Nenek Lampir

1917 Kata

Sura menyerahkan botol minumannya pada Hanna. Ia kasihan sekali melihat Hanna-pria yang duduk di belakangnya ini terbatuk-batuk sampai mukanya memerah. Entah kenapa dia merasa wajah pria itu familiar. Hanna pun menerima botol minuman yang disodorkan oleh Sura kemudian mengucapkan terimakasih dengan mengubah suaranya seperti suara pria. Sementara Sura masih memandanginya dengan penuh rasa penasaran. "Oppa, ayo nonton. Filmnya sudah dimulai." Sura segera mengalihkan perhatiannya ke film yang tengah diputar. Hanna menghembuskan nafas lega karena laki-laki itu tak lagi menatapnya dengan penuh minat. Ia khawatir jika Sura terus-terusan memandangnya, mungkin penyamarannya akan terbongkar. Untung saja pria itu tak bisa melihatnya terlalu lama karena cahaya lampu bioskop sudah dimatikan. "Oppa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN