Pahlawan Berkuda

2010 Kata
Hanna bisa bernafas lega saat melihat gedung KBS. Bus yang mereka tumpangi pun menuju parkiran gedung tersebut. Ia segera turun mengikuti kru lain. Sebenarnya ia ingin langsung pulang, tapi PD Nim mengatakan kalau mereka harus melakukan briefing terlebih dahulu. Padahal Hanna bukan bagian dari kru mereka. Tapi, karena PD Nim bersikeras, akhirnya ia mengalah dan memilih untuk mengikuti mereka. Ternyata briefing-nya juga memakan waktu yang lama. Mereka baru bisa pulang akhirnya pada pukul sepuluh malam setelah makan malam bersama. Hanna sedikit kewalahan menghadapi kru dan PD Nim yang terus-menerus memintanya untuk ikut minum alkohol. Gadis itu sama sekali tidak tertarik untuk mencoba alkohol. Tapi ia juga kesulitan untuk menolak. Terlebih saat ia mendapatkan hukuman setelah kalah bermain true or dare. Ia tambah tidak mempunyai alasan untuk menolak. Ia harus bersikap sportif. Tapi untung saja Jeno memutuskan untuk menjadi Kesatria malam ini. Dia sampai menggantikan Hanna untuk minum sebanyak empat kali karena ia terus menerus kalah. "Ayo Hanna- si. Aku memberikan minuman sebagai rasa hormat padamu sebagai senior," ujar PD Nim. Karena kau sudah menolongku saat di Cheongsando. Aku juga harus berterimakasih padamu." Dia terus menerus mendesak Hanna untuk minum di sela-sela mabuk. "Aku ikut bersulang dengan ini saja PD Nim. Hanna mengangkat gelas berisi jus yang ia minum. "Dasar lemah," ejek PD Nim. Hanna hanya menanggapinya dengan senyuman. Untung saja tepat sebelum jam sepuluh manager Star One berpamitan pada PD Nim karena Star One harus istirahat untuk jadwal lain di esok hari. Hanna menghembuskan nafas lega karena PD Nim juga membubarkan acara. Selain itu, dia juga sudah mabuk berat dan kru lain juga sudah kelelahan. Akhirnya tidak ada ronde kedua untuk acara makan malamnya. Hanna baru sadar kalau ia tidak mempunyai uang sama sekali sesaat setelah berada di halte bus. "Astaga, aku kan belum mendapatkan gajiku. Bagaimana caranya aku pulang," ratapnya. Sebenarnya PD Nim akan membayarkan gaji Hanna setelah acara makan malam selesai. Tapi dikarenakan dia mabuk berat ia tidak jadi memintanya. Hanna hanya menghela nafas panjang. "Alamat aku harus berjalan kaki pulang. Meminta jemput Ae Ri juga mustahil. Dia tengah berada di luar kota. Selain dia, aku tak punya kenalan lagi di Negara ini kecuali orang-orang yang terlibat dalam pekerjaanku. Aku tak sedekat itu untuk meminta tolong." Hanna terus menerus mengomel. “Sudahlah. Daripada aku sibuk mengoceh di sini. Lebih baik aku jalan kaki saja pulang. Semangat Hanna. Cuma satu jam kok.” Hanna mengepalkan tangan sembari tersenyum, menyemangati dirinya sendiri. Sebenarnya ia sangat lelah. Tiga hari ini ia hanya tidur tiga jam perharinya. Meskipun biasanya ia juga tidur selama itu. Tapi tetap saja berbeda. Beraktifitas di luar sungguh menguras energinya. Apalagi selama perjalanan pulang ia terus-terusan mengoceh karena ada saja yang mengajaknya berbicara. Memikirkan harus berjalan pulang sejauh itu membuatnya seketika ingin menyerah. "Apa aku tidur di jalanan saja ya hari ini. Kakiku penat sekali. Tapi aku juga tidak mungkin tidur di jalan di tengah cuaca seperti ini. Bisa-bisa besok aku masuk ke koran pagi. Ditemukan wanita tewas mengganaskan karena terkena peneumia akut. Terlebih aku juga tidak menggunakan mantel. Hanya sweater dari Sura saja yang menjadi tambahan penghangat di tubuhku. Ya sudahlah, daripada kebanyakan mikir lebih baik aku jalan saja." Hanna mulai melangkahkan kaki dengan mulut sibuk mengomel. *** “Bukankah itu Hanna?” Vlo menunjuk keluar. Member lain yang awalnya tidur-tidur ayam ikut melihat ke arah yang ditunjuk Vlo. “Iya. Dia ngapain jalan kaki?” Rein bergumam. “Kau lupa hyung? Dia kan bilang kemaren itu, kalau dia tidak membawa uang sama sekali saat ikut kita. Terlebih tadi sepertinya PD Nim belum membayar bagiannya.” Jeimin menjelaskan. “Kasihan sekali dia. Kenapa tadi kamu nggak bilang? Kita kan bisa memberikan uang padanya. Sekarang bagaimana? Apa kita berikan tumpangan saja?” Jacop memandang kepada manager mereka. “Kau mau berada dalam masalah?” Manager memandang balik pada Jacop. “Tapi kasihan. Masak kita membiarkan perempuan jalan sendirian jam segini. Terlebih kita tidak tahu berapa jauh rumahnya.” “Kalau begitu hyung tolong berikan ongkos taxi saja buat dia.” Jun menengahi sebelum mereka saling berdebat. Manager mereka setuju. Dia menghentikan mobil tepat di pinggir jalan dekat Hanna berjalan. Ia berjalan mendekati Hanna. *** Hanna kaget ketika tiba-tiba seseorang menepuk bahunya. Ia sama sekali tidak menyadari ada yang mengikuti, karena ia berjalan sembari memakai headsfree. Reflek saja ia langsung membantingnya dengan satu tangan. Hanna berniat untuk mengunci kembali leher orang tersebut, namun urung saat menyadari siapa yang menepuk bahunga. Seketika ia langsung merasa bersalah. “Maaf subaenim. Aku tidak tahu kalau itu anda.” Hanna membungkuk dengan penuh penyesalan. Terlebih melihat wajah manager yang meringis kesakitan. “Kau harus membantuku berdiri.” Dengan canggung Hanna langsung membantu manager Star One itu berdiri. “Astaga, pinggangku. Kau kuat sekali.” “Sekali lagi maafkan aku. Aku reflek saat menyadari ada yang memegang bahuku.” “Ya. Aku paham. Baguslah kalau kau bisa bela diri. Sangat berbahaya bagi perempuan berada di jalan jam segini. Ngomong-ngomong kau tinggal dimana?” Hanna langsung menyebutkan sebuah lokasi apartemen. “Astaga, itu akan makan waktu setengah jam pakai mobil. Apalagi berjalan kaki.” Hanna hanya tersenyum. Manager menyerahkan uang padanya. “Anak-anak menyuruhmu untuk naik taxi. Sebenarnya mereka ingin memberi tumpangan. Tapi aku melarang. Kau tahu sendirilah kan alasannya.” Hanna mengangguk-angguk. Sebenarnya ia tidak mau menerima uangnya. Tapi ia juga tidak dalam kondisi bisa menolak bantuan orang untuk saat ini. Ia terlalu lelah untuk berkompromi dengan nasib sial yang tengah ia alami. "Tolong sampaikan terimakasihku pada mereka, subaenim." Dia mengangguk. "Hati-hati di jalan. Langsung pulang saja dengan taxi. Jangan menunggu bus lagi, sepertinya bus terakhir juga sudah lewat." Hanna kembali mengangguk mengiyakan. Dia kemudian meninggalkan Hanna untuk kembali ke mobil dengan tertatih-tatih. Hanna curiga jangan-jangan salah satu tulangnya ada yang patah. Tadi itu ia membantingnya dengan cukup kuat. Hanna kembali membungkuk hormat saat mobil yang ditumpangi Star One melaju. *** “Daebak. Astaga. Aku kaget sekali.” Jacop langsung heboh saat melihat manager mereka dibanting. Sura yang tadi tidur langsung terbangun dan ikut melihat ke arah sumber keributan mereka. “Pasti sakit sekali itu.” Jun ikut berkomentar. “Hanna nuuna memang keren.” Jeno memandangi keluar dengan berbinar-binar. Sementara Sura memandangi mereka dengan bingung. Dia tidak mengetahui apa yang sudah terjadi. “Kau lihat itu, hyung. Calon istrimu selain pintar juga jago bela diri.” Jeimin memandang Sura yang masih tetap bingung belum memahami hal apa yang sudah dia lewatkan. Mereka melambaikan tangan dengan semangat saat mobil mulai melaju meninggalkan Hanna. “Pasti sakit sekali yang tadi, hyung?” Jacop bertanya sembari terkikik. “Kau mau mencobanya? Aku bisa meminta Hanna datang ke agensi besok.” “Tidak. Cukup hyung saja.” Mereka tidak bisa berhenti menertawakan managernya. “Kalian jahat sekali padaku.” Dia merajuk. Bukannya meminta maaf, tawa mereka malah tambah keras. "Awas saja kalian nanti. Aku akan membuat Hanna menghajar kalian juga," gerutunya. "Aku yakin Hanna nggak akan tega melakukannya kepada kami," sahut Vlo. "Lalu dia tega gitu sama aku?" "Ya kalau dia tahu siapa kau hyung, dia juga tak akan melakukannya. Tadi kan dia hanya tidak sengaja saja. Makanya kau sampai mengalami nasib sial." Jeimin terus menertawakan managernya. "Kalian durhaka. Pokoknya aku nggak mau tau. Malam ini kalian harus bantu membersihkan kamarku." Semuanya mendadak pura-pura tidak mendengar omongan managernya. "Kalian jahat," tambahnya yang semakin kesal karena badannya sakit semua. Ia curiga beberapa tulangnya retak. Ia sama sekali tak menyangka bantingan Hanna akan sekuat itu. *** Hanna merebahkan tubuh di atas kasur. “I miss you my bad." Hanna tidak berniat untuk membersihkan wajah apalagi mengganti baju. Ia terlalu lelah untuk melakukan itu. Ia langsung tidur dengan memakai baju Sura yang setia melekat padanya selama beberapa hari ini. Untuk pertama kalinya ia bisa tidur lebih dari enam jam. Kali ini ia bahkan tidur lebih dari 12 jam dan tentu saja tanpa mimpi buruk. Alasan kenapa ia hanya tidur paling lama tiga jam perhari adalah karena ia selalu mengalami mimpi buruk setiap malam. Mimpi yang sama yang terus menerus menghantuinya. Mimpi yang membuatnya tak bisa tidur tanpa obat tidur. Jika dipikir-pikir selama syuting tidurnya juga enak. Awalnya ia menduga hanya karena kelelahan. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, saat ia tugas di daerah perang ataupun sedang ada banyak tugas pun, ia juga tidur dalam keadaan lelah. Tapi tetap saja ia akan bermimpi buruk. Tapi selama tiga hari ini ia tidak bermimpi sama sekali. "Apa karena aku memakai baju Sura? Tapi apa hubungannya?" Hanna kemudian mengenyahkan pikirannya itu. Hanna tidak bisa mengingat dengan jelas mimpi yang selalu ia alamai setiap kali bangun. Ia hanya ingat ada seorang perempuan yang sepertinya adalah dirinya sendiri tengah menangis tersedu-sedu di atas tanah. Terlihat orang-orang ramai menghujat dan melemparinya dengan batu dan segala macam benda yang bisa mereka raih. Mereka terus berteriak. “Pergi dari sini pezina. Kami tidak butuh orang sepertimu menjadi bagian dari kami.” Hanna seperti melihat teman-teman pondoknya, ustad-ustad, keluarga besar bahkan juga teman-teman kampusnya. Hanna menutup telinga dengan rapat. Ia tak ingin mendengarkan ucapan mereka. Hanna bisa melihat di sela darah yang mengalir dari kepalanya, Bang Nanda, isteri, dan keluarganya memandangnya dengan sinis. Hanna mengepalkan tangan. Ia bersumpah dalam hati. 'Dia juga akan menerima penderitaan yang sama denganku.' Hanna selalu terbangun dengan badan penuh keringat. Ia tidak bisa mengingat mimpi itu dengan jelas saat terbangun. Jika sudah demikian, ia memilih untuk tidak melanjutkan tidur lagi. Takut mimpi yang sama akan kembali menghantuinya nanti. Begitulah keseharian Hanna selama empat tahun ini. Hanna terbangun keesokan harinya akibat telepon dari PD Nim. “Siapa yang nelpon pagi-pagi kayak gini.” Ia mengumpat dalam bahasa Indonesia. Tanpa melihat siapa yang memanggil. Ia langsung mengangkat teleponku. “Hallo?” Hanna merasa suaranya sangat serak. “Astaga, anak gadis masih tidur jam segini.” Hanna bisa mendengar dengan jelas teriakan PD Nim dari seberang. “Ini masih subuh PD Nim. Ada apa menelepon saya?” “Subuh darimana ini nona. Ini sudah lewat tengah hari.” Hanna perlu mencerna ucapan PD Nim. Ia kemudian melihat jam di hp. Matanya sukses terbuka sempurna. Ia langsung duduk di atas kasur. “Ada apa PD Nim?” “Segera ke kantor. Aku akan membayar gajimu.” Astaga pria ini meneleponnya hanya untuk masalah gaji. Tapi ia mengiyakan juga. Gadis itu kemudian bergegas mandi dan berganti baju. Sebenarnya ia berniat untuk mencuci baju Sura dan mengembalikannya tapi tidak sempat. Ia kemudian menyambar dompet dan memasukkannya ke dalam tas. Satu hal yang ia pelajari dari kejadian kemaren. 'Aku tidak boleh kemana-mana tanpa membawa uang.' Hanna menaiki bus menuju KBC. Sebenarnya ia bisa saja memakai mobil Ae Ri. Tapi iatidak suka menyetir. Terlebih jika ia yang menyetir, bisa saja aku kembali mengirim diriku ke kantor polisi. Ia kerap kali lupa diri saat menyetir. Hanna memandang gedung KBC dan memotretnya sebelum masuk. Seorang penjaga menghentikannya karena ia tidak membawa tanda pengenal. “Saya ke sini atas panggilan PD Nim.” Benar dugaannya nama PD Nim memiliki efek yang hebat. Hal itu terbukti lagi sekarang. Sebenarnya berbahaya juga sih, kalau sampai orang yang jahat yang mengetahui nya dan memanfaatkan situasi. Tanpa banyak tanya lagi, penjaga langsung membukakan plang besi yang menghalang dengan kartu identitasnya.Hanna berjalan-jalan santai sembari menengok kanan kiri. Akan sangat rugi jika tidak memanfaatkan kesempatan yang ia punya. Kapan lagi ia bisa masuk stasiun TV KBC dengan santai seperti ini. Hanna tidak sekali ini masuk stasiun TV, tapi ia belum pernah masuk stasiun TV yang ada di Korea. Hanna baru pertama kali masuk saat dibawa Ae Ri kemaren. Itu pun juga berakhir drama sekali. Ia juga pernah melakukan wawancara dengan stasiun TV Korea, tapi itu saat ia tengah berada di gedung biru. "Hua, ada banyak sekali prostee artis." Gadis itu tampak jingkrak kegirangan. Tiba-tiba ia melihat Sura lewat dari kejauahan. Ia ingin mengintrogasinya. Tapi ia sama sekali tidak melakukan kesalahan. Gadis itu tak mempunyi hak untuk ikut campur. "Yah, gadisnya cantik banget lagi. Sangat pantas untuk Sura. Kalau dibandingkan dengan aku. Malah terlihat seperti langit dan bumi." Hanna kembali menghela nafas berat. "Astaga. Apa sih yang aku pikirkan? Harusnya aku tidak membandingkan diri seperti itu. Seolah kayak orang cemburu saja." Hanna tertawa sendiri menanggapi kekonyolannya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN