Melamar

2075 Kata
Hanna duduk di meja yang berada di pojok restoran. Beberapa kru tampak menyusul tak terkecuali anggota Star One. Mereka bernafas lega karena bisa makan setelah kejadian tadi. Semua orang tidak bisa beranjak dari hadapan PD Nim kalau dia sudah marah. Anggota Star One bergabung dengan Hanna. Mereka tampak masih menunggu pesananan. Hanya ada mereka di restoran karena penginapan sudah di booking untuk kru dan yang berkepentingan saja. “Wah, kau keren sekali tadi Hanna.” Jacop mulai berbicara. Ia menatap Hanna dengan takjub, persis seperti anak Anjing yang minta diberikan sesuatu. “Aku tidak mengira kau bisa meng-hack seperti tadi.” Rein juga ikut berkomentar. “Tampaknya tidak ada yang tidak bisa kau lakukan.” Jun ikut menyambung. “Kau mau mengajarkanku nuuna?” Jeno memandanginya dengan berbinar-binar. Hanna menghela nafas dengan berat. 'Astaga, aku mulai membuka satu persatu kedokku.' Hanna tidak suka ada banyak orang yang mengetahui rahasianya. “Kau harus membayar mahal untuk mendapatkan ilmu dariku.” Hanna berbicara asal. Ia sama sekali tidak berminat untuk mengajarkannya. “Tentu saja. Kau akan mendapatkan bayaran yang mahal. Kau juga bisa meminta apapun yang kau inginkan nuuna.” “Benarkah?" Dia mengangguk penuh antusias. "Kalau begitu aku mau menikah dengan Sura oppa.” Hanna kembali menjawab dengan asal karena perutnya lebih menarik untuk di isi dibandingkan dengan meladeni Jeno. Ia bahkan tak memikirkan apa yang sudah ia ucapkan. Ia kaget saat mendengar tawa anggota Star One yang langsung meledak mendengar ucapannya tadi. Sementara Sura memandanginya dengan wajah yang sulit diartikan. Hanna kemudian mengingat-ingat kalau ia sudah salah bicara. Tapi ia bersikap pura-pura bodoh agar tidak malu. “Astaga. Kau lucu sekali.” Jun mengacak rambut Hanna atau lebih tepatnya topi kupluk yang digunakan gadis itu. “Ya.. Aku lagi makan oppa. Jangan mengganggu.” Hanna merenggut sebal karena Beanie- nya langsung lepas. Ia buru-buru memasangnya kembali meskipun akhirnya rambut panjangnya langsung terurai yang membuat mereka berhasil melihatnya. Sekilas ia bisa melihat wajah Sura tampak memandanginya dengan takjub. Entah perasaannya saja atau memang kenyataannya seperti itu. “Maaf. Maaf. Habisnya baru kali ini aku menemui perempuan yang melamar laki-laki dengan wajah tanpa ekspresi seperti itu.” “Benar sekali. Banyak fans yang mengucapkan hal aneh selama ini termasuk mengajak menikah. Tapi mereka pasti akan salah tingkah dan malu-malu atau malah bertindak agresif. Jadi apa jawabanmu, hyung?” Jeimin bertanya pada Sura. “Jawaban untuk apa?” Sura balik bertanya dengan muka datar. Dia tampaknya kurang senang. Atau memang nada bicaranya seperti itu. “Kau baru saja dilamar lo.” Jun menambahi. “Benarkah?” 'Astaga!' Hanna gemas sendiri melihat wajah datarnya. “Dasar hyung tidak peka,” ujar Vlo. “Kalau begitu bawa saja surat-suratnya ke kantor pencatatan sipil.” Tawa anggota Star One kembali meledak mendengar ucapan yang keluar dari mulut Sura. Wajahnya tetap saja datar meskipun yang lain sudah hampir menangis karena tertawa. “Kau dengar itu nuuna. Sura hyung memintamu untuk mengurus surat-suratnya.” Jeno memandangi Hanna dengan geli. “Aduh, sayang sekali. Aku tidak punya surat-suratnya.” Hanna memutuskan untuk mengikuti permainan. “Memang surat-suratnya ada dimana?” Jeimin bertanya dengan polosnya. “Bukankah oppa tadi juga mendengarnya sendiri kalau aku bukan asli Korea.” “Jadi benar kalau kau berasal dari New York?” Rein memandangi Hanna dengan penasaran. “Tapi wajahmu tidak seperti orang Amerika. Atau kau berdarah campuran?” “Tidak. Tapi bisa dibilang kalau kewarganegaraanku sekarang memang New York.” “Jadi kalau begitu. Laki-laki tadi pacarmu dong?” Jun menimpali. Tapi nada bicaranya malah terdengar seperti orang yang kecewa. “Hahaha. Maksud oppa si Kevin tadi? Mustahil sekali kalau aku dan dia akan mempunyai hubungan seperti itu. Bahkan mungkin tidak ada perempuan yang bakalan mau sama dia.” “Kenapa? Jangan-jangan dia belok?” Jacop berteriak. Hanna tertawa mendengar istilah yang digunakannya. “Masih untung kalau dia masih mau mencintai manusia. Dia lebih cinta sama laptopnya. Dia juga bakalan lebih memilih untuk berkencan dengan laptopnya dibandingkan dengan perempuan seksi sekalipun. Aku yakin suatu saat dia akan menikahi laptopnya itu. Oppa kan dengar sendiri tadi, bagaimana dia memanggil laptopnya dengan sebutan Jessika-ku.” Hanna bergidik sendiri membayangkan tingkah laku Kevin saat di kantor ketika tengah bersama dengan laptopnya. Ia memang terbiasa tapi ia tak pernah bisa terbiasa. Acap kali mereka bertengkar karena Hanna tidak suka melihat cara Kevin memperlakukan laptopnya. Tawa anggota Star One kembali meledak tak terkecuali Sura. Hanna sedikit takjub saat melihat Sura tertawa. 'Ternyata dia bisa tertawa dengan manis seperti itu.' “Jadi kau ngapain di Korea?” ujar Sura. Hanna kaget mendengar kalimat itu keluar dari mulut Sura. Atau bisa dibilang kalau ia kaget mendengar laki-laki itu berbicara. Itu ucapan terpanjang yang pernah keluar dari mulutnya sejauh ia mengenalnya. Kecuali di depan kamera, dia jarang sekali bersuara. Paling dia berbicara pada Hanna hanya saat ingin meminta tolong melakukan sesuatu. “Cie.. Sura hyung mulai penasaran.” Jeno mulai memanas-manasi suasana. “Aku hanya membantu kalian dalam mengungkapkan isi pikiran.” Sura mencoba membela diri. “Arasso-arasso.” Vlo mengangguk-angguk penuh arti dan terkikik-kikik saat beradu pandang dengan anggota lain. “Aku ada sedikit pekerjaan di Korea.” Hanna tak berniat untuk menjelaskannya. Ia bersyukur karena tidak perlu menjelaskannya saat manajer mereka datang memberitahukan bahwa mereka perlu melakukan syuting untuk Vi-Live. Untung saja mereka telah selesai makan, jadi tidak ada alasan untuk tetap di sini. Sepeninggal mereka, Hanna melanjutkan makannya atau lebih tepatnya ia menambah pesanan untuk balas dendam karena kelaparan beberapa hari ini. Terakhir, ia juga memesan Ice Cream, menu wajibnya setelah semua hidangan tandas berpindah ke perutnnya. "Ternyata enak juga ya makan setelah bekerja keras selama beberapa hari. Bekerja di luar benar-benar menguras energiku," gumamnya sendiri. Sekarang adalah hari terakhir syuting dan pemotretan. Sudah tiga hari ia terdampar di pulau dengan segala kesibukan yang entah kapan selesai itu. Hanna sangat bosan. Ia ingin segera kembali ke kamar dan bertemu dengan laptopnya. Sepertinya ia sudah tertular virusnya Kevin. Semenjak berpisah dengan Nanda. Ia lebih suka menyendiri dibandingkan berpetualang. Hanna yang dulu suka sekali jalan-jalan, sekarang jadi tidak begitu tertarik dengan dunia luar. Meskipun kenyataannya ia sudah pergi kemana-mana. Hanna banyak mengambil gambar untuk koleksi. Selain itu, tentu saja untuk ia upload di akun media sosial pribadi miliknya. Hanna sengaja melakukannya seolah ingin balas dendam pada orang-orang yang dulu meremehkannya, termasuk Nanda. Dia masih sering melihat story Hanna. Atau lebih tepatnya dia tak pernah absen melihat story- nya. Termasuk story yang baru saja ia bagikan. Hanna selalu meng-update story terbaru atau foto terbaru setiap kali ia pindah Negara. Tiga hari berada di pulau ini, juga tak luput dari story- nya. “Meski pada awalnya kesal sama @ae-riieoppo karena membawaku terlibat dalam pekerjaannya. Tapi aku bersyukur atas tiga hari yang berharga ini. Aku bisa berada di antara bintang yang dulu hanya bisa menjadi angan masa remaja para gadis. Meski terkadang mereka bisa juga menyebalkan tapi mereka selalu bisa membuatku tertawa. Gomawo **.” Tulis Hanna di caption. Sengaja menambahkan bintang dua untuk pengganti inisial Star One. Hanna meng-upload foto taman bunga dengan back ground laut dengan tangan yang tengah memegang kalung peninggalan ibunya. Langsung saja ribuan orang menyukai foto itu meskipun baru dia unggah selama beberapa jam. Hanna mulai memiliki banyak penggemar semenjak ia meng-upload foto pertama saat kuliah di Harvard. Tak hanya like, teman-teman lamanya juga ikut berkomentar. “Wah, jalan-jalan lagi neng. Kapan pulang ke Indonesia? Udah kangen.” komentar salah seorang sahabat kuliahnya di Indonesia dulu. “Sekali-sekali undang kita dong ke sana.” “Kali ini kamu dimana beb? Aku rindu. Rindu masa kuliah dulu.” “Kan sudah kubilang. Kau nggak bakalan menyesal mengikutiku bekerja. Aku iri kau bisa bersama mereka selama tiga hari. Terkutuk nasibku yang harus menghadapi pekerjaan lain. Seharusnya aku juga bisa menikmati indahnya Cheongsando.” Hanna segera membalas komentar Ae Ri. “Itu akibat karena kau kualat padaku dan pada *****. Aku masih belum memaafkanmu. Lihat saja nanti kalau pulang.” Hanna kembali memberikan bintang-bintang untuk menunjukan iniasial PD Nim. Ia melanjutkan membaca komentar sembari tertawa-tawa sendiri saat menemuka komentar orang yang lucu dan terkadang harus memasang tampang datar saat membaca komentar negatif. Haters memang selalu ada dimana-mana. “Wah, kelihatannya kau bahagia sekali.” Jun yang duduk disebelahnya mengomentari tingkah Hanna. Mereka tengah berada di atas mobil menuju Seoul. Jun mengintip ponsel Hanna. “Kau juga bermain sns?” “Tentu. Aku sudah bermain sns semenjak dalam kandungan.” Gurau Hanna. “Daebak. Berarti ibumu adalah pencipta media sosial dong," ujar Jacop. Hanna tertawa keras mendengar ucapan Jacop begitu juga dengan member lainnya, lupakan Sura di dalamnya. Karena sedari tadi dia tidur. “Follow ig-ku. Nanti aku follback.” Vlo memandangi Hanna dengan serius. “Arasso. Arasso. Tapi oppa tidak perlu follback.” “Wae?” “Bisa-bisa nanti saat aku baru menginjakan kaki di Seoul, aku langsung R. I. P.” “Hahaha. Tenang saja. Penggemar tidak tahu kalau itu adalah akun kami. Mereka hanya tahu kalau kami hanya memakai twitter.” Rein mencoba menenangkan pikiran mengerikan Hanna. “Kalau begitu baiklah." Ia mulai mengikuti satu persatu akun mereka sesuai dengan yang disebutkan oleh Jun. Dalam beberapa detik mereka langsung follback. Hanna sendiri kaget karena Sura juga ikut follback. Padahal ia mengira laki-laki itu tengah tidur di belakang. “Wah, daebak. Ternyata kau sudah kemana-mana ya. Argentina, Yaman, San Fransisco, Paris, Jepang.” Vlo menyebutkan banyak Negara yang telah dikunjungi oleh Hanna. Baik untuk urusan pekerjaan yang memakan waktu lama ataupun sekedar singgah untuk menyelesaikan sedikit urusan. Hanna tidak pernah menandai lokasi saat meng-upload. Tapi orang-orang akan tahu ia dimana begitu melihat postingan Hanna yang cenderung selalu berfoto di tempat populer suatu negara. “Kau muslim?” Tiba-tiba Rein bertanya. “Bisa dibilang begitu.” Hanna menatap Rein. Member lain mulai tertarik mendengar jawaban Hanna. “Mana?” Jeno antusias. “Kau bisa melihat sendiri postingan-postingan awalnya.” Jeimin berkomentar. Memang benar Hanna tidak pernah lagi meng-upload foto dirinya sendiri semenjak ia di luar negeri kecuali terlihat dari belakang dengan memakai tudung jaket atau sesuatu yang bisa menyembunyikan bahwasanya sekarang ia tidak lagi memakai jilbab. Hanna masih belum berani menunjukkan pemberontakannya pada orang-orang terdekat. Baginya, itu terlihat seperti ia tengah menunjukkan kelemahannya sendiri. Meskipun ia tidak memakai hijab, ia masih shalat tanpa diketahui orang. Hanna juga tidak pernah memperlihatkan rambutnyanmeskipun ia sering memakai celana pendek sampai di bawah lutut. Ia selalu menyembunyikannya dengan baik dibalik topi rajutnya. Hanna tahu, orang-orang akan berkomentar negatif terhadap dirinya. Ia akan terlihat seperti orang yang tidak memiliki prinsip. Orang-orang pasti berfikir, apa gunanya ia menyembunyikan rambut kalau kenyataannya ia bahkan memakai pakaian yang hanya menutupi sampai lutut saja. Hanna tidak peduli. Ia hanya membiarkan keyakinan setengah-setengah itu bertahan. Ia tidak mempunyai niat sama sekali untuk mempermainkan agama. Tapi ia tengah membiarkan dirinyamengikuti alur. “Kau kelihatan cantik saat memakai hijab. Terlebih saat memakai toga. Kau terlihat seperti perempuan anggun ketika memakai make-up.” Jeimin berkomentar. “Terimakasih oppa. Ngomong-ngomong aku memang perempuan, tentu saja aku cantik.” “Kau sama sekali tidak pernah terlihat seperti perempuan dengan pakaianmu itu. Kau tak akan bisa mengambil hati Sura kalau berpakaian seperti laki-laki kayak gitu.” Jun menguliahinya. 'Astaga bayolan konyol mereka sepertinya akan terus berkelanjut. Sekarang aku dijodoh-jodohkan dengan Sura semenjak aku mengatakan ingin menikahinya.' “Aku tidak berniat untuk menjadi orang lain agar bisa mendapatkan hati manusia.” “Hahahaha. Pemikiran yang bagus.” Rein mengacungkan jempol padanya. Sepertinya mereka juga penasaran mengapa ia sampai melepas hijabnya. Tapi mungkin mereka merasa kalau itu adalah privasi, jadi mereka mengurungkan niat untuk bertanya. Padahal Hanna merasa biasa saja kalau memang mereka penasaran. Mungkin karena kultur yang berbeda antara Indonesia dan Korea. “Kau juga sering mendaki gunung, nuuna?” Jeno terlihat sangat bersemangat. Pasti dia melihat foto ketika ia mendaki puncak Averest atau foto-fotonya di masa sekolah dan kuliah dulu. “Bisa dibilang itu hobiku.” “Daebak. Lain kali kau harus mengajak Rein.” Jun berkomentar. “Kenapa?” “Dia pernah dapat hukuman mendaki gunung bersama Vlo dulu.” Hanna tertawa mendengarnya. "Aku kira ada alasan khusus. Memangnya kenapa? Kok bisa Rein oppa mendapatkan hukuman seperti itu." "Haha. Dia kalah dalam game, jadi dia harus mendaki gunung subuh-subuh agar bisa melihat Matahari terbit." Hanna tertawa mendengarkannya. Perjalanan pulang mereka dipenuhi oleh canda tawa dan cerita yang tak ada habis-habisnya dari mereka. Mereka senang sekali membuat ulah konyol yang dapat membuat Hanna sakit perut karena kebanyakan tertawa. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN