Dituduh

2017 Kata
Akhirnya pembuatan MV selesai tepat sebelum makan siang. Hanna menghembuskan nafas lega. Ia sangat berharap bisa segera bertemu dengan makanan. Tapi tampaknya Tuhan belum berpihak padanya. PD Nim tiba-tiba memanggilnya. Ada masalah pada foto pemotretan tadi. Mereka tidak bisa menemukan foto-foto tersebut. Terlebih yang di kamera juga sudah dihapus. PD Nim terlihat kesal, ia pasti tengah menahan amarah. Hanna merasa ada yang aneh. Bagaimana mungkin foto-foto itu bisa hilang begitu saja. Ia sangat yakin sudah memindahkannya dengan benar. Karena mereka tidak menggunakan pemindahan otomatis melainkan manual. Makanya Hanna memastikan berkali-kali bahwa fotonya sudah disimpan dengan baik di dalam folder yang seharusnya. Hanna yakin sekali bahwa ia tak salaha. Terlebih tadi anggota Star One juga ikut melihat foto hasil pemotretan mereka langsung dari laptop. Keributan langsung terjadi dan Hanna hanya bisa menunduk tak bisa membela diri. Atau lebih tepatnya ia belum bisa membela diri karena PD Nim terus mengoceh. Jun oppa dan anggota lain mendekat. Penasaran dengan apa yang terjadi. Mereka melupakan keinginan untuk pergi makan begitu melihat Hanna menekuk muka dan mengorek-ngorek tanah dengan ujung sepatu yang ia kenakan. “Ada apa PD?” Ujar Rein. “Pemuda perempuan ini mengacaukan semuanya. Semua foto-foto hasil pemotretan semenjak kita di sini hilang semuanya. Aku salah besar menyuruhnya memindahkan.” “Bagaimana bisa hilang? Bukankah tadi masih ada? Bahkan kami ikutan melihat hasilnya. Tidak mungkin hilang begitu saja," ujar Vlo. "Kau yakin saat dia memindahkan tadi, semua foto masih ada?" "Yakin sekali. Kami bahkan mengeceknya berulang kali," sahut Jacop. “Kalau begitu hanya ada satu alasan kenapa bisa hilang.” PD Nim tambah meradang. “Kau sengaja menghapusnya kan? Katakan padaku kau diperintahkan siapa? Kau.. jangan-jangan kau mata-mata. Aku bodoh sekali, mempercayai orang yang baru pertama kali bertemu.” Dia memuntahkan semua ucapan yang sedari tadi masih ditahan-tahan sembari menunjuk-nunjuk Hanna dengan wajah memerah menahan amarah. Hanna yakin dia akan meledak sebentar lagi. Hanna langsung menatapnya dengan wajah tidak terima. Ingin sekali ia menyembur PD Nim dengan api atau mendorong dia ke dalam lautan es. Tapi ia harus menahan diri. Ia harus bisa mengontrol emosi. Kalau tidak begitu, semua akan kacau. “Maaf sebelumnya PD, aku tidak pernah menghapus foto-foto itu.” Dengan susah payah akhirnya kata-kata itu meluncur dari mulut Hanna. Ia sebenarnya sudah terbiasa dengan situasi seperti ini. Mengingat pekerjaannya yang membuat Hanna harus selalu berhubungan dengan orang-orang dengan ragam sifat. Tak jarang dia harus menemui orang yang terkadang menggila karena tidak bisa menerima keputusan yang telah disepakati bersama. “Lalu mengapa foto-foto itu bisa hilang? Bukankah kau yang terakhir kali memegang laptop untuk memindahkannya? “PD Nim yakin kalau aku yang memegangnya terakhir kali?” Hanna bertanya dengan raut wajah setenang mungkin. “Tentu saja. Tak ada lagi yang memegangnya sampai aku memeriksanya.” “Maaf PD. Tapi apa buktinya kalau aku yang memegangnya terakhir kali? Bahkan rentang waktunya saja sudah hampir satu jam. Sangat besar kemungkinan kalau orang lain juga memegangnya.” “Tidak ada. Aku sudah memeriksa semua rekaman kru lain bahkan rekaman cctv. Tak ada yang memegang laptopku." Ya kami sekarang sudah berada di penginapan dan keributan itu terjadi. Hanna menarik nafas berat. “Aku tidak merasa sudah menghapusnya. Kalau begitu ada satu kemungkinan lain yang terjadi dengan foto-foto itu. Laptop anda sudah diretas.” “Bagaimana mungkin?” “Mungkin saja selama ada jaringan wifi di laptop anda. Seseorang bisa saja meretasnya dari mana saja. Boleh saya lihat laptopnya?” PD Nim menyerahkannya pada Hanna dengan kasar. Hanna tidak peduli, yang penting sekarang ia harus membersihkan namanya sendiri. Ia mulai memeriksa tempat file dimana foto-foto tadi berada. Begitu juga dengan ricycle been-nya. Memang tidak ada jejak yang tertinggal. Hanna melihat WiFi-nya. Ternyata memang hidup. Bukan tersambung dengan WiFi pribadi tapi milik publik. Sangat rentan diretas. Hanna meraba lehernya. Kemudian membuka pengait kalung yang tengah dia pakai. Ia mengeluarkan bandul berbentuk kotak bulat kecil yang sebenarnya adalah flash disk yang berisi program. Hanna biasanya menggunakannya untuk bekerja, hanya disaat terdesak. Karena biasanya ada Robert yang melakukannya untuknya ataupun orang lain yang memang bekerja dibagian itu. Hanna sendiri belajar meretas dari Robert yang terkenal dengan nama Black Knight. Ia seorang hacker hebat yang sangat terkenal di dunia hacker. Ia mulai menjadi hacker gelap semenjak usianya 8 tahun dan berakhir saat PBB menemukan bakatnya dan merekrutkan menjadi ahli peretas resmi di PBB. Hanna mulai mengotak atik laptop. Sesuai dugaannya sebelumnya, ia menemukan virus yang dikirim dari luar negeri. Sepertinya pelakunya masih dari negara ini walaupun server yang digunakannya adalah server luar negeri. Pengetahuan dasar di dunia ini. Kau tidak boleh terkecoh dengan gambar yang ada di depanmu. Ada kemungkinan lain yang dapat disembunyikan. Hanna lanjut mengotak-atik laptopnya. Ia tidak mengacuhkan keadaan sekeliling. Kebiasaan yang ia miliki kalau sudah fokus dengan laptop. Hanna bahkan tidak sadar kalau ia sudah melakukan itu selama setengah jam. Cukup sulit kali ini. Tampaknya pelakunya professional. Sepertinya dia berniat untuk menjualnya dengan harga yang mahal. Gadis itu kemudian melihat ke sekeliling. “Ada yang bawa kabel data?” Tanpa banyak tanya seorang kru menyerahkannya pada Hanna. Ia menghubungkan kabel data dengan HP yang sebenarnya juga menyimpan program. Program rahasia yang diberikan Robert padanya yang tentu saja hanya Hanna yang bisa mengaksesnya. Program itu sama dengan program di flash disk, jika ada yang berusaha membuka paksa, program itu akan otomatis rusak. Hanna lanjut mengotak-atik lagi. Membuka beberapa data dan berhasil mengembalikan 80 persennya. Tapi tampaknya pelaku menyadarinya dan kembali membalas dengan mengunci ulang. “Sialan, dia cukup kuat.” Hanna mengumpat dalam Bahasa Inggris. Ia yakin tidak bisa menyelesaikan ini sendiri. Hanna belum seahli itu, meskipun dia cukup ahli. Ia memerlukan bantuan. "Apakah tidak bisa dikembalikan?" gumam PD Nim yang entah bertanya pada siapa. Hanna tidak menanggapinya. "Sepertinya sulit," jawab yang lain. "Kita tunggu saja. Hanna pasti punya solusinya," ujar Rein. "Benar, nuuna tak mungkin mengabaikannya," sambung Jeno. "Kalian kalau membela dia benar-benar kompak ya," ujar PD Nim sembari bersungut-sungut. Hanna tak mengacuhkan obrolan mereka. Ia mengambil Hp dan mencari-cari sebuah nomor. Awalnya ia berniat untuk menelepon Robert tapi teringat perkataan bosnya kalau pria itu tengah berada di Yaman. Akhirnya ia menelepon Kevin, seorang ahli IT di PBB. Kemampuannya tidak kalah hebat dari Robert. “Hallo.” Hanna bisa mendengar suara mengantuk dari seberang. Ini memang masih tengah malam di New York. “Kevin. Ini aku.” “Iya, aku tau sayang.” 'Sialan laki-laki yang satu ini. Dia membuatku malu saja,' umpat Hanna dalam hati. Pasalnya Hp Hanna dalam keadaan speaker karena ia tidak bisa menelepon sambil memainkan laptop. Kedua tangannya tengah sibuk mengetik. “Sialan kau. Bantu aku. Aku sedang bertarung.” Sembur gadis itu. “Kau bertarung dengan siapa? Bukannya di Korea Selatan tidak ada perang? Jangan-jangan kau bertarung dengan laki-laki. Astaga, Hanna kita sudah besar. Sudah berubah menjadi perempuan.” Hanna tak bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah. Ia yakin warnanya sekarang sudah seperti Tomat. Ia bisa mendengar kikik geli dari orang-orang yang tengah mengerumuninya. Gadis itu tidak tahu persis siapa yang tertawa. Ia pura-pura tidak mendengar mereka. “Tutup mulutmu itu. Pikiranmu itu perlu di cuci. Apa perlu aku bantu membedah isi kepalamu itu. Lumayan aku bisa sekalian praktek.” “Jangan nona. Aku takut kau akan melakukan malpraktek.” 'Sialan ini anak kalau diladeni akan tambah menjadi.' “Aku serius sekarang Kevin. Bantu aku menyerang black code.” “Wah, kau harusnya bilang dong dari tadi.” “Aku sudah berusaha untuk mengatakannya dari tadi.” Hanna menekan keyboard laptop kuat-kuat karena kesal. Ini yang ia malas kan kalau sudah berurusan dengan Kevin. Mereka tak pernah nyambung satu sama lain dan pada akhirnya pasti akan selalu bertengkar. Itu juga salah satu alasan kenapa bos selalu memisahkan mereka. 'Untuk menghindari kekacauan,' katanya. “Hahaha. Maaf-maaf. Aku sekarang sudah berada di depan Jessicaku tercinta. Sekarang katakan yang terjadi.” Jessica adalah panggilannya untuk perangkat komputernya. Hanna sendiri geli mendengarnya. Hanna mulai menceritakan yang terjadi dan Kevin mulai memberikan instruksi-instruksi terkait apa yang harus aku lakukan. Hanna mengikuti instruksinya untuk mengembalikan data. Sementara Kevin membantunya untuk melawan black code agar tidak bisa melawan Hanna balik. "Pintar juga kau ya," teriak Kevin kegirangan saat melawan orang yang tengah meretas data mereka. Akhirnya setelah satu jam semua data bisa dikembalikan dan data yang ada di black code sudah dimusnahkan. Bahkan Kevin berhasil mengirimkan satu program virus penghancur yang akan merusak data di laptopnya kalau dia tidak berhati-hati memecahkan kodenya. “Selesai sayangku. Hahaha. Aku berhasil menembak satu musuh. Tampaknya dia cukup kuat. Aku penasaran data apa yang kau kembalikan. Izinkan aku mengintip.” Hanna tahu sekali sifat Kevin, dia akan tetap mengintip walaupun gadis itu melarangnya. Hanna sangat paham dengan rasa keingintahuan Kevin yang terlalu tinggi itu. “Sialan. Kau membangunkanku tengah malam hanya untuk mengembalikan foto-foto pemuda cantik ini? Sekarang kau berkencan dengan foto-foto? Astaga Korea benar-benar merubahmu. Jangan-jangan kau tidur setiap malam sambil memandangi mereka? Kalau kuceritakan pada Robert dia pasti akan menarikmu dan tak membiarkanmu untuk meninggalkannya.” Muka Hanna kembali memerah saat mendengar perkataan Kevin yang terdengar ambigu bagi orang-orang yang tidak paham. “Sialan. Tutup mulutmu itu Kevin. Ini tak seperti yang kau bayangkan. Foto-foto itu penting. Aku bisa masuk penjara kalau foto itu tak kembali. Pokoknya nanti aku ceritakan kepadamu. Aku tutup dulu ya. Terima kasih sudah membantuku membersihkan namaku.” “Hanna nggak asik. Aku baru mau mendengarkan ceritamu." "Sana tidur dulu. Kau tidak tahu apa kalau di sini masih siang bolong. Aku harus bekerja." "Kau sendiri juga tidak tahu apa kalau di sini masih malam buta dan kau malah mengganggu mimpi indahku bersama Jessica." Hanna memutar bola mata jengah. "Aku tutup ya!" Ancam gadis itu. "Dasar pemarah. Ya udah, sama-sama sayang. Aku tunggu ceritamu. Awas saja kalau kau melupakannya. Aku akan menyusulmu ke Korea. Btw kemampuanmu sebagai hacker meningkat, nona.” “Terima kasih pujiannya, tuan. Kau tak usah bermimpi untuk beranjak dari kursimu. Apalagi mau menyusulku ke sini. Bos tak akan membiarkan mata kailnya pergi jauh-jauh dari tangannya. Bye.” Hanna menutup telepon sebelum Kevin tambah banyak bicara. Terlalu banyak telinga di sini. Ia tak mau mereka terlalu banyak mengetahui sesuatu mengenai dirinya. "Wah, hebat sekali. Semua kembali seperti semula," ujar salah satu kru. "Aku tak menyangka kalau anak baru yang dibawa PD Nim bisa melakukan banyak hal," puji yang lain. "Dia bukan anak baru. Dia hanya membantu di sini. Kalian tahu sendiri kan kebiasaan PD Nim yang suka menarik sembarang orang untuk ikut dengannya," bisik yang lain. Hanna yakin sekali apa yang ia bisikan terdengar oleh PD Nim. Tapi sepertinya pria itu sudah terbiasa dengan obrolan sumbang kru yang membantunya. Ia tampak tak peduli. Hanna memandang PD Nim yang memandangnya dengan takjub. Entah takjub karena mendengarkan percakapan yang tidak biasa antara ia dan Kevin atau takjub karena foto-fotonya telah kembali. “Ini PD. Semua foto sudah kembali. Lain kali aku sarankan supaya tidak menggunakan wifi umum ketika anda memindahkan file. Ada banyak hacker di dunia ini. Tampaknya mereka mengetahui jadwal anda dan berencana untuk menjual foto-foto itu untuk keuntungan pribadi.” “Terimakasih nona Hanna. Saya minta maaf karena sudah menuduh anda.” PD Nim membungkuk hormat. Baru kali ini Hanna melihat pria itu berbicara sopan. “Berarti aku sudah bisa mendapatkan kembali makan siangku?” Hanna berusaha bercanda untuk mengurangi ketegangan disekitar mereka. “Tentu saja. Kau bisa memesan apapun yang kau mau.” “Hore..” Hanna membungkuk dan segera berlalu menuju restoran tanpa memedulikan yang lain. Ia hanya mempedulikan kesejahteraan perutnya sekarang. Gadis itu benar-benar lapar. Terlebih setelah melawan black code tadi, rasa laparnya ikut meningkat. Ia ingin memesan banyak kali ini. "Gadis itu menyelamatkan kepalaku kali ini," ujar PD Nim. "Jadi anda tidak marah lagi padanya?" ujar Vlo. "Kenapa aku harus marah. Ia sudah membantuku mengatasi semua kerugian yang harus aku tanggung jika sampao foto-foto itu tidak kembali." "Apakah anda akan memperkerjakannya?" ujar Rein. "Kalian menyukainya?" "Tentu saja kami menyukainya. Hanya saja Hanna terlihat tidak suka terikat dengan siapapun. Aku pikir ia lebih memilih untuk menolak jika anda ingin mengikatnya di sini," sahut Jun. "Bilang saja kalau kalian ingin agar dia bekerja di agensi kalian dan mengikuti kalian kemanapun." Anggota Star One hanya tertawa mendengar tebakan PD Nim yang tak sepenuhnya meleset. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN