Bab 1: Luka yang Belum Sembuh

867 Kata
--- Pagi itu udara Jakarta belum terlalu panas, tapi kesibukan di IGD Rumah Sakit Dharma Bhakti sudah membara seperti biasa. Suara langkah kaki cepat, denting alat medis, dan dering telepon bersahutan menciptakan simfoni harian yang bagi sebagian orang terasa menegangkan, tapi bagi Vania Larasati—semua itu adalah ritme hidupnya. Dengan langkah cepat dan rambut hitam yang dikuncir seadanya, Vania memasuki ruang IGD. Masker medis menggantung di telinga kanan, stetoskop tersampir di leher, dan matanya tajam menyapu sekeliling. "Dok Van! Pagi!" sapa Lisa, perawat muda yang ceria, menyodorkan papan data pasien. "Ada kasus luka bakar di ruang 2. Anak usia 6 tahun, kena air panas. Ibunya masih syok berat." "Stabil?" tanya Vania tanpa henti melangkah. "Sudah dicek awal. Luka di perut dan paha. Level sedang, tapi anaknya rewel. Ibunya panik, kayaknya trauma juga." "Siapkan larutan saline, anestesi topikal, dan perban steril. Saya ke sana sekarang." “Dan eh…” Lisa berjalan cepat di sebelah Vania, “Dokter Reza nanyain kamu. Katanya soal laporan tim relawan untuk bulan depan.” Vania mengangguk. "Catat dulu, aku temui dia nanti. Tapi kasih aku kopi. Hitam. Tanpa basa-basi." Lisa tertawa. “Siap, dok. Dosis 300ml, kafein murni.” --- Ruang 2 dipenuhi aroma khas salep dan kain steril. Di atas ranjang, seorang bocah laki-laki meringkuk sambil menangis pelan. Perutnya memerah, beberapa bagian mengelupas. Seorang ibu muda duduk di sebelahnya dengan mata sembab. "Selamat pagi, Bu. Saya dokter Vania," sapa Vania lembut. Ia berjongkok agar sejajar dengan mata sang anak. "Boleh saya lihat lukanya, ya? Nanti aku obati, jadi nggak sakit lagi." Anak itu memandangnya dengan mata basah. Perlahan mengangguk. Vania memulai prosedur dengan cekatan. Tangannya bergerak sigap namun penuh perhatian, seolah sudah terlatih ribuan kali—karena memang begitu. Tapi bukan itu yang membuatnya berbeda. Vania berbicara pelan, kadang menyelipkan candaan kecil. Setiap senyum dan sentuhannya seperti pelukan tak kasat mata yang menenangkan. Setelah perban dibalut rapi, bocah itu tertidur di pangkuan ibunya. Perempuan itu menatap Vania sambil terisak. "Terima kasih banyak, dok. Saya… saya nggak tahu harus gimana tadi." "Yang penting anaknya selamat dan ditangani cepat. Tenang saja, Bu. Ini sudah jalan pemulihan." Wajah Vania tetap tenang. Tapi saat ia keluar ruangan, tarikan napasnya terdengar lebih berat dari biasanya. --- Jam menunjukkan pukul tiga sore saat Vania kembali ke ruang staf. Suasana mulai lengang. Beberapa perawat dan dokter muda tertidur di sofa, bergelimpangan seperti tentara setelah perang. Ia duduk, membuka kotak makan dari rumah. Ayam panggang, sayur bening, dan nasi merah. Tapi baru membuka tutupnya, ia terduduk diam. Nafsu makan hilang. Pikirannya melayang ke satu bulan lalu. Ucapan terakhir dari mantan tunangannya masih menggema. "Kamu terlalu sibuk, Van. Nanti kalau nikah, kamu mau bangun jam berapa? Pulang jam berapa? Nanti anak kita diasuh siapa?" "Ibuku bilang… kamu bukan tipe perempuan yang cocok jadi istri." Padahal mereka sudah merencanakan banyak hal. Bahkan Vania diam-diam sudah mulai belajar masak makanan kesukaan lelaki itu. Tapi ternyata, cinta tidak cukup. Profesi, status, dan harapan keluarga bisa merobek hal-hal yang dibangun dua tahun penuh. Lisa masuk membawa dua gelas kopi. “Ini, buat kamu. Satu buat aku. Aku tahu kamu butuh kafein dan... pelarian kecil.” Vania menyambutnya dengan senyum tipis. “Kamu bisa baca pikiran, ya?” “Aku cuma sering lihat wajah itu di kaca,” jawab Lisa sambil duduk di sebelahnya. “Kamu tahu, Van… kamu nggak perlu jadi sempurna setiap hari.” Vania menatap temannya. Diam sejenak. “Aku nggak pengen sempurna, Lis. Aku cuma pengen… nggak gagal.” --- Ponselnya berbunyi. Notifikasi dari berbagai grup. Iklan kosmetik. Diskon serum wajah. Panggilan tak terjawab dari ibunya. Lalu satu pesan membuat matanya terpaku. **Dr. Reza (TIM RELAWAN)** > Van, ada acara amal Sabtu ini. > Jakarta Peduli bareng Palang Merah dan komunitas lokal. > Kita butuh dokter jaga. Kamu free? Vania menatap pesan itu cukup lama. Jakarta Peduli. Nama itu seperti pintu yang membuka lorong waktu. Ia berpikir untuk mencari pelarian sejenak. Sudah lama Vania tidak mengikuti kegiatan lain karena aktivitasnya hanya di rumah sakit dan apartemen saja. Vania mengetik pelan. **Saya ikut, Dok. Detailnya tolong kirim ya.** Begitu jempolnya menyentuh tombol ‘Kirim’, ada sesuatu yang berubah. Ia tidak tahu apa. Tapi dadanya terasa lebih ringan. Lisa menoleh. “Acara relawan lagi?” Vania mengangguk. “Sabtu ini.” “Luar biasa. Si dokter yang katanya mau cuti malah daftar lembur ke lapangan.” Vania hanya tertawa kecil. Tapi tawa itu… untuk pertama kalinya dalam sebulan, terdengar sedikit lebih tulus. --- Malamnya, di kamarnya yang rapi, Vania menyiapkan tas kecil berisi alat medis dasar: stetoskop cadangan, termometer digital, tensimeter mini, perban, dan plester. Ia juga memasukkan jurnal saku dan beberapa vitamin. Di sela-sela lipatan baju, ada secarik catatan kecil: *“Ingat kenapa kamu mulai.”* Ia menulisnya tiga tahun lalu, saat pertama kali terjun ke lapangan bencana di Lombok. Tapi malam ini, tulisan itu seakan menyapa ulang dengan makna baru. Entah kenapa, Vania merasa… kali ini akan berbeda. Mungkin karena rasa sakit di dadanya mulai berkurang. Mungkin karena dia butuh jeda dari hidup yang terlalu rutin. Atau mungkin karena jauh di lubuk hatinya, ia ingin tahu… Masihkah dunia mempertemukannya dengan seseorang yang bisa menyembuhkan luka di hatinya. Dan kalau itu terjadi… Apakah dia masih cukup berani untuk percaya? ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN