Oase

2107 Kata
Akhirnya Hanna bisa bertemu kembali dengan kasur. Ia langsung menghempaskan badannya begitu sampai di kamar. Ia mengantuk sekali. Untung saja ia pulang diantarkan oleh manager Star One. Jadi ia tidak perlu menunggu taxi atau naik bus. Hanna khawatir jika harus naik kendaraan umum, mungkin ia akan tidur dan berakhir di tempat aneh. Hanna terbangun begitu mendengar notife chat masuk. Ia langsung mengecek ponsel. Ternyata Sura yang mengirimkan pesan. Dia mengirimkan rekaman lagu tadi. “Terimakasih," ujarnya. “Sama-sama.” Hanna membalas segera. Tiba-tiba saja Sura menelpon. Ia sangat kaget sampai-sampai melempar ponselnya ke ujung kasur. Untung saja tidak jatuh. “Ini orang hobi banget bikin jantungan.” Hanna mengomel dalam Bahasa Indonesia. Ia pun segera mengangkat telponnya. “Apa aku mengganggu?” tanyanya dari seberang. “Tidak kok, oppa.” “Masakanmu sangat enak. Ini akan menjadi ulang tahun yang berharga.” Kali ini ucapan Sura terdengar tulus di telinga Hanna. Tanpa sadar ia tersenyum mendengar pujiannya. “Kau terlalu melebihkannya, oppa. Aku sendiri ragu apa masakanku seenak itu. Aku sudah lama sekali tidak memasak makanan Indonesia.” “Kalau begitu pasti biasanya lebih enak lagi.” Hanna tertawa mendengar ucapannya. “Oiya. Selamat ulang tahun, oppa. Maaf aku tidak membawa kado apa-apa. Aku tidak tahu kalau kau ulang tahun hari ini.” "Atau lebih tepatnya aku lupa tanggal berapa hari ini," gumam Hanna dalam hati. “Kuncana. Masakan dan nyanyianmu sudah lebih dari cukup. Akan lebih bagus lagi kalau kau mau melakukan rekaman dan mendebutkan lagu tadi. Aku akan sangat senang kalau bisa menjadi produsernya.” “Hahaha. Kau bercanda saja, oppa. Bagaimana mungkin aku bisa menjadi penyanyi. Aku saja bukan seorang traine. Apalagi aku juga tidak berada di bawah naungan agensi manapun.” “Kau bisa melakukannya denganku. Tak masalah kau tidak berasal dari agensi manapun. Kalau kau memang setuju aku bisa merilisnya. Lagipula kau tidak butuh latihan yang lama untuk menjadi penyanyi professional. Nada sempurna yang kau miliki itu sudah bisa menutupi kekuranganmu yang lain.” “Itu akan membutuhkan waktu lama untuk mengurus surat-suratnya, oppa. Kau bisa menggunakan lagu itu semaumu. Tidak masalah sama sekali untukku. Tapi untuk menjadi penyanyi, aku rasa aku tidak mau.” “Kenapa?” “Aku tidak suka menjadi pusat perhatian. Aku lebih suka hidup dengan bebas.” “Baiklah. Kurasa kau benar soal itu. Menjadi publik figure membuat kita harus terbiasa menjadi pusat perhatian." "Kau benar, oppa. Aku paling malas harus menyembunyikan jati diriku sendiri. Berpura-pura baik dihadapan orang lain meskipun hatiku sedang tidak baik-baik saja. Aku juga tidak mau harus terlihat sempurna. Setiap inci tubuhku akan menjadi perhatian dan bahan komentar orang lain. Memikirkan itu, aku rasa, aku bisa gila nanti." "Ya, kau benar. Tak semua orang ingin diperlakukan seperti itu. Aku akan menghormati pilihanmu. Kalau begitu aku boleh merilisnya di snsku, kan? Aku hanya ingin membagikan karyaku saja.” “Arasso. Kau bisa melakukan sesukamu." “Apa kau berencana kembali ke Indonesia?” “Mungkin. Aku masih belum tahu. Tapi yang pasti aku akan berpindah lagi. Pekerjaanku di Korea akan segera berakhir.” Sura diam tidak menanggapi. Sementara Hanna menantikan reaksinya. “Kau sebaiknya segera tidur. Sudah larut. Sepertinya matamu sudah akan tertutup semenjak selesai makan tadi.” Sura mengalihkan pembicaraan sementara Hanna hanya tertawa. “Arasso. Oppa juga harus tidur. Jangan sampai hari baikmu kau lalui dengan begadang.” “Baiklah. Aku akan segera tidur juga.” Hanna mengakhiri pembicaraan dengan Sura dan segera bersih-bersih. Mendadak ia tidak bisa tidur usai mencuci muka. Memang akhir-akhir ini ia jarang bermimpi buruk. Jadi ia bisa tidur dengan normal. Aku bahagia mengetahui kenyataan itu. Hanna memandang layar hp. Iseng membuka snsnya. Tiba-tiba ada postingan dari Sura di akun officialnya berjudul “Sebuah lagu untuk hadiah ulang tahunku. Terimakasih.” Langsung saja dalam beberapa menit postingan itu mendapat ribuan like dan ratusan komentar. “Selamat ulang tahun oppa, sehat selalu.” “Wah siapa yang nyanyi bagian ceweknya itu oppa? Suaranya bagus.” “Oppa, kamu kolaborasi dengan musisi perempuan mana?” “Oppa. Itu lagu terbarumu kah?” “Wah, langsung di post nih.” Jun langsung berkomentar. “Oppa, ini bukan lagu yang akan kamu rilis ya. Tidak ada pemberitahuan resmi kalau kau akan merilis lagu.” Hanna hanya geleng-geleng membaca komentar orang-orang. Tampaknya ini akan menjadi masalah besar. Hanna juga membuka snsnya yang biasa ia gunakan dan diikuti oleh Star One. Ia kemudian memposting sebuah sampul buku yang hanya memperlihatkan bagian kecilnya saja berlatarkan pantai. Itu adalah novel hasil karyanya sewaktu kuliah dulu yang ia terbitkan sendiri. Sedangkan pantai tempat ia mengambil gambar yang menjadi background foto tersebut adalah Pantai Gondariah yang berada di kampung halamannya. “Benar jika hatiku sudah mengering. Tapi bukankah dulu pernah aku katakan, bahwa tak hanya di padang pasir. Bahkan di hatiku juga terdapat sebuah oase. Beberapa tahun belakangan ini oase itu benar-benar mengering. Namun kali ini berhasil kembali secara perlahan karena datangnya hujan dari arah yang tak pernah terduga. Kini oase di hatiku mulai kembali menunjukkan riaknya. Tentu saja, musim panas tak akan membakar selamanya. Musim dingin juga tak akan membekukan selamanya.” “Siapakah yang berhasil mengumpulkan kembali oase mu?” Hanna kaget membaca komentar itu. Itu adalah komentar dari Nanda. "Sialan, apa maksudnya? Apa selama ini dia menyangka bahwa aku tidak bisa move-on? Memang kenyataan sih kalau aku belum bisa move-on." Bukan tak pernah menghubungi, dia pernah mencoba menghubungi Hanna beberapa kali. Namun ia tak pernah menanggapinya. Hanna takut akan terjadi kesalahpahaman lagi, terlebih isterinya sangat pencemburu. Semua akun milik Hanna saja pernah diblokir. Tak hanya itu dia pernah mengirimkan pesan kepadanya agar Hanna tidak menjadi pelakor. "Pelakor darimana coba," umpat Hanna waktu itu.Bukankah dia yang PHO (perusak hubungan orang)? Nggak bisa dibilang seperti itu juga sih. Toh pernikahan mereka terjadi atas keinginan keluarga Nanda. Sudahlah ngapain aku mengurusi wanita seperti itu." Hanna terus saja mengomel pada saat itu. "Mengapa kau datang? Bukankah aku sudah menjauh agar kau tak lagi menghantui langkahku? Bukankah dulu kau yang mencampakkanku? Lantas mengapa sekarang kau datang seolah tidak pernah terjadi apa-apa?" Tanpa disadari air mata Hanna keluar. Luka lama perlahan kembali. Ingatan masa lalu mulai menghantuinya. Hanna kembali rapuh, seperti pertama kali dulu. Rasanya usahanya selama ini untuk bangkit sia-sia saja. “Tidak. Aku tidak boleh menangis. Aku sudah berhasil melupakannya. Aku juga bisa bahagia. Aku bisa melakukan apapun yang dulu tak pernah bisa kulakukan. Aku bisa melakukan apapun yang dulu selalu dia larang. Aku tidak boleh seperti ini.” Hanna terus mencoba menguatkan dirinya sendiri. Ia tidak mau jika ini memengaruhi mentalnya lagi. Hanna menghapus air mata dengan kasar dan berteriak pada dirinya sendiri. “Kau tidak punya perasaan apa-apa lagi padanya, Na. Kau sudah melupakannya. Mari lanjutkan hidup. Bersikap seolah dia tak pernah singgah.” Ia bangkit dan pergi ke dapur lalu mengambil es krim dan mulai memakannya sembari mendengar lagu yang tadi dikirimkan oleh Sura. Ia mengupdate story- nya. “Tips gemuk pertama; Tengah malam makan eskrim sembari mendengar lagu terbaru Sura yang menenangkan.” Hanna mencantumkan lagu terbaru Sura. Tiba-tiba saja grup SO langsung heboh. Pesan pribadinya juga terus-terusan berbunyi. Hanna tidak menyadarinya dari tadi. Ia juga tidak sadar kalau Jun berkomentar di postingan terbarunya. “Cie, yang tadi menemukan hujan untuk oase nya.” Astaga untung saja ia tidak membacanya tadi. Hanna langsung salah tingkah. Sepertinya telah terjadi kesalahpahaman besar. Niatnya membuat status itu untuk mengapresiasi lagu Sura yang ia ibaratkan sebagai hujan. Eh, ternyata malah mengundang persepsi lain. “A… mau di taroh dimana mukaku, mak.” Hanna berteriak histeris. “Nuuna. Kau lagi galau atau bahagia? Aku tak terlalu mengerti dengan terjemahan google translate untuk postinganmu kali ini.” Jeno orang pertama yang men-capture statusnya dan mengirimkannya di grup. “Hei, ngapain malam-malam makan es krim?” Jeimin ikut berkomentar. “Bukannya tidur malah update status dan makan eskrim.” Jacop menyela. “Wah wah, Hanna-si nggak bisa tidur gegara duet bareng sama Sura hyung.” Ingin Hanna menabok Vlo saat membaca komentarnya. “Woi.. kemana? Kok nggak ngoment.” Rein mulai spam. “Jangan ganggu dia. Dia lagi menata hati.” Jun mengirim emot tertawa. "Astaga aku malu sekali membaca komentar mereka. Benar-benar telah terjadi kesalahpahaman yang besar." Sura ikut berkomentar yang pastinya membuat tambah ricuh. “Katanya tadi mau tidur. Kok malah makan es krim.” "Astaga aku ingin melipat tubuhku dan masuk ke dalam laci. Aku ingin menghilang. Aku malu sekali." Akhirnya Hanna memutuskan untuk pura-pura tidak tahu kalau pesannya berbunyi. Ia kemudian membalas komentar Jun di sns yang sudah tenggelam dengan ribuan komentar lainnya. Hanna juga berniat untuk membalas komentar Nanda. Ia tidak akan lari lagi. Hanna harus bersikap biasa saja. “Tentu saja seseorang yang mampu menghentikan angin yang mengeringkan hatiku dan mendatangkan hujan yang mampu menyirami kemarau.” “Tentu saja oppa. Oase mana lagi yang tidak akan bergembira menyambut hujan datang.” Ia membalas komentar Jun. “Astaga cintaku. Akhirnya kau menemukan jodohmu di Korea.” Naya sahabatnya juga ikut meninggalkan komentar. “Hahaha. Makanya aku awet muda. Korea berjodoh denganku.” Hanna men-tag Lidia dan Naya pada kolom komentar. “Astaga kakak. Pantainya indah sekali.” “Kak itu di pantai mana? Pasirnya putih sekali.” “Kakak lagi sedih ya? Jangan sedih kak. Roda berputar, begitu juga kehidupan manusia. Tak selamanya kita akan berada dalam kesedihan. Akan ada hari bahagia.” “Kak semangat. Semoga oase mu tidak pernah mengering lagi.” Dan masih banyak komentar lain. Hanna tertawa sendiri membaca komentar yang ditinggalkan. “Nuuna jahat sekali tidak mengacuhkan chatingan dari *******.” Jeno berkomentar, ia sengaja memberikan tanda bintang-bintang untuk menandakan grup mereka. Hanna tertawa membaca komentarnya, terlebih emotnya. Hanna pun membuka pesan di grup yang sudah dibanjiri protes. “Hahaha. Tampaknya aku menimbulkan kesalahpahaman besar.” “Kesalahpahaman apa? Kau mengisyaratkan dengan jelas tentang arti kehadiran Sura .” Jun membalas. “Hihi.. itu hanya kesalahan bahasa oppa. Aku tidak bermaksud mengatakan itu tapi yang aku tulis mengundang banyak persepsi.” “Kalau benaran juga nggak apa-apa.” Vlo berkomentar. “Aku yakin Sura hyung tengah senyum-senyum sendiri di studionya.” Jeimin ikut menimpali. Tiba-tiba Sura kembali mengiriminya pesan secara pribadi. Atau lebih tepatnya dia sudah mengirimi dari tadi tapi Hanna tidak menyadarinya. “Tadi kau bilang mau tidur.” “Itu mantan pacarmu ya?” “Kenapa tidak dibalas?” “Maaf kalau aku terlalu ikut campur.” Hanna segera membalas. "Kasihan juga kalau anak orang sampai salah paham." “Hihi.. Habis cuci muka, ngantuknya hilang. Mendadak pingin makan eskrim saat dengar lagu tadi. Hmmm.” Hanna hanya membalas hmm untuk pertanyaan mengenai mantan. “Sekarang masih makan?” Hanna mengirimi foto berisi kotak es krim yang hampir habis. “Astaga kau makan eskrim sebanyak itu di tengah malam di musim dingin. Kalau sampai sakit bagaimana!” Hanna tersenyum-senyum sendiri membaca tanda seru yang dikirimkan oleh Sura. “Tenang saja. Daya tahan tubuhku kuat kok.” "Aku memang selalu seperti itu kalau lagi galau. Nggak bisa mengontrol diri. Kebiasaan aneh kalau kata orang." Hanna tertawa sendiri sembari mengoceh. Sura hanya merespon dengan emot datar. "Berarti kau beneran sedang galau." “Katanya mau tidur juga tadi.” Hanna mengalihkan pembicaraan. “Aku terbangun gara-gara mendengar notif chatingan di grup.” “Oppa tidur di studio?” “Ya, itu akan lebih memudahkan ku untuk mengerjakan lagu kalau tiba-tiba aku terbangun.” “Astaga alasan macam apa itu. Kalau kayak gitu kapan bisa tidur nyenyak?” “Kau mulai bawel ya sekarang.” Hanna mengirim balasan emot kesal padanya. “Hahaha. Sana tidur. Jangan makan es terus. Jangan galau, nggak cuma satu laki-laki di dunia.” “Siapa juga yang galau. Ini gara-gara caption yang aku buat terlampau puitis. Makanya pada salah paham.” “Kau yang bodoh membuat status seperti itu. Harusnya yang kau posting lagu yang kita nyanyikan berdua.” “Ya.. IQ-ku bahkan mengalahkan Albert Einsten. Jangan mengataiku bodoh. Lagi pula kalau aku langsung posting itu, bisa-bisa orang curiga." “Kalau kau tidak bodoh mana mungkin belum bisa move on. Laki-laki b******k itu nggak pantas mendapatkan cintamu. Memang ada masalah apa kalau orang sampai tahu?” “Arasso. Arasso. Kau seperti kakek-kakek, oppa. Aku mau tidur. Nggak akan selesai kalau berdebat denganmu.” “Ya sana. Jangan lupa mimpiin aku. Nggak usah ngambek seperti itu, nanti kau tambah cantik.” Hanna langsung melempar HP-nya begitu membaca balasan Sura. "Astaga aku benar-benar malu dan jengkel. Darimana dia mendapatkan kepercayaan diri seperti itu. Itu sama sekali tidak terlihat seperti dirinya." Hanna segera tertidur seiring mulutnya yang terus menggumam tidak jelas. Ia bahkan sudah melupakan Nanda sama sekali yang tiba-tiba datang tadi. Ia hanya seperti angin lalu bagi Hanna. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN