Senyum

2042 Kata
Syuting MV pertama berjalan lancar. Hanna kagum dengan cara kerja sutradara dan koreografernya. Bagaimana cara mereka bisa memikirkan ide sebrilian itu? Hanna memang dari dulu selalu penasaran dengan jalan pembuatan sebuah film. Bagaimana tahapan pembuatannya dan bagaimana cara pengeditannya sehingga efek yang dihasilkan bisa sangat bagus? Hanna memang dari dulu sudah tertarik dengan dunia desain grafis dan media. Bahkan ia pernah bercita-cita menjadi sutradara. Tapi sayang ia sangat gaptek. Itu dulu sih. Semenjak ia berpisah dengan Nanda. Hanna mengabdikan waktunya pada ilmu. Ia selalu haus akan sesuatu yang baru. Sehingga setiap kali Hanna penasaran dengan sesuatu, ia akan langsung mencari tahu dan mempelajarinya sampai ia benar-benar menguasainya. Hanna mempelajari semua buku yang ada di perpustakaan. Bahkan buku kedokteran yang dulu sangat ia benci sekalipun juga ia baca. Tapi tentunya yang ia pelajari cuma sebatas teori. Hanna tidak pernah mempraktekkannya. Termasuk desan grafis dan segala macam yang berhubungan dengan IT dan angka itu. Hanna mensyukuri satu hal. Kekecewaan berat yang pernah ia rasakan membawanya dalam titik balik hidup. Dan beruntungnya itu adalah titik balik menuju hidup yang lebih baik. Hanna yang dulu pelupa, susah sekali mengingat pelajaran. Sekarang dengan sekali lihat akan langsung bisa mengingat. Hanna tidak terlahir bodoh dan ia juga percaya tak ada seorang anak pun yang terlahir bodoh. Hanya saja setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda dalam mengolah dan menangkap pelajaran. Hanna dulu selalu masuk tiga besar sewaktu masih duduk di sekolah dasar. Namun setelah memasuki pesantren ia berubah menjadi gadis pemalas yang lama kelamaan menjadi bodoh. Hanna tidak pernah belajar meskipun nilai-nilainya tetap saja masuk 10 besar. Hanna sendiri juga heran dengan keberuntungan yang ia miliki. Tapi tetap saja, nilai tidak bisa mewakili kemampuan seseorang. Hanna selalu merasa bahwa ia lebih bodoh dari nilai yang ia terima. Bahkan ia merasa lebih bodoh dari anak-anak yang menduduki peringkat terakhir di kelasnya. Hal itu bukan tanpa sebab. Bermula dari bercerai nya kedua orang tuanya sampai penghinaan yang ia terima dari ibu tirinya. Ayah Hanna yang berasal dari keluarga kaya dan terpandang menikahi ibunya yang berasal dari keluarga tidak mampu. Namun cinta tak menghalangi mereka untuk melanjutkan langkah menuju pelaminan. Meski nenek dari pihak ayahnya tidak setuju, namun ia bersyukur kakeknya setuju. Awalnya rumah tangga Ibu dan Ayahnya sangat harmonis. Meskipun mereka tidak kaya tapi hidup berkecukupan. Namun, kemalangan itu dimulai ketika kakeknya meninggal. Kehidupan rumah tangga orang tuanya yang awalnya damai berubah seketika ketika masuknya pihak ketiga yang dibawa oleh neneknya untuk menjadi isteri kedua ayah Hanna. Pada saat itu ia masih berumur lima tahun. Perlahan rumah tangga orang tuanya yang harmonis berubah menjadi dingin. Memang Hanna tidak melihat orang tuanya terlibat pertengkaran, apalagi terlibat pertarungan fisik. Namun satu hal yang mulai ia sadari, ayahnya mulai bersikap dingin pada ibu. Meskipun cintanya pada Hanna tidak berubah. Lama kelamaan uang belanja yang biasanya datang satu kali seminggu berubah menjadi satu kali satu bulan. Hanna yang terbiasa hidup berkecukupan mulai harus menghemat pengeluaran. Sampai Hanna tidak mendapatkan jajan lagi. Hanna yang biasa selalu merengek minta ini itu dan selalu mendapatkan keinginannya, mulai kesusahan. Hanna yang biasa memakai pakaian yang lebih bagus daripada teman-temannya pun lama kelamaan harus memakai pakaian usang. Bahkan ibunya tidak malu menerima hibahan pakaian dari tetangga hanya agar baju Hanna terlihat ada gantinya. Hal itu disebabkan oleh jatah yang diberikan ayahnya tidak cukup lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Meskipun Hanna hanya hidup berdua dengan ibunya, uang tersebut tetap saja kurang. Tentu saja itu karena ayah memberikan uang yang hanya cukup untuk pengisi perut mereka berdua selama satu bulan. Bahkan uang itu terkadang kurang jika tiba-tiba ayah pulang ke rumah, yang artinya lauk yang mereka makan tidak mungkin hanya sebatas goreng tempe atau sayur. Maka ibunya harus membeli ayam atau makanan lain yang sedikit mewah. Di satu sisi Hanna bersyukur dengan pulangnya ayah ke rumah artinya ia bisa makan enak. Meskipun esoknya ia akan menangis melihat isi piring yang hanya nasi dan garam. Hal tersebut berlangsung selama empat tahun. Puncak kehancuran rumah tangga kedua orang tuanya terjadi saat ia duduk di kelas lima SD. Seperti biasa Hanna pulang ke rumah dengan perut lapar karena ia tidak mendapatkan jatah uang saku. Hanna melihat motor ayah dari kejauhan. Hatinya sangat senang. Ia mempercepat langkahnya. Berharap bisa segera bertemu ayah. Walaupun dia seperti itu tapi ia tetap mencintainya. Hanna kaget melihat ibunya yang terduduk lesu di ruang tamu. Hanna tidak mendapati keberadaan sang ayah. Hanna pun tidak berani bertanya pada ibu. Tiba-tiba seorang laki-laki keluar dari kamar orang tuanya. Dia bukan ayahnya. Hanna mengenalinya sebagai teman dari ayahnya. Hanna lumayan dekat dengan laki-laki itu. “Om, mana ayah?” “Ayahmu lagi ada kerjaan, Na.” Om Firdaus, nama teman ayahnya itu menjawab dengan tatapan iba. Perasaan Hanna mendadak tidak enak. Apa yang ia takutkan benar-benar telah terjadi? Namun ia berusaha menepisnya. “Lalu kenapa motornya ada sama om?” “Tadi om meminjamnya sebentar.” “Terus, om ngapain bawa tas besar seperti itu? Itu kan tas yang biasa digunakan untuk memasukkan baju kalau mau bepergian jauh.” Om Firdaus tidak menjawab. Dia hanya mengusap rambut Hanna dan berlalu pergi sambil menggumam. Walaupun suaranya nyaris berbisik, Hanna bisa mendengar dengan jelas perkataannya. “Malang sekali nasibmu, nak.” Hanna termangu sejenak. Saat ia mendengar suara motor menjauh dari halaman rumah. Hanna baru tersadar. Ada yang tidak beres dengan ayahnya. 'Apa ayah benar-benar meninggalkan kami?' Hanna berusaha mengejar motor yang dikendarai Om Firdaus, tapi ia tidak bisa menemukan jejaknya lagi. Hanna terduduk di atas jalanan. Saat itulah ia sepenuhnya sadar bahwa pernikahan orang tuanya sudah berakhir. Apa yang selama ini ia takutkan benar-benar telah terjadi. Meskipun iamasih kecil, Hanna bukan anak lugu yang tidak menyadari perubahan rumah tangga orang tuanya. Ia tak bisa membendung air mata yang keluar begitu saja dari kantong mata. Hanna tidak perlu penjelasan apapun mengenai itu. Hanna sudah tahu dari lama kalau ayahnya menikah lagi. Ia kerap mendengar omongan tetangga mengenai keluarganya. Tapi, selama ini ia memilih untuk tuli. Bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Semenjak itu ia mulai kehilangan sosok ibunya seiring dengan sosok ayahnya yang juga perlahan memudar dari ingatannya. Atau lebih tepatnya Hanna berusaha untuk melupakan wajah laki-laki yang pernah ia cintai tapi kini menjadi salah satu orang yang ia benci. *** “Hana, kau bantu rapikan rambutnya Vlo.” Hanna mendengar teriakan PD Nim dengan jengah. 'Astaga, kapan penderitaanku akan berakhir. Pantas saja Ae Ri selalu mengeluh setiap hari. Aku kira cuma dia saja yang terlalu berlebihan (dia memang selalu berlebihan), tapi kali ini aku setuju dengannya. PD Nim memang mengerikan. Padahal ada stylish mereka. Lalu kenapa aku juga ikutan diseret ke sini?' Hanna baru mengetahui bahwa PD Nim berbohong mengenai stylis yang tidak ada karena ada kepentingan lain itu tadi, saat ia pertama kali membantu Jun dan Jeno syuting MV di malam pertama mereka sampai. Padahal ia setuju ikut kesana karena mengira dia benaran serius. Ternyata itu cuma akal-akalannya saja. Lihat saja sekarang mereka mempunyai stylish disini, tiga orang bahkan untuk acara ini. Hanna tidak melihat keberadaan mereka waktu di stasiun TV kemaren. Ternyata mereka sudah terlebih dahulu sampai dikarenakan ada perubahan rencana. Memang PD Nim tidak sepenuhnya bohong. Tapi tetap saja Hanna merasa ditipu habis-habisan. “Kau baik-baik saja?” Vlo bertanya padanya. “Aku baik-baik saja," dustanya. Tak mungkin ia mengatakan isi hatinya sekarang. Hanna akan merasa baik-baik saja kalau bisa segera bertemu dengan kasur dan makanan. Sekarang sudah jam 04.00 subuh. Tapi syuting masih belum berakhir. Ia baru tahu, kalau proses pembuatan MV bisa berlangsung semalaman seperti ini. Padahal sekarang sudah hari kedua. Mungkin karena memang latar MV nya adalah malam hari dan Sunrice. Makanya ia dari tengah malam tadi sudah berada di sini. Tidak semua anggota berada di sini. Hanya yang butuh mengambil pemotretan atau yang kebagian syuting adegan saja yang ikutan. Member lain lebih memilih di kamar dan tidur dibanding ikut melihat proses pembuatan MV. Hanya ada Jeimin dan Vlo, karena ini merupakan bagian mereka. "Kau tidak terlihat baik-baik saja. Bahkan mata pandamu itu sudah berubah jadi lebih parah." "Oppa sekarang tengah prihatin padaku atau sedang mengejekku?" Vlo tertawa mendengar pertanya sinis Hanna. Akhirnya syuting bagian mereka selesai bertepatan dengan munculnya Matahari. Sementara mereka tiduran sembari menunggu anggota lain ikut bergabung. Hanna memilih duduk di atas bukit dan memandangi Matahari yang mulai meninggi itu. Hanna mempunyai waktu istirahat 30 menit. Sebenarnya ia lapar, tapi mereka hanya bisa mendapatkan makanan di penginapan. Tak ada yang membawa makanan. Entah karena belum jadwalnya untuk makan atau karena apa. Gadis itu juga tak bertanya. Hanna memandangi Matahari seraya mendengarkan lagu Star One. Tidak afdal rasanya kalau ia berada di tengah mereka, tapi ia sendiri tidak mengetahui lagunya. Paginya yang cerah dan damai terusik seketika saat sebuah bola balon besar tiba-tiba mendarat di kepalanya. Hanna secara reflek langsung menangkap bola berukuran besar tersebut, karena kalau tidak, tentu saja akan berakhir di lautan. Hanna memandang ke arah datangnya bola. Tampak Jun tertawa-tawa sambil menunjuk-nunjuk ke arah Hanna. Rupanya dia bersama dengan Jacop dan Jeimin tengah bermain. Hanna tidak menyadari kedatangan mereka. Hanna membawa bola itu kembali pada mereka. Bukannya memberikannya baik-baik, gadis itu malah melemparkan kembali bolanya dengan keras pada Jacop. Akhirnya terjadi perang bola antara ia, Jacop, Jun, dan Jeimin. Tentu saja tingkah konyol mereka mengundang perhatian orang-orang. Untung saja ia bukan bagian dari pekerja mereka. Kalau iya, Hanna sudah pasti akan dicap tidak professional. 'Bodoh amat, aku tidak peduli yang jelas aku bahagia.' Pertarungan mereka berakhir di tangan Sura. Dia berhasil merebut bola itu dari Jun dan kemudian membawanya kembali ke tempat mereka duduk. Hanna mengikutinya disusul juga oleh yang lain. Hanna mulai kembali pada pekerjaannya untuk membantu apa saja yang disuruhkan. “Hanna, tolong kamu rapikan rambut Sura seperti kayak gambar ini.” Stylish noona memberikan sebuah gambar lelaki padanya. Ia mulai melakukan itu padanya semenjak kemaren, karena ia yang tidak tahu apa-apa mengenai fashion dan stylish tapi bisa menirukan dengan mudah setiap contoh yang diberikan. Untuk hasil akhir nanti mereka sendiri yang akan melakukannya Karena mereka tak pernah mengambil gaya yang persis sama dengan gaya yang sudah ada. Hanna pun langsung merapikan rambut Sura dan melakukannya seperti yang terlihat di gambar. Ia mengerjakannya dengan hati-hati, tak mau melakukan kesalahan. Sementara yang empunya malah tidur dengan santainya. Hanna berdecak kagum dengan hasil kerjanya sendiri. Memang selama ini ia terkenal perfectionis saat bekerja. Ia tidak menyukai kesalahan apapun terhadap pekerjaannya. Hanna akan mengutuki diri sendiri jika ia salah. Mungkin efek masa lalu, membuatnya menjadi seperti itu. Hanya saja ia tidak pernah mengomentari pekerjaan orang. Ia hanya bersikap perfeksionis pada diri sendiri. "Tolong ambilkan aku minum." Lamunan Hanna dipotong oleh Sura. "Mau minum apa, oppa?" "Aku ingin Cola." "Tenggorokan oppa kan sedang bermasalah. Jangan minum Cola dulu. Minum air Jahe hangat saja ya." Sura tak menjawab namun juga tak membantah. Hanna pun berjalan mendekati manager mereka dan meminta minuman Jahe Sura. "Ini oppa." Hanna menyodorkan segelas Jahe yang sudah ia tuangkan ke dalam tutup termos. Dia menerimanya dan meminumnya. Hanna melihat dia menjerngit kepedasan. Tapi tetap saja menghabiskan minumannya. "Good boy." Tanpa sadar Hanna bergumam saat Sura menyerahkan wadah minumannya pada Hanna. Gadis itu pun berlalu meninggalkannya untuk kembali meletakkan termos di sisi manager mereka. Tanpa disadari Hanna, ucapannya terdengar oleh Sura. Dia tersenyum samar mendengar perkataan Hanna. Sura terus memandangi punggung Hanna yang sudah berjalan menjauh meninggalkannya. "Sura baik-baik saja?" Tanya manager pada Hanna. "Aku lihat oppa baik-baik saja. Mungkin hanya butuh lebih banyak istirahat saja. Tapi aku lihat dia selalu istirahat disetiap kesempatan. Jadi dia pasti akan baik-baik saja." "Hahaha. Kau benar. Sura itu, dia tak pernah beristirahat dengan benar kalau sudah di dorm. Dia pasti akan selalu sibuk di studionya. Namun kalau sedang ada pekerjaan di luar seperti ini, ia tak akan menyia-nyiakan waktunya. Ia pasti akan langsung beristirahat setiap ada kesempatan." "Apa dia juga workholic?" "Bisa dibilang seperti itu. Dia sama dengan Jeimin. Di saat member lain tidur dia akan bangun. Di saat member lain bangun dia akan beristirahat sejenak. Mereka semua sebenarnya sama. Mereka akan berusaha keras untuk melatih diri. Hanya saja setiap orang beda-beda. Vlo contohnya. Ia tak bisa latihan terlalu banyak. Jika ia berlatih secara berlebihan, maka ia akan kehilangan beberapa hari karena jatuh sakit. Jadi dia mulai mengatur waktu untuk tidak berlatih berlebihan agar setiap hari bisa berlatih." "Mereka semua hebat dengan caranya masing-masing." Hanna tersenyum tipis sembari melihar ke arah mereka. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN