Kalau begitu, hanya ada satu kemungkinan. Kau memiliki nada yang sempurna,” ucapan Jeno tadi kembali terngiang di otak Hanna. Gadis itu hanya tertawa menanggapi kekonyolan ucapan Jeno tanpa berniat menimpali. Akhirnya ia pamit ke kamar dengan alasan ingin tidur sebentar. Tanpa menunggu jawaban mereka, Hanna langsung berlari ke kamar.
"Hanna kenapa?" ujar Vlo.
"Apa aku mengucapkan sesuatu yang salah?" Jeno memandang yang lain meminta jawaban.
"Mungkin dia benar-benar lelah dan butuh istirahat." Rein mencoba untung menenangkan anggotanya yang semenjak kehadiran Hanna langsung menjadikan gadis itu sebagai pusat perhatian mereka.
Dia sendiri juga heran, entah pesona apa yang dimiliki oleh gadis itu sampai-sampai mereka semua mendekat padanya. Gadis itu tak tampak seperti orang yang berpura-pura. Ia juga tak heboh saat melihat mereka. Satu hal yang membuat mereka nyaman. Hanna bisa membuat orang disekelilingnya merasa nyaman. Menjadi dirinya sendiri.
Sering kali menjadi public figure seperti mereka harus mengontrol setiap gerik dan ucapan agar tak ada yang tersinggung. Tapi di depan Hanna. Entah pesona apa yang dia miliki. Semua membernya tak satupun bersikap pura-pura. Gadis itu juga tak berpura-pura pada mereka. Ia menunjukkan semua ekspresinya secara langsung, tanpa satupun ditutup-tutupi.
"Aku berharap Hanna bisa berteman dengan kita," gumamnya tanpa sadar yang ternyata di dengar oleh anggota lain.
"Aku kira hanya aku yang merasa nyaman didekat nuuna," sahut Jeno.
"Tampaknya semua tak ada yang keberatan dengan kehadiran Hanna." Jacop memandang mereka dengan penuh senyum.
"Aku harap dia mau berteman dengan kita. Sikapnya membuatku seolah mau melindungi adikku sendiri," Vlo ikut menimpali.
"Apa kau melihatnya karena badannya yang kecil dan rapuh itu," ejek Jeimin.
"Nggak ya. Tapi dia terlihat seperti. Aku butuh perlindungan."
"Ya, memang benar. Tapi dia pintar sekali menutupi itu," ucap Sura. Semua orang memandang Sura. Jarang-jarang pria itu ikut berkomentar saat mereka membicarakan orang lain, terutama perempuan. Mereka saling melempar pandangan penuh arti.
***
Hanna merasa de javu saat mendengar perkataan Jeno. Ingatannya terhempas kembali ke masa lalu, pada masa kuliah strata satu di Indonesia. Saat itu ia tengah duduk di lantai dua kamar kosan bersama dengan kekasih yang sekarang sudah tak menjadi miliknya lagi. Sebut saja dia mantan agar kau tak perlu susah mendefinisikannya. Hanna tengah menyenandungkan lagu “Surat Cinta Untuk Starla” yang tengah popular pada waktu itu.
“Mendingan kamu ikutan audisi aja, Na.” Entah untuk ke berapa kalinya bang Nanda berkata seperti itu padanya. Hanna sampai merasa bosan mendengar ucapannya.
“Ha..ha. Abang selalu saja mengucapkan hal itu setiap kali aku bernyanyi. Aku menyanyi hanya untuk senang-senang saja. Aku tidak paham musik sama sekali. Aku menyanyi hanya sesuai dengan apa yang kudengar saja.”
“Tapi suaramu sangat bagus, bahkan kamu bisa menyanyi sesuai dengan nada dan temponya tanpa ada kesalahan satupun. Soal kamu tidak paham musik dan hal seperti itu, kan bisa dipelajari belakangan.”
“Abang tahu darimana kalau aku menyanyikannya tanpa kesalahan sedikitpun. Padahal abang bukan seorang musisi.” Ejek Hanna.
“Firasatku yang mengatakannya.” Hanna tertawa mendengarkan jawaban dari laki-laki yang berhasil mengisi hampir keseluruhan hatinya itu. Laki-laki pertama yang membuat dia bisa melupakan dan nyaris memaafkan masa lalunya. Laki-laki yang membantu mengobati luka akibat Ayahnya sendiri.
“Ha..ha, abang terlalu banyak membaca puisi dan buku sastra. Semua ucapan abang terlampau puitis. Aku ragu sebenarnya itu, abang anak psikologi atau anak sastra sih.”
“Aku hanya mengungkapkan apa yang aku rasakan. Ucapan seseorang dapat mewakili isi hatinya. Kalau kau ingin mengetahui isi hari seseorang, kau harus memerhatikan semuanya Terlebih lagi tempo dan nada bicaranya. Semua bisa menggambarkan kondisi hatinya.” Seperti biasa Nanda selalu bersemangat setiap kali menjawab pertanyaan yang berbau psikologi seperti itu.
“Aku heran, abang anak sastra atau anak psikologi?” Hanna mengulangi kembali pertanyaannya pada Nanda.
“Mempelanjari psikologi berarti mempelajari tentang orang lain. Semua yang berhubungan dengannya. Entah bahasa lisan, bahasa tubuh, dan lainnya. Sama halnya dengan sastra. Mempelajari sastra itu artinya mempelajari semua macam ilmu. Manusia hidup dan bergerak tak terlepas dari bahasa yang bisa menjadi penghubung di antara mereka. Kamu sendiri kan anak sastra, malah ngomongnya kayak gitu. Harusnya kamu lebih paham daripada aku. Dua ilmu itu saling berkaitan. Menurutku sama sekali tak bisa dipisahkan.”
'Ucapan itu lagi. Aku benci kalau dia sudah berkata begitu. Artinya, akan ada ucapan lain yang menjadi embel-embel. Hal itu yang kemudian akan memicu pertengkaran di antara kami.'
“Ah, apalah dayaku yang hanya anak sastra abal-abal.” ujar Hanna sekenanya.
“Selalu saja bicara seperti itu.” Nanda memandangi Hanna dengan tatapan tidak suka.
“Lah benarkan. Aku nggak pintar ngomong pakai Bahasa Inggris, apalagi teori-teorinya. Semua pelajaran itu hanya singgah lalu di kepalaku. Meskipun aku menghafalnya berkali-kali. Aku heran kenapa aku bisa sebodoh itu. Bahkan tugas-tugasku malah sering kali abang yang meriksain. Aku sampai heran yang kuliah aku atau abang.” Hanna mulai mengeluh lagi.
“Kamu nggak boleh pesimis kayak gitu, Na. Usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil.” Raut wajahnya mendadak melunak.
'Kata-kata andalannya. Selalu saja seperti itu setelah dia menyindirku dengan pedas.'
“Tapi nyatanya abang nggak suka kan sama hasil yang aku dapatkan. Abang selalu ngeluh saat nilai-nilaiku sudah keluar. Apalagi kalau sudah berbicara mengenai targetku. Semua tidak bisa berjalan sesuai yang abang harapkan. Apalagi dengan yang diharapkan oleh orang tuamu sangat jauh.” Hanna sedikit emosi padanya.
Nanda hanya menatap Hanna tanpa mau menjawab sedikitpun. Pada akhirnya mereka akan bertengkar kalau kembali membahas ini. Memang, keluarga Nanda tidak setuju dengan hubungan mereka. Hanna hanya anak dari keluarga miskin dan tidak memiliki ayah. Berbeda dengan dia yang berasal dari keluarga berkecukupan dan tidak pernah makan pakai garam. Kalau diibaratkan antara dia dan Nanda sekarang layaknya seperti cerita “Terusir” karya Buya Hamka. Hanna selalu membaca buku itu berulang-ulang setiap akan tidur. Buku itu menjadi pengantar mimpinya, pengisi hidupnya yang lusuh seperti setiap lembarnya yang telah lecet sana sini, terkena kejamnya jari tangan Hanna saat membolak-balik lembarannya.
Buku itu adalah satu-satunya buku yang ia bawa dari Indonesia dan satu-satunya buku yang tidak ia sumbangkan ke taman baca. Hanna berencana untuk menyumbangkannya juga. Tapi ia mengurungkan niatnya tersebut. Hanna masih tidak rela untuk melepaskan kenangannya dengan buku itu. Ya, buku itu adalah hadiah ulang tahun yang diberikan Nanda padanya.
Hadiah itu layaknya doa yang dipanjatkan Nanda untuk kehidupan Hanna di masa yang akan datang. Dan doa itu benar-benar terkabul.
Hubungannya dan Nanda berakhir kandas sama seperti buku itu, sama-sama menyedihkan.
Hanna menghela nafas panjang. Kenapa disaat seperti ini ia malah mengingat kejadian itu lagi. Kejadian yang membuat ia enggan untuk pulang. Kejadian yang menghancurkan pertahanan terakhir hidupnya. Kejadian yang membuat ia pergi jauh. Sejauh mungkin dari orang-orang yang pernah mengenalnya.
Kata orang cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya sendiri. Tapi Hanna tidak merasakan itu. Ayahnya pergi meninggalkan ibunya. Memilih untuk menikah dengan wanita yang dijodohkan dengannya. Meninggalkan Hanna dan ibunya. Ia membenci laki-laki semenjak saat itu.
Kemudian ia mengenal Nanda di bangku kuliah, yang ia kira akan menjadi cinta pertama dan terakhirnya. Tapi ternyata dia juga bukan jawaban yang diberikan Tuhan pada Hanna. Hanna merasa heran kenapa hidup dan percintaannya akan sesulit ini. Apa karena ia terlalu menggantungkan harapan kepada manusia, makanya Tuhan cemburu dan merebut harapan itu dari dirinya?
“Nak, semiskin apapun kita. Kamu jangan pernah bergantung pada manusia. Kamu juga jangan pernah menyerahkan hatimu seluruhnya pada manusia. Jangan sampai Allah cemburu. Kalau Allah sudah cemburu, tak akan ada yang selamat dalam hidupmu nantinya. Kamu cukup menggantungkan hidupmu pada Allah. Kamu cukup isi hatimu dengan kecintaan pada Allah. Jika sudah demikian, Allah tidak akan pernah meninggalkanmu. Hidupmu akan dilimpahi keberkahan dan kebahagiaan. Kamu akan hidup dengan cinta.” Nasihat ibu saat Hanna masih kecil tiba-tiba terngiang kembali di kepalanya. Dulu ia sangat mempercayai ucapan ibunya, namun sekarang ia meragukannya. Ia sudah tak percaya lagi pada manusia. Tidak bergantung lagi pada manusia. Tapi tetap saja kehidupannya seperti itu.
Sekilas balik masa lalu kembali berseliweran di kepala Hanna. Mimpi buruk itu datang lagi. Mimpi saat ayah pergi meninggalkan ibu dan Hanna demi wanita lain. Mimpi saat ibu juga meninggalkannya untuk selamanya. Mimpi saat bang Nanda juga meninggalkannya tanpa sepatah kata. Hati Hanna benar-benar hancur berkeping-keping. Hanna melihat mereka yang mencemooh ibunya dulu tengah tertawa berbahagia.
Hanna juga melihat mereka yang mencemoohnya tertawa terbahak-bahak. Hanna ingin berteriak, tapi dia tak bisa. Suaranya seakan ditahan. Tiba-tiba kegelapan menyelimuti. Ia tiba-tiba ditarik ke dalam lubang yang gelap. Semua orang tampak berseliweran tak memperhatikan keberadaannya lagi. Sekeras apapun ia berusaha untuk berteriak tak ada seorangpun yang mendengarkannya. Hanna tiba-tiba terperosok dalam jurang raksasa, gelap dan tampak tak berdasar.
“Aaaaaa. Jangan.” Hanna berteriak dan langsung terbangun dari tidurnya dengan tubuh penuh dengan keringat. Nafas gadis itu tersengal-sengal. Hanna langsung mengambil kotak obat di tas dan meminumnya bersama dengan air kemasan yang terdapat di nakas kamar.
Hanna mengeram frustasi. Sudah lama ia menjadi ketergantungan dengan obat dari psikiater ini. Hanna juga menderita insomnia parah bukan karena tidak bisa tidur. Hanya saja setiap kali tidur ia akan mengalami mimpi buruk yang sama. Ia benci itu dan pada akhirnya akan memilih tidak tidur. Hanna melirik jam di ponselnya. Baru juga ia tertidur setengah jam. Hanna memutuskan untuk bangun dan bersiap membantu di lokasi syuting.
Sepertinya ia mengambil pilihan yang salah tadi. Hanna kembali ke kamar berniat kabur dari pernyataan Jeno yang membawanya pada ingatan masa lalu. Tapi ia malah kembali mengingat masa lalu. Tadi Hanna hanya bersandar di kepala tempat tidur. Tanpa sadar akhirnya ia melamun dan malah membuatnya tertidur dan mengalami mimpi buruk lagi. Hanna harus mengingatkan dirinya lagi untuk tidak tidur tanpa meminum obat tidurnya.
Hanna bergegas berjalan menuju lokasi syuting. Ternyata di sana sudah ada banyak orang. Jun dan Jeimin pun juga sudah ada. Tampaknya mereka yang kebagian untuk adegan kali ini. Hanna segera bergabung dan ikut membantu mendandani mereka. Satu hal yang membuatnya kesal. Ternyata di sana sudah ada penata rias lain. Kening Hanna langsung berkerut bersama dengan bibirnya yang manyun.
'Katanya nggak ada yang lain.' Hanna ingin bertanya, tapi kemudian mengurungkan niatnya.
"Kau bisa bantu rapikan bajunya Jun ya," ujar seorang Penata rias bernama Yuna.
"Siap subaenim." Hanna berjalan ke arah Jun. Pria tampan itu langsung tersenyum dan membungkukkan badannya agar Hanna tak kesusahan saat membantunya. Hanna tersenyum saja melihatnya. Perlakuan kecil Jun mampu membuat siapa saja merasa berterimakasih.
"Kau memakai baju Sura?" tanyanya. Hanna hanya mengangguk.
"Kau lucu sekali, kayak orang-orangan sawah." Dia tertawa terbahak-bahak. Hanna yang jengkel langsung menepuk ringan bahunya.
"Sembarangan. Kalau ngomong kok suka benar sih, oppa." Hanna malah ikut tertawa meski awalnya jengkel. Tapi melihat tawa Jun, Hanna juga ikutan tertawa. Tawanya Jun memang menular. Mereka berdua bahkan tak bisa menghentikan tawa, karena begitu Hanna berhenti maka Jun akan menyambung tawanya begitu juga sebaliknya. Hingga mereka kewalahan sendiri sampai-sampai managernya harus turun tangan untuk menghentikan mereka.
"Jun, jangan ketawa terus. Nanti Hanna-si nggak bisa menyelesaikan pekerjaannya," tegurnya.
"Hihi, siap manager." Tapi Jun tetap tertawa tanpa suara. Bahkan air matanya sudah mengalir.
"Ya, oppa. Jangan ketawa terus dong. Aku kan nggak bisa berhenti juga ini." Manager dan penata rias lain hanya geleng-geleng kepala melihat mereka. Bahkan manager dan staf yang selalu ikut dengan Star One merasa heran dengan kedekatan mereka. Padahal mereka baru mengenal Hanna selama satu hari. Tapi kedekatan mereka seperti orang yang sudah kenal selama bertahun-tahun.
Memang Hanna kalau sudah bergabung dengan Star One, malah ikutan gersek. Padahal mereka baru bertemu sehari. Tapi mereka tak ada jaim-jaimnya dengan Hanna. Begitu juga dengan Hanna Kalau kata managernya, baru pertama kali anggota Star One bisa langsung dekat dengan orang asing. Entahlah, Hanna sendiri bingung. Mungkin karena dari awal ia tak pernah memandang mereka sebagai idola. Bagi Hanna mereka adalah manusia biasa seperti dirinya sendiri.
"Hanna- si. Kamu tahu? Member Star One itu pemalu kalau berdekatan dengan perempuan lain. Perempuan yang lumayan dekat dengan mereka hanya staf kami yang sudah mengikuti mereka selama bertahun-tahun. Tapi bersamamu, mereka seolah mendapatkan adik mereka yang hilang. Mereka tak ada yang merasa malu ataupun merasa perlu menjaga sikap saat dihadapanmu."
"Benarkah, manager?"
"Apa aku terlihat seperti pembohong?"
"Ya nggak sih. Tapi masak iya. Mereka kan orang terkenal. Semua orang pasti ingin dekat dengan mereka."
"Kalau kamu sendiri bagaimana? Ingin dekat juga nggak dengan mereka?" Manager malah balik bertanya pada Hanna.
"Nggak," jawab gadis itu singkat.
"Lah kenapa?"
"Aku malas bicara." Manager hanya menepuk jidat mendengar ucapan Hanna. Memang benar gadis itu malas berbicara atau lebih tepatnya ia malas untuk berbasa-basi. Tapi sepertinya untuk dekat dengan Star One tidak masalah bagi Hanna. Toh ia tak perlu berbicara banyak. Percakapan di antara mereka akan mengalir sendiri. Hanna juga tak perlu berbasa-basi.
"Tapi kau sangat cerewet kalau sudah ngobrol dengan mereka."
***