Sura Bercerita

2012 Kata
Aku sebenarnya merasa lelah. Setelah melakukan perjalan udara yang jauh dari Korea menuju New York, bukannya beristirahat kami harus langsung mempersiapkan pertunjukan. Meskipun masih pertunjukan kecil, tapi ini sangat berarti bagi grup kami. Kami sudah bekerja mati-matian lima bulan ini. Berlatih tanpa istirahat yang cukup. Lelah akibat perjalanan bukanlah hal yang besar. Mengingat keuntungan apa yang bisa kami dapatkan jika konser ini bisa berjalan dengan sukses. “Sura, kamu ganti baju dulu sambil menunggu Vlo selesai aku rias,” ujar salah seorang nuuna yang bertugas sebagai stylish kami. Ia tak sendiri, ada satu nuuna lagi yang ikut membantu. Mereka tetap bekerja dengan semangat meskipun hanya mendapatkan bayaran yang tak seberapa, karena agensi kami yang masih kecil belum mampu memberikan gaji yang sepadan. Begitu juga kami yang masih merupakan boy band kecil. Namun mereka tak memedulikannya. Mereka bekerja dengan senang hati dan tentu saja menginginkan agar kami bisa sukses. Aku akan mengingat kebaikan mereka, jika aku sukses nanti. Tak perlu waktu lama bagi kami untuk selesai bersiap-siap. Sekarang kami tengah berada di belakang panggung, menunggu giliran dipanggil. “Ya, saatnya yang ditunggu datang. Mari kita langsung saja pada acara inti. Kita sambut STAR ONE,” teriakan MC disambut oleh teriakan heboh penggemar membuatku senang. Aku juga tidak bisa mengatasi kegugupanku. Ini saatnya, pikirku. Kami hanya punya kesempatan ini saja untuk mendapatkan pengakuan. Aku dan lima orang member lain langsung naik ke panggung. Teriakan pengunjung tak berhenti sampai kami selesai membawakan semua lagu. Tentu saja aku tak bisa menyembunyikan rasa bahagiaku saat orang-orang melihat penampilan kamu. Mendengarkan musik kami. Semoga mereka juga mendengarkan pesan kami. Aku berharap ini akan menjadi kabar baik bagi grup. “Good job.” Manager Han mengacungkan jempol saat kami selesai dan kembali berada di belakang panggung. Kami saling memandang satu sama lain, lantas kemudian saling berpelukan. Tak bisa dielakkan, air mata kami turun begitu saja. Rasanya lelah selama lima bulan belakangan ini langsung sirna begitu saja. Bukan hanya lima bulan ini tapi beberapa tahun belakangan ini saat kami masih menjalani masa trainee. Melihat 500 penonton yang bersorak untuk kami. Semua jerih payah selama ini seperti terbayarkan. “Hahah. Sura hyung nangis.” Vlo menunjukku dengan telunjuknya, tertawa disela tangisnya. “Kau juga hyung.” Jeno ikut menertawainya. “Kalian sama-sama menangis. Nggak usah saling ejek," tegur Manage Han. Padahal dia sendiri yang paling keras tangisannya. Bahkan sikapnya sekarang seperti anak TK kehilangan mainan. Melihatnya membuat kami sama-sama tertawa. **** Aku dan anak-anak bebas malam ini. Kami diperbolehkan berjalan-jalan di sekitar New York. Aku memilih masuk ke sebuah restoran China. Meskipun kami baru empat hari di sini. Aku tetap tidak bisa menahan diri untuk tidak makan, makan Asia. Lidahku masih merasa ada yang kurang jika hanya memakan makanan fast food. Vlo dan Jeno mengikutiku. Sementara itu, Jun dan Rein pergi ke arah lain. Mereka ingin melihat-lihat street artist. Sementara Jeimin dan Jacop ingin berbelanja oleh-oleh. Agar tidak ada yang tersesat kami sepakat untuk berkumpul lagi di street artis dua jam lagi. Masing-masing kami juga diikuti oleh staf yang bertugas membuat rekaman video perjalan yang akan dibagikan di YouTube. “Silahkan makanannya.” Usai menghidangkan pesanan kami, pelayan langsung meninggalkan meja. “Ayolah bos. Sekali ini saja.” Aku langsung menoleh ke arah sumber suara tersebut. Entah mengapa aku menyukai suaranya. Aku menemukan seorang gadis tengah berbincang di telepon. Dari wajahnya aku menduga dia seorang Asia. “Tapi boss..." Belum selesai gadis itu menyelesaikan obrolannya, teleponnya sudah dimatikan. “Sialan.” Dia mengumpat ke arah layar ponsel yang sudah mati itu. “Apa katanya, Na?” Tanya temannya. “Dia nggak mau. Ah sial banget sih gua. Gimana caranya buat gua nyelesaiin penelitian kalau bosnya seperti itu.” Gadis itu bersungut-sungut pada temannya. Aku asyik memerhatikan obrolan mereka yang meskipun tak terlalu aku pahami karena dia menggunakan bahasa Inggris. Bagiku, gadis itu lebih menarik terutama suaranya. Aku merasa damai saat mendengarkan suaranya. Menurutku suaranya akan lebih bagus jika dipakai untuk bernyanyi. “Jangan sampai deh nanti gua dapatin bos kek dia kalau diterima kerja beneran. Amit-amit." “Hati-hati, ntar kualat loh.” Temannya berambut pirang itu tertawa. “Sialan lu.” “Eh lu ngerasa nggak sih, laki-laki di meja sana dari tadi merhatiin lu mulu.” Mulut gadis pirang itu menunjukku. Aku langsung mengalihkan pandangan, tak ingin dikira penguntit. “Mana?” “Itu lo, yang manis tapi wajahnya dingin itu.”’ “Hmm. Lu salah liat kali. Dia aja lagi makan. Eh tapi keknya dia dari Korea deh.” “Aelah, tadi tu dia ngeliat ke sini. Ngomong-ngomong keknya iya. Wajahnya seperti orang Korea.” Aku merasa gadis itu memandangiku dengan intens. “Oh iya, lu mau nggak nanti habis ini ikut ke street artis?” “Ngapain?” “Pacar gua mau tampil. Gua harus mendukungnya.” “Ah, males. Rame pasti.” “Yaiyalah rame. Lo kira kuburan yang sepi.” Gadis berambut pirang itu tampak gemas. “Lagian lo udah sebulan di sini keluar kek sekali-sekali. Betah amat ngadem di apartemen, Lo sadar nggak sih? Kalau lo itu nggak pernah keluar kecuali buat ke kantor.” “Iye, iye. Nggak usah bawel lo. Heran dah tu mulut nggak capek apa ngomong.” "Lu juga bawel kali." Mereka kemudian sama-sama tertawa menyadari kebodohan obrolan mereka. Jadi dia mau ke street artis juga ya, pikirku. Entah mengapa aku merasa senang memikirkan akan bertemu dia lagi. Aku terus mencuri dengar pembicaraan mereka. Dari yang aku lihat, gadis itu cukup pendiam karena pembicaraan mereka didominasi oleh temannya yang berambut pirang. "Hyung, setelah ini kita kemana?" Vlo berbicara disela-sela makan. "Kau mau beli sesuatu?" Tanyaku balik. "Nggak ada sih, hyung. Aku pengen ketemu sama yang lain aja." Jeno menganggu setuju. "Ya sudah kita langsung ke street artist saja." Aku tengah berada di street artist. Aku menemui Jun dan Rein yang sedari tadi sudah berada di sana. Selagi menunggu Jacop dan Jeimin kami memutuskan untuk melihat pertunjukan. Ada banyak artis jalanan yang tampil. Mereka menampilkan banyak sekali pertunjukan seni, mulai dari menyanyi, menari solo atau kelompok, sulap maupun aksi lain. Aku mencari-cari keberadaan gadis tadi. Mataku terpaku pada sosok yang tengah berdiri di arah jam tiga dari tempatku berada. Aku terpesona melihatnya. Wajahnya seperti perpaduan Arab dan Asia. Dia cantik, pikirku. Tiba-tiba saja temannya mendorongnya ke tengah panggung. Sementara yang lain bersorak-sorak. “Ayo.. ayo. Nyanyi..Nyanyi.” Gadis itu melayangkan tatapan mematikan pada temannya. Sementara yang ditatap hanya cengengesan. Akhirnya dengan terpaksa dia meraih microphone dan mulai menyanyikan lagu untuk soundtrack Titanic yang bernada tinggi itu. Semua orang terpaku. Begitupun aku. Tanpa sadar aku meraih ponsel dan merekamnya. Usai menyanyikan lagu itu, dia langsung berlari kembali ke temannya. Mukanya tampak memerah malu. Sementara penonton menghadiahinya siulan dan tepukan tangan. “Suaranya bagus sekali, hyung.” Jeno berkomentar di sebelahku. “Iya, bahkan aku tidak menemukan satupun kesalahan dalam lagunya," sahut Jun. “Bagaimana pendapatmu, hyung?” Jeno menyenggolku yang masih terpaku. “Wah, sepertinya nggak usah ditanya. Bahkan hyung merekamnya.” Aku segera menyembunyikan ponselku. Seperti orang yang tertangkap basah habis melakukan kesalahan. Aku bisa mendengar anak-anak menertawakan kekonyolanku. “Ayok pulang," kataku begitu Jacop dan Jeimin sampai. Aku juga melihat gadis itu sudah pergi dari tadi. “Wah. Aku baru sampai loh, hyung," protes Jeimin. “Siapa suruh kalian lama," ujarku seraya meninggalkan mereka. “Hyung kok sensi banget?” Jacop berbisik-bisik menanyai Jeno. “Habis kesambet soundtrack Titanic.” “Hah?” Jeimin dan Jacop kompak berteriak tak mengerti sementara yang lain tertawa terbahak-bahak tak berniat menjelaskan sedikitpun. Aku hanya menggeleng-geleng mendengar kekonyolan mereka. Meskipun dalam hati aku akui mungkin aku sudah terjebak dengan gadis itu. Aku penasaran apa bisa lagi bertemu dengannya? *** Disinilah aku sekarang. Aku tidak bisa menyembunyikan kebahagiaanku saat melihat gadis itu sekarang berdiri tepat di depanku. Dia tengah dirong-rong oleh PD Nim untuk menjadi model pengganti. Aku tersenyum samar. Wajahnya sama sekali tidak berubah meskipun sudah empat tahun berlalu. Dia masih sama seperti dulu. Tak memakai bedak apalagi make up. Bahkan bibirnya yang bewarna kemerahan itu sama sekali tak dilapisi lip gloss ataupun lip stik. Ada rasa bahagia yang membuncah di dadaku saat melihatnya kembali. Aku terkejut tadi saat melihat stylish nuuna membawanya. Sepertinya mereka berteman. Aku kira dia bukanlah orang yang sama. Namun setelah mendengar dia berbicara, aku yakin sekali jika dia adalah gadis yang sama. Aku tak mungkin salah mengenali suaranya. Aku sedikit terkejut mengetahui dia bisa berbahasa Korea. Apa dia berasal dari Korea? Tapi aku yakin tidak. Wajahnya sama sekali tidak menunjukan kalau dia dari Korea. Meskipun aku yakin dia berasal dari Asia. Hanya saja itu bukan Korea. Ah, aku bisa mengetahuinya nanti. Feeling-ku mengatakan bahwa dia akan sering bertemu denganku. Aku senang mengetahui fakta dia sama sekali tidak mengenalku, begitu juga anak-anak. Sepertinya tidak ada yang mengingatnya. Artinya aku bisa memandanginya dengan tenang tanpa satu orang pun curiga. Aku tak bisa membayangkan kalau anak-anak tahu dia adalah wanita yang sama yang setiap malam aku pandangi lewat video yang aku rekam empat tahun lalu. Bahkan saat ponselku rusak. Aku bela-belaan membayar mahal agar video itu bisa didapatkan kembali. Hanya video itu yang menjadi penghubungku dengannya. Kalau anak-anak sampai mengetahui kekonyolanku. Aku tak bisa membayangkan bagaimana hebohnya reaksi mereka. Terlebih di antara mereka cuma aku yang tidak pernah membahas perempuan, apalagi dekat dengan perempuan. "Aku Hanna, nama oppa siapa?" Dia mengulurkan tangan memperkenalkan diri. Tadi dia sudah berkenalan dengan anggota lain. Cuma denganku saja yang belum karena aku dari tadi tidur saja selama diperjalanan. Sepertinya dia enggan untuk berkenalan denganku, tapi karena dia harus menjadi pekerja sementara di sini. Mau tidak mau dia harus berkenalan dengan semua staf dan artisnya. "Sura." Aku menerima uluran tanganya. Aku sedikit kaget saat tangan kami menyatu. Seperti ada aliran listrik yang menyentrumku. Jantungku tiba-tiba berdebar kencang. Aku berusaha mati-matian mengendalikan ekspresiku. Selesai berkenalan dia berlalu begitu saja dari hadapan ku. Aku sedikit kecewa melihat kecuekannya. Padahal aku ingin lebih akrab lagi dengannya. Aku mendengar dia tak mempunyai uang apalagi baju ganti. Bergegas aku mengambil baju di koper dan memberikan yang terbaik dan yang paling hangat untuknya. Udara sangat dingin sekarang terlebih nanti kami akan sering syuting di luar. Aku tak ingin dia kenapa-kenapa nanti. Aku melangkah mondar-mandir di depan pintu kamarnya. Ragu-ragu untuk mengetuk. Aku bisa mendengar dia berteriak-teriak di dalam kamar. Sepertinya dia bahagia sekali bisa bertemu dengan kasur. Akhirnya aku memberanikan diri mengetuk pintu. Aku mendengar suara langkah kakinya mendekat. Jantungku semakin berdebar tak karuan. Tanpa sadar aku melemparkan baju ke wajahnya saat dia membuka pintu. Hal yang sama sekali tak aku sengaja, seperti tadi di atas bus aku juga tak sengaja melemparinya dengan roti. Aku tak benar-benar berniat melemparinya. Aku hanya terlampau gugup. Aku tersenyum saat mendengar dia mengucapkan terimakasih. Aku merasa bahagia sekali. Tanpa sadar aku bersiul-siul dengan riang kembali ke kamar. "Kau kenapa, hyung? Bahagia sekali," tegur Rein. "Sepertinya dia habis bertemu perempuan," ujar Vlo sembarangan yang memang kenyataannya seperti itu. "Perempuan? Siapa? Stylish nuuna?" Jeno memberondongku dengan pertanyaannya. "Tapi kan mereka pada sibuk persiapan acara. Perempuan yang masih menganggur untuk saat ini cuma Hanna." Aku memandangi Jeimin dengan datar. Dia bisa menebaknya dengan tepat. "Wah, hyung. Ada apa ini menemuk nuuna malam-malam," ejek Jeno. "Siapa bilang aku bertemu dengannya," kilahku. "Bukannya tadi kau bertemu dengan perempuan?" Jacop ikut mendesakku. "Yang bilang aku bertemu sama perempuan siapa? Bukannya cuma kalian tadi yang berasumsi seperti itu." "Haha. Tidak usah marah seperti itu, hyung. Aku yakin kau pergi menemuinya. Aku melihat sendiri kau membawa baju," tembak Vlo langsung. "Cinca?" Jun memandangku dengqn tidak percaya. "Wah.. wah. Sepertinya akan ada pasangan baru nanti di sini." "Pasangan baru apa?" potong manager mereka yang baru masuk. "Kau kepo saja hyung," ejek Jeno. "Kalian menyembunyikan sesuatu lagi dariku?" Tak ada satu pun yang menjawab pertanyaannya. Aku hanya tertawa dalam hati. "Kalian tega ya, punya rahasia nggak bagi-bagi." "Kalau bagi-bagi bukam rahasia lagi namanya, hyung." Jeno menembaknya tepat sasaran. "Ya kau benar sih. Sudahlah lupakan. Ayo segera bersiap." Kami pun menuruti manager. Tak semua yang pergi ke lokasi syuting. Hanya beberapa sementara yang lain memilih untuk istirahat. Aku juga memilih untuk istirahat. Apakah Hanna sedang berada di lokasi syuting? Aku merindukannya. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN