Hanna tengah berada di pesawat yang akan membawanya menuju Kalimantan. Hanna berencana untuk menemui Marta lengkap dengan lima kilo daging rendang di bagasi pesawat yang ia tumpangi. Hanna tertawa sendiri memikirkan tingkah konyolnya. Ia yakin Marta akan mencak-mencak mengetahuinya nanti.
"Aku tidak sabar menantikan ekspresinya."
Bibinya saja kaget saat ia mengatakan ingin membawakan Marta 5 kilo daging rendang.
"Kamu yakin nggak salah, Na? Siapa nanti yang bakalan ngabisin. Udah kayak mau bikin pesta aja."
"Yakin bi. Tenang saja. Aku yakin bakalan habis."
"Terserah kamu saja, Na. Awas saja kalau mubazir!" Ancam bibinya sembari memelototi Hanna.
"Siap bos. Noted." Hanna langsung hormat ala bendera.
Untung saja pihak bandara tidak menahannya saat ia membawa rendang sebanyak itu. "Bisa berabe kalau merek berfikir itu adalah barang untuk di jual kembali."
Pikiran Hanna melayang kembali pada kejadian seminggu lalu. Kejadian heboh yang diakibatkan oleh lagu yang ia nyanyikan di cafe sewaktu bertemu dengan teman-temannya di Bukittinggi. Untung saja sekarang kejadian itu sudah mereda. Pihak agensi Sura sudah melakukan klarifikasi melalui account resmi agensi mereka.
Mereka memilih untuk menjelaskan bahwa rekaman itu adalah rekaman suara seorang perempuan, yang kebetulan ditemukan bakatnya secara tidak sengaja saat perempuan itu tengah berkunjung ke Korea oleh pihak agensi. Sura merasa cocok kalau lagunya dinyanyikan oleh perempuan itu dan memintanya untuk menyanyikan lagu tersebut. Tapi perempuan itu tidak bersedia saat diminta jadi trainee agar bisa menjadi penyanyi tetap.
Meski demikian, dia tidak keberatan kalau diminta untuk menyanyikan lagu buatan Sura secara cuma-cuma. Bahkan dia tak keberatan jika Sura ingin mempublikasikannya. Menurut perempuan itu, jika Sura melakukan itu, adalah suatu kehormatan baginya.
"Kami sangat mengahargai orang-orang yang mau menyumbangkan bakatnya dalam bidang seni. Kami berharap ada banyak perempuan seperti ini ke depannya. Untuk penggemar dan teman-teman wartawan, terimakasih atas dukungannya. Hanya saja teman kami ini memang tidak suka untuk dipublikasikan. Jadi kami harap anda mengahargai keputusannya. Dikemudian hari juga tidak akan ada masalah hukum terkait lagu ini. Karena nona H (inisial untuk menamai Hanna) sudah menandatangani kesepakatan dengan Sura. Kami harap kalian menunggu karya mereka selanjutnya. Terimakasih."
Perempuan dengan nama nona H itu tidak lain adalah Hanna yang mendadak jadi artis dadakan. Agensi yang menaungi Star One tetap memilih untuk memperjelas bahwa nona H adalah Hanna. Meski demikian orang-orang tetap tahu jika itu adalah Hanna.
Semenjak kejadian itu Hanna sering dihubungi oleh banyak agensi. Baik dari Indonesia ataupun Korea sendiri. Bahkan Hanna tidak tahu mereka mendapatkan nomornya dari mana. Yang jelas Hanna benar-benar merasa terganggu. Setiap hari ada saja yang menelepon.
"Mereka ini nggak bisa dibilangin banget. Udah aku bilang nggak mau masih aja ngeyel," omel Hanna. Ia jengah sekali sehabis menerima telepon dari salah satu agensi ternama Korea.
"Sabar, Na. Marah-marah mulu. Ntar cepat tua," ujar Yanuar.
"Gimana mau sabar bang. Mau siang mau malam. Aku lagi makan atau boker ada aja yang nelpon. Aku kan sebal." Hanna langsung menjawab dengan menggebu-gebu.
"Ya udah terima aja sono. Biar keluarga kita juga punya artis."
"Trus abang mau Hanna nggak jilbaban trus nari pakai rok pendek, gitu?"
"Ya nggak gitu juga ih. Kamu kan bisa menjadi penyanyi solo Korea pakai jilbab untuk pertama kalinya dalam sejarah."
"Wogah!" Gadis itu mendecak sebal kemudian meninggalkan Yanuar yang tengah asik menonton dengan isterinya.
"Eh eh mau kemana? Belum juga selesai ngomong."
"Ngomong aja sono sama si Rex," ujar Hanna sewot.
"Hahaha. Hati-hati, marah-marah mulu keriput entar." Yanuar terus mengejek Hanna. Sementara gadis itu mendumel sebal.
Karena telepon yang masuk tidak pernah berhenti. Akhirnya Hanna mematikan HPnya demi kenyamanan batin. Pasalnya, gangguan datang tak hanya dari telepon tapi juga dari akun media sosialnya yang dibanjiri pujian dan hujatan. Para my star mulai kembali menduga kalau akun sns Star One yang mengomentari postingan Hanna merupakan akun asli mereka. Meskipun pihak agensi lebih memilih untuk tidak menjelaskannya. Mereka juga mulai mengait-ngaitkan seluruh postingan Hanna dengan postingan Star One. Seperti lokasi mereka syuting MV dengan lokasi yang Hanna potret dan ia unggah sebelumnya.
"Untung saja mereka tidak menuduhku berpacaran dengan salah satu anggota Star One. Bisa berabe nanti urusannya."
Mereka hanya mengomentari dan menganggap bahwa Hanna orang yang beruntung karena bisa mengenal seluruh member Star One tanpa harus menjadi fans mereka. Meski tidak sedikit juga yang menghujat gadis itu. Namun Hanna tidak peduli. Hanna sudah kebal kalau untuk hal yang satu itu. Atau lebih tepatnya, ia mencoba untuk tidak peduli agar tidak membawa masalah pada penyakit mentalnya.
Ada satu hal yang ia syukuri setelah kejadian itu. Untung saja kejadian itu tidak berdampak pada karir Star One. Hanna tidak bisa membayangkan jika nanti ia menjadi penyumbang kehancuran karir mereka. Berkali-kali Hanna menelepon manager mereka dan meminta maaf. Managernya sampai gemas kepada Hanna karena terlalu cerewet.
"Aku benar-benar minta maaf manager karena sudah membuat masalah untukmu dan perusahaan."
"Iya Hanna. Jangan terlalu difikirkan. Hal biasa kalau di dunia hiburan."
"Tapi kan kalau dari awal aku tidak menyanyikannya, orang-orang tak akan tau."
"Hanna- si. Kamu tidak menyanyikan lagu itu pun. Orang lain tetap akan tahu suaramu. Sudah, kamuntidak usah pikirin. Anak-anak saja santai semua kok."
"Tapi,.."
"Hanna.. Beneran deh nggak apa-apa. Justru yang harusnya dikhawatirkan itu kamu. Apa ada orang yang berbuat jahat sama kamu? Atau melakukan sesuatu yang tidak baik akibat kejadian itu?"
"Tenang saja manager. Untuk saat ini aku aman-aman saja. Ponselku juga sudah aku matikan. Ini saja aku menghidupkannya karena mau menelponmu saja."
"Kenapa memangnya? Ada yang menyerang kamu?"
"Ada. Agensi-agensi itu, tak ada satu pun yang berhenti merecokiku."
***
“Cie, ibuk artis datang," ledek Marta saat dia menyambut Hanna di pintu terminal kedatangan. Hanna langsung memukul kepala kakak sepupu yang hobi sekali meledekinya.
“Astaga. Kau sama saja dengan bang Yanuar, kak.”
“Tentu saja sama. Kan adik kakak.” Dia tertawa mengejek.
“Terserah lu lah. Ini Rendang lima kilonya.” Hanna menyerahkan satu kardus yang lumayan berat karena diisi dengan Rendang lima kilo daging.
“Kamu benaran membawakan lima kilo?” Dia menatap Hanna tidak percaya.
“Lah, yang minta lima kilo siapa?"
“Astaga, aku kan cuma bercanda. Bagaimana cara menghabiskan daging sebanyak itu?” Dia memandang Hanna sembari bersungut-sungut.
“Bagi-bagiin kek ke warga sekampung. Bawa kek itu ke kantor biar pada perbaikan gizi.” Hanna tertawa sementara Marta hanya bisa menggeleng-geleng tidak percaya melihat ulah Hanna.
"Kamu sepertinya kerasukan gara-gara dihantui agensi."
Hanna tengah berjalan-jalan di mall dengan Marta. Mereka memutuskan untuk berbelanja dan makan sepuasnya. Mereka bahkan pergi ke spa untuk perawatan. Tentu saja ini pengalaman pertama bagi Hanna. "Waktunya me time menjadi perempuan seutuhnya," pikir Hanna. Mereka juga banyak mengambil selfi. Hanna pun mengunggah fotonya berdua bersama Marta di sns.
“Akhirnya ketemu setalah terakhir ketemu hampir 3 tahun yang lalu di Paris. Sepupu malang yang nggak bisa pulang kampung untuk berlebaran di rumah dan akhirnya minta dibawain lima kilo Rendang. Sementara bibi terus-terusan minta kami untuk segera nikah. Ya sudah bi, kami nikah di sini saja. Sudah ada Rendangnya lima kilo. Tinggal bikin undangan, ngasih tau pak KUA sama tinggal cari calon suami dan nyebar undangan. Hahaha.”
Hanna tertawa sendiri membaca postingan alay yang ia tulis. Langsung saja dalam beberapa detik postingannya disukai ratusan orang.
“Nikah sama Sura aja kak. Cocok ko,” komentar salah satu netizen.
“Kaka tambah cantik. Sepupunya juga cantik.” Hanna khawatir Marta membaca komentar ini. Dia bisa terbang nanti jika mengetahui ada orang yang memujinya.
"Makasih pujiannya. Aku tahu kalau aku cantik," balas Marta. Hanna menepuk jidatnya sendiri.
"Baru juga diomongin dah langsung kejadian," gumam Hanna.
“Kaka lagi di Kalimantan, ya? Enak ya bisa jalan-jalan terus.”
“Kak, kasih tahu donk seberapa gantengnya Jeno kalau dilihat secara langsung.”
“Kak, lain kali live dong. Kalau bisa sama Star One gitu.”
"Astaga komentar macam apa ini. Semua komentar di postinganku berhubungan dengan Star One. Untung saja Star One nggak ikutan ngomen."
Meskipun My Star belum tahu kalau akun itu adalah akun asli mereka. Tetap saja berbahaya. Bukan hanya tetap saja, tapi akan benar-benar berbahaya. Itu hanya akan menambah kecurigaan publik nanti terhadap mereka.
“Cari jodohnya di Korea aja. Nanti dicariin.” Jun langsung komen.
"Anjir baru juga dipikirin, panjang umur sekali ini anak," umpat Hanna dalam hati.
“Entah kenapa kalau aku merasa ini benaran akun asli Jun dkk.” Komentar salah satu netizen di komenan Jun.
“Kalau memang asli. Astaga, kau benar-benar dapat Durian runtuh kak.” Sambung yang lain.
“Oppa. Kau juga harus follback kami.”
Dan beratus komentar lain ikut masuk sampai hp Hanna nge-lag.
Hanna mematikan HP karena tak ingin melihat pesan yang masuk. Komentar mereka mulai aneh-aneh. Hanna tidak mau menghabiskan waktu berharganya di Indonesia hanya untuk membaca komentar aneh dari netizen.
"Jadi kapan mau balik ke Korea, Na?" tanya Marta. Saat ini mereka tengah makan di sebuah restoran cepat saji.
" Masih dua hari lagi kak."
"Kamu nggak ada rencana untuk menetap?" Dia memandangi Hanna dengan serius.
"Kamu kan tau sendiri kak alasannya kenapa aku nggak mau menetap."
"Aku paham, hanya saja kamu nggak bisa selamanya seperti ini. Kamu harus belajar berdamai dengan masa lalu. Kamu harus merelakan agar kamu lega. Kamu juga berhak bahagia, Na. Semua yang perlu kamu buktikan sudah bisa kamu buktikan dengan nyata. Kamu sudah berada di atas langit sekarang. Lebih tinggi dari dia. Kamu sudah membuktikan bahwa kamu mampu. Makanya aku berharap kamu juga bisa belajar untuk merelakan.
Kamu pantas untuk bahagia. Kamu pantas untuk kebahagiaanmu sendiri. Satu hal yang paling penting, kamu pantas mendapatkan seseorang yang akan dengan senang hati menjadikanmu Ratu di hatinya." Marta memandangi Hanna dengan penuh makna. Aku tahu apa yang dia pikirkan.
"Aku tau kak. Aku akan mulai belajar untuk merelakan. Hanya saja untuk kembali menetap, mungkin belum. Aku ingin kembali ke Korea."
"Apa kamu tengah jatuh cinta?" ujarnya dengan senyuman jahil.
Hanna hanya memandanginya dengan penuh makna.
"Bukan. Aku hanya merasa Korea lebih cocok untukku setelah Indonesia."
"Itu karena kamu menemukan obat penawar di sana. Kamu menemukan Hujan di sana. Hujan yang akan membasahi kekeringan di Oase-mu." Marta berbicara dengan serius pada Hanna.
"Ih, apa sih kak. Mana ada." Hanna bersungut-sungut.
"Hahahaha. Ia pun juga nggak apa-apa. Aku akan mendukung sepenuhnya hubunganmu dengan Sura."
"Astaga, mulai lagi deh. Kapan sih aku akan berhenti dikait-kaitkan dengan Sura. Nggak di sini nggak di Korea. Bahkan keknya di setiap belahan bumi deh. Semua orang mengait-ngaitkan ku dengan Sura."
"Nggak apa-apa Hanna. Dia cocok dengan kamu. Aku yakin dia pria yang ribuan kali lebih baik dari pada masa lalu kamu itu."
Hanna memutar bola mata dengan kesal. Membicarakan hubungannya dengan Sura tak akan ada habis-habisnya. Mendadak ia teringat dengan laki-laki itu. Hanna sudah tidak bertukar kabar dengannya lumayan lama. Terakhir kali saat ia mengirimkan lagu.
Hanna sendiri juga mengundur kepulangannya ke Korea beberapa hari. Bosnya di PBB berbaik hati memberikan cuti tambahan. Makanya ia masih punya waktu untuk pergi ke Kalimantan menemui Marta.
"Aku harap kamu juga bisa bahagia, Na. Jangan biarkan lagi dirimu terkurung dalam masa lalu."
"Aku tau kak. Aku juga berharap seperti itu."
"Sekarang aku tanya padamu. Bagaimana perasaanmu pada Sura?" Hanna diam memandangi Marta yang sedari tadi tidak berhenti mengorek informasi tentang hubungannya dengan Sura. Bukannya tidak suka. Ia hanya tidak tahu bagaimana sebenarnya hubungannya dengan pria itu. Bagaimana sebenarnya perasaannya pada Sura. Ia sendiri tidak bisa membedakan perasaannya. Bagaimana ia bisa memberi tahu orang lain.
"Aku juga tidak tahu kak," akunya.
"Apa kau merasa nyaman dengannya?"
"Tentu saja. Aku nyaman bersama dia. Begitu juga dengan anggota Star One lainnya."
"Bukan itu maksudku. Rasa nyaman yang kamu punya antar mereka apakah sama saja ataukah berbeda?"
"Aku rasa berbeda. Aku nyaman dengan yang lain seperti nyaman dengan bang Yanuar."
"Lalu dengan Sura?" Tanpa mendengar jawaban Hanna, Marta langsung menyambung kembali ucapannya.
"Aku sudah tahu jawabannya dari matamu. Kamu tak bisa membohongi aku. Meskipun kamu selalu menyangkal. Tapi tubuhmu tak bisa berbohong, Na. Matamu apalagi. Aku tahu kalau kamu juga memiliki perasaan padanya. Saranku, coba buka hatimu. Biarkan dia masuk. Walaupun kamu tidak menerimanya. Tapi biarkan saja dia masuk dan mengambil alih hatimu. Kalau nanti kamu dan dia nyatanya sama-sama tidak bisa berjauhan satu sama lain. Maka jangan ragukan lagi perasaanmu."
"Bagaimana kalau nanti aku terluka kembali?"
"Luka adalah pelajaran hidup yang sangat berharga, Na. Luka memang menyakitkan. Tapi kamu juga tak akan selamanya merasakan sakit itu. Setiap luka ada obatnya. Kamu hanya perlu mencari obat itu."
***