Kehidupan Hanna berjalan seperti biasa. Kalau ia bilang, "kehidupanku sangat monoton." Hanna pergi ke kantor atau ke negara sana dan sini mewakili lembaganya untuk berbicara di depan kongres. Hanna juga aktif di media sosial seperti biasa. Bedanya sekarang ia juga sering diundang untuk menjadi pembicara untuk kampus maupun lembaga swasta. Hubungannya dengan Star One? Jangan ditanya, mereka tambah aktif membuat kehebohan di grup.
Hanna masih tidak habis pikir dari dulu, bagaimana cara mereka menyempatkan diri membahas hal remeh di grup di tengah kesibukan mereka untuk persiapan album baru, tour, dan come back? Sura semakin intens menghubungi Hanna. Terkadang dia mengirimkan draft lagunya. Meminta Hanna untuk mendengarkan dan bertanya mengenai pendapat Hanna mengenai lagu tersebut.
Hanna tidak tahu hubungannya dengan Sura berada di taraf mana. Terkadang ia suka memikirkan perkataan manager saat bertemu terakhir kali dulu. Tapi ia buru-buru menepis pikirannya.
"Aku tidak pantas untuk memikirkan hal seperti itu. Aku tidak boleh membiarkan diriku berasumsi sendiri yang nantinya akan membuatku terluka tanpa aku sadari."
Tanpa sadar waktu dua tahun pun berlalu semenjak terakhir kali ia bertemu Star One di New York. Mereka tidak punya waktu untuk saling bertatap muka. Kesibukan masing-masing membuat waktu mereka sama-sama tersita, nyaris tak bersisa.
Hanna sendiri kaget, waktu berjalan begitu saja dengan cepat. Mungkin karena ia sangat sibuk, jadi ia tak sadar waktu cepat berlalu. Hanna juga mulai memikirkan umurnya yang mulai tua. Hihi. Setidaknya itulah yang dikatakan bibinya yang tak bosan-bosan menanyakan kapan Hanna akan menikah. Hanna akui umurnya sekarang tidak muda lagi. Untuk ukuran Indonesia tentunya. Ia sudah berumur 28 tahun dan tidak lama lagi umurnya akan menginjak 29 tahun. Dan ia sama sekali tidak memiliki pikiran untuk menikah.
Bahkan teman-temannya mulai bawel karena Hanna menjadi satu-satunya yang masih belum menikah di antara mereka, terlebih lagi dengan menyandang status jomblo. Mereka heboh sekali terutama pada saat satu tahun yang lalu ia pulang ke Indonesia untuk menghadiri pernikahan Marta.
"Aku serius deh Han, kamu kapan nikah? Ini bukan pertanyaan buat mengejek atau gimana ya? Masalahnya aku liat kamu itu bukan hanya belum nikah di umur segini. Tapi juga jomblo," ujar Intan saat mereka berkumpul di cafe Jam Gadang.
"Yang penting jomblo bahagia. Aku akan menikah pada waktunya."
"Ya sama siapa Rana Hanna. Masalahnya aku dengar kamu selalu menolak orang-orang yang datang meminang," sambung Rasna.
"Aku tak tertarik sama mereka. Mereka hanya datang karena mengetahui aku sudah lumayan sukses sekarang. Dulu aja mereka bergunjing di belakang," sahut Hanna jengkel.
"Tenang aja guys. Aku akan menikah di waktu yang tepat dengan orang yang tepat."
"Siapa? Sura?" Hanna hanya diam.
Hanna tengah berada di pesawat menuju Padang. Besok Marta akan menikah dan Hanna berbaik hati memohon-mohon pada bosnya agar diizinkan mengambil cuti. Sebenarnya dia tidak mengizinkan karena ada banyak pekerjaan. Tapi karena Hanna belum pernah mengajukan cuti semenjak pertama kali bergabung dengan PBB. Lupakan cutinya kemaren saat ia bertemu Nanda.
"Itu bukan cuti, tapi raple off," ujar bosnya. "Terserah dia lah mau menamakannya apa, yang terpenting aku bisa libur," pikir Hanna
Akhirnya dengan berat hati dia memberikan waktu cuti selama sepuluh hari yang tentu saja tinggal delapan hari karena dua hari sudah habis untuk perjalanan pesawat. Hanna senang sekali dan nyaris saja memeluk bosnya itu kalau tidak mengingat status mereka.
Hanna kompak menertawakan Marta bersama dengan Yanuar. Mereka mengejek-ejek bagaimana dia dulu mengatakan akan mencari suami orang Kalimantan. Benar saja, suaminya sekarang adalah orang Kalimantan. Hanna juga mengungkit-ungkit persoalan rendang lima kilo. Suami Marta yang juga lucu itu tak berhenti tertawa sedari tadi. Ia juga ikutan mengejek istrinya.
"Dia sampai kaget lo waktu aku beneran bawain rendang lima kilo," ujarku.
"Dan akhirnya rendang itu beneran dibagiin ke anak-anak satu kantor," sambung suami Marta.
"Saya juga kaget saat Razaq, nama suami Marta, bawa rendang yang banyak pulang," sambung ayah mertuanya.
"Ya gimana nggak kebanyakan. Rendang lima kilo yang dibawanya itu baru dagingnya saja yang kehitung lima kilo. Belum lagi kalau dihitung semua dengan kentang dan campuran lainnya," sahut bibi.
"Iya, aku waktu itu kan cuma bawa itu dan makan bagasi lebih dari sepuluh kilo."
"Pantas saja tanganku pegal saat membawanya sepanjang bandara," sahut Marta. "Pokoknga aku kapok kalau sama Hanna. Dia memang suka nggak kira-kira." Marta bersungut-sungut kesal.
Suasana makan malam pertama keluarga besar keduanya sangat heboh. Bahkan keluarga dari pihak suami juga heboh. Pernikahan juga akan diadakan di Kalimantan dua hari sebelum Hanna kembali ke New York. Hanna memutuskan untuk kembali ke New York langsung dari Kalimantan.
Hanna mengajak keponakannya, Tiara yang sekarang sudah berumur lima tahun ke wahana bermain air. Ia tahu gadis kecil itu bosan di rumah. Begitu juga dengan Hanna. Semua orang sibuk mempersiapkan keberangkatan ke Kalimantan. Sementara Hanna sendiri bingung mau ngapain.
"Tamu jauh nggak usah repot-repot," ejek Yanuar. Hanna mendelik jengkel pada Yanuar saat itu.
"Enak saja aku dibilang tamu."
"Sudah.. sudah. Kamu nggak usah repot-repot. Lebih baik kamu istirahat. Badan kamu makin kurus tau. Atau sana pergi ajak Tiara main keluar."
Hanna ikut bermain air dan mengajari Tiara berenang, padahal ia sendiri tidak bisa berenang. Hanna mengunggah foto bersama dengan Tiara. Ia mengunggah foto saat mereka makan ice cream. Mereka makan dengan gaya sama. Bahkan baju mereka juga memiliki warna yang sama. Hanna tidak menyadari itu. Sepertinya ibunya sengaja memilih baju yang sama dengan Hanna. Ia juga mengunggah foto di kolam renang dan saat mereka makan dimana Hanna dan Tiara sama-sama memegang sendok dan garpu serta memandangi makanan mereka dengan lapar.
“Baru sadar kalau pakai baju yang sama dengan ponakan. Berhubung semua orang di rumah sibuk, akhirnya kami kabur untuk bermain. Herannya ibuk-ibuk malah mengatakan bahwa kami adalah ibu dan anak. "Wah, ibu dan anak kompak sekali." Setua itu kah tampang ku?" tulis Hanna.
“Haha. Itu tandanya kau harus segera menikah.” Putri berkomentar.
“Kau mau jadi perawan tua? Sana menikah, aku akan menghadiri pestamu dimanapun kamu menikah.” Rasna ikut berkomentar.
“Kalau nikah jangan lupa undang beb.” Naya ikut nimbrung.
“Kaka imut sekali mirip dengan keponakannya.”
“Kalian kompak sekali.”
“Kakak. Singgah ke Jakarta dong dan berbagi cerita.”
“Ingin minta oleh-oleh tapi apalah daya.” Jeno ikut berkomentar
“Hyung harus melihat ini.” Jeimin juga ikut berkomentar.
“Tinggal kurang ayahnya.”
“Kamu di Indonesia berapa lama?” sahabat Hanna yang lain ikut berkomentar.
“Kakak awet muda kok.”
“Jangan mengolokku terus.” Hanna menandai Putri dan Rasna.
“Aku akan mengirimkan undangan yang besar ke rumahmu kalau aku menikah.” Ia membalas komentar Naya.
“Hahaha. Aku akan mengirimkannya lewat mimpi.” Hanna membalas komentar Jeno.
“Jangan. Nanti kepincut.” Ia berseloroh pada Jeimin.
“Tiga hari lagi aku balik beb. Habis acara resepsi di Kalimantan. Aku hanya punya waktu cuti selama sepuluh hari."
“Kangen lihat keponakanmu.” Tiba-tiba Sura mengirimkan pesan secara pribadi. Hanna membalasnya dengan mengirimkan foto Tiara yang sedang makan.
“Imutnya sama dengan tantenya.”
“Kau mengejekku.” Hanna mengirim emot jengkel.
“Aku serius.”
"Oh ya, aku lupa kalau kau tak pernah bercanda," ejek Hanna balik.
“Oppa sudah makan siang?”
“Sudah dari dua jam yang lalu.”
“Hahaha. Aku melupakan perbedaan waktu dengan Korea.”
“Kapan ke Korea?”
“Seharusnya aku yang bertanya. Kapan oppa mau ke New York lagi? Waktu Oppa ke New York terakhir kemaren, aku malah berada di Paris. Memang tidak jodoh,” canda Hanna.
“Kamu berhenti saja kerja di sana. Hahaha. Biar bisa bertemu denganku setiap hari.”
“Apa hubungannya aku berhenti kerja dengan bertemu oppa?”
“Kau bisa mencari pekerjaan di Korea dan menetap. Dengan otakmu itu, aku yakin tidak ada satupun perusahaan yang akan menolak.”
“Hahaha. Aku mau berhenti bekerja di sini kalau sudah menikah saja.”
"Dan entah kapan aku akan menikah," gumam Hanna dalam hati.
“Kalau begitu kau menikah saja.”
“Kau menyuruhku menikah seolah menyuruhku berbelanja saja. Pacar saja tidak ada, mau menikah dengan siapa?”
“Makanya kau harus segera pergi berkencan.”
“Ide yang bagus. Nanti aku minta bibiku mencarikan calon. Hahaha.”
“Hmm.”
"Kebiasaan banget kalau mau mengalihkan pembicaraan. Dia akan mengirimkan hmm padaku." Hanna memutar mata dengan sebal.
“Oppa tidak bekerja?”
“Ini aku lagi di lokasi syuting.”
“Aku tebak kau lagi leyeh-leyeh, tiduran di kursi santai sembari memperhatikan anggota lain bermain.”
“Kau semakin pintar.”
“Aku hafal sekali dengan semua kebiasaanmu itu.”
“Kalau begitu kau juga tahu isi hatiku.”
“Kalau isi hati oppa aku tidak tahu, susah sekali ditebak. Bahkan aku tidak tahu kau marah atau bagaimana. Datar sekali. Tapi aku paham. Kau tengah menyembunyikan sesuatu sekarang, kalau aku tidak salah tebak.”
“Tentu saja. Semua orang punya rahasia.”
“Maksudku adalah, kau tengah menyembunyikan perasaan pada seseorang. Kau tengah jatuh cinta ya oppa?”’
“Kenapa kau bisa berfikir seperti itu?”
“Aku memperhatikan dari lagu-lagu yang belakangan ini kau produksi atau yang kau kirimkan padaku. Aku juga memperhatikannya dari gaya pesanmu atau saat kau menelpon. Berbeda dari biasanya meskipun tetap saja menyebalkan.”
“Kau mengatakan aku menyebalkan.”
“Aku berbicara kenyataan. Kau memang menyebalkan dan juga sensitif.”
“Memangnya aku perempuan.”
“Memang hanya perempuan yang boleh untuk punya perasaan sensitif. Tapi itu bagus, laki-laki juga harus lebih peka. Agar tidak terjadi miskomunikasi saat berhubungan dengan perempuan.”
“Kau terlihat seperti seolah psikiater sekarang.”
“Aku bisa menjadi apa saja bagi orang lain. Tapi aku tidak akan bisa menjadi milik orang lain. Hahahah.”
“Apa maksudmu?”
“Hahaha. Cukup aku dan Tuhan yang tahu. Ngomong-ngomong kau juga harus segera berkencan oppa. Memang untuk ukuran Korea, kau belum tua. Tapi tak ada salahnya membuka hati pada perempuan. Kau juga perlu menyeleksi sebelum menetapkan hati. Kalau kau tidak begitu, nanti kau menjatuhkan pilihan pada orang yang salah.”
“Hahaha. Sekarang kau terlihat seperti dewi cinta.”
“Kau terus-terusan mengejekku. Sudahlah, nanti aku chat lagi. Aku mau pulang dulu. Keponakanku sudah tertidur sedari tadi.”
“Baik nyonya. Hati-hati. Kau pulang pakai apa?”
“Aku bawa mobil tadi ke sini. Sebenarnya aku mau bawa motor. Aku tidak suka membawa mobil. Tapi wahana bermainnya satu jam lebih dari rumah. Kasihan keponakanku kalau harus motoran sejauh itu.”
“Kau menyetir selama itu?”
“Hal biasa di sini. Perjalanan dari Bandara ke rumahku saja hampir tiga jaman. Aku dulu juga pernah menyetir dua malaman untuk perjalanan pulang pergi ke provinsi lain. Saat itu abangku tengah berada di luar negeri. Sementara saat itu, ada kerabat yang meninggal di provinsi lain dan tidak ada yang bisa menggantikanku bawa mobil. Aku tidak bangun selama seminggu setelahnya. Semenjak itu aku benci menyetir mobil.”
“Astaga. Besok kau harus mencari supir atau kau bisa menyuruh suamimu yang bawa mobil.”
“Hahhaa. Arasso. Aku mau pulang dulu. Bye bye.” Sura mengirimi Hanna emot love. Hanna tertawa sendiri tanpa curiga sedikitpun. Ia langsung menggendong Tiara yang sudah tertidur sedari tadi karena kelelahan bermain air. Hanna bersiul sepanjang jalan menuju rumah. Entah kenapa hatinya ringan sekali saat ini. Padahal tadi sempat ada hal yang menyebalkan terjadi di kolam renang.
Saat itu Hanna tengah antri d kasir untuk membayar sewa pelampung. Tanpa sengaja ia berebut pelampung dengan seorang laki-laki. Hanna kaget saat memandangi orang itu, dia adalah Nanda. Dia juga tampak kaget saat melihat Hanna. Hanya saja sebelum dia sempat mengucapkan apa-apa, istrinya datang.
Istrinya langsung melempar tatapan membunuh pada Hanna, sementara Hanna sendiri hanya acuh tak acuh. Mengambil pelampung dan membayarnya pada kasir. Lalu kemudian meninggalkan meja kasir sambil menggandeng Tiara. Hanna bahkan tak mendengarkan ucapan-ucapan kasar dari istri Nanda. Ia sudah menulikan telinganya untuk mendengarkan ucapan mereka.
"Dasar wanita tidak tahu malu. Masih saja mencoba untuk merebut suami orang," ujarnya.
"Tante, nenek sihir itu lagi," ujar Tiara yang Hanna yakin terdengar di telinga mereka.
"Benarkah? Tante nggak melihat ada orang tuh. Hanya mendengar ada suara-suara. Jangan-jangan ada setan di siang bolong." Hanna sengaja mengeraskan suaranya. Tiara tertawa mendengarkan jawaban Hanna. Mereka berlalu meninggalkan Nanda dan isterinya yang semakin panas karena ucapan Hanna.
Hanna mengiea ia akan memikirkan pertemuan mereka terus, tapi ternyata ia malah lupa sama sekali dengan kejadian tadi. Hanna sibuk mengawasi Tiara dan bahkan berbalas pesan denga Sura. Terlebih lagi sikap Sura yang menggemaskan membuatnya semakin salah tingkah dan jadi senyum-senyum sendiri.
"Aku sepertinya sudah melupakan Bang Nanda."
***