Ingatan Lalu

2014 Kata
“Kau mau kemana?” Hanna kaget mendengar pertanyaan tiba-tiba dari Vlo. “Tidak kemana-mana,” jawabnya sedatar mungkin. “Tapi aku dengar dari percakapanmu tadi, sepertinya kau ada urusan penting.” “Kau bisa mendengarnya?” Dengan polosnya Hanna bertanya pada Vlo. Bahkan ia yakin tampangnya sekarang cocok untuk menjadi bahan tertawaan. “Tentu saja, bahkan aku yakin Sura hyung juga mendengar percakapanmu dari alam mimpi.” 'Sialan, aku tidak menyadari perubahan volume suaraku dikarenakan terlalu gemas dengan bossku yang satu itu.' Hanna heran kenapa hari ini ia ceroboh sekali. 'Apa aku mulai tua? Ataukah aku mulai kembali pikun?' Gadis itu menggelengkan kepalanya sendiri berusaha untuk mengenyahkan pikiran buruknya. Vlo tambah heran dengan kelakuan Hanna. Ia pun menempelkan punggung tangannya ke dahi gadis itu. Hanna sedikit kaget menerima perlakuan Vlo. "Apa yang kau lakukan?" "Aku hanya sedang memastikan apakah kau baik-baik saja? Kau demam? Ataukah ada yang terasa sakit?" Hanna menarik nafas dengan sabar. "Aku baik-baik saja, oppa. Jangan berfikir yang tidak-tidak." "Syukurlah. Kau belum menjawab pertanyaanku tadi." “Mianne, tadi ada urusan sedikit. Tapi sekarang sudah selesai kok.” 'Atau lebih tepatnya aku yang tidak mau melakukan permintaan ajaib bossku itu.' “Tenang saja. Kalau kau memang ada kepentingan mendadak. Aku bisa mengatakannya pada PD Nim untuk menurunkanmu di sini,” ujar Jun. “Lalu aku harus berdiri dipinggir jalan menunggu ada tumpangan untuk kembali ke Seoul?” Hanna mengangkat sedikit alisnya seraya bersedekap. “Hahaha. Iya juga ya. Bakalan susah kayaknya untuk kembali ke Seoul dari tempat ini. Kita bisa cari cara lain kalau memang itu sangat penting. Lagi pula kau ke sini kan juga akibat kesalahan tim kami," ujar Jacop. “Tenang saja. Aku tidak mau kembali untuk saat ini. Tidak ada hal penting yang harus aku lakukan.” Walaupun kenyataannya ada banyak pekerjaan dari organisasi ataupun dari pekerjaan sampingan yang harus dia kerjakan. Tapi tidak apa-apa. Anggap saja ini adalah hari liburan pertama setelah memutuskan untuk menjadi workaholic sejati. “Kau tak perlu khawatir. Kalau memang aku harus kembali ke Seoul sendiri. Sebenarnya itu perkara yang gampang. Hanya saja sekarang aku yang tidak mau kembali.” “Kenapa?” Jeno angkat bicara setelah dari tadi diam saja mengamati perbincangan mereka. “Aku tidak akan menghabiskan waktuku untuk berangkat ke Negara yang jauhnya ribuan mill hanya untuk melakukan urusan sepele.” Hanna berbicara dengan setengah berbisik tapi dikarenakan perhatian mereka sepenuhnya sudah tertuju padanga, mereka masih tetap bisa mendengarkan ucapannya. “Kau bekerja dengan pihak luar negeri ya?” Rein langsung menimpali. Sepertinya dia tertarik, meskipun dari tadi dia tampak sibuk dengan bukunya. Ternyata dia juga menyimak obrolan mereka. “Kenapa memangnya?” Hanna malah balik bertanya. “Kau kan tadi ngomong pakai Bahasa Inggris.” 'Oiya, aku lupa. Lama-lama tingkat kewaspadaan ku jauh menurun. Kenapa aku mendadak jadi bodoh begini. Hari ini benar-benar aneh. Ada yang salah denganku. Sepertinya aku perlu meditasi.' “Bisa dibilang begitu.” Hanna berusaha untuk mengakhiri percakapan dengan berpura-pura tidur. Ia tidak ingin mereka tahu lebih banyak mengenai kehidupan pribadinya. Ia yakin, jika terus meladeni percakapan ini, mereka akan terus menggalinya. "Kamu kerja di bagian apa?" Rein tambah merongrong Hanna dengan pertanyaan. Terlihat sekali bahwa pria itu tertarik dan tak ingin mengakhiri pembicaraan mereka. "Kalau aku bilang aku mata-mata, oppa bakalan percaya nggak?" "Kau mata-mata, nuuna? Dimana? Intilegen Korea? FBI, CIA?" Jeno tampak bersemangat sekali mendengar ucapan Hanna. "Haha. Aku hanya bercanda. Kau serius sekali. Aku memang bekerja di luar negeri. Lebih tepatnya seorang freelance. Jadi aku bisa bekerja darimana pun aku mau. Aku hanya perlu ke perusahaan sesekali untuk menyerahkan laporan secara langsung." "Kau bekerja dimana?" Jun memandang Hanna dengan penuh harap. Berharap gadis itu berhenti untuk bermain detektifan dengan mereka. "Coba tebak aku kerja dimana?" "Melihat kamu yang kurang nyaman berada dikeramaian. Sepertinya kau bekerja sebagai penerjemah atau mungkin penulis," tebak Rein. "Tebakanmu tidak salah juga, oppa. Aku bekerja sebagai penerjemah lepas." "Wah keren, nuuna. Kau biasanya menerjemahkan apa?" "Apa saja yang diberikan kepadaku." *** Ternyata semua tidak berjalan sesuai dengan rencana yang dikatakan oleh PD NIM. Mereka akhirnya baru makan setelah sampai di Cheongsando atau lebih tepatnya di penginapan. Saat mereka sampai, waktu sudah menunjukkan hampir jam 20.00. Tentu saja Hanna sudah nyaris mati kelaparan. Padahal selama di Bus ia ikut makan. Makanan ringan milik Jeno. Tapi tetap saja ia lapar. Ia butuh nasi. Tak hanya dia yang kelaparan, semua orang juga kelaparan karena tidak adanya persediaan nasi ataupun karena semua berjalan tidak sesuai rencana. Parahnya lagi, disana tidak ada toko seperti yang dikatakan oleh PD Nim. Hanna sudah mencoba bertanya pada orang di penginapan. Katanya toko-toko hanya ada di pasar yang jaraknya sekitar setengah jam perjalanan kaki. Namun sekarang tutup karena sudah malam. Hanna menyantap makan malamnya dengan kesal. Sekarang ia seperti anak terlantar yang tidak punya uang, baju, dan berada di tempat antah berantah bersama dengan orang-orang aneh. Oh ingatkan ia agar tidak ikut tertular menjadi aneh. Bahkan udara mulai terasa dingin disebabkan angin laut yang berhembus kencang. Hanna bisa mati kedinginan nanti malam saat bekerja. Terlebih akan ada syuting tengah malam nanti di luar penginapan. 'Emak, dosa apa anakmu, gini amat nasibnya.' Untung saja ia mendapatkan kamar sendiri karena ternyata cuma ia sendiri perempuan di sana. Kata mereka sih begitu. Hanna baru sadar bahwa ia tidak melihat adanya kru perempuan. Setidaknya ia punya waktu istirahat selama dua jam sebelum proses syuting dimulai. Hanna langsung merebahkan diri di kasur. Berteriak-teriak kesenangan seolah menemukan harta karun. Hanna langsung menggulung diri dalam selimut. “Nikmat mana lagi yang kau dustakan?" Teriaknya. Tiba-tiba ada yang mengetok pintunya. “Anjir, ngagetin aja. Apa suara gue terlalu gede ya?” Hanna mulai mengoceh dalam Bahasa Indonesia. Ia segera bergegas membuka pintu. Tiba-tiba saja setumpuk pakaian mendarat di wajahnya yang membuatnya kaget bukan kepalang dan nyaris saja mengumpat. “Pakai ini.” Suara datar Sura sukses membuat Hanna menahan mulut agar tidak mengumpat. Hanna menatap Sura dengan bingung. Ia sama sekali tak mengerti dengan maksud pria itu. “Katanya kau tidak bisa menemukan pakaian. Pakai bajuku sebelum aku berubah pikiran.” Lanjutnya seolah mengerti kebingungan Hanna. Hanna memegang erat bajunya. Takut Sura bakalan merebutnya kembali. Tanpa banyak tanya laki-laki dingin itu langsung meninggalkan Hanna yang masih terpaku. Begitu sadar dia sudah menjauh. Hanna langsung berteriak. “Terimakasih.” Hanna segera masuk ke kamar, mengunci pintu dan langsung menuju kamar mandi. "Waktunya mandi." teriaknya kegirangan. Ternyata Sura tak sedingin yang ia bayangkan. Buktinya laki-laki itu mau memberikan bajunya untuk Hanna. Hanna bersenandung riang selama mandi. Tentu saja, akhirnya ia punya baju untuk dipakai. Bodoh amat mau itu baju laki-laki, baju Sura atau baju pak PD Nim sekalipun. Yang penting ia tak harus menggunakan bajunya selama beberapa hari. Seusai mandi, ia langsung mencuci pakaian yang sebelumnya dikenakan di laundry penginapan. "Aku terlihat seperti orang-orangan sawah memakai baju yang diberikan Sura," gumamnya. Dia memberikan sweater rajut yang kebesaran. Hanna perlu menggulung lengannya beberapa kali dan tetap saja menenggelamkan tangannya. Panjang bajunya saja hampir mencapai betis Hanna. Sebenarnya perbedaan tingginya dengan Sura tidak terlalu jauh. Hanna setinggi pundaknya. Tapi karena kebiasaan Sura yang suka mengenakan baju yang kebesaran dan ukuran badan Hanna yang kecil jadilah bajunya Sura kebesaran saat dia kenakan. Bahkan celana pendek yang biasa ia pakai sebelum memakai jeans sama sekali tidak terlihat. Tentu saja celananya itu hanya sampai di atas lutut Hanna. Hanna tidak memakai jaket yang diberikan soalnya dipenginapan cukup hangat. Gadis itu berencana memakainya nanti di waktu syuting. Hanna menyanyi ria sembari duduk di atas meja sembari menunggu cuciannya. Sementara itu, tangannya sibuk mengetikkan sesuatu di ponsel. Hanna tidak menyadari keberadaan Sura dan Jeno yang entah sejak kapan duduk seraya memperhatikannya bernyanyi. Gadis itu menyanyikan lagu milik Brian, seorang rapper asal Indonesia yang mengadu nasib di Amerika dan berhasil masuk menjadi salah satu rapper terkenal Hollywood. Dilanjutkan dengan lagu-lagu milik penyanyi lain yang memiliki tempo cepat juga. Hanna memasukkan baju yang telah selesai di cuci ke dalam mesin pengering dan menari semaunya, ala-ala hip hop. Hanna tertular kegilaan pada musik itu dikarenakan bosnya yang merupakan pecinta musik hip hop sejati. Hanna mulai menemukan kebahagiaan sendiri dalam musik bertempo cepat itu. Hanna merasakan kepuasan tersendiri terlebih ketika ia bisa bernyanyi dengan jelas dan tak ada kesalahan dalam kata-kata yang ia lafalkan. Hanna berputar-putar sendiri mengikuti irama lagu. Tiba-tiba tubuhnya langsung membeku begitu matanya melihat Jeno yang senyum-senyum melihat tingkah lakunya. Terlebih di sana juga ada Sura dan Jacop. Mulutnya otomatis langsung membentuk cengiran khas. Ia berusaha untuk bersikap biasa saja. Meskipun dalam hatinya ia merasa sangat malu. Hanna menanggalkan headfree dan membungkuk hormat. Tiba-tiba ia mendengar tepuk tangan. “Gila, kau bisa nge-rap juga ya,” ujar Jacop. “Bahkan kecepatanmu hampir menyamai Sura hyung.” Hanna sedikit khawatir mendengar pujian Jacop. 'Bagaimana mungkin dia bisa membandingkanku dengan Sura.' Belum sempat ia melihat reaksi Sura. Tiba-tiba Jeno langsung mengalungkan tangannya di leher Hanna dan menariknya pergi. “Hyung yang lain perlu melihat kemampuanmu.” Hanna hanya bisa pasrah tanpa perlawanan. “Hyuung..” Teriakan Jeno dan Jacop sukses mengalihkan perhatian Jun, Vlo, Rein, dan Jeimin yang tengah bermain game. “Kenapa kau berteriak-teriak seperti itu?” Protes Jeimin tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi. “Ada gempa kah?” Sambung Jun. Sebuah bantal mendarat di kepalanya yang berasal dari Vlo. “Mana mungkin ada gempa kalau kau sendiri tidak merasakannya, hyung.” Jun menertawai kebodohannya sendiri. “Aku menemukan orang yang bisa meyamai kecepatan rapnya Sura hyung,” ujar Jeno. Tangannya yang berat masih setia mengalungi leher Hanna yang mulai pegal akibat kelebihan beban. “Siapa?” Semuanya kompak bertanya dan tampak bersemangat. “Dan juga, tampaknya kau harus melepaskan tanganmu dari Hanna. Dia bisa mati kehabisan nafas nanti. Bisa gawat ntar," ujar Jun. Jeno segera melepaskan tangannya yang dari tadi mengunci leher Hanna dengan kuat. Hanna langsung terbatuk-batuk dikarenakan menahan berat badannya. 'Lama-lama sama mereka, bisa-bisa aku langsung R. I. P. ' “Kau belum menjawab pertanyaan kami," ujar Rein. “Ini.” Jeno dan Jacop kompak mengalungkan kembali tangannya di leher Hanna. Gadis itu langsung terhuyung menahan berat badan mereka. Untung saja Sura dengan sigap menariknya dari cengkraman Jeno dan Jacop. 'Astaga sekalian aja bunuh aku, bang.' "Kalian bisa membunuhnya,"ujar Sura dengan dingin. "Hehe, maafkan kami nuuna. Kami terlalu bersemangat," ujar Jacop. Hanna hanya mengangguk kecil. “ Hanna beneran bisa menyamai Sura hyung?” Vlo bertanya seolah tak percaya. “Kami melihat konser tunggalnya di tempat laundry tadi. Iya kan Jeno?” Ujar Jacop. “Kalau tidak percaya tanya saja ke Sura hyung," sahut Jeno. “Wah..wah, kamu harus menunjukkan bakatmu itu pada kami. Siapa tahu nanti kamu bisa menjadi traine di agensi kami. Aku bisa mengatakannya pada PD. Atau Sura hyung nanti bisa menciptakan lagu untuk kau nyanyikan. Dia pasti senang.” Tiba-tiba Jeimin langsung bersemangat. Hanna hanya menghela nafas dan mulai menyanyikan lagu salah lagu Brian berjudul Glow Like Dat. Sengaja memilih lagu yang tidak terlalu nge-beat. Hanna tidak bersemangat untuk menyanyikan lagu yang lebih cepat gara-gara mereka. Terlebih kedua lengan mereka kembali mengalungi lehernya. Usai Hanna menyanyikan lagu ia mendapat hadiah tepuk tangan bahkan dari Sura. “Kau menyanyikan lagu Brian?” Ujar Rein. “Oppa kenal?” “Tidak secara langsung. Hanya saja aku pernah mendengarkan lagunya dan melihat penampilannya di acara penghargaan musik dulu.” Hanna hanya manggut-manggut. Hanna tidak mengikuti perkembangan dunia hiburan. Hanna saja baru tahu Star One itu sekarang. Gadis itu suka mendengar lagu saat bekerja tapi tidak tertarik mengetahui siapa penyanyi atau profilnya. Tidak sopan memang, tapi ia tak bisa menghilangkan kebiasaannya itu. “Aku akui kau berbakat. Terlebih lagi, aku tidak bisa menemukan kesalahan nada atau tempo dalam nyanyianmu itu.” “Kau terlalu berlebihan, oppa. Aku hanya menyanyi sesuai dengan apa yang kudengarkan saja.” “Kalau begitu, hanya ada satu kemungkinan.” Jeno ikut menimpali. “Kau memiliki nada yang sempurna.” Perketaannya sukses membuat Hanna membeku. Ingatan yang mulai samar dengan kurang ajar mulai masuk tanpa permisi. Samar ia bisa mendengar ucapan seseorang yang persis sama dengan ucapan yang dilontarkan oleh Jeno. Meskipun sudah susah payah melupakannya. Ingatannya dengan kurang ajar langsung mengambil alih semua kenangan yang berusaha untuk Hanna lupakan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN