Tumbang

2307 Kata
Hanna tengah berada di gedung biru Korea. Menghadiri pertemuan dengan pimpinan gedung biru tersebut dan perwakilan dari negara lain. Mereka tengah membahas masalah perdamaian dunia dan solusi untuk menghentikan perang berkepanjangan di negara-negara seperti Timur Tengah. Pertemuan dan diskusi panjang itu dilakukan selama dua hari dengan jeda hanya untuk tidur dan makan saja. Hanna sebagai perwakilan PBB bidang kemanusiaan harus ikut selama dua hari yang benar-benar menguras otak dan tenaganya. Ada banyak perdebatan dan juga adu mulut dikarenakan perbedaan pendapat. "Tidak bisa seperti itu. Kita tidak boleh mengorbankan rakyat satu orang pun untuk mencapai misi ini," ujar perwakilan Jepang. "Tapi kita juga tidak bisa melalukannya tanpa mengorbankan sesuatu," sahut perwakilan Tiongkok. Hanna juga harus mengetengahi perdebatan mereka. Ia tidak bisa bersikap memihak atau terkesan membela satu pihak, karena kali ini negosiasi yang harus dicapai bukan hanya urusan antar dua negara seperti halnya yang biasa ia lakukan dulu saat menjadi ahli diplomasi tapi melibatkan banyak negara dan banyak kepentingan. Hanna harus bersikap netral dan memberi solusi netral juga. Semua harus berakhir dengan tercapainya kepentingan semua Negara. "Aku yakin dengan menarik mundur pasukan dan memasok bantuan pangan akan mengurangi angka kematian," ujar perwakilan Korea. "Anda pikir mereka akan mau menarik pasukan," cerca perwakilan Jepang. "Mereka mau berdebat sampai kapan ini." Hanna menghembuskan nafas dengan kasar. Hanna lebih banyak diserang untuk urusan ini, terlebih lagi karena ia banyak menguasai bahasa asing. Hanna menguasai sepuluh bahasa asing secara fasih. Jadi ia tahu betul apa yang sebenarnya mereka ungkapkan tak hanya dari perkataan tapi juga dengan menilai dari mimik muka dan konotasi pengucapannya. Pengetahuan dasar untuk negosiasi dan untuk seorang anak bahasa sepertinya. Ada positif dan negatifnya. Tapi negatifnya ia menjadi paham perasaan mereka sesungguhnya karena arti sebenarnya dari ucapan mereka sedikit berbeda dengan yang diterjemahkan oleh translate voice yang digunakan dalam setiap pertemuan seperti ini. Akhirnya setelah perdebatan dan diskusi yang panjang selama dua hari dua malam diambil keputusan yang menurut semua pihak dapat diterima. Setidaknya lebih baik untuk kepentingan setiap Negara. Hanna menghembuskan nafas lega. Kepalanya terasa nyut-nyutan. "Aku butuh istirahat. Bahkan aku tidak makan dengan baik dua hari ini," pikir Hanna. Hanna tidak bisa makan sebelum menemukan solusi. Sebuah kebiasaan jelek yang ia dapatkan dari bangku kuliah S2. Ia memandangi cermin besar yang berada disepanjang lorong ruang pertemuan. Hanna sedang berjalan bersama sekretarisnya untuk kembali ke hotel tempat mereka menginap. Beberapa perwakilan negara lain tampak masih berbincang-bincang. Hanna sudah terlebih dahulu pamit karena merasa tidak enak badan. Hanna sekilas menatap tubuhnya yang dipantulkan oleh cermin. "Memang benar apa yang dikatakan Jacop oppa. Aku terlihat lebih kurus. Aku harus mengambil cuti dan beristirahat." Untung saja ia akan berada di Korea Selatan selama satu minggu. Selain mengikuti acara ini, ia juga harus mengurus acara amal dan lainnya. Tapi setidaknya tidak terlalu menguras tenaga dan pikiran seperti yang biasanya. Hanna merasa sedikit pusing. Sepertinya ia harus segera makan. Hanna merasa pandangannya berkunang-kunang. Mendadak ia merasa seperti kehilangan keseimbangan. Hanna langsung memegang dinding mencari pegangan. Sekretarisnya yang merasakan keanehan langsung memapah Hanna. Ia bisa mendengar sekretarisnya berteriak memanggil bantuan. Hanna masih bisa mendengar derap langkah mendekat sebelum semua hilang. Hanna tidak tahu apa-apa lagi. Seketika semua gelap. "Nona, anda tidak apa-apa? Nona," teriak sekretarisnya. "Tolong," teriaknya lagi. "Ada apa dengan nona Hanna," ujar seseorang. "Cepat panggil ambulans," ujar yang lain. Hanna terbangun di sebuah ruangan bercat putih. Ia mengerjap silau. Setelah menyesuaikan matanya. Ia memandang ke sekeliling. Sekretarisnya tampak tengah berbincang dengan dokter. Mengetahui Hanna sadar dia dan dokter langsung bergegas menghampiri Hanna. Dokter langsung memeriksanya. “Bagaimana dok?” tanya sekretarisnya setelah dokter selesai memeriksa. “Syukurlah keadaannya sedikit membaik. Tapi dia harus istirahat total. Seperti yang dipastikan sebelumnya. Nona Hanna terkena penyakit tipus. Kalau tidak beristirahat bisa berakibat fatal bahkan kematian. Bahkan ususnya sendiri juga sangat bermasalah karena pola makan yang tidak sehat dan sewaktu-waktu bisa saja harus dioperasi. Kami sarankan untuk melakukan perawatan di sini saja. Tidak usah dibawa ke New York. Perjalanan yang jauh akan semakin memperburuk keadaannya. Dan juga jangan sampai pasien terlalu banyak pikiran. Dia lebih membutuhkan istirahat yang tenang dibandingkan dengan obat. Kalau begitu saya tinggal dulu.” “Baik dokter. Terimakasih banyak.” Setelah mengantar dokter ke pintu. Sekretaris Hanna kembali. “Berapa lama aku tidur?” “Anda sudah pingsan selama dua hari.” “Lalu bagaimana dengan acara amal dan urusan dengan diplomat luar negeri New York?” “Anda tenang saja nona. Jangan memikirkan itu. Ketua sudah mengirimkan ganti dan memintamu untuk beristirahat sampai sembuh. Pihak kedutaan juga sudah dihubungi untuk urusan tinggalmu selama di Korea sampai kau sembuh. Semua memang berjalan sedikit keluar dari jalur. Tapi semuanya baik-baik saja. Anda tidak perlu cemas. Anda hanya perlu untuk fokus pada kesembuhan dan beristirahat sekarang. Bahkan kemaren Presiden Korea juga ikut berkunjung begitu mengetahui anda dibawa ke rumah sakit dari gedung biru.” Hanna hanya mengangguk. "Jika sampai Presiden ikut membesuk, artinya berita mengenai aku sakit juga sudah tersebar. Entahlah. Aku malas berfikir." “Kalau anda perlu apa-apa, anda bisa menekan bel ini. Nanti suster akan ke sini. Saya harus pergi sebentar mengurus pekerjaan lain di parlemen kewenangan Korea.” “Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir Miss Jasmine. Kau juga harus beristirahat. Tidak perlu menungguiku di sini. Kau juga harus makan. Nanti kau malah ikutan sakit.” Hanna sedikit tertawa. Miss Jasmine yang memang sudah memiliki anak ini memandangi Hanna dengan tatapan seperti tatapan seorang kakak pada adik. “Kau yakin?” “Tentu. Aku akan menghubungi temanku nanti kalau aku bosan. Lagi pula lusa kau harus kembali ke New York. Aku akan tetap di sini untuk beristirahat.” “Baiklah kalau begitu, Hanna.” Miss Jasmin berhenti berbicara formal padanya. Dia menghela nafas berat. Tampaknya dia berat untuk meninggalkan Hanna. Tapi mau bagaimana lagi. Dia juga punya pekerjaan selain sebagai sekretaris Hanna. Tentu dia juga harus menjadi pengganti Hanna untuk sementara atau mendampingi orang yang menggantikannya sampai Hanna pulih. Dia memeluk Hanna. “Cepat sembuh.” “Siap nyonya Micheal.” Hanna tersenyum. Jasmine meninggalkan ruangan tempat Hanna dirawat. Hanna mengedarkan pandangan, meneliti satu persatu. Ruangan tempat ia berada sepertinya merupakan kamar VVIP karena sangat mewah sekali. Hanna yakin jika sampai Presiden yang berkunjung, artinya dia juga tidak mau Hanna mendapatkan pelayanan yang buruk di negaranya. Hanna menatap jam dinding yang terus bergerak dan sekarang hari sudah malam. Baru saja perawat datang membawakan makan malam dan obat untuknya. Hanna bahkan tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Kalau duduk terlalu lama, kepalanya akan pusing. "Aku bosan. Tapi tidak tahu harus berbuat apa." Mendadak Hanna merindukan ibunya. "Kalau ibu ada di sini tentunya aku tidak akan bosan. Tentunya akan ada yang mengurusi ku dan aku bisa bermanja-manja pada Ibu." Hanna benar-benar sendiri sekarang di negara orang. Ia tidak menghubungi Ae Ri. Hanna tidak mau membuatnya khawatir. Hanna juga tidak saling berkabar lagi dengan Star One empat bulan terakhir setelah ia kembali dari Indonesia. Mereka sibuk begitu juga dengan Hanna. Atau lebih tepatnya ia terlalu sibuk untuk membuka notifikasi dari HPnya. Hanna menatap jarum dinding yang terus bergerak. Tiba-tiba air matanya jatuh. "Ah, aku menjadi melankolis kalau sudah sakit begini." Mendadak Hanna menjadi homesick. Ia ingin menghubungi bibi. Tapi ia tidak ingin membuatnya khawatir. Hanna ingin menghubungi temannya tapi ia juga tidak mau menambah masalah mereka. Hanna tahu mereka tidak akan membiarkan Hanna sendiri. Mereka sangat peduli pada Hanna. Tapi Hanna juga tidak mau menjadi beban. Hanna menangis sampai sesegukan. "Aku merindukanmu, bu. Aku benar-benar merasa kesepian." Hanna terbangun jam 05.00 seperti biasanya. Ini sudah hari ke 7 ia berada di Rumah Sakit. Kesehatannya bukannya membaik malah semakin memburuk. Kata dokter kondisi psikologisnya yang menyebabkan kondisi Hanna seperti ini. "Anda terlalu banyak pikiran. Anda jangan memendam semuanya sendiri. Berceritalah. Aku bisa merekomendasikan dokter psikiater yang bagus untukmu." Hanna hanya diam saat dokter menjelaskan padanya. "Itu akan sedikit memperbaiki keadaan anda nantinya. Dukungan orang-orang disekitar sangat penting untuk menunjang kesembuhan." Sementara dokter berbicara, Hanna hanya menganggapnya seperti angin lalu, seperti radio yang berbunyi di atas taxi yang kita tumpangi. Untuk pertama kalinya setelah satu minggu berada di rumah sakit, Hanna mengambil HPnya yang biasanya ia biarkan tergeletak di dalam laci lemari kecil di samping tempat tidur. Hanna melihat ada puluhan ribu notifikasi. Entah apa atau siapa. Hanna membuka pesan dari aplikasi pesan. Kaget saat menerima banyak pesan dari bang Yanuar. “Kau baik-baik saja?” “Kenapa tidak balas?” “Aku sudah bertanya pada atasanmu katanya kau masih di Rumah Sakit Korea. Aku tengah mengurus cuti dan akan terbang ke sana minggu ini.” "Astaga, darimana mereka tahu kalau aku sakit." Hanna kaget sekali dan segera membalas. “Maaf bang. Aku baru memegang HP ku. Aku sudah baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku cuma terkena gejala tifus. Bosku terlalu melebih-lebihkan. Dokter bilang beberapa hari lagi aku sudah boleh pulang. Kau tidak perlu ke sini. Bagaimana dengan pekerjaanmu.” “Kau tidak perlu memikirkan pekerjaanku. Bibi sangat khawatir padamu.” Hanna memutuskan untuk menelpon melalui video call. Sebelumnya ia mengambil bedak dan lipstick di tasnya. Memberi sedikit polesan agar tidak terkesan terlalu pucat ataupun dibuat-buat. Hanna butuh waktu satu jam untuk meyakinkan bibinya yang masih saja menangis saat melihat keadaan Hanna. Hanna meyakinkannya bahwa ia baik-baik saja. Akhirnya mereka mau menuruti Hanna untuk tidak menyusul ke Korea. "Darimana bibi tahu kalau sakit?" “Seluruh dunia tahu kalau kau sakit. Berita tentangmu beredar dimana-mana saat kau dibawa ambulance dari gedung pertemuan.” "Astaga, kenapa Miss Jasmine tidak memberi tahuku. Oh iya, presiden kan sampai menjengukku, berarti yang lain juga tahu pasti." Hanna hanya tertawa menanggapi kebodohannya. “Berarti aku lebih popular dari artis ya.” “Kalau melihat kau sudah bisa tertawa artinya kau memang sudah sembuh.” Yanuar mengejek Hanna. Akhirnya mereka mengakhiri percakapan setelah ia berhasil meyakinkan mereka untuk tidak perlu menyusul. Hanna memeriksa media sosialnya. Benar saja ada banyak time line mengenai dirinya. Mulai dari Koran atau stasiun TV yang menandai Hanna masuk ke berita mereka sampai pengikutnya di media sosial yang mengunggah foto Hanna dengan menandainya. “Cepat sembuh Eounni, kau terlalu keras bekerja.” “Eounni, kau stres memikirkan kejadian itu ya. Jangan begitu Eounni, kau harus memikirkan kesehatanmu.” Kejadian apa? Aku bingung sendiri. “Eounni, jangan bersedih. Mungkin Sura oppa memang bukan jodohmu. Walaupun aku lebih suka kalau kau yang menjadi pendamping Sura oppa di banding Min Ae. Tapi aku tidak mau membuatmu sedih Eounni. Aku percaya kau akan mendapatkan yang lebih baik. Kau pantas untuk bahagia eounni, meskipun bukan dengan oppa. Kami mencintaimu eounni.” Hanna kaget membaca caption-nya. "Apa Sura oppa sudah punya pasangan?" “Hanna. Kau jangan membuat kami sedih. Andai jarak kita tidak jauh aku sudah datang untuk memelukmu. Cepat sembuh beb.” Sahabatnya ikutan memposting. "Astaga, kenapa kesannya seolah aku sakit gegara Sura oppa mendapatkan pasangan. Aku seperti wanita yang sakit karena patah hati saja." Akhirnya Hanna memutuskan untuk mengunggah foto yang memperlihatkan tangannya yang tengah di infus dan jam dinding. “Sakit dan sehat datangnya dari Tuhan. Katanya saat sakit dosa kita akan diangkat. Aku berharap itu benar-benar terjadi. Aku berterima kasih pada orang-orang disekitarku yang sudah khawatir dan mencintaiku. Aku sekarang sudah baikan. Tapi sepertinya aku perlu mengklarifikasi satu hal. Kalian tenang saja, aku sakit bukan karena patah hati kok. Hahaha. Aku bahkan tidak mempunyai waktu untuk mengikuti berita terkini.” Hanna memasang emot peace. “Noona. Kau sepertinya kesakitan sekali.” “Eounni, tanganmu kurus sekali. Cepat sembuh a eounni.” “Kau kurus kering seperti tulang kayak gitu malah berkata sudah sehat. Aku akan memukulmu.” Yanuar ikut berkomentar. “Hanna. Aku sedih. Andai aku di sana. Aku akan membawakanmu komik. Kau pasti bosan.” “Hanna. Aku ingin sekali mengirimkan makanan kesukaanmu. Kau kurang makan sama kayak waktu kuliah dulu. Kau selalu mengabaikan kesehatanmu. Kau lebih mementingkan orang lain. Kau harus mengubah kebiasaan burukmu itu.” “Hanna-si. Cepat balas pesan kami. Kau membuat kami gila.” Jun ikut berkomentar. “Hya.. Kau membuatku gila. Bagaimana mungkin kau tega mengabaikan telponku. Aku sangat khawatir dan ingin sekali menemuimu. Tapi aku bahkan tidak mendapatkan bocoran sedikit pun mengenai dimana tempat kau di rawat. Mereka sungguh kejam menutup informasi tentangmu.” Ae Ri ikut berkomentar. “Ampun bang. Nanti tulangku patah terkena tangan besimu itu.” Hanna membalas komentar Yanuar. “Iya, kau perlu membawakanku komik Detective Conan yang banyak atau serial kartunnya. Aku akan menamatkan semuanya. Aku benar-benar bosan. Mendadak aku kangen dengan kicauanmu.” “Kau jangan membuatku ngiler. Aku rindu masakanmu saat kuliah dulu yang didapat degan kekuatan magic- com.” “Hahaha. Aku membuang HP ku beberapa bulan terakhir.” Hanna berseloroh pada Jun. “Maafkan hamba nyonya. Jangan salahkan hamba.” Hanna sedikit terhibur membaca komentar orang-orang. Meskipun tetap saja ada beberapa komentar yang menghujat, tapi ia tak peduli sama sekali. Ia memilih untuk mengabaikannya. "Benar kata dokter, sebenarnya yang menyebabkan sakit adalah psikologi seseorang." Hanna memutuskan untuk bergerak. Dengan susah payah ia meraih kursi roda yang biasanya ia gunakan untuk ke kamar mandi. Hanna berencana untuk pergi keluar. Setelah perjuangan panjang ia berhasil menaiki kursi rodanya. Aku keluar kamar menuju taman. Hanna baru sadar kalau kamarnya berada di lantai 20. "Astaga, ngapain mereka memasukkanku ke kamar ekslusif seperti ini. Tinggi banget lagi. Kalau ada gempa gimana?" Hanna mengedik ngeri. "Nona Hanna mau kemana?" sapa salah seorang perawat yang bertugas merawat Hanna. "Aku mau jalan-jalan sebentar." "Mau aku temani?" "Tidak usah. Terimakasih." Hanna melemparkan senyum tulus. Ia kemudian naik lift menuju lantai dasar. Hanna mengarahkan kursi rodanya menuju taman kaca yang berada di belakang Rumah Sakit. Hanna mengetahui taman itu dari perawat tadi yang setiap pagi membawakan obat untuknya. Dia yang bercerita pada Hanna. "Aku butuh Matahari dan butuh menghirup udara segar. Kamarku sangat sumpek, sebenarnya tidak juga, tapi aku tidak pernah menyukai bau rumah sakit." Hanna berada di antara bunga-bunga Mawar Putih yang indah. Ia mencoba menciumnya. Hanna tersenyum sendiri begitu melakukannya. Wangi Mawar yang semerbak seketika memenuhi indera penciumannya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN