Terbongkar

2164 Kata
Saat ini Hanna tengah berada di kantornya, PBB. Sudah hampir sebulan ia kembali ke kantor. Ia bahkan belum bisa menepati janjinya pada Sura untuk menemui pria itu. Saat ia kembali ke Korea untuk mengurus kepindahannya. Star One tengah melaksanakan tour-nya. Bahkan sekarang mereka masih dalam perjalanan melakukan konser keliling dunia dan berpindah-pindah negara. Hanna juga belum kontakan lagi dengan mereka semenjak terakhir ia berada di Indonesia. Hanna kembali menghela nafas panjang. Pekerjaan dihadapannya seakan tidak berkurang. Bagaimana mau berkurang, baru saja ia menyetorkan beberapa dokumen yang selesai. Bosnya langsung menggantikannya dengan setumpuk dokumen baru. Bahkan ia selalu lembur tiap malam semenjak kedatangan pertamanya di New York. "Tugan aku berharap ada yang membutuhkan jasa negosiasiku. Aku benar-benar bosan berada di kantor. Sampai kapan aku harus tidur dan mandi di sini." Hanna mengambil ponsel dan memotret tumpukan dokumen dan secangkir kopi yang berada di atas meja kerjanya, lalu mengunggahnya di story sns miliknya. “Kembali ke sini, kembali dengan kesibukan yang tidak ada habis-habisnya. Herannya semakin dikerjakan, bukannya berkurang malah terus bertambah. Apa bos mau balas dendam gegara kejadian terakhir waktu di Korea Selatan.” Hanna meletakkan kembali HPnya. Tidak berniat untuk mengecek komentar atau pun sekedar membaca pesan yang masuk. Ia kembali pada pekerjaannya. Ia memutuskan untuk menyelesaikannya dengan lebih cepat lagi. Ia akan menyelesaikannya sebelum tengah malam. Hanna akan menyerahkannya sekalian besok supaya bosnya tidak diberi kesempatan untuk memberikan gantinya. “Na, kau tidak mau makan malam dulu?” Kevin mengetuk meja kerjanya. “Nanti saja. Aku harus menyelesaikan ini dulu.” “Astaga. Kau membuat kesalahan apa sama si bos. Lembur terus sebulan terakhir ini. Bahkan kantung matamu itu sudah tidak bisa dikondisikan lagi. Kau juga harus pulang dan mencuci rambutmu. Aku yakin lalat saja mau bersarang di sana," ejek Kevin. Hanna mendelik sebal. "Enak saja, memangnya aku selama itu tidak mencuci rambut sampai dihinggapi lalat." “Kau tanya padaku lalu aku harus tanya pada siapa? Haruskah aku bertanya pada Patung Liberti? Dan juga aku tidak berniat untuk mencuci rambutku. Nanti banyak yang naksir.” Memang benar rambut yang senantiasa ia sembunyikan di balik topi itu sudah lepek sekali. Hanna bahkan tidak ingat kapan terakhir kali ia mencucinya. “Hanna. Segera ke ruangan.” Itu adalah suara bosnya dari balik interphone. Hanna hanya memandang Kevin yang kembali memandangnya dengan prihatin. Setelah menghembuskan nafas kasar, ia segera bergegas menuju ruang kerja yang hanya berjarak beberapa langkah dari meja kerjanya itu. Hanna mengetuk pintu dan segera masuk begitu dipersilahkan. "Masuk." “Ada Apa bos?” “Ini..” Bos menyerahkan selembar undangan pada Hanna. "..kau gantikan aku untuk pertemuan di UNICEFF besok. Aku harus mengurus hal yang lain.” “Tapi boss..“ “Tidak ada tapi-tapi an.” "Astaga aku jengkel sekali. Aku tidak menyukai pertemuan yang dihadiri banyak orang dan media seperti itu. Tapi sekarang aku dipaksa untuk menghadirinya. Terlebih lagi jika harus menggantikan boss, artinya aku harus menggantikannya memberikan pidato." Selama ini, ia berusaha sekeras mungkin untuk tidak menempatkan posisinya berada di depan umum. Makanya ia lebih memilih menjadi negosiator yang tidak perlu harus naik mimbar. “Kau ku angkat menjadi wakilku mulai sekarang,” ujarnya kemudian. Hanna memandang bosnya dengan wajah tidak percaya. "Laki-laki tua ini. Bagaimana mungkin dia memutuskannya tanpa bernegosiasi dulu denganku." Hanna tidak suka sama sekali dengan peningkatan karirnya itu. Kalau menerima jabatan ini, artinya ia tidak akan bisa bebas lagi. “Sudah jangan banyak mikir. Aku tahu kau bahagia dan berterima kasih padaku. Sekarang cepat selesaikan pekerjaanmu dan pulang. Kau harus menghafalkan pidatomu untuk besok.” Hanna memandangi bos dengan tatapan mengiba. “Sama-sama. Kau tidak perlu terharu seperti itu. Kau pantas mendapatkannya dengan kemampuanmu itu.” "Hu, siapa juga yang terharu. Aku ingin meledak sekarang. Aku rasa sekarang aku akan makan orang." Tanpa banyak protes, Hanna langsung meninggalkan ruangannya sebelum ia menonjok wajahnya. Hanna menggerutu sepanjang malam. Pekerjaannya belum selesai juga. Sekarang sudah pukul 01.00 malam. "Sampai kapan aku harus berada di sini. Aku belum menyiapkan apa-apa. Bahkan aku belum menyiapkan baju untuk besok." Untuk pertama kalinya ia bingung harus pakai baju apa. "Apakah aku pakai hijab? Entahlah, aku galau. Tapi kalau aku nggak pakai hijab ya masak aku pakai topi. Kan nggak lucu." Akhirnya ia sampai di apartemen pukul 03.00 malam. Hanna segera menghempaskan badan di atas kasur. Ia kemudian memasang alarm dan tidur. Tidak berniat untuk mengganti baju apalagi mencuci muka. Hanna kaget begitu mendengar suara ponsel yang terus-menerus berbunyi. Bukan alarmnya yang berbunyi. Tapi nada dering yang menandakan ada panggilan dari ponselnya itu. Hanna melihat nama Kevin terpampang dengan jelas meskipun ia masih setengah sadar. Aku mengangkatnya dengan mata setengah terpejam. “Ya.. Kau dimana sekarang?” Dia berteriak gemas pada Hanna. “Di apartemen.” “Astaga. Kau masih tidur? Kau lupa kalau hari ini kau ada pidato? Kau harus berada di gedung kongres dalam satu jam. Cepat turun sekarang, aku sudah lumutan menunggumu dari tadi.” “Mwo.." Mata Hanna sukses terbelalak mendengar ucapannya. Ia memandang jam di atas meja dan kaget saat melihat angkanya sudah menunjukkan pukul 09.00. Acara akan dimulai pukul 10.00, yang artinya ia hanya punya waktu satu jam untuk sampai ke sana. Karena bagaimanapun acaranya tidak akan di mulai kalau Hanna belum membukanya. "Tunggu aku sepuluh menit. Eh tidak, lima menit saja." Tanpa memedulikan jawaban Kevin, ia langsung melemparkan HP sembarangan. Bergegas mandi dalam lima menit. "Tidak mungkin aku tidak memandikan rambutku. Nanti orang-orang bisa pingsan saat berdekatan denganku." Hanna langsung mandi itik. Pokoknya asal terkena air. Ia mengeringkan rambut dengan serampangan. Sudah sepuluh menit berlalu. Ia membuka lemari dan memakai baju kemeja putihnya, memadukannya dengan blezzer hitam. Ia memakai celana kain bewarna hitam yang merupakan baju resmi. Hanna memutuskan untuk memakai hijab bewarna kuning emas. Sebenarnya ia mau memakai hijab warna putih atau hitam, tapi nanti malah terkesan terlalu kaku. Ia mau santai tapi masih terlihat professional. Hanna melihat dirinya terlihat seperti mahasiswa STAN. Ia terkikik melihat penampilannya. Terkadang ia memang memakai jilbab ke kantor. Untung saja New York lebih terbuka untuk hal seperti ini. Hanna kemudian memasang pin lambang PBB di blezer. Ia tidak melupakan name tag. Hanna segera menyambar tas dan HP lalu bergegas menuju parkiran, tempat Kevin menunggu. Dia akan bertugas sebagai sekretarisnya untuk kali ini. Hanna belum memiliki sekretaris pribadi karena pengangkatannya yang begitu mendadak. Bahkan ua masih belum percaya kalau sekarang ia menduduki jabatan yang penting. Hanna memasang sepatu hak tinggi dengan setengah berlari. “Astaga, kau lama sekali, nona,” ujar Kevin sarkas saat Hanna mendekat. “Jangan banyak oceh. Kau tidak lihat mataku yang sudah seperti dihajar orang.” Hanna mengomel sambil masuk mobil dan membanting pintunya. Kevin segera melajukan mobilnya meninggalkan apartemen Hanna yang sebenarnya masih satu apartemen dengannya. Hanna membuka tas, mengeluarkan bedak dan lipstick. "Setidaknya aku harus menyelamatkan penampilanku." Hanna menyapukan lipstick bewarna pink yang sedikit kemerahan yang sewarna dengan bibirnya. Ia menambahkan bedak sedikit lebih tebal dibawah kelopak matanya. Tapi tetap saja tidak membantu. Hitamnya sangat parah. "Seharusnya aku mengompresnya tadi malam atau melakukan sedikit perawatan di salon kalau saja aku bangun lebih pagi." Hanna berdecak kesal. Kevin tertawa melihat tingkahnya. “Hahaha. Kau tak akan bisa menyelamatkan kantong mata pandamu itu. Cepat hafalkan pidatomu. Aku yakin sekali bahwa kau belum menyentuhnya sama sekali. "Iya.” Hanna segera membuka HP dan membuka file yang sudah dikirimkan bosnya kemaren malam. “Astaga, kenapa ini panjang sekali. Apa aku tidak boleh membawa contekan?” “Khusus untukmu bos tidak mengizinkannya.” “Astaga apa salahku, sayang. Biasanya bos juga membaca contekan.” Hanna mengumpat sembari terus membaca. Entah kenapa otaknya mendadak buntu. Akhirnya mereka sampai di depan gedung kongres tepat lima menit sebelum acara dimulai. Hanna menarik nafas panjang sebelum membuka pintu mobil. Wartawan sudah berkumpul di luar. Mendadak ia merasa gugup, bisa dibilang ini adalah penampilan pertamanya dihadapan publik. Meskipun sering masuk televisi, tapi baru kali ini ia masuk televisi sebagai objek yang paling disorot. Hanna mencoba mengontrol emosi dan memperbaiki mimik wajahnya. Kevin sudah terlebih dahulu keluar dan membukakan pintu untuknya. Hanna keluar dan langsung memasang wajah tersenyum. Wartawan langsung berkerumun mengajukan banyak pertanyaan yang ia tidak bisa mendengarnya sama sekali. Hanna benar-benar tidak fokus. Tiba-tiba ia merasa cemas. Mimpi buruk melintas langsung dalam pikirannya. Untung saja Kevin membantunya menjawab semua pertanyaan yang mereka ajukan. Hanna berusaha menahan diri sampai mereka memasuki gedung tepat di waktu MC membuka acara. Hanna dipersilahkan masuk melalui pintu yang sudah ditentukan lima menit kemudian, setelah MC membuka acara dan segala macam t***k bengek lainnya. Ia menarik nafas untuk kesekian kalinya, mencoba untuk menenangkan pikirannya. Hanna masuk dan mengedarkan pandangan pada tamu-tamu dan melambaikan tangan. Ia tersenyum dengan memperlihatkan gigi serta berjalan dengan anggun. Hanna tidak menyadari ada mata-mata yang kaget melihat kehadirannya yang begitu tiba-tiba itu. Di belakangnya, Kevin mengikuti. Hanna segera naik mimbar dan mulai membuka acara dengan mengucapkan beberapa kalimat pembuka dan mengucapkan terima kasih. Lima menit awalnya ia bisa berbicara dengan lancar, namun begitu sampai di pertengahan ia lupa dengan apa yang ia baca di atas mobil. Mendadak Hanna panik namun ia masih bisa menyembunyikannya. Akhirnya ia menarik nafas panjang lalu mengedarkan pandangan kepada para tamu dan tersenyum. “Sepertinya saya membuka pertemuan ini dengan terlalu formal. Anda semua tidak perlu tegang seperti itu dan rileks saja. Bahkan seharusnya saya yang tegang. Umur saya masih terlalu muda untuk bisa mengontrol emosi dan mengumpulkan keberanian agar bisa berbicara dihadapan anda sekalian, yang tentunya sudah lebih lama berkecimpung di dunia ini dan tentu saja ratusan kali lebih berpengalaman dibanding saya yang masih seumur Jagung.” Hanna berusaha mencairkan suasana menyembunyikan kepanikannya karena lupa naskah. Untung saja strateginya berhasil. Beberapa pemuda dan pemudi yang ikut andil dalam acara itu yang mewakili Negara masing-masing tampak menghembuskan nafas lega, bersikap lebih rileks. Sementara itu, petinggi-petinggi dari berbagai Negara memberikannya tepukan dan menghadiahkan Hanna senyuman. “Baiklah kita lupakan saja pidato yang monoton dan membosankan itu. Saya akan berbicara sedikit lebih bebas mulai sekarang. Sejujurnya saya sendiri tidak menyangka bisa berada di atas mimbar ini untuk memberikan sambutan menggantikan pak ketua. Beliau tidak bisa menghadiri acara ini karena harus menghadiri acara yang sama pentingnya di Jenewa. Jadi beliau meminta saya untu menggantikannya. Saya sangat gugup mengetahui kabar ini tadi malam. Terlebih saya harus berbicara di depan banyak orang yang memiliki pengalaman lebih luar biasa lagi dibandingkan saya. Namun saya mencoba memberanikan diri, saya harap ini bisa memberi motivasi bagi generasi muda. Meskipun saya sendiri masih muda.” Para tamu tertawa mendengar ucapannya. Akhirnya Hanna memulai kembali pidatonya dengan menceritakan pengalaman yang ia dapat di berbagai Negara sebelum menerima kabar tadi malam kalau ia diangkat menjadi wakil dari pak ketua. Bagaimana ia harus melakukan negosiasi dan menghadapi keadaan genting serta hal apa yang harus dilakukan untuk mengambil keputusan di saat genting. Hanna juga menceritakan bagaimana mengkhawatirkannya keamanan dunia, nasib anak-anak, perempuan, dan banyaknya pelanggaran HAM yang terjadi. Hanna menceritakan semuanya secara sekilas dan mengakhiri pidatonya dalam lima belas menit. Aku dihadiahi tepuk tangan yang meriah oleh tamu yang hadir. Aku menghembuskan nafas lega sewaktu turun dari mimbar dan berjalan menuju kursi yang disediakan untukku. Acara berjalan lancar dan ia mendapatkan kejutan besar di akhir acara; pemberian materi oleh tamu-tamu penting. Di antara mereka ada Star One yang ikut memberikan pidato. "Astaga, dunia sempit sekali." Mereka sama-sama maju. Hanna bisa melihat Rein memegang kertas dan mulai membacakan pidatonya. Hanna sangat terkesan dengan kemampuan leadershipnya. Ia mencuri pandang pada Sura yang juga ikut mencuri pandang padanya. Tanpa sadar Hanna dan Sura saling melempar senyum. Masing-masing mereka bergilir untuk memberikan pidato singkat. Acara pun selesai tepat pukul 02.00 siang setelah diskusi panjang yang banyak diajukan oleh perwakilan pemuda dari berbagai belahan dunia. Pertanyaan itu banyak dilemparkan pada Hanna selaku wakil ketua sekaligus ahli diplomasi. Hanna menjawab rasa haus mereka berdasarkan pada pengalaman yang ia miliki. Ia boleh masih berumur segini bahkan beberapa dari mereka lebih tua darinya. Tapi Hanna lebih dahulu menjelajahi dunia di bidang ini dibanding mereka dan lebih dahulu terjun langsung untuk melihat permasalahan apa yang terjadi, sehingga ia memiliki pengalaman yang sedikit lebih banyak dibandingkan mereka. Hanna sangat bangga dengan pemikiran cerdas mereka dan berharap mereka akan menjadi orang baik kelak yang dapat mengkampanyekan perdamaian dunia. Acara ditutup dengan foto bersama bagi para tamu penting. Entah kapan ia berpindah-pindah dipanggung. Tiba-tiba saja ia sudah berada di tengah anggota Star One. Hanna berdiri di antara Sura dan Jeimin. Setelah bersalam-salaman, ia lanjut mengobrol dengan beberapa petinggi yang memberikan apresiasi pada pidato mendadak yang banyak keluar dari konsep itu. Banyak pemuda perwakilan dunia yang juga ikut meminta foto dan bertanya padanya. Di antaranya juga ada orang Indonesia yang tentu saja ia sambut dengan hangat. Hanna pun kembali ke pintu tempat ia pertama kali masuk tadi. Kevin menyambutnya dengan dua jempol di tangannya. Dia merentangkan kedua telapak tangannya mengajak Hanna untuk tos. Hanna menerima tosnya dengan terlalu bersemangat. Sampai-sampai ia nyaris terjungkal karena ulah sepatu heels yang terlalu tinggi untuknya. “Kau keren sekali, Na.” Pak bos pasti kecewa karena tidak berhasil mengerjaimu dengan teks pidatonya. “Hahaha. Terlalu cepat seratus tahun kalau dia mau mempermalukanku.” Hanna tersenyum penuh kemenangan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN