Hanna sudah sembuh seutuhnya. Ia tak perlu lagi menggunakan perban di kedua matanya. Namun Sura masih belum membiarkannya bebas sendirian. Meskipun laki-laki itu disibukkan dengan jadwalnya. Tapi dia tetap memantau Hanna dan menghantuinya kemana-mana. Ia bahkan melarang Hanna memainkan ponselnya hanya karena ia takut gadis itu melihat berita yang bukan-bukan terkait dirinya. Ataupun ia menjadi bulan-bulanan netizen. Jadilah Hanna hanya menonton televisi ataupun membaca buku di apartemen. Ia keluar rumah cuma satu kali seminggu untuk mengikuti sesi konseling dengan psikiaternya. Gadis itu benar-benar merasa suntuk. Tapi apa daya, dia tak bisa menolak permintaan Sura. Pria itu benar-benar keras kepala. Kalau Hanna sampai nekat dan melanggar aturannya, maka dia akan membawa Hanna kemanapun d

