Tidak terasa sudah lima bulan saja Hanna berada di Korea. Waktu terlama yang pernah ia miliki untuk menetap di suatu Negara. Hal itu terjadi karena ia tidak memiliki pekerjaan yang mengharuskannya untuk berada di suatu tempat. Untuk sementara, ia cukup menyelesaikan dokumen-dokumen yang di emailkan kepadanya. Tentu saja ia tidak perlu berada di kantor. Hubungannya dengan anggota Star One juga berjalan lancar.
Sungguh di luar ekspektasi Hanna. Mereka rajin menghubunginya disela kesibukan. Bahkan terkadang ia juga curhat mengenai PD Nim pada Jun. Jun memang enak untuk diajak untuk bercerita. Mungkin karena dia menjadi member tertua di Star One. Meskipun dia bukan seorang leader tapi dia juga berbakat untuk menjadi leader. Terlebih usianya sekarang sudah 29 tahun atau 30 tahun untuk umur korea. Mereka juga pernah mengomentari foto yang ia unggah saat di Indonesia.
Satu bulan yang lalu Hanna baru saja balik dari Indonesia untuk sebuah acara yang diadakan oleh KBC. Entah kenapa, ia mendadak menjadi kru freelance di KBC semenjak terakhir kali bersama dalam acara Star One. PD Nim seringkali tiba-tiba meneleponnya secara mendadak. Dia sudah sama seperti bos Hanna di PBB. Persis sekali. Sama-sama suka bertindak semaunya. Hanna tidak bisa sama sekali untuk menolaknya. Memang jiwa tidak enakannya sudah mendarah daging sekali.
“Kembali bukan untuk singgah, apalagi menetap.” Tulis Hanna dalam caption sns untuk foto yang ia unggah. Hanna mengunggah sebuah foto berlatar Jogja. Lebih tepatnya 0 kilometer. Acara yang diadakan KBC kali ini memang berlokasi di Yogjakarta. Ini adalah sebuah acara bertema jalan-jalan. PD Nim menawarkan namanya pada PD untuk acara ini, jarena selain ia cakap saat bekerja. Hanna juga bisa berbahasa Indonesia. Entah darimana dia tahu. Hanna juga tidak paham.
"Palingan dia mengetahuinya dari Ae Ri."
Kali ini Ae Ri juga ikut. Alhasil foto yang ia unggah merupakan foto mereka berdua.
Hanna foto sembari membelakangi kamera dengan menggunakan tudung jaket untuk menutupi rambutnya. Sementara itu Ae Ri berpose menghadap ke kamera. Mereka meminta pacar Ae Ri yang juga merupakan kru kemeramen untuk mengambilkan gambar saat istirahat. Hanna langsung mengunggah foto setengah badan itu. Kali ini komentar yang datang lebih cepat dari dugaannya.
“Kamu di Jogja beb? Sampai kapan? Singgah ke Pekalongan dong. Aku masih di rumah.” Salah satu sahabatnya di waktu kuliah dulu berkomentar.
“Astaga. Kamu di Jogja tidak kasih kabar. Kamu dimana sekarang? Aku akan menemuimu.” Temannya yang lain ikut berkomentar.
“Aku ada pekerjaan di stasiun TV untuk sebuah progam. Aku di sini hanya tiga hari. Ini sudah hari kedua. Aku harus balik besok malam. Aku akan menemuimu nanti malam kalau syuting hari ini sudah selesai.” Hanna membalas komentar mereka.
“Fotonya bagus kak. Kakak bekerja dengan orang Korea ya?”
“Wah ternyata benar kakak bekerja dengan orang Korea. Berarti foto kemarin (foto saat aku di Cheongsando) itu di Korea.”
“Ini kan unni yang pernah di tag oleh kakak waktu foto di Cheongsando kemaren. Cantik ya.”
Hanna bersyukur Ae Ri tidak mengerti Bahasa Indonesia. Kalau mengerti, dia pasti sudah terbang saat membaca komentar ini. Ia yakin sekali dia akan mengungkitnya untuk waktu yang lama. Walaupun bisa saja dia melihat hasil terjemahannya. Tapi sepertinya dia tidak akan melakukannya. Mengingat ada ratusan komentar di sns milikku.
Hanna sendiri juga tidak sadar sejak kapan ia populer dan nyaris menjadi selebgram yang menerima endorse seperti itu. Tapi ia tidak pernah menerima tawaran untuk review produk atau sesuatu seperti itu. Karena ia sama sekali tidak berniat untuk menjadi selebgram atau sejenisnya.
“Kau berada di Indonesia, nuuna?” Jeno mengomentari postingannya. Ribuan orang langsung ikut berkomentar. Mendadak snsnya menjadi hang. Ada yang berspekulasi bahwa itu benar-benar Jeno. Ada juga yang berkata bahwa itu hanya akun fans yang memakai nama bias mereka. Mereka tambah heboh saat Jun ikut berkomentar. “Kau harus bawakan oleh-oleh saat kembali.” Hanna membalas komentar mereka.
“Siap nuuna dan dongsaeng. Tunggu aku kembali.”
Hanna sengaja memanggil mereka begitu agar orang-orang tidak curiga. Biarkan saja mereka mendadak menjadi perempuan. Salah sendiri ngapain berkomentar di akun media sosialnya. Hanna tertawa girang melihat ribuan komentar yang ada. Bahkan ia merasa seperti artis terkenal saja sekarang. Hanna heran dengan rasa keingintahuan orang. Di antara banyak komentar ada satu komentar yang menarik perhatiannya.
“Kamu sekarang di Jogja, Na? Kenapa tidak singgah. Sudah hampir empat tahun kamu tidak pulang kampung.” Itu adalah komentar yang datang dari abang sepupunya.
Hanna sedikit merasa bersalah pada keluarganya Semenjak kepergian ibunya dan kejadian yang menimpanya dulu. Hanna tidak pernah kembali lagi ke kampung halaman. Hanna selalu beralasan sibuk bekerja dan sebagainya saat ditanya mengapa lebaran tidak pulang. Meskipun ibunya sudah tidak ada. Hanna masih memiiki bibi, sepupu-sepupu, dan keluarga besar.
Terakhir kali ia bertemu dengan bibi adalah saat masih berada di Paris. Hanna mengundang bibi dan sepupu perempuannya datang untuk liburan. Hanna membelikan mereka tiket. Hanna merasa sangat bahagia waktu itu. Untuk pertama kalinya setelah dua tahun ia bisa menikmati masakan rumah lagi. Hanna dibawakan Rendang buatan rumah yang dimasak di tungku. Sejenak ia bisa melepas rindu akan ibu dan kampung halaman.
Sementara itu, terakhir kali ia bertemu dengan sepupu laki-lakinya adalah saat lulus S2. Bibi dan para sepupunta datang karena ia mengirim tiket. Hanna memutuskan untuk menghabiskan tabungan hasil beasiswa dan kerja paruh waktuku untuk mengundang keluarganya menghadiri hari spesial.
Mereka sebenarnya paham mengapa Hanna tidak mau pulang. Terlebih abang sepupunya yang dari zaman sekolah sudah sangat dekat dengannya. Bahkan yang membiayai kuliah S1nyanadalah dia, selain dari beasiswa yang ia terima. Dia juga adalah orang yang paling membenci Nanda. Dia sangat paham sekali dengan perasaan Hanna. Meskipun ia tidak memberitahukan rahasia besar padanya, yang cukup Hanna, Nanda, dan Tuhan saja yang tahu.
“Hanna akan cari waktu untuk pulang, bang. Mungkin lebaran ini. Doakan saja. Kali ini Hanna nggak bisa singgah. Hanna cuma dua hari di Jogja dan juga ini karena ada syuting di Jogja.”
“Baiklah. Bibi sudah kangen sama kamu. Lagipula sebentar lagi adalah lima tahun peringatan kematian ibumu. Jangan sampai tidak pulang. Btw memangnya kamu berhenti dari pekerjaan yang terakhir?” Yanuar dan keluarganya tahu kalau ia bekerja di PBB. Selebihnya tidak ada yang tahu apa pekerjaan Hanna. Orang-orang hanya tahu kalau ia suka kemana-mana. Tidak heran kalau Yanuar sampai heran melihat komentar kalau ia tengah syuting di Jogja.
“Nanti aku telepon abang. Hihi.” Hanna mengirim gambar emot cium. Ia memang suka usil sama sepupunya yang satu itu. Walaupun dia sudah mempunyai anak, tetap saja Hanna tidak bisa bersikap normal padanya. Begitu juga sebaliknya. “Awas saja kalau lupa. Abang bakalan spam.” Hanna terkikik-kikik membaca komentar Yanuar. Sudah lama sekali semenjak terakhir ia menghubungi bibi yaitu saat ia akan berangkat ke Korea.
Hanna tengah berada di warung kopi di dekat Malioboro. Sekarang sudah pukul 11.00 malam. Baru saja ia menyelesaikan pekerjaannya. setengah jam yang lalu. Sekarang ia tengah duduk di hadapan Naya dan Lidia. Dua sahabat karibnya yang masih berada di Jogja. Naya memang orang Jogja, sementara itu Lidia ikut suaminya yang bekerja di Jogja. Sebenarnya hal tabu, jika jam segini perempuan bersuami apalagi sudah punya anak masih berada di warung kopi. Tapi berhubung karena mereka sudah lama tidak bertemu. Suami mereka dengan segala kerendahan hati mengizinkan dan menemaninya.
Hanna merasa berterima kasih. Jujur saja, ia sangat merindukan sahabat-sahabatnya itu. Hanna langsung menangis saat bertemu mereka. Mereka juga menangis saat berpelukan. Tentu saja ia memakai hijab saat bertemu dengan mereka. Bedanya sekarang ia memakai celana jins dan memadukannya dengan sweater kebesaran yang menutup sampai lutut. Terlihat seperti saat ia memakai baju Sura. Karena ia tidak punya rok lagi. Jilbab ini saja ia beli saat istirahat syuting tadi siang. Hanna langsung meluncur ke pasar Beringharjo yang tidak jauh dari hotel tempat ia menginap.
Ae Ri sebenarnya ingin ikut, saat Hanna mengatakan ingin bertemu dengan teman-temannya. Tapi dia memutuskan untuk memberikan Hanna waktu untuk friend time. Hanna berterima kasih kepadanya. Dia memang yang paling mengerti Hanna, meskipun mereka baru berteman selama empat bulan ini.
“Ya ampun. Kamu tambah cantik aja say.” Naya berkomentar.
“Kasih tipsnya dong. Kamu pakai perawatan Korea yang mana.” Lidia tidak mau kalah. Aku tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan mereka.
“Aku tidak pakai perawatan apa-apa. Masih sama kayak dulu. Mungkin Korea memang berjodoh denganku.”
“Hahaha. Kalau begitu kamu cari suami orang Korea aja. Biar selalu awet muda.” Kami tertawa bersama-sama mendengar perkataan Lidia. Kami menghabiskan waktu untuk bernostalgia. Bercerita masa-masa kuliah dulu sampai cerita ngalor ngidul.
"Kamu inget ndak sih waktu kita kejebak mau masuk kelas malah salah jadwal," ujar Naya.
"Inget banget mah aku. Ampe dosennya heran. Kok anak muridnya beda, taunya malah senior yang salah jadwal masuk ke kelas junior," sahut Lidia.
Mereka juga sempat membahas Star One. Katanya mereka kaget saat melihat enam anggota Star One mengikutiku di i********:. Terlebih lagi terakhir kali Jeno dan Jun meninggalkan komentar dipostingan Hanna. Hanna berbohong pada mereka, mengatakan bahwa itu adalah akun fake teman-temannya yang sangat mengidolakan Star One. Untung saja mereka tidak bertanya lebih lanjut.
“Kamu sebenarnya kerja apa sih, Na? Kok aku lihat sebentar-sebentar sudah berada di sini. Sebentar-sebentar sudah pindah Negara saja.” Naya menatap Hanna dengan penasaran.
“Aku sebenarnya ikut tour waktu kuliah dulu. Memanfaatkan visa gratis sama teman-teman. Jadi kami memutuskan jadi backpacker jalan-jalan keluar negeri. Tapi aku menguploadnya bertahap. Kamu tahulah. Biar kelihatan keren gitu," dustanya.
“Berarti kamu kerja yang di stasiun tv ini?” Lidia menatapku penasaran.
“Iya. Sekarang aku kerja sebagai kru di KBS TV. Aku kerja di sana juga secara tidak sengaja. Sebenarnya aku berniat jadi dosen saja. Sayangkan sudah kuliah S2 tapi aku tidak memanfaatkannya. Tapi aku ingat kalau aku dulu sangat ingin bekerja di stasiun TV. Jadilah sekarang aku kerja di sana. Meski hanya sebagai kru.”
“Tidak masalah kamu kerja dimana saja. Asalkan kamu bersenang-senang dan tidak memikirkan masa lalu lagi.” Naya menggenggam tanganku. Hanna tersenyum penuh makna padanya. Kedua sahabatnya ini tahu sekali kejadian apa yang menimpaku sampai aku memutuskan untuk melarikan diri L.A.
Mereka melanjutkan cerita ngalur ngidul sampai jam 12.00. Akhirnya, pertemuan selama satu jam itu harus diakhiri. Hanna juga tidak ingin mereka terlalu lama meninggalkan anak-anaknya. Suami Naya berbaik hati mengambilkan foto mereka bertiga berlatar dinding cafe yang dihiasi tulisan dan interior yang apik itu.
"Foto ala anak muda," katanya. Mereka tertawa bersama-sama. Hanna juga mengambil foto selfie bertiga dan kemudian berlima. Hanna melambaikan tangan saat mobil mereka berlalu meninggalkannya sendiri di halaman hotel. Hanna menangis, tentu saja. Ia tidak menyangka, pertemuan ini akan terjadi setelah empat tahun berlalu.
Hanna duduk di bangku yang ada di taman di dalam hotel. Ia memandangi beberapa foto tadi. Hanna mengunggah foto bertiga yang diambil oleh suami Naya di sns.
“Tak pernah ada yang menyangka akan sebuah pertemuan dan perpisahan. Bahagia sekali bisa bertemu kalian kembali sahabatku. Empat tahun berlalu begitu cepat dan katanya sekarang aku terlihat paling muda. Hehe. Berharap punya waktu lebih lama di Jogja dan bertemu dengan keponakan. Tapi sayang kita cuma punya waktu satu jam untuk merajut kembali kenangan yang sempat terpotong selama empat tahun. Bahagia selalu ya para ibu. Semoga nanti bisa berkumpul bersama sahabat yang lain.”
“Hu… kalian berkumpul tanpa aku. Jahatnya.” Yona, sahabatnya yang tengah berada di Pekalongan langsung mengomentari postingannya.
“Maafkan aku beb. Andai jarak Jogja dan Pekalongan itu dekat.”
“Siapa suruh kamu ke Pekalongan.” Naya ikut berkomentar.
“Aku bahagia bisa ketemu Hanna.” Lidia ikut memanas-manasi Yona.
“Kakak cantik sekali. Tidak berubah dari dulu.” Komentar netizen lain.
“Akhirnya kakak posting wajah lagi setelah hampir empat tahun. Cantik masih tetap sama. Gaya tomboinya juga masih sama.”
“Dia perawatan di Korea. Wajahnya lebih muda dibanding kita bertemu dulu.” Naya berseloroh membalas komentar netizen di akun Hanna. Ia tertawa-tawa membaca komentar mereka. Belum ada like dari anggota Star One. Sepertinya mereka sudah tidur. Tentu saja. Sekarang sudah jam 02.00 di Korea.
Hanna memutuskan untuk kembali ke kamar. Bisa-bisa ia ketiduran untuk syuting besok subuh jika tidak berangkat tidur sekarang. Ae Ri sendiri sudah tidur saat ia kembali ke kamar. Hanna mengecek ponsel sekali lagi sebelum tidur. Tak ada pesan yang berarti. Akhirnya ia memutuskan untuk tidur.
***