terasa sangat segar dan menenangkan. Tiba-tiba ada sebuah tangan yang menyentuh telinganya dan memasangkan headset. Hanna kaget sekali dan nyaris memaki. "Siapa yang lancang berani melakukan itu padaku." Hanna menoleh untuk mengetahui siapa yang melakukannya. Hanna kaget saat bertemu pandang dengan pemilik mata yang sangat ia kenali itu. Pemilik mata yang entah mengapa selalu bisa menghangatkan hatinya setiap melihatnya. Sura. "Astaga, darimana dia tahu kalau aku di rawat di sini?" Dia mendorong kursi roda Hanna dan membawanya berkeliling taman. Dia bahkan tidak mengucapkan satu kalimat apapun. Hanna juga bingung untuk memulai percakapan. Keheningan meliputi kami beberapa saat. “Bagaimana?” "Apanya yang bagaimana? Dia menanyakan apa?" pikir Hanna. “Lagunya," sambungnya. “Bagus. Aku suka.” “Itu lagu untukmu.” Suaranya sedikit melunak. Tidak sedatar tadi. “Kau berniat menyuruhku untuk menyanyikannya lagi?” Tiba-tiba Sura berhenti memutari kursi roda dan berjongkok dihadapan Hanna. Ia sedikit kaget. Sura meletakkan dua tangannya di kedua sisi kursi roda Hanna. Gadis itu sedikit salah tingkah. Dia menatap Hanna dengan tajam tapi entah kenapa tatapannya terasa hangat. "Astaga, aku baru sadar kalau jantungku berjalan lebih cepat daripada biasanya." “Berhentilah bekerja dan nyanyikan saja lagu untukku.” Hanna tertawa mendengar permintaan konyolnya. “Aku kan sudah pernah bilang dulu oppa. Aku tidak berniat menjadi pusat perhatian.” “Bahkan kau sekarang sudah menjadi pusat perhatian meskipun kau bukan artis.” Hanna mengangguk mengiyakan. Memang benar, bahkan pengikutnya di sns melebihi 2,3 juta. Tampaknya ini bertahan karena ia memiliki kebiasaan untuk membalas satu persatu komentar yang masuk. Makanya mereka selalu setia untuk mengirimi Hanna komentar. “Itu beda oppa. Kalau aku jadi artis setiap gerakku akan dipantau. Aku tidak suka. Terlebih aku tidak bisa bebas dengan kehidupan pribadiku.” “Tapi sekarangpun juga seperti itu kan?" Kembali Hanna mengangguk. Semua ucapannya adalah benar. "Aku tidak memintamu untuk menjadi artis. Aku hanya memintamu untuk menyanyi untukku.” Hanna sedikit bingung untuk memahami perkataannya. Sebenarnya ia memikirkan kemungkinan lain dari maksud perkataannya. Tapi ia sengaja mengabaikannya. "Aku tak mau berharap lebih." Hanna hanya menghela nafas. “Aku mau kembali ke kamar, sudah waktunya minum obat.” Hanna mengalihkan pembicaraan. Sura membawa Hanna ke kamar yang sudah dipenuhi oleh anggota Star One yang lain. Mereka langsung heboh melihat kedatangannya. “Astaga, kau kurus sekali noona.” Jeno langsung histeris begitu melihat Hanna. “Kau harus makan yang banyak. Aku membawakanmu makanan. Aku sudah mencari makanan yang baik untuk orang sakit tipus di internet.” Jun juga ikut berkomentar dan langsung membuka tempat makanan yang dibawanya. “Aku membawakanmu komik. Aku mencarinya kemana-mana. Kudengar kau suka Detective Conan. Aku tidak punya bukunya." Vlo menunjuk komik yang diletakkannya di atas meja. “Aku membawakan bunga. Ruanganmu kosong sekali.” Jeimin ikut berkomentar. “Aku membawakan game terbaru milikku noona,” ujar Jeno. “Aku membawakanmu novel,” ujar Rein. “Aku membawakanmu boneka kesukaanku. Biar kau tidak kesepian di malam hari.” Jacop menunjuk boneka karakter merchandise dia yang sangat besar di sofa. “Gomawo.” Mendadak Hanna menangis terharu dengan kebaikan mereka. “Ya, kok malah nangis.” Jun langsung panik. “Kau sih hyung, malah memarahinya.” Jeno menunjuk Vlo. Vlo hanya melongo tidak percaya. Ia bingung karena tidak mengetahui letak kesalahannya dimana. Sementara yang lain ikut menyalahkannya. Hanna menangis sambil tertawa melihat tingkah mereka. “Aku hanya terharu melihat kalian di sini.” “Noona lain kali jangan menyimpan semuanya sendiri. Kau juga butuh orang lain untuk berbagi kesedihanmu.” Jeno memandangi Hanna dengan penuh makna. “Aigo.. Jeno kita sudah dewasa.” Jun mencairkan suasana. Mereka semua tertawa. Sura membantu Hanna kembali ke tempat tidur. Dia menggendongnya ala bridal style yang membuat Hanna sangat malu. Terlebih member lain sengaja mendehem-dehem. Mereka hobi sekali mengejek. "Anjir, kok awarked banget sih," umpat Hanna dalam hati. Ia mencoba bersikap biasa saja. Tapi tidak berhasil. Wajahnya tidak bisa berbohong, terlebih sekarang wajahnya lebih pucat dari biasanya. Pipinya yang merona langsung terlihat dengan jelas begitu aku malu. “Hanna malu-malu.”Jacop terkekeh seraya menunjuk Hanna. Gadis itu melemparinya dengan boneka yang diserahkan Jeno kepadanya. Dia langsung menangkapnya dengan cepat dan kembali terkekeh. “Wajahmu seperti tomat, noona.” “Kau mau aku kirim ke lantai bawah?” Hanna merenggut kesal. Bukannya berhenti mereka malah tambah menjadi-jadi menjahilinya. "Aku ingin sekali menyembunyikan diriku di dalam laci." Sementara Sura? Hanna tidak bisa mendefinisikan mimik wajahnya. Dia sedikit mengangkat sudut bibirnya dan tidak memasang tampang datar seperti biasanya. Dia juga tidak terlihat marah ataupun kesal. Hanna tidak bisa mengartikan ekspresinya. Untung saja ia terselamatkan dengan kedatangan dokter dan suster yang membawa obat dan makanan serta ingin melakukan cek rutin. “Wah, wah, tampaknya nona Hanna akhirnya kedatangan tamu. Berarti sebentar lagi sudah bisa pulang.” Dokter tersenyum-senyum melihatnya. Star One mendadak menjadi kalem namun tidak bisa menahan tawa dan saling sikut menyikut. Dokterpun memeriksa Hanna. “Bagaimana dok?” Jun bertindak sebagai juru bicara saat dokter selesai memeriksa. “Keadaannya sudah lebih baik dibanding minggu pertama di sini. Sebelumnya keadaannya sangat mengkhawatirkan. Bahkan saya ragu apakah nona Hanna bisa sembuh dalam satu bulan ini atau tidak. Terlebih dia juga tampak stress. Dia juga mengikuti seksi konseling. Kesehatan pencernaannya juga sangat buruk. Sewaktu-waktu dia bisa saja mendadak harus operasi kalau terus mempertahankan gaya hidup yang biasa. Terlebih lagi penyakit tipusnya juga tidak main-main. Pertama sampai di sini, dia pingsan selama dua hari. Kami khawatir kalau dia tidak bangun di hari ketiga bisa saja dia akan koma selamanya. Penyakit tipus memang terlihat remeh, tapi bisa mematikan. Banyak orang yang meninggal akibat tipus.” Star One yang mendengar perkataan dokter dengan seksama tampak khawatir dan ngeri. Hanna sedikit tersenyum melihat mimik di wajah mereka sementara tangannya hanya memain-mainkan pita pada boneka yang dibawa oleh Jacop. Hanna sudah bosan sekali dengan kuliah yang diberikan oleh dokter yang panjangnya melebihi 2 sks itu. Kuliah yang sama yang selalu ia dengar setiap hari. “Segitu parahnya dok?” Jeimin bertanya. “Iya, tapi untung saja dia tidak sampai pada tahap itu. Kalian harus sering-sering mengunjunginya dan mengajaknya berbicara. Sebenarnya yang dibutuhkannya adalah orang untuk bercerita. Bahkan selama di sini kalian orang kedua yang menjenguknya. Selain teman kerja yang membawanya ke sini dulu dan bosnya. Nah, baiklah saya permisi dulu.” Jun mengantarkan dokter. Sementara suster meninggalkan makanan dan obat di atas meja setelah tadi memeriksa infus dan mencatat sesuatu di kertas yang dibawanya. Star One menatap Hanna dengan ekspresi antara marah, sedih, kesal, kecewa. Semuanya bercampur aduk. Hanna memandang ke arah lain. Ia tidak mau terlibat pertengkaran dengan mereka. Mereka sepertinya ingin melontarkan omelan padanya, tapi ditahan-tahan mengingat kondisi Hanna. “Nah, waktunya makan, noona.” Akhirnya Jeno angkat suara untuk mencairkan suasana. Untung saja mereka kembali bersikap seperti biasa. Satu hal yang selalu oa kagumi dari mereka. Jeno dan Vlo berebutan untuk membantu menyuapi Hanna. Mereka sibuk bertengkar dan pada akhirnya Jun menghentikannya dengan merebut sendok yang sedari tadi mereka perebutkan. Jun menyuapi Hanna. Gadis itu menerimanya sembari tertawa. “Aku rasa aku paham kondisi para hyung. Mereka berdua benar-benar seperti bayi.” “Bukan hanya mereka berdua yang seperti bayi. Bahkan semuanya seperti bayi.” Sura membalas komentar Hanna. “Kau sendiri juga sering bertingkah seperti bayi, hyung.” Jeimin menyerang Sura dengan telak yang langsung menghadiahinys bantal sofa yang tengah dia duduki. Hanna tertawa melihat tingkah lucu mereka. "Keberadaan mereka benar-benar bagaikan moodboster untukku. Aku bersyukur pernah mengenal mereka." Hanna memakan makanannya sampai habis. Biasanya ia hanya makan beberapa sendok. Mungkin karena ini bukan makanan Rumah Sakit, makanya ia bisa menghabiskanny. Terlebih lagi ia makan sambil memperhatikan mereka bertengkar. Jadi pikirannya juga ikut teralihkan dari perkara makan. Sura sendiri tampak sibuk dengan ponselnya dan Rein sedari tadi masih membaca. Sementara Jacop main game sambil sesekali tertawa, dan ketiga maknae sibuk berantem. "Pemandangan yang benar-benar aku rindukan." *** Kali ini Sura hanya datang sendiri. Member lain ada pemotretan dan syuting iklan. Hanna tak berhenti menatap Sura yang tengah membersihkan tubuhnya. Atau lebih tepatnya lengan dan kakinya. Karena tak ada orang yang bisa membantu. Sementara untuk melakukan nya sendiri, badannya masih lemas. "Sudah selesai," gumamnya. "Terimakasih, oppa." Sura kemudian membereskan tempat handuk mandi dan menyiapkan makan. Dia memasakkannya beberapa bubur yang bisa Hanna makan. Dengan telaten dia menyuapi Hanna. Hanna sendiri juga heran mengapa dia bisa sesabar itu. "Oppa sudah makan?" "Sudah tadi." Dia terus menyuapi Hanna. "Oppa tidak capek jika harus selalu kesini setiap selesai syuting ataupun pemotretan?" "Tidak sama sekali. Kau juga seperti itu karena aku." "Kenapa gara-gara, oppa?" Hanna memandanginya penuh curiga. "Aku minta maaf soal berita yang menyebar." Hanna semakin bingung arah pembicaraan Sura, lalu kemudian ia ingat mengenai gosip yang beredar beberapa saat lalu. "Apa maksud oppa mengenai Min Ae itu?" Dia mengangguk. "Haha. Kenapa oppa meminta maaf soal itu? Aku belum mengucapkan selamat malah, karena akhirnya oppa mendapatkan pendamping juga. Kalau kau berfikir aku sakit karena itu, kau salah besar. Aku bahkan tak tahu sama sekali mengenai berita itu. Aku malah baru mengetahuinya seminggu setelah sakit. Lagi pula, kenapa kau harus minta maaf? Itu kan permasalahan pribadimu." Raut wajah Sura mendadak suram. Dia seperti tidak senang dengan ucapan Hanna. Hanna sedikit merass bersalah. "Apa aku salah ngomong?" "Kau baik-baik saja oppa?" Bukannya menjawab dia malah membantu Hanna berbaring kemudian pergi meninggalkan kamar. "Hah, ada apa ini. Sepertinya aku sudah menyinggung perasaan nya. Astaga, ini mulut nggak bisa banget ya di kontrol." Hanna merutuki sendiri kebodohannya itu. Tak selang berapa lama, Sura sudah kembali sembari menenteng satu plastik kresek berisi makanan. Ia kemudian duduk di sofa dan mulai makan. Bahkan sepertinya dia tak mengacuhkan keberadaan Hanna. "Sialan, sepertinya dia beneran ngambek. Melihat dia ngambek seperti itu, malah membuatku juga ikut ngambek." Dengan berdecak sebal Hanna menarik kasar selimutnya sampai menutupi kepala. Hanna benci dicueki Sura seperti itu. Sesaat kemudian ia mendengar suara langkah kaki mendekat ranjang. Hanna tetap bergeming. Kemudian selimutnya disibak. Ia bisa melihat Sura memandangnya. Mereka saling tatap untuk beberapa saat sebelum kemudian dia membantu Hanna duduk. Dia juga ikut duduk di kursi sebelah ranjangnya. Kemudian menyumpit kimbab dan menyuapi Hanna. Meskipun bingung tetap saja Hanna menerima suapannya. Dia juga ikut makan dan makan dalam diam. Hanna berjerngit heran memikirkan tingkah ajaib mereka. "Maafkan aku." "Untuk?" "Ya aku sudah menyinggung perasaan oppa. "Kamu tidak salah apa-apa." "Tapi tadi oppa marah saat aku membahas Min Ae. "Hmm, aku nggak marah. Apalagi terkait Min Ae tadi. Aku hanya ingin meluruskan, bahwa aku sama sekali tak ada hubungan dengan Min Ae." Entah mengapa perkataan Sura berhasil membuat Hanna bernafas lega. Hanna tersenyum menanggapinya. Kemudian Sura membantu Hanna kembali berbaring dan akhirnya ia tertidur nyenyak. Sura mengusap pelan rambut Hanna setelah meyakini bahwa gadis itu sudah tidur, dia langsung mengusap lembut kepala Hanna. "Karena aku hanya mencintaimu. Jadi tak ada wanita lain yang akan bisa menggantikan kehadiranmu." Sura terus mengusap kepala Hanna. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN