Terungkap

2090 Kata
Hanna mengurung diri dalam kamar selama beberapa hari. Ia tidak mengindahkan panggilan bibi, abang ataupun kakak iparnya. Bahkan Tiara dan Rex juga tidak ia izinkan masuk. Hanna hanya keluar tengah malam untuk makan. "Galau juga butuh energi." Begitulah pikirnya. Energi yang berasal dari es krim tentunya, karena Hanna sama sekali tidak bernafsu untuk makan nasi. Ia tak memedulikan ponsel yang senantiasa terus berbunyi. Hanna hanya menangis dan menangis. Hanna kembali tenggelam pada masa lalu disaat dimana ia terpuruk karena kepergian dua orang yang sangat ia cintai, ibu dan Nanda. Kepergian mereka sangat membekas karena berhasil membawa tiga perempat hati Hanna. "Ayolah, Na. Ngapain kau tangisi mereka. Mereka itu hanya anai-anai. Tak pantas untuk merusak harimu yang penuh kebahagiaan." Yanuar berusaha membujuk Hanna. Gadis itu tak menjawab. "Hanna, ayo makan. Galau juga butuh energi," ujar bibinya suatu malam dari balik pintu. Nyaris saja Hanna terjungkal karena menahan tawa. Kalau saja dia tidak sedang meratapi diri, mungkin ia sudah berguling-guling karena tawa mendengar perkataan bibinya. Hanna memutuskan untuk diam saja. "Aduh..aduh. Anak jaman sekarang. Galau malah ndak mau makan. Orang kalau galau itu pergi makan yang banyak, biar lupa sama galaunya," oceh bibinya. Suaranya semakin lama semakin sayup. Sepertinya dia juga menyerah membujuk Hanna. "Tante. Ayo keluar, main sama Tiara." Keponakannya juga ikut membujuk. "Hanna, ini lo aku bikin kue dan lauk kacang kesukaanmu. Kamu mau menyia-nyiakan mereka yang sudah menunggu untuk disantap dari tadi?" Dini pun juga ikut membujuk. "Meowww." Rex bahkan ikut membujuk. Tapi tak ada satupun yang berhasil membujuk Hanna. Hanna hanya menghabiskan hari dengan bangun, menangis, tertidur, dan makan. Begitu saja fase hidupnya setiap hari. Bahkan ia belum mandi semenjak kembali dari kebun binatang. Hanna tidak tahu bagaimana penampilannya sekarang. Hpnya terus berbunyi, bahkan saat tengah malam sekalipun. Hanna bangkit dan mengambil es krim. Sudah enam kotak besar es krim yang ia habiskan selama tiga hari ini. Bahkan ia belum makan nasi sama sekali. Hanna sendiri heran bagaimana tubuhnya bisa bertahan. "Kenapa Tuhan tak sekalian saja mengambil nyawaku?" Begitulah pikiran kurang ajar terus bersemayam di otaknya. Hanna memutuskan untuk mengangkat telepon yang sedari tadi terus berbunyi. Lama-lama ia merasa terganggu juga dengan bunyi deringnya. Padahal bisa saja ia matikan atau ia kecilkan, tapi memang karena lagi galau, otaknya juga ikutan lemot. Hanna tidak memerhatikan siapa yang menelepon. “Kuncana?” Suara itu. Suara yang entah mengapa ia rindukan beberapa hari ini. Suara yang berhasil membuat hatinya perlahan membaik. “Kuncana.” “Jangan makan es terus, cuci mukamu, dan tidur. Kau juga perlu mandi.” “Kau cenayang ya, oppa?” “Aku mengirimimu sesuatu. Kau harus lihat dan dengarkan. Aku ingin mendengarnya dari mulutmu," ujarnya tak mengindahkan pertanyaan Hanna. Hanna membuka pesan yang sudah ribuan dan puluhan panggilan tidak terjawab. Hanna menemukan sebuah file musik berisi melodi dan lirik dari Sura. Liriknya menceritakan tentang cantiknya si gadis dalam lagu tersebut. Selain itu, dia juga menyuruh gadis itu untuk bangkit dan berbahagia serta melupakan masa lalunya karena dia pantas untuk bahagia. Gadis itu harus menyadari betapa berartinya dia. Dan bahwasanya banyak laki-laki lain yang menginginkan dia untuk dicintai. Hanna tersenyum saat membacanya. "Dia kembali menciptakan lagu tentangku." “Kau memang seniman sejati oppa,” pujinya tulus. “Tidurlah dan besok kirimkan rekamannya padaku.” “Baiklah. Oppa juga tidur.” “Aku akan tidur kalau kau benar-benar tidur.” “Arasso.” Hanna pun menutup panggilannya. Ia tersenyum memandangi layar ponsel. Ada puluhan chat dari Sura dan panggilan tidak terjawab juga. Selebihnya dari nomor yang tidak dikenal atau dari grup SO yang suka sekali spam. Hanna bangkit ke kamar mandi dan mencuci muka serta menggosok gigi. Setelah itu ia langsung tidur. Hanna terbangun keesokan harinya dengan wajah cerah. Ia mandi, mengganti pakaian dan menyapa keluarganya di meja makan seolah tidak terjadi apa-apa. Keluarganya juga bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Sarapan pagi berlangsung dengan heboh seperti biasa. “Dad.” Tiba-tiba saja Tiara bersuara. “Iya sayang?” “Pacarnya tante Hanna ganteng.” "Astaga, bocah yang satu ini. Mulutnya ember sekali, seperti ayahnya." “Siapa maksudmu, nak? Laki-laki kemaren?” Dini memastikan apakah yang dimaksud anaknya adalah Nanda atau bukan. “Yang berbicara pakai Bahasa Inggris sama Tiara. Kami videocall kemaren waktu di kebun binatang sebelum nenek sihir dan paman jahat itu datang.” “Wah, wah. Siapa itu? Kenapa kau tak kenalkan pada bibi?” Bibi menatap Hanna dengan penuh harap. “Astaga. Bang! Kayaknya kamu salah ngajarin anak deh. Dia terlalu pandai berbicara yang bukan-bukan untuk umurnya.” “Biarin aja. Yang penting anak gue pinter. Wek.” Yanuar mencibir pada Hanna. "Astaga nyari ribut aja nih orang." Nyaris saja centong nasi di tangannya melayang ke kepala Yanuar. Laki-laki itu segera mengelak. Dini hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan suami dan ipar sepupunya itu. “Siapa orangnya, Na. Orang luar negeri ya? Suruh dia datang ke sini dan langsung lamar," ujarnya mengalihkan perhatian Hanna yang bersiap untuk melempar Selada pada Yanuar. "Anjir dikira Sura apaan, main suruh anak orang lamar gua aja. Bisa-bisa gua diamuk sama fans ceweknya dari semua belahan dunia. Lagi pula memang nya Sura menyukaiku apa? Aku dan dia sama sekali tak sebanding. Dia di langit aku di bawah tanah. Astaga, jahat sekali perumpamaan ku. Maafkan aku, wahai diri," gumam Hanna dalam hati. “Dia bukan pacarku. Hanya teman saja. Kita pernah kerja bareng waktu itu. Karena masih sering kontakan makanya jadi lumayan dekat.” “Semuanya berawal dari teman, Han,” ujar abangnya. “Tapi ini beneran teman bang. Lagian ya, Hanna sama dia itu bak langit dan bumi. Dia bintang yang bersinar. Hanna hanya tanah yang diinjak-injak.” “Astaga. Kau tetap saja selalu pesimis, nak.” Bibi memandangi Hanna dengan khawatir. “Hahahah. Beneran loh bik. Lagian kalau Hanna sama dia, bisa-bisa Hanna diamuk sama fansnya kemana pun Hanna pergi. Nanti pulang-pulang Hanna hanya tinggal nama saja." “Apa pekerjaannya memangnya?” “Penyanyi.” “Hahahha. Bagus dong. Kapan lagi punya menantu artis.” “Bibi.. Udah ah. Hanna nggak mau bahas-bahas masalah cowok lagi, ribet.” Usai sarapan dan bersih-bersih, ia kembali ke kamar. Hanna meraih ponsel dan memindahkan file yang dikirim Sura padanya ke laptop. Ia meraih HP dan mulai merekam. Beberapa kali ia salah. Setelah merasa benar ia mengirim rekaman yang sudah fiks pada Sura. Dia tidak membalas. "Sepertinya oppa tengah kerja." Hanna memutuskan untuk membuka media sosialnya. Ia melihat banyak postingan Sura tentang lagu lama mereka berdua atau pun gambar sesuatu dengan caption yang seakan menyemangati Hanna. Hanna membuka jendela kamar yang berada di lantai dua. Keluar ke beranda dan mengambil potret berlatar Gunung Merapi. “Jadilah seperti gunung yang selalu tampak kokoh meskipun perutnya senantiasa di bakar.” Itu adalah penggalan bait dari lagu yang dikirim Sura padanya semalam. “Aku akan mengingat bagian itu. Aku berterimakasih untuk lagu yang indah yang selalu berhasil menghangatkan hatiku.” “Hanna. Kamu kemana aja? Aku sudah telpon berkali-kali. Lebarannya sudah habis tapi kamu malah nggak bisa dihubungi.” Temannya, Putri langsung membalas. “Cepat ke sini detik ini juga. Kita tunggu di cafe dekat Jam Gadang.” Mayang ikut berkomentar. “Siap bos. Segera meluncur.” Hanna bersiap menemui temannya. Ia membawa motor Dini yang memang jarang terpakai karena dia lebih sering di rumah. Sementara Yanuar kalau bekerja pakai mobil. Mobilnya juga ada di garasi tapi Hanna tidak berniat bawa mobil. Nanti macet, terlebih mengingat gaya ia menyetir. "Lebih aman jika aku bawa motor saja." Hanna sampai 20 menit kemudian di cafe yang dimaksud. Sangat mudah menemukan keberadaan teman-temannya. Bahkan Hanna bisa mendengar suara mereka mulai dari parkiran tadi. Mereka heboh sekali. “Akhirnya tuan putri datang.” Putri menatapnya dengan kesal. "Dia masih dendam kayaknya gegara aku tidak jadi lebaran ke rumahnya." “Kangen ya?” “Sialan lu.” Mayang memukul kepala Hanna dengan buku menu saat ia duduk di sebelahnya. Ada Mayang, Putri, Rasna, dan Intan. Mereka berempat adalah sahabat karib Hanna semasa di pondok dulu. Tentu saja juga sahabatnya yang paling heboh. Hanna memesan minuman ke kasir karena teman-temannya sudah memesan duluan. “Jadi ada kabar apa ibuk-ibuk ini ngumpul?” “Sialan lu, Na. Mentang-mentang lu sendiri yang masih perawan ngeledek kita-kita yang udah punya anak sepuluh.” Hanna tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Mayang. Memang benar semua temannya sudah menikah dan punya anak. Kalau sekarang kenapa mereka bisa ngumpul dan anaknya pada kemana? "Entahlah. Wallahu a’lam. Mungkin ditinggal sama laki nya." “Na, nyanyi donk. Udah lama ini kita nggak denger lu nyanyi.” Mayang tiba-tiba mengajukan permintaan aneh pada Hanna. Memang benar, Hanna terakhir kali bernyanyi bersama mereka saat mereka berkumpul di rumah Mayang waktu ia pulang liburlebaran saat S1. Tanpa menunggu persetujuan Hanna, Putri langsung berteriak pada mas-mas yang bernyanyi untuk cafe. “Bang. Teman saya mau nanyi.” "Boleh, silahkan," ujar mas tersebut. “Ya, gue kan belum nge-iyain.” Hanna bersungut-sungut pada Putri. “Alah, cepetan sono. Lo mau gue ngambek dua kali?" Putri mengancam Hanna. Tak punya pilihan, ia pun menuju ke panggung yang berisi alat-alat musik kepunyaan band itu. Hanna pun duduk dan mengambil Gitar. Hanya itu alat musik yang bisa ia mainkan. Hanna memutuskan untuk menyanyikan lagu yang ia nyanyikan bersama Sura pertama kali dulu. Bahkan ia juga ikut menggantikan bagian rap nya. Usai Hanna bernyanyi, pengunjung cafe langsung memberikan tepuk tangan padanya. Bahkan banyak yang bersuit-suit dan menyuruhnya untuk menyanyi kembali. Hanna mengikuti saja, menyanyikan satu lagi berbahasa Indonesia. Satu hal yang tidak ia sadari, penampilannya kali ini akan membawa pengaruh besar pada hidupnya. Hanna tidak sadar ada banyak pengunjung yang merekam dirinya saat bernyanyi dan mengunggahnya di media sosial. “Ye… mentang-mentang di Korea, lagunya udah berubah aje jadi lagu Korea.” Mayang meledek saat Hanna kembali bergabung dengan mereka. Gadis itu hanya cengengesan. “Tapi berasa pernah dengar lagu ini deh.” Rasna menggumam. "Iya iyalah pernah dengar wong dinyanyiin sama Sura," gumam Hanna dalam hati. Sementara Rasna masih mengira-ngira, video yang berisi rekaman Hanna sudah di bagikan ulang jutaan kali hanya dalam beberapa menit. Saat itu lah para my start yang sangat jeli mulai heboh. Mereka mulai menduga-duga. Ada banyak teori yang bermunculan seiring dengan trandingnya video Hanna. “Ini kan lagu yang pernah dinyanyiin Sura, yang kemaren dibagiin di tweetnya. Kok bisa suara ceweknya sama dengan suara cewek yang di lagu itu. Cewek ini lipsing po?” “Wah, bisa ya dia meniru suara cewek itu dengan persis.” “Saya juga ada di cafe saat perempuan ini bernyanyi dan dia sama sekali tidak lipsing.” “Oppa, berikan kami jawaban. Apakah perempuan ini yang menyanyikan lagu bersama oppa?" Netizen bertambah ribut karena beberapa saat setelah rekaman video Hanna beredar. Sura juga memposting rekaman lagu Hanna yang sudah digabung dengan rap bagiannya. Hal itu semakin memicu kehebohan dikarenakan beberapa penggal liriknya sudah diposting terlebih dahulu oleh Hanna di caption postingan snsnya. “Oppa. Kami kembali mendengar suara wanita ini. Siapa sebenarnya wanita ini? Apakah benar dia perempuan berjilbab yang tengah viral itu.” “Tidak mungkin. Perempuan itu di Indonesia sedangkan oppa sedang di Korea.” “Bisa saja mereka menggabungkan rekamannya.” “Oppa, apakah ini pacarmu?” “Oppa. Hatiku langsung patah.” Ada ribuan komentar lagi yang berisi pro dan kontra. Sementara Hanna yang tidak mengecek ponsel sedari tadi, adem ayam saja berada di kamarnya, tidur dengan Rex. Hanna tidak menghiraukan notifikasi HP yang sedari tadi heboh. "Palingan juga dari grup SO." Sementara itu, pihak agensi Sura sudah pusing meladeni banyak telpon dari wartawan gosip. Sura bahkan tak bisa keluar dari dorm karena ada banyak wartawan yang berkumpul di depan dorm mereka. "Untuk saat ini kami tidak bisa memberikan komentar apa-apa," ujar managernya saat ditanyai oleh wartawan. "Banyak yang menduga bahwa lagi tersebut dinyanyikan bersama dengan seorang gadis bernama Hanna yang berasal dari Indonesia. Apakah gadis itu salah satu dari trainee di sini?" tanya salah satu waetawan. "Ataukah gadis itu adalah kekasih Sura? Karena kami melihat bahwa gadis itu memiliki pekerjaan lain. Sepertinya ia bukan seorang trainee. Tolong komentarnya." "Apakah Sura sudah memutuskan untuk menikah dengan gadis berhijab?" "Apakah Sura tidak ingin mengklarifikasi?" Manager berlalu tanpa menjawab sepatah kata pun. Ia tak ingin jawabannya nanti akan menghancurkan Sura, Star One, perusahaan atau pun Hanna. Ia tahu sendiri jika Sura menyukai gadis itu. Meskipun gadis itu sama sekali tidak peka. Tapi ia juga tak bisa memutuskannya. Urusan pribadi artis mereka bukan tanggungjawab perusahaan. Agensi mereka sama sekali tidak melarang mereka berpacaran. Kecuali saat mereka debut. Kini ia harus memutar otak untuk menghindari amukan penggemar Star One. Ia melihat banyak sekali komentar negatif dari penggemarnya. Entah itu benar-benar dari penggemar atau dari haters. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN