Kembali

2026 Kata
Hanna tengah berada di atas pesawat menuju Jakarta. Ia memutuskan untuk pulang lebaran tahun ini. Sekarang sudah H- 2 lebaran. Awalnya ia berniat pulang sebelum hari pertama puasa. Ia ingin menghabiskan waktu ramadhan dan lebaran di rumah. Tapi mendadak ada banyak kerjaan dari pusat. Hanna harus melakukan penerbangan ke Palestina, Mesir, Israel. Ia juga harus mengahadiri banyak konferensi untuk negara-negara Timur Tengah selama hampir dua minggu. Ia sibuk mengurus segala sesuatu di sana. Baru beberapa hari ia kembali ke Korea. Namun ia kembali ditugaskan untuk berangkat ke Afrika Selatan, Paris, dan kembali ke New York untuk menyerahkan laporan secara langsung. Hanna menghabiskan ramadhan di berbagai negara. Menurutnya suasana ramadhan sangat berbeda saat ia berada di negara konflik dan negara Islam yang tidak mengalami perang. Ia perlu mengajukan gencatan senjata agar orang-orang bisa menjalani ibadah ramadhan. Disinilah kemampuan negosiasinya dibutuhkan. Hanna salut melihat perjuangan anak-anak di negara konflik. Mereka masih tetap menghafal al-quran di tengah tekanan. Mereka masih tetap saling menguatkan meski mungkin hari ini adalah hari terakhir mereka berada di dunia. Mereka tetap menjalani hari dengan penuh senyuman. Hanna seringkali menangis sebelum tidur. Mengkhawatirkan dosa-dosanya. "Aku sudah banyak melakukan kesalahan besar. Tapi bukannya bertaubat, aku malah semakin menjauh dan bahkan menyalahkan Tuhan. Aku yang diberi kemampuan dan keamanan tapi malah tidak mau menghafal al-quran." Sebenarnya Hanna bukan tidak mau menghafal Al-Qur'an. Dulu semasa pondok ia hafal dua juz al-quran. Tapi setelah kuliah dan setelah bertemu Nanda, ia tidak pernah mengulang hafalannya. Terlebih ia memiliki perasaan bersalah terhadap al-quran itu sendiri. Hanna merasa bahwa dirinya terlalu hina untuk kemuliaan Al-Qur'an. "Kak Hanna bisa baca Al-Qur'an?" Salwa, salah seorang anak-anak yang mengungsi di Palestina bertanya padanya. Hanna menatap gadis kecil itu dengan senyum. Raut wajah gadis berumur lima tahun dihadapannya mengingatkannya pada dirinya sendiri saat dulu. Matanya menatap dengan berani. Tak ada rasa takut, seolah berkata pada dunia. "Kau boleh ambil duniaku, tapi jangan ambil kepercayaan dari dalam diriku." "Insya Allah kak Hanna bisa baca Al-Qur'an." Hanna membelai lembut kerudung yang menutupi rambut gadis itu. "Salwa ingin mendengar kak Hanna mengaji." "Benarkah?" "Iya," angguk gadis itu dengan mantap. "Tapi kak Hanna lebih ingin mendengar Salwa mengaji." "Kak Hanna kan sudah sering mendengarkan Salwa mengaji. Sementara Salwa belum pernah mendengarnya." Jlep. Ada sesuatu yang rasanya langsung menancap di hati Hanna. Perkataan anak kecil polos yang sangat mengena. Hanna tersenyum dan kemudian menuruti permintaan gadis itu. *** Pesawat yang Hanna tumpangi akhirnya mendarat di Jakarta pukul 16.00 WIB. Ia segera bergegas ke hotel yang telah dipesan sebelumnya. Hanna akan melanjutkan penerbangan ke Padang keesokan harinya jam 08.00 WIB. Tiket tercepat yang bisa ia temukan. Awalnya ua berniat untuk langsung mengambil penerbangan ke Padang sesaat setelah sampai di Jakarta. Tapi karena H-2 lebaran, semua kursi sudah penuh. Untung saja ia masih kebagian tiket keesokan harinya. Hanna menghempaskan tubuhku di kasur hotel dengan lelah. Perjalanan panjang dari New York membuat badannya terasa remuk. Hanna lelah sekali sampai tidak sadar jika ia telah tertidur dan baru terbangun hampir pukul 18.30. "Astaga, aku belum buka puasa." Segera saja ia berwudlu dan minum dari botol mineral yang disediakan lalu kemudian shalat. Hanna mandi dan mengganti pakaian. Ia tidak membawa banyak barang. Hanya tas ransel yang berada dipunggungnya, berisi beberapa baju dan laptop. Hanna tidak membeli oleh-oleh apapun. "Oleh-oleh apa yang akan aku beli di New York. Aku sendiri juga bingung," gumamnya sewaktu meninggalkan kantor di New York. Hanna keluar kamar menuju restoran hotel. Ia memesan Nasi Goreng dan s**u serta Salad Buah. Hanna kemudian mengambil foto hidangan tersebut dengan latar gedung-gedung yang terlihat dari balik kaca di sebelahnya. Hanna mengunggahnya di sns miliknya. Sudah lama sekali ia tidak update karena terlalu sibuk dan tidak punya waktu untuk update ketika berada di kawasan Timur-Tengah. Hanya beberapa kolega yang men-tag nya yang memperlihatkan ketika ia tengah membacakan cerita untuk anak-anak di pengungsian. Pada saat itu Hanna seringkali merasa bersalah. Hanna bisa hidup dengan damai dan mewah seperti ini tapi tak pernah bersyukur, sementara mereka hidup dalam kekurangan makanan dan pakaian bahkan selalu berada dalam kekhawatiran tapi selalu bersyukur. “Lampu kota memang selalu memberikan kesan indah di malam hari. Selamat datang di ibu kota. Kini aku hanya singgah sebentar sebelum besok kembali ke tanah ibunda. Aku memutuskan untuk berhenti sejenak dari pertukanganku. Ada tangan-tangan penuh kasih yang sudah lama menunggu kepulanganku. Ada nisan yang perlu aku bersihkan debunya untuk dihadiahkan tasbih rindu. Jakarta dengan kemegahannya sama dengan ibu kota lainnya tapi berbeda dengan ibu kota Palestina.” “Hanna. Kamu pulang kampung?” Putri teman pondoknya menjadi orang pertama yang berkomentar di statusnya. “Kita harus reuni ini. Awas saja kalau tidak datang ke rumahku untuk berlebaran.” Riana ikut mengomentari. "Astaga mereka yang jarang berkomentar mendadak memenuhi postinganku." “Nuuna, kapan balik ke Korea? Kita sudah hampir dua bulan tidak bertemu. Ada yang rindu.” Jeno mengomentari statusnya. Memang Hanna jarang sekali membalas chatan mereka di group karena ua tidak terlalu memedulikan HP selama pergi kerja. Hanna hanya mengangkat telpon dari markas atau pihak yang berkepentingan. Bahkan ia tidak kontakan sama sekali dengan Sura. "Kalau dipikir-pikir buat apa juga ya? Hihi." “Sabar ya, nak. Emak lagi pulang kampung. Nanti kalau balik ke Korea bawain oleh-oleh.” Hanna mengomentari dengan kalimat selorohan yang alay. “Hyung semakin sering begadang dan menulis semenjak kau tinggalkan.” Jeimin ikut berkomentar. “Astaga. Kasihan sekali. Suruh dia segera keluar dari sana dan makan. Tenang saja aku akan memukulnya saat kembali ke Korea nanti.” “Kau harus menghubunginya dan mengecek grup. Tega sekali kau tak mengindahkan kami dua bulan terakhir ini. Kau sudah dapat yang lain ya?” Jun ikut menimpali. Hanna nyaris terjungkal membaca komentar alaynya. “Siap nuna. Aku akan segera membuka pesanku. Karena ku selow. Hahahha.” Hanna membuka pesan di grup yang sudah sampai puluhan ribu. "Astaga mereka spam apaan sih? Tidak kusangka grup Star One yang super sibuk punya waktu luang untuk sekedar spam tak jelas di grup chatingan." Ada-ada saja yang mereka bicarakan. Tapi topik utamanya tidak terlepas dari Hanna dan Sura. Hanna mengirim foto nasi goreng ke mereka. “Astaga.. Aku pengen. Aku rindu masakanmu nuna.” Jeno mengirim emot imut. “Kau baru sekali makan masakanku, sudah berani bilang rindu.” “Kenapa nggak bilang mau pulang ke Indonesia?” Rein ikut berkomentar. “Maaf oppa. Aku langsung ambil penerbangan ke Indonesia dari New York. Besok pagi aku juga harus mengambil penerbangan lagi ke provinsi tempat aku tinggal.” “Kau tahu, Sura hyung menjadi semakin produktif semenjak kau tinggalkan.” Vlo menimpali. “Bagus dong kalau gitu. Dia jadi semakin banyak menghasilkan lagu.” “Kau ke Timur Tengah kemaren itu?” Jacop berkomentar. “Cinca?” Jeimin kaget. “Darimana oppa tahu?” Hanna lupa sama sekali dengan banyak foto yang menandainya di timeline. “Aku melihatnya di timeline snsmu. Tampaknya kau sering ikut aksi kemanusiaan. Aku melihat foto-fotomu dimana-mana.” "Sialan perlahan kedokku mulai terbongkar," umpat Hanna. “Kita benar-benar ketinggalan info.” Jun mengirimkan emot sedih. “Aku ada pekerjaan di sana kemaren.” “Sebenarnya kau bekerja di bidang apa sih?” Jeimin kembali mengomentari. “Pekerjaan yang bisa membuatku berkeliling dunia.” Hanna menambahi emot tertawa ngakak. Tiba-tiba sebuah pesan baru masuk ke HP nya. Dari Sura. “Jam berapa penerbangannya besok?” Seperti biasa laki-laki ini selalu to do point," omelnya. “Jam 08.00 oppa.” “Hati-hati.” “Tentu saja." Dia tak membalas lagi. "Ku dengar oppa sering begadang. Sudah makan malam?” “Aku lagi mengerjakan lagu untuk artis lain. Sudah tadi.” “Jangan begadang setiap hari. Kau juga harus memerhatikan kesehatanmu. Untuk apa kau menimbun uang kalau akhirnya kau harus menghabiskannya di rumah sakit.” “Seperti biasa kau sangat cerewet.” Aku mengirim emot mencibir kepadanya. “Cepat kembali ke Korea dan masakkan aku nasi goreng.” “Sekali-sekali kau yang memasak untukku, kenapa?” “Aku akan memasakkan nya untukmu.” “Cinca?” “Tentu saja. Kau harus segera kembali ke Korea. Maka aku akan masak untukmu.” “Aku pegang janjimu. Tapi sepertinya, aku mungkin nggak akan kembali lagi ke Korea." “Wae?” “Aku akan menikah dan membangun rumah tangga di sini. Makanya aku pulang.” Hanna memutuskan untuk mengerjai Sura. “Hmm.” "Dia mendiamkanku begitu saja. Dasar laki-laki!" “Hahaha. Aku hanya bercanda. Siapa juga yang mau nikah. Aku akan kembali ke Korea akhir Juni nanti. Tapi aku hanya akan berada di sana beberapa hari saja. Aku akan kembali ke New York. Tugasku di Korea sudah selesai.” Sura hanya membaca pesannya. "Sialan, gue dicuekin sama bapak yang satu ini." Hanna pun memutuskan untuk kembali ke kamar dan tidur. Esok akan menjadi hari melelahkan sekaligus mendebarkan untuknya. Di satu sisi ia senang bisa kembali, di sisi lain ia enggan bertemu dan mengingat kembali masa lalu yang berusaha ia buang jauh-jauh. "Apakah aku akan bisa melewati ini semua, bu? Ah, andai Ibu masih ada di sini. Tentu aku tak akan serapuh ini. Maafkan aku, bu. Maafkan dosaku yang ikut menjeratmu. Aku berdoa semoga Tuhan tak mengait-ngaitkan dosaku dengan dirimu." Hanna kemudian memejamkan mata. Tapi mimpi buruk itu kembali datang. Ia terbangun dengan nafas terengah-engah. Hanna langsung berlari ke kamar mandi karena merasa mual. Ia memuntahkan semua isi perutnya. Hanna bersandar dengan lemas di dinding kamar mandi. Ia menangis sendiri. Memeluk dirinya dan mencoba menguatkannya. "Aku rindu, bu. Kenapa kau tak membawaku pergi bersamamu?" Hanna menangis tersedu-sedu. "Bu, aku ingin bahagia juga. Tapi kenapa aku tidak bisa bahagia, bu?" "Nak, kebahagiaan itu bukan berasal dari harta yang kamu punya. Bukan juga dari jabatan yang kamu miliki. Kebahagiaan bukan dari seberapa sukses dirimu. Bukan juga dari seberapa terkenal sekolahmu. Kebahagiaan itu berasal dari hati. Dari diri. Dari rasa syukur atas apa yang telah kamu miliki." Hanna tiba-tiba teringat nasihat ibunya. "Kebahagiaan juga berasal dari cinta. Cinta yang kamu dapatkan dari mendekatkan diri pada Allah." "Lalu apakah cinta dari manusia tidak termasuk, Bu?" "Hanya sebagian kecil. Jika kamu mencintai manusia sewajarnya. Maka kamu akan mendapatkan cinta yang berlimpah dari Allah. Maka cintamu kepada manusia itu akan menjadi salah satu kebahagiaanmu. Tapi kalau kamu terlalu mencintai manusia dibanding Allah. Meskipun kamu merasa bahagia. Maka kebahagiaan itu bukanlah apa-apa. Itu hanya rasa semu semata." "Lalu apakah ibu mencintai ayah dan Hanna?" "Tentu saja. Ibu mencintai kalian berdua. Tapi cinta yang berbeda jenis dan takarannya." "Hanna tidak mengerti." "Suatu saat kamu akan mengerti sendiri nak. Saat kamu mencintai seseorang dengan tulus. Bahkan melepaskannya juga tak akan membuat kamu kehilangan kebahagiaan. Karena kamu masih memiliki cinta Allah sepenuhnya." Hanna tersenyum menanggapi jawaban ibunya. "Bu, aku sudah berusaha untuk bahagia. Tapi sepertinya caraku tetap salah, bu. Apa karena aku tidak menggantungkan kebahagiaanku pada Allah?" "Bu, aku hanya ingin kau tau. Mungkin sekarang aku seperti ini. Tapi ibu yakinlah, suatu saat nanti aku akan menemukan kebahagiaanku sendiri. Meskipun sekarang aku sakit seperti ini." Hanna menatap pill obat yang berada di tangannya. Ia ingin meminumnya lagi. Tapi ia sudah minum obat tadi. Ia tak mau mengambil resiko overdosis, misalnya. "Tampaknya obat-obatan ini semakin tidak berguna." Hanna kembali memasukan obat ke dalam botol. "Apa kabarnya Sura oppa ya? Apa dia sudah tidur? Aku ingin bercerita banyak padanya. Tapi aku juga tak ingin dia mengetahui tentang diriku. Entah mengapa dari pertama bertemu. Meskipun sikapnya dingin dan menyebalkan. Aku merasa itu bukan pertemuan pertamanya dengannya." Hanna kemudian membuka ponsel dan men-scroll foto-foto Sura yang selalu dikirimkan oleh anggota Star One. Hanna tertawa sendiri saat melihat foto Sura yang berlepotan tepung saat mereka kalah bermain game. "Kau terlihat seperti anak kucing, oppa." "Kau belum tidur?" Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponsel Hanna. Tentu saja dari Sura. "Panjang umur sekali ini orang. Jangan-jangan dia tau lagi kalau aku tengah memikirkannya." Hanna tertawa sendiri akibat pemikirannya sendiri. "Ngapain juga ya aku mikirin Sura oppa?" Hanna menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Sudahlah. Lebih baik aku tidur. Daripada ketinggalan pesawat besok. Tidak lucu kalau aku ketinggalan pesawat. Nanti malah lebaran di bandara." "Tampaknya kau sudah tidur." "Ya sudah. Tidur yang nyenyak Hanna." "Selamat malam." "Aku merasa bersalah mengacuhkan chatannya. Tapi kalau aku balas, dia pasti akan menelepon. Sudah jam segini. Seharusnya dia tidur di sana. Sudahlah lebih baik aku tidur." Hanna pun langsung memejamkan matanya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN