Hanna sekarang sudah kembali berada di Korea. Seperti janjinya sebelumnya, ia membelikan oleh-oleh untuk anggota Star One. Membelikan topi untuk Vlo dan Rein yang hobi memakai topi. Membelikan Sura dan Jeno aksesoris yang hanya ada di Jogja, menurutnya. Membelikan Jun, Jeimin, dan Jacop baju bermotif batik. Hanna sengaja memilihkan motif yang tidak terlalu jelas memperlihatkan bahwa itu adalah batik karena khawatir fans mereka akan mengetahuinya.
Hanna tidak sempat bertemu mereka, karena mereka tengah syuting di luar kota. Jadi ia meninggalkannya di agensi mereka. Awalnya staf perusahaan tampak bingung dengan titipan Hanna. Mereka mengira bahwa ia adalah salah seorang penggemar yang ingin memberikan hadiah. Sementara Star One sudah tidak menerima hadiah lagi semenjak tahun 2018 lalu. Nyaris saja titipannya juga ditolak oleh mereka.
“Ini bukan hadiah. Ini titipan mereka. Karena sekarang mereka tengah berada di luar kota. Mereka menyuruhku untuk menitipkan saja di sini.”
Hanna berusaha menjelaskan tapi tetap saja staf itu tidak percaya. Hanna menghela nafas panjang. Harus bagaimana lagi cara untuk memberitahukannya pada mereka.
“Loh Hanna. Ngapain di sini?” Hanna mendengar suara yang ia kenal. Langsung saja ia menoleh ke arah sumber suara tersebut. Dia adalah salah seorang koreografer Star One.
“Siang subaenim.” Hanna membungkuk hormat. Sebenarnya ia tidak pantas memanggil dengan sebutan itu karena mereka tidak berada di perusahaan yang sama. Tapi karena bingung harus memanggil apa, akhirnya ia memangilnya menggunakan panggilan itu. “Saya kesini membawakan titipan SO.” Hanna memperlihatkan paper bag yang ia bawa.
“Ha, yang dari Indonesia itu ya? Tadi Jun sudah menghubungiku. Katanya kau akan ke agensi untuk mengantarkan titipan mereka. Mereka lupa meninggalkan pesan di meja resepsionis. Jadi dia meminta tolongku untuk menyampaikannya. Karena kebetulan kita bertemu di sini. Kau bisa menitipkannya padaku. Nanti aku yang akan menyerahkan nya pada mereka."
"Terimakasih kalau begitu."
"Sama-sama. Kapan kau balik dari Indonesia?”
“Tadi malam."
Usai sedikit berbasa-basi, ia kemudian berpamitan dan meninggalkan Be Star, agensi yang menaungi Star One.
***
“Lagi dimana?” Hanna kaget membaca chatingan yang masuk. Pesan itu berasal dari Sura. Selama ini dia tidak pernah mengirimkan pesan secara pribadi padanya. Palingan dia ikut berkomentar di grup yang dibuat oleh anggota Star One untuk berkomunikasi dengannya saja. Entah siapa yang mempunyai ide konyol seperti itu.
Bila yang lain pernah chatingan secara pribadi dengan Hanna. Sura belum pernah melakukannya. Makanya ia merasa seperti tengah bermimpi saat membaca pesan yang diterima.
"Dia kesambet apaan sih? Kok bisa tiba-tiba menghubungiku secara pribadi seperti ini. Bukan gaya dia sekali."
“Apartemen. Kenapa memangnya, oppa?” Hanna segera membalas pesannya. Oh tidak, ingatkan ia bahwa baju milik Sura belum ia kembalikan. Hanna benar-benar lupa kalau pernah meminjam bajunya.
“Kau bisa ke studioku?”
“Ngapain?”
“Aku perlu seseorang untuk mendengarkan laguku.”
“Memang yang lain kemana?”
“Mereka mendadak banyak alasan.”
"Sialan. Ini pasti disengaja. Sepertinya mereka masih belum menyerah mendekatkankuu dengan Sura. Ada-ada saja. Padahal waktu itu aku hanya bercanda tapi malah keterusan," omel Hanna.
Bahkan di group chating pun yang menjadi objek utama adalah ia dan Sura. Ada-ada saja yang mereka ributkan soal Hanna dan Sura.
“Tapi aku sendiri tidak mengerti musik.”
“Tenang saja itu tidak masalah. Kau hanya perlu mendengarkannya dan memberikan komentar sesuai apa yang kau dengar dan pahami. Lagi pula lagu ini aku pikir akan sangat sesuai denganmu.”
"Apa maksud perkataannya itu? Jangan bilang kalau dia tiba-tiba ingin aku berubah profesi menjadi seorang penyanyi? Hahaha. Aku terlalu mikir kejauhan."
Hanna hanya mengiyakan dan segera bersiap. Ia memutuskan untuk memakai jaket putih tebal hari ini. Udara akhir musim dingin masih terasa sangat dingin. Meskipun tidak lama lagi musim semi akan segera datang.
Hanna belum pernah ke sini sebenarnya. Studionya sendiri berada di dorm mereka sendiri. Sekarang ia bingung mau kemana. Hanna tidak tahu dorm mereka di lantai berapa. Hanna juga tidak yakin apakah aman kalau ia datang ke sini seperti ini.
"Kalau-kalau ada wartawan nyasar atau my star (nama fans mereka) bagaimana? Bisa-bisa aku bakalan digantung dan pulang tinggal nama." Ia bergidik sendiri.
Hanna kemudian masuk lobi dan mendekati petugas yang berjaga. Baru saja ia akan bertanya. Tiba-tiba pria tua itu langsung berbicara padanya.
“Mau ke studio Sura ya?” Hanna menatap pria tua itu dengan ragu. “Tadi Sura pesan, katanya kalau ada perempuan yang terlihat seperti laki-laki ke sini minta diantarkan ke studionya.” Hanna bersungut-sungut mendengarnya. Pendeskripsian macam apa itu? Hanna hanya mengangguk kemudian mengikutinya. Ia diantarkan ke lantai lima, setelah belok sana belok sini akhirnya mereka berhenti di sebuah pintu yang tampaknya adalah dorm mereka.
“Disini Agassi.” Setelah Hanna mengucapkan terimakasih, pria tua itu meninggalkannya di depan pintu yang katanya dorm Star One. Hanna tak langsung membunyikan bel. Akhirnya setelah berfikir beberapa saat, ia pun memutuskan untuk menekan bel. Hanna menekan bel berkali-kali tapi tidak ada jawaban ataupun tanda-tanda akan dibukakan.
"Jangan-jangan aku dikerjai lagi?" Kemana sih ni orang.” Ia berdecak kesal menggunakan bahasa Indonesia.
“Siapa ya?” Hanna bisa mendengar suara Jeno dari balik interphone. Tanpa menjawab ia langsung memperlihatkan wajahnya kehadapan kamera. Setelah beberapa saat, akhirnya pintu terbuka. Jeno menyambutnya dengan senyuman lebar khasnya. Astaga untung ia bukan cewek baperan, kalau tidak ia pasti sudah meleleh saat dihadiahi senyuman semanis itu.
“Sura hyung sudah nungguin dari tadi. Dia nggak sabaran ingin orang lain segera mendengar lagunya. Ayo masuk, nuuna.”
Hanna masuk bersama Jeno. Ia bisa melihat member lain tengah sibuk sendiri-sendiri. Ada yang tidur, main game, membaca komik, coret-coret, dan ada juga yang tengah mendengarkan musik. Mengetahui kehadirannya, mereka langsung mengalihkan perhatian pada Hanna dan tersenyum lebar seperti tengah menyambut kawan lama yang sudah lama tidak bersua.
"Ini yang mereka katakan sibuk? Dasar cari alasan yang mutu kek."
Hanna menghela nafas. Ia langsung melepaskan jaket dan menggantungnya di tempat yang disediakan. “Jadi, ada perlu apa aku dipanggil jauh-jauh ke sini? Sura oppanya mana?”
“Duduk dulu. Duduk dulu.” Jun mempersilahkan Hanna untuk duduk di antara dia dan Rein. Bahkan Jacop yang tadinya tidur ikut bangun. “Sebenarnya kita berencana untuk merayakan ulang tahun Sura. Jadi kamu jangan menemui Sura dulu.” Dia berbicara dengan berbisik-bisik padaku. Hanna baru ingat kalau hari ini tanggal ulang tahunnya Sura.
"Lantas ngapain mereka mengikut sertakan aku?"
“Sura sangat suka masakan Indonesia terutama nasi goreng. Dia selalu menyempatkan diri untuk memakannya kapanpun kita berada di restoran yang menyediakan nasi goreng.” Hanna mulai mencium kemana arah pembicaraan mereka.
“Mumpung Sura hyung masih menyelesaikan lagunya. Nuuna mau kan membantu kami memasak untuk ulang tahunnya?” Jeno menatapnya penuh harap.
“Baiklah.” Hannapun mengiyakan permintaan mereka yang menurutnya sama sekali tidak sulit itu. Mereka tersenyum dan mengekspresikan kegembiraan dalam diam. Takut Sura akan mendengar. Tiba-tiba hpnya berbunyi. Hanna bisa mengetahui siapa yang mengirim pesan dari notifikasi di layar. Sura.
“Sura oppa chat.”
“Dia bilang apa?” Jeimin menatapnya penasaran.
“Menanyakan aku sudah sampai atau belum.”
“Bilang saja kalau kamu hanya bisa datang nanti malam.” Hanna mengikuti sarannya dan kemudian mengetikan balasan seperti itu pada Sura oppa.
“Oh, ya sudah. Aku tunggu," balas Sura.
“Kalau sudah begini Sura hyung nggak bakalan keluar dari laboratoriumnya itu sampai kamu datang.” Jacop terlihat berbinar-binar.
"Memangnya dia tidak makan?"
"Dia makan seingatnya saja."
"Dia bisa sakit dong kalau kayak gitu."
"Kau mengkhawatirkan nya, nuna?" Hanna hanya menghela nafas. Salah ngomong lagi.
“Tapi satpam mengetahui kalau aku datang. Katanya Sura menyuruhnya untuk mengantarku,” ujar Hanna mengalihkan pembicaraan.
“Tenang saja. Aku sudah mengurusnya.” Rein mengedipkan sebelah matanya pada Hanna.
“Baiklah. Jadi bahan-bahannya sudah disediakan belum?”
“Sudah. Ada di kulkas semua.” Jun berdiri dan Hanna pun mengikutinya. Hanna memeriksa sediri. Hanya ada bumbu siap pakai. Rasanya tidak akan sama. Ia memutuskan untuk belanja di toko khusus yang menyediakan bahan-bahan makanan Asia yang tentunya juga menjual bumbu-bumbu Indonesia.
“Mau kemana?” Rein bertanya saat melihat ia memasang jaket.
“Aku perlu ke toko Asia untuk membeli bumbu-bumbu tambahan. Kalau mau rasanya seperti asli. Lebih baik tidak memakai bumbu siap pakai. Aku berencana untuk membuatkan makanan lain yang mungkin belum pernah kalian coba.”
“Jauh sekali kalau pakai kereta. Kau perlu naik kereta beberapa kali jika ingin kesana.” Jun memandangku kasihan.
“Kalau begitu aku pakai mobil saja ke sana.”
“Biar aku yang antar.” Jun menawarkan bantuan pada Hanna yang tentunya akan aku tolak mentah-mentah.
“Tidak usah. Bisa berabe kalau aku ketahuan jalan denganmu, oppa. Lagipula akan lebih cepat kalau aku yang menyetir.” Anggota Star One mengernyitkan kening mendengar ucapannya. Sementara Jun menyerahkan mobilnya dengan ragu-ragu. Hanna langsung meluncur meninggalkan dorm mereka menuju parkiran. Sedikit kesulitan menemukan mobilnya.
“Aku agak ragu mendengar perkataannya Hanna. Jangan bilang kalau dia suka balapan.” Jeimin menatap Jun.
“Kau siap-siap saja menerima laporan polisi hyung.” Jacop tertawa. Sementara Jun menatap dengan ngeri.
Hanna sampai di toko Asia setengah jam lebih awal daripada perkiraan awal. Untung saja tidak ada polisi dan sebagainya. Karena ia menyetir masih di bawah batas tapi tetap saja ngebut. Satu kebiasaan buruknya adalah selalu mengebut. Sebenarnya ia lebih suka naik kereta api. Tapi benar yang dikatakan oleh Jun. Akan makan lebih banyak waktu karena jalannya yang lebih berputar-putar kalau pakai kereta.
Hanna memilih bumbu-bumbu segar untuk membuat nasi goreng dan rendang. Hanna juga membeli mie mentah. Selain itu, ia juga membeli beberapa buah-buahan asal Indonesia yang terakhir kali ia temui saat berada di Indonesia. "Rasanya aku ingin membeli semua isi supermarket agar mereka bisa mencicipi semuanya."
Namun Hanna mengurungkan niat tersebut. Bisa-bisa ia tidak pulang nanti karena kelamaan belanja.
Hanna sampai di dorm mereka dengan selamat sentosa. Bahkan aku kembali satu jam lebih awal dari waktu yang seharusnya. Jun memandangnya dengan wajah tidak percaya. Di sana juga sudah ada manager mereka.
Usai memberi hormat ia langsung ke dapur. Menyiapkan daging, nasi, bumbu-bumbu, dan alat-alat lainnya. Jun membantunya membersihkan kulit Jahe, Kunyit, Lengkuas, Bawang, dan lainnya. Hanna langsung menakar dan memblendernya. Sebenarnya akan lebih enak jika di ulek. Tapi ini Korea. Bukan Indonesia yang punya ulekan.
Sebenarnya kemaren itu ia berencana membelikan ulekan untuk Jun, tapi ia tidak yakin dia bisa menggunakannya atau tidak. Hanna lebih dahulu memasak rendang. Karena proses memasaknya yang akan memakan waktu lebih lama dibanding yang lain. Hanna juga memasak Nasi Putih untuk membuat Nasi Goreng. Lebih enak dibanding menggunakan Nasi Instan. Aku membuka plastik buah-buahan yang tadi aku beli di pasar sembari menunggu waktu untuk bisa memasukkan Daging ke dalam kuahnya. Itu bisa memakan waktu satu jam menunggu santannya mendidih.
“Itu tidak apa ditinggal?” Jeimin memandang cemas pada masakannya.
“Hmm iya juga ya. Kamu bisa membantu mengaduknya, oppa . Tapi jangan terlalu keseringan. Butuh waktu lama untuk bisa memasukkan Dagingnya.”
“Biar aku saja yang melakukannya," ujar manager mereka. Hanna mengangguk berterimakasih.
“Kamu beli apa nuuna?” Jeno menatap dengan penasaran kantong kresek yang ia bawa. Hanna pun membuka dan mengeluarkan isinya ke dalam keranjang buah yang ia bawa dari dapur. Ada Salak, Rambutan, Jambu dan Buah Naga. Aku sendiri penasaran, kenapa Rambutan dan Jambu nya bisa bertahan sejauh ini. Hanna juga membeli Langsat.
“Buah-buahan Indonesia.”
“Wah, daebak. Ini apa namanya yang ada rambutnya?" Jacop menimbang-nimbang Rambutan dengan antusias.
“Namanya Rambutan.” Hanna membuka satu dengan pisau dan menyerahkannya padanya. Jacop menerima dengan antusias dan mencobanya. Hanna melihat dia menyerngit akibat rasanya yang asam. Sepertinya rasanya tidak manis.
“Asam ya?” Jacop megangguk mengiyakan. “Hihi, oppa belum beruntung. Mungkin karena ini dikirim langsung dari Indonesia. Jadi tampaknya, mereka mengirimkan Rambutan yang masih belum terlalu matang supaya tidak busuk sampai di sini. Biasanya ini manis banget dan juga segar.” Member lain mencoba buahan lain sementara Hanna kembali ke dapur.Ternyata menunggu santan mendidih tak selama yang ia kira.
"Apa api Korea beda ya dengan api yang ada di Indonesia?"
Hanna tersenyum sendiri dengan pemikiran bodohnya. Ia lupa kalau porsi yang ia masak sangatlah kecil. Tak bisa dibandingkan dengan yang biasa dibuat ibunya sewaktu di rumah. Pantas saja cepat mendidih. Hanna mulai memasukkan daging yang sudah dipotong dadu ke dalam kuah santan. Perlahan bau harum yang dikeluarkan masakannya tak bisa lagi terkontrol. Wangi harum mulai memenuhi ruangan. Jeno mendekat ke dapur.
“Baunya enak sekali, nuuna.” Jeno mengagetkannya. Bagaimana tidak kaget, tiba-tiba saja wajahnya sudah berada beberapa senti di atas bahu Hanna. Kalau saja terjadi kesalahan, bisa-bisa ia menciumnya. Tentu saja ia tak ingin hal itu terjadi.
“Kau bisa mencobanya sebentar lagi. Masih terlalu alot jika kau ingin mencoba dagingnya sekarang."
Hanna memutuskan untuk terlebih dahulu memasak mie goreng yang tadi sudah aku rebus dan aku tiriskan. Ia menambahkan lobak dan cabe keriting yang sudah aku blender agar pedas. Biar mereka tahu rasa pedasnya Indonesia. Hanna juga menambahkan irisan ayam pada mie yang sudah aku goreng tadi. Ia menyuruh Jeno untuk mencobanya. Dia langsung memberikan dua jempol pada Hanna. Gadis itu melihat mukanya memerah.
“Terlalu pedas ya?”
“Lumayan. Tapi ini enak sekali.”
Hanna melanjutkan pekerjaannya membuat nasi goreng. Ia memutuskan untuk membuat nasi goreng sederhana yang dimasak dengan telur yang dipecah langsung ke dalam nasi sehingga rasa telurnya akan melekat. Hanna memberikan toping daging yang sudah ia rebus dengan bumbu dan juga sudah digoreng tadi. Hanna memotong daging dengan kecil-kecil agar rasanya lebih menyatu dan tercampur semuanya.
Tak terasa sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 06.00 malam. Hanna mulai memindahkan nasi goreng ke dalam tiga piring besar. Sepertinya cukup untuk porsi 10 orang. Pas untuk Star One, ia dan kedua managernya yang sedari tadi merekam untuk vi-live mereka. Tentu saja nanti tidak ada Hanna dalam rekaman itu. Mereka akan mengedit jika tiba-tiba keberadaan ku terekam di video.
Jeno menolongnya membawa masakan yang telah selesai ke meja makan. Hanna juga memasak sayur tumis jamur. Masakan yang sering ia masak sewaktu kuliah. Lebih mirip sayur dari pada tumis karena airnya yang banyak dan ia juga menambahkan cabe supaya pedas. Makanya ia memberi nama sayur tumis. Setelah menunggu setengah jam kemudian akhirnya rendangnya matang. Tentu saja tak bisa kering seperti yang di rumah. Namanya juga rendang ala perantauan.
Jeno mengambil satu potong dari piring dan menghadiahinya dua jempol. Hanna ragu makanan apa yang tidak disukai oleh Jeno. Dia tak pernah pilih-pilih makanan. Hanna menyukai orang yang seperti itu atau lebih tepatnya ia menyukai laki-laki yang bisa memakan apapun seperti dia. Asal jangan makan reptil atau sesuatu yang aneh-aneh saja.
Vlo dan Rein menyiapkan kue dan mereka semua pergi ke studio pribadi Sura. Hanna mengekor di belakang kameramen. Untuk menghindari kemungkinan ia akan ikut terekam. Sura membuka pintu dengan enggan, awalnya tampangnya datar sekali tapi dia kaget karena tiba-tiba Vlo dan yang lain menyanyikan lagu ulang tahun. Wajahnya langsung berubah lebih lembut. Jeno menarik Sura ke dapur, setelah ia meniup lilin dan mengucapkan permohonan.
“Tadaa... Kejutan.” Member Star One kompak berteriak saat mereka sudah sampai di dapur. Vlo yang usil berhasil menjahili Sura dengan secuil krim.
“Hidangan ini dimasak dengan penuh cinta khusus untukmu, hyung.” Jeimin bercanda. Sura langsung melihat Hanna. Gadis itu hanya memasang wajah datar.
Mereka kemudian mulai makan dan bercanda sembari mendengar keinginan Sura. Sementara Hanna hanya memandang proses syuting yang tengah berlangsung sembari makan Salak. Hanna lapar sekali dan makan Salak membuatnya tambah lapar. Terlebih saat mencium bau harum dari masakannya berhasil membuat salivanya berkumpul lebih banyak di mulut. Hanna hanya bisa menelan ludah beberapa kali. Dengan tidak sabar menunggu syuting selesai.
Akhirnya syuting pun selesai. Hanna dan kedua manager ikut bergabung untuk makan. Anggota lain juga belum selesai makan. Mereka terus-menerus menambah nasi. Jeno sangat suka dengan rendang, ia melihat dia sudah menambah nasi sebanyak empat kali dari tadi. Dengan sabar ia menambahkan rendang di mangkuknya. Untung Hanna membuat banyak sehingga semua bisa makan sepuasnya Dia terus-terusan menggumam. “Bagaimana bisa ada rasa daging seenak ini, nuuna?”
“Itu bisa enak karena dimasak penuh dengan cinta.” Hanna berseloroh sembari memandang Jeimin yang tadi mengucapkan itu pada Sura. Hanna dan Jeimin sama-sama tertawa.
“Nanti aku minta resepnya ya," ujar Jun.
“Siap bos, dengan senang hati.”
Akhirnya jam 08.00 acara makan malam usai. Semua yang ada di meja ludes. Hanna sendiri juga kekenyangan. Sudah lama rasanya ia tidak makan seenak ini. Mungkin karena makan ramai-ramai. Makanya ia bisa nambah nasi beberapa kali.
Hanna tidak bisa mengatasi kemalasannya untuk berdiri menolong Vlo yang mendapatkan hukuman untuk membersihkan peralatan masak. Ia meminta maaf karena tidak bisa menolong. Usai membereskan semua, mereka berkumpul di ruang tamu. Hanna langsung tiduran di salah satu sofa di sebelah Jun. Ia memang suka sekali nempel-nempel dengan Jun. Entah mengapa, mungkin karena ia merasa seperti tengah berada di sisi abangnya sendiri.
“Jadi bagaimana dengan lagu yang katanya cocok untukku?” Hanna menatap Sura dengan wajah setengah bercanda. Niatnya untuk menyindir member lain, tapi Sura malah menanggapinya dengan serius.
“Oiya. Aku lupa. Ayo ikut ke studio. Kau harus mendengarkannya. Member lain tidak mau mendengarkannya.” Sura mendadak jadi antusias. Hanna menjadi menyesal menanyakannya. Padahal matanya berat sekali karena kekenyangan. Ia menatap Jun meminta tolong. Tapi mereka bersikap seolah tidak tahu apa-apa.
"Sialan. Mereka sengaja menjadikan aku kambing hitam."
Bahkan Jeno mendorongnya agar mengikuti Sura. Hanna bangkit dari sofa dengan malas dan mengekori Sura.
“Aku hanya bercanda, oppa. Aku akan mendengarkannya nanti kalau sudah didengarkan oleh anggota lain.” Sura menatapnya dengan ekspresi dingin.
"Astaga kayaknya aku salah bicara lagi. Mulutku memang tidak bisa dikontrol kalau sudah kenyang."
“Arasso.. arasso. Aku hanya bercanda. Jangan diambil hati.” Hanna segera ikut masuk ke dalam studionya, takut Sura menjadi berubah menjadi garang. Ia mengikutinya menuju piano.yang ada di ruangan. Sebenarnya ia tidak menyukai gagasan, bahwa ia harus berduaan dengan Sura dalam satu ruangan. Tak hanya dengannya. Hanna tak suka membayangkan, jika ia harus berduaan dengan laki-laki manapun.
Hanna takjub melihat isi studionya. Ada banyak miniatur di sana. Sura memintanya mendengarkan lagu dari headfree. Hanna mengikuti keinginannya. Sebuah lagu bernada mellow ternyata. Hanna kira dia akan menyuruhnya untuk mendengarkan lagu bernada hip hop. Ternyata ada bagian rap-nya. Lalu Sura memperlihatkan liriknya pada Hanna. Ia membacanya. Liriknya bagus. Isinya bercerita mengenai wanita yang patah hati dan motivasi untuk bangkit.
"Memang kedengarannya seperti aku. Pantasan dia bilang lagu ini akan cocok untukku."
“Kau bisa menyanyikannya.”
“Oppa memintaku untuk menyanyikannya atau bertanya?” tanya Hanna tidak percaya.
“Iya.”
"Iya apa?"
"Aku memintamu untuk menyanyikannya."
“Tapi aku tidak bisa membaca tangga nada. Aku hanya bisa meniru. Tapi aku tidak bisa bernyanyi jika belum pernah mendengarkannya sebelumnya.”
“Kau pasti bisa. Kau belum pernah mencobanya saja makanya tidak tahu. Aku akan membimbing mu nanti.”
“Baiklah.” Hanna akhirnya mengalah. Dia kemudian menyanyikan melodinya. Hanna mendengar dengan seksama. Setelahnya, ia mulai menyanyikan lirik yang tertulis sesuai dengan melodi yang tadi dinyanyikan Sura. Dia membetulkan beberapa kesalahan yang ia lakukan. Setelah tiga kali latihan dan perbaikan akhirnya ia bisa. Hanna mendadak menjadi bersemangat. Tanpa sadar ia tersenyum lebar pada Sura.
“Aku bilang apa tadi kan.” Hanna tertawa lebar padanya. “Ayo ulang sekali lagi. Aku ingin merekamnya.” Hanna pun mengikutinya ke ruang rekaman. Ia bernyanyi dengan Sura sebagai rappernya. Entah kenapa ia merasa bahagia saat bisa menyanyi sendiri seperti itu.
"Apa aku alih profesi saja ya?" Sebuah gagasan aneh muncul di otaknya.
***