“Kau keren sekali, nuuna.” Hanna memandang ke arah sumber suara berasal. Ia hafal betul kalau itu adalah suara Jeno. Hanna melihat mereka tengah berdiri dengan manager tak jauh dari tempat ia berada. Mereka tengah memandangi Hanna. Gadis itu tersenyum lebar dan sedikit berlari ke arah mereka. Ia bahkan lupa kalau pakai hels yang tingginya 7 cm. Untung saja ia tidak terjatuh.
“Aku kaget sekali waktu MC menyebut nama kalian tadi," sahut Hanna.
“Aku lebih kaget saat melihat nuuna masuk ruangan dan memberikan pidato. Daebak.”
“Kau sangat keren sekali meskipun tadi lupa teks.” Jun menertawainya.
“Ya.. kau mau memuji atau malah mencemoohku, oppa.”
“Tapi kau memang keren.” Jeimin mengacungkan dua jempolnya pada Hanna. Gadis itu tersenyum lebar.
“Nah, mari kita mulai tour singkat untuk anggota Star One.” Kevin mengetengahi sebelum mereka sibuk saling memuji satu sama lain. Jika itu terjadi Hanna yakin mereka tak akan menyelesaikannya dalam satu malam.
“Untuk apa?” Hanna memandanginya dengan bingung.
“Astaga, kau sungguh tuan rumah yang tidak sopan. Bos tidak memberitahumu kalau Star One adalah tamu khusus kita?”
“Aku akan membunuh pak tua itu begitu dia kembali ke New York.” Hanna menggertakkan giginya dengan gemas. Untung hanya ada mereka di sana. Kalau tidak ia sudah di cap sebagai tuan rumah yang buruk.
“Hahaha. Sepertinya dia dendam sekali padamu. Bahkan dia membiarkanmu hidup di kantor semenjak hari pertama kembali ke sini. Kau melakukan kesalahan apa padanya?” Kevin memandangi Hanna dengan rasa penasaran.
“Aku rasa, dia mungkin marah karena aku tidak bersedia kembali ke New York waktu aku masih berada di Korea dulu. Gila saja dia menyuruhku tiba-tiba pergi ke New York, sementara saat itu aku tengah berada di atas bus menuju pulau yang jaraknya ribuan mill dari ibu kota. Bahkan dia bilang akan mengirim helikopter untuk menjemputku.” Hanna bersungut-sungut dan mulai bercerita dengan semangat. Melupakan keberadaan Sura dan teman-temannya.
“Hahaha. Karena kejadian itu ya. Aku mengerti. Karena kau menolak saat itu, akibatnya aku yang kena kambing hitam. Dia terus mengomel setiap hari karena kau tidak mau melakukan perintahnya. Aku juga paham sih kenapa kau tidak mau. Aku masih ingat terakhir kali dia mengirimkan helikopter tempur untuk menjemputmu di Yaman hanya untuk mencari anjingnya yang hilang.” Kevin tertawa terkikih-kikih. Semua orang yang mendengar juga ikut tertawa.
"Tapi untung saja kau juga tidak mengiyakannya kemaren. Kalau tidak kau pasti sudah mengirim senjata nuklir untuk menghancurkan kantor.”
“Memangnya bos menginginkan apa lagi kemaren?”
“Dia bingung tidak bisa menemukan surat undangannya untuk acara di Timur Tengah. Padahal di dalamnya ada kartu kunci dan tanda pengenal black area. Tapi ternyata barang itu terselip di antara buku-buku di perpustakaannya.”
“Astaga. Lama-lama aku berubah menjadi anjing pelacaknya saja. Masak hal seperti itu juga harus aku yang mencari.”
“Kau sangat cocok untuk itu. Itu akibat kau terlalu baik dan tidak bisa menolak. Kau selalu mengiyakan ketika orang meminta sesuatu padamu. Nah cukup berbicara mengenai pak bos ya, ibuk wakil bos. Sekarang mari kita lakukan tugas resmi kita terlebih dahulu. Wartawan sudah menunggu di luar.” Hanna mengangguk.
“Baiklah mari kita mulai. Sebelumnya aku minta maaf atas ketidaknyamanan dan kecerobohanku sebagai tuan rumah yang tidak bisa menyambut tamuku dengan baik.” Hanna membungkuk hormat pada anggota Star One dan staffnya.
“Sebentar nuuna. Ayo kita foto dulu. Sudah lama sekali kita tidak bertemu.” Jeno memotong ucapan Hanna dan menatapnya dengan mata bayi. Hanna melihat anggota yang lain juga langsung antusias dan mengangguk setuju. Akhirnya mereka berdelapan selfi menggunakan ponsel Jun. Kevin juga menawarkan diri untuk mengambil foto mereka dari ponsel Hanna.
Hanna pun kemudian mengajak Star One berkeliling dan menceritakan setiap sudut gedung kongres. Kru TV merekam mereka. Selain itu, acara juga diselipi oleh beberapa wawancara dasar. Akhirnya pukul 03.00 acara itu selesai dengan Hanna dan Kevin ikut ke hotel tempat Star One menginap. Sebagai tuan rumah ia harus melayani dengan baik. Hanna lupa kalau mereka adalah duta ambassador UNICEFF beberapa tahun lalu. Herannya mereka tidak pernah bertemu satu sama lain sebelumnya. Sekarang mereka juga ikut terpilih kembali menjadi duta ambassador.
Jun menahan Hanna di hotel. Mereka tidak mengizinkannya untuk pulang. "Padahal aku ingin segera bertemu dengan kasurku," ratap Hanna.
Ia ingin memanfaatkan waktu sebaik mungkin sebelum besok kembali pada kesibukan yang pasti akan lebih sibuk lagi. Akhirnya ia mengalah pada Star One. Lagi pula mereka sudah lama sekali tidak bertemu. Hanna juga merindukan mereka. Sementara itu, Kevin harus kembali ke kantor. Dia masih mempunyai pekerjaan yang harus segera dikerjakan karena tadi sempat tertunda saat menemani Hanna ke acara tersebut.
Hanna tengah duduk di kursi yang berada di depan kamar mereka. Ada kolam dihadapan kamar mereka. Tampaknya mereka membooking semua kamar di lantai atas hotel ini untuk digunakan oleh para kru dan anggota Star One. Jadi mereka bisa lebih bebas untuk syuting dan sebagainya.
Hanna mencopot sepatu yang sedari tadi menyakiti kakinya. Ia baru sadar kalau tumitnya terluka. "Pantas saja rasanya sakit." Hanna kemudian menanggalkan blezzer yang ia kenakan dan mengeluarkan kemeja dari sabuk celananya. Ia berpenampilan santai sekarang ala anak kuliahan. Hanna tidak tahu kemana perginya anggota Star One. Hanya ada beberapa kru yang lalu lalang. Ia bersantai di kursi santai dan tertidur.
Hanna kaget karena tiba-tiba ada yang memegang kakinya. Untung saja ia tidak menendang orang itu. Hannamembuka mata dan kaget begitu melihat Sura tengah berjongkok memegang tumit kakinya sambil memasangkan plester.
“Kau mengagetkanku saja, oppa.”
“Kalau tidak terbiasa pakai hells, kau harus memasang plester ditumitmu agar tidak terluka.” Dia menyudahi pekerjaannya dan duduk dengan santainya di kursi seberang Hanna. Hanna melihat ada minuman kaleng dihadapannya. Ia kemudian meraihnya. "Bodoh amat itu minum siapa yang jelas aku haus. Aku juga lapar." Hanna tidak ikut makan siang tadi karena sibuk meladeni tamu sembari minum minuman yang dihidangkan.
Jeno datang membawa makanan. Mata Hanna langsung cerah melihatnya. “Ini untukmu, nuuna. Khusus dimasakkan oleh Sura hyung.” Hanna menatap Sura dengan wajah tidak percaya. Tapi yang empunya masih bersikap cuek.
“Gomawo.” Hanna menatap Jeno dengan mata berbinar-binar. "Aku lapar sekali. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali makan. Sepertinya pagi kemarin. Eh, pagi kemarin aku juga cuma minum s**u. Apa dua hari yang lalu ya? Entahlah.”
Hanna berbicara seperti menggumam. Anggota yang lain menyusul dan duduk disekitarnya. Hanna makan tanpa memedulikan siapapun persis seperti orang yang baru bertemu makanan setelah puasa selama seminggu.
“Makan yang banyak. Kau kurus sekali semenjak terakhir kali kita bertemu.” Jun memandangi Hanna dengan prihatin.
“Bahkan kantong matamu itu hitamnya sudah mengalahkan mata panda.” Jacop juga ikut berkomentar.
“Kau berhenti saja bekerja dan menikah dengan Sura hyung.” Vlo berseloroh.
“Aku akan melemparmu ke kolam setelah aku selesai makan oppa,” ujar Hanna setengah bercanda. Sementara mulutnya penuh dengan makanan. Hanna benar-benar seperti orang baru pertama kali bertemu makanan.
“Hahaha. Kau tidak tahu betapa galaunya Sura hyung karena tidak bertemu denganmu hampir lima bulan. Bahkan kau juga jarang membalas pesan kami di grup.”
“Perasaan yang sibuk itu kalian, bukan aku.” Mereka cengengesan memandangi Hanna.
Hanna meraih HP yang sedari tadi terus bergetar. Ia kaget melihat ada ribuan notifikasi. "Astaga, notif apa saja ini."
Parahnya semua notifikasi itu berasal dari sns miliknya. "Pasti ada yang tidak beres." Benar saja. Hanna kaget saat membuka sns. Jeno dan keenam member lainnya kompak mengunggah foto selfi dan foto Hanna dan mereka yang tampaknya diambil oleh kru mereka tadi.
"Pantas saja mereka sibuk dengan hp terus dari tadi." Hanna menatap mereka dengan tidak percaya. Bahkan foto yang baru tiga puluh menit diunggah itu mendadak sudah menjadi tranding topik dengan jutaan like. Suatu keajaiban karena postingan itu berhasil mengalahkan postingan mereka yang lainnya selama ini di twitter.
Ada banyak komentar pada postingan mereka. Terlebih karena mereka memasang judul yang membuka satu persatu kedok Hanna. “Kaget bertemu dengan nuuna yang satu ini di sini. Selamat nuuna sudah diangkat menjadi wakil ketua PBB bagian kemanusiaan. Nuuna curang. Kami bahkan tidak tahu kalau selama ini ternyata dia adalah ahli diplomasi. Dia terlalu rendah hati untuk mengakui pekerjaannya. Bangga padamu nuuna.” Jeno menuliskan caption itu.
Sementara Sura menuliskan; “Perempuan kuat yang bersinar dengan caranya sendiri. Tidak ada yang menyangka kalau salah satu kru film di stasiun TV pada acara kami dulu adalah seolah ahli diplomasi dan kemaren malam baru saja diangkat menjadi wakil ketua PBB bagian kemanusiaan.”
Jun juga menulis caption: “Sewaktu kami duduk menunggu MC membuka acara, kami begitu kaget melihat Hanna-si naik ke atas mimbar memberikan sambutan.” Rein menulis: “Kau wanita hebat, pintar, dan rendah hati. Oppa semua akan mendukungmu.”
Jeimin menulis: “Bertemu dan berjumpa dengan bu wakil ketua PBB bagian kemanusiaan.”
Vlo menulis: “Kau memang terlihat ahli berkelit. Hihi.”, dan Jacop menulis: “Daebak. Aku masih kaget bisa bertemu dengan buk wakil ketua di sini.”
“Nuuna, kau hebat sekali.”
“Sura oppa, kau cocok sekali dengannya.”
“Nuuna, beri kami tips supaya bisa pintar sepertimu.”
“Nuuna kau cantik memakai hijab.”
“Eounni. Kami masih kaget dengan kejadian soal lagu tempo dulu. Kami iri dengan kedekatanmu dengan anggota Star One. Sekarang kami mengetahui kebenarannya dan lebih kaget lagi begitu mengetahui bahwa kalian ternyata saling mengenal. Sepertinya kalian juga sangat akrab. Kami iri, tapi kami akan mendukungmu. Kalian pantas bahagia.”
“Eounni sama Sura oppa saja. Kalian cocok sekali. Terlebih saat duet.”
“Eounni. Kau berhasil mencuri pria impian kami. Kami iri.”
“Oppa. Kami patah hati. Tapi kami bahagia kalau kalian bahagia.” Masih banyak komentar lain. Aku sedikit lega karena tidak banyak komentar yang buruk.
Hanna membuka snsnya dan ada ratusan DM yang masuk. Ia tidak membukanya sama sekali. Hanna ikut mengunggah foto. Ia juga sedikit kaget mengetahui ada time line tag-an dari akun resmi Be Star. Hanna mengunggah foto selfi yang di ambil Jeno, foto yang diambil Kevin, foto bersama dengan petinggi lain tadi, dan foto selfi ia dengan pemuda perwakilan berbagai Negara tadi. Hanna memilih empat foto terbaik.
“Setidaknya mata Panda ini terbayar sempurna. Sangat bergembira bisa bertemu dengan anak-anak muda dan orang hebat dari berbagai belahan dunia yang ikut menyuarakan perdamaian dunia. Tetap semangat berkarya dengan jalanmu masing-masing. Ada banyak orang tidak beruntung di luar sana yang menunggu tangan-tangan hebatmu agar mereka juga bisa merasakan kedamaian dan kebahagiaan. Terlepas dari itu, ibu, keluargaku, sahabat-sahabatku, dan orang-orang yang senantiasa mendukungku, baik secara langsung ataupun tidak. Aku berterima kasih pada kalian dan ini untuk kalian.”
“Kaka.. kau cantik sekali.”
“Kaka, kau beruntung sekali bisa berjumpa kembali dengan Star One.”
“Eounni. Kami iri padamu tapi kami akan mendukungmu.”
“Selamat adikku. Kami turut bangga di sini atas peningkatan karirmu. Kau pantas untuk mendapatkannya dan kau pantas untuk bahagia.” Yanuar juga ikut berkomentar.
“Selamat Hanna. Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau. Meski waktu tak bisa kembali, tapi aku masih memimpikannya.” Nanda ikut berkomentar. Hanna memilih untuk mengabaikannya.
“Kau sangat keren.” Jun ikut meninggalkan jejak.
Hanna meletakkan kembali ponsel dan melanjutkan makannya yang sempat tertunda.
“Oppa sampai kapan di sini?” Hanna menatap Jun yang kebetulan menatapnya.
“Kami akan kembali besok. Kami hanya ke sini untuk acara ini.”
“Cepat sekali.” Hanna tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya.
“Kau ikut kami saja kembali ke Korea.” Jacop menimpali.
“Kali ini tidak mungkin lagi. Aku tidak bisa bekerja bebas seperti dulu setelah menerima jabatan ini.” Hanna menghela nafas berat.
“Kuncana. Kau harus semangat. Ini demi masa depanmu juga.” Rein menenangkan Hanna.
“Hihi. Aku tidak pernah memimpikan masa depan yang seperti ini.”
“Kau harus ingat, ada banyak orang di luar sana yang menginginkan posisimu.” Sura ikut angkat bicara. Hanna hanya tersenyum.
“Baiklah. Bagaimana kalau malam ini kita pesta untuk merayakan keberhasilan Hanna.” Jeimin memberikan usulan yang langsung disetujui anggota lain.
Akhirnya malam ini berakhir dengan pesta bersama anggota Star One. Entah darimana mereka mendapatkan kue. Jun dan Sura juga masak yang banyak. Sementara Hanna dan yang lain bermain game. Usai makan mereka bermain game dan taruhan. Sialnya ia tidak beruntung untuk urusan yang satu ini. Mukanya paling banyak mendapat hadiah dari tangan-tangan berbakat mereka. Mereka mengakhirinya dengan foto bersama. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 malam dan Hanna sudah sangat mengantuk. Ia juga harus kembali bekerja besok dan mereka juga harus kembali besok pagi.
“Aku harus pulang," ujar Hanna pada Sura yang masih sadar. Sementara itu anggota lain sudah tumbang karena minum alkohol. Padahal mereka baru minum beberapa kaleng.
“Aku antar,” ujarnya dan langsung berdiri.
“Hihi. Bagaimana caranya?"
“Aku akan mengantarmu pakai mobil yang disewa oleh manager.”
“Tidak usah. Aku bisa pulang pakai taxi.”
“Aku tidak sedang bertanya padamu!” Hanna menghela nafas panjang. Sura selalu tegas dengan keputusannya. Akhirnya manager memutuskan untuk menyetiri mereka. Mungkin dia khawatir anaknya bakalan kenapa-kenapa kalau dilepas sendiri. Lagi pula Sura tadi minum alkohol. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Hanna sendiri juga canggung untuk mulai berbicara.
“Jadi Hanna-si kapan mau meresmikan hubungan dengan Sura.” Tiba-tiba manager berbicara. Hanna kaget dengan pertanyaannya.
“Hahha. Ada-ada saja. Kami tidak berpacaran atau sedang dalam keadaan hubungan yang seperti itu, manager. Aku hanya seperti adik dari oppa-oppa yang sangat protective.”
“Hahaha. Mereka sangat mencintaimu. Kau perempuan beruntung.”
“Aku akui itu dan aku senang punya banyak oppa.”
“Tapi tak selamanya kau bisa seperti ini Hanna. Kau harus menetapkan hati.” Hanna tak bisa menahan tawaku.
“Hahaha. Aku tidak sedang jatuh cinta dan tidak berniat untuk jatuh cinta.”
“Kenapa?” Hanna hanya tertawa. Untung saja mobil mereka sampai di halaman apartemen Hanna. Ia terselamatkan dari pertanyaan sakti tersebut.
“Aku sudah sampai. Terima kasih banyak manager dan Sura oppa. Maaf merepotkan. Hati-hati dijalan dan safe flight untuk besok.”
“Sama-sama," manager menjawab. Hanna sudah akan meninggalkan halaman apartemen. Ia kaget begitu mengetahui Sura mengikutinya turun dari mobil.
“Aku akan mengantarmu sampai pintu kamarmu.” Hanna tak bisa menolak. Mereka menaiki tangga satu persatu. Apartemen tempat Hanna tinggal bukanlah apartemen mewah. Hanya lima lantai dan harganya sangat terjangkau untuk pelajar. Hanma tidak suka menghabiskan uang untuk hidup mewah. Ia lebih memilih untuk menyumbangkannya ke badan amal yang ia dirikan di Indonesia.
“Nah, sampai. Di sini kamarku.”
“Masuklah.” Hanna menekan kode kunci apartemen dan membuka pintu. Sura masih menanti. Hanna bingung harus berkata apa.
“Hati-hati di jalan oppa.”
“Aku akan pergi begitu kau menutup pintu,” ujarnya. Hanna menghela nafas panjang.
“Baiklah.. Bye bye.” Hanna melambai.
“Bye.” Sura membalas lambaiannya dan Hanna pun menutup pintu.
Hanna memandangi mobil yang membawa Sura dari atas beranda kamar. Entah mengapa, ia merasa berat untuk melepasnya. Hanma kemudian membersihkan diri dan berangkat tidur. Tak membuka kembali ponselnya. Badannya sudah mau patah rasanya dan ia butuh istirahat yang cukup. Hanna berharap tak ada lagi mimpi buruk yang akan mengganggu tidurnya.
***