Bab 2 - Janji yang Tak Terduga

1379 Kata
Udara pagi Jakarta masih lembap dan mendung, seperti menggambarkan suasana hati yang belum sepenuhnya pulih. Langit berwarna kelabu menggantung di atas gedung serbaguna tempat berlangsungnya acara amal “Jakarta Peduli.” Kabut tipis masih menyelimuti jalanan, dan embun pagi belum sepenuhnya menguap dari daun-daun kecil yang berjajar di pinggir trotoar. Jakarta, yang biasanya riuh dengan kendaraan dan suara klakson, pagi itu terasa lebih tenang, seolah ikut memberi ruang untuk sesuatu yang baru. Di tengah keramaian halaman gedung, langkah kaki Vania Larasati terdengar ringan namun mantap. Ia mengenakan seragam medis putih dengan saku d**a yang rapi, dan di tangannya tergantung tas kecil berisi perlengkapan kesehatan. Aroma antiseptik dari isi tasnya terasa familiar, menenangkan, namun di sisi lain, d**a Vania tetap berdebar. Bukan karena gugup menghadapi pasien, tapi karena suasana yang sama sekali baru. Acara sosial seperti ini belum pernah ia ikuti. Ini adalah kali pertama ia memutuskan untuk keluar dari zona nyamannya sejak patah hati beberapa bulan lalu. Dunia Vania selama ini hanya berkutat di rumah sakit, ruang periksa, dan kamar apartemen yang sunyi. Ia membungkus dirinya dalam kesibukan agar tak perlu menghadapi luka yang belum sembuh. Tapi pagi itu, ia memilih untuk mencoba—membuka pintu sedikit demi sedikit agar cahaya bisa masuk kembali. Sementara itu, dari kejauhan, seseorang memperhatikannya. Dimas Adijaya berdiri dengan posisi strategis di samping panggung utama, mengenakan jas hitam yang menonjol di antara para relawan yang berpakaian lebih kasual. Jas itu bukan semata untuk gaya, tapi memang ciri khasnya dalam setiap acara resmi yang ia dukung. Wajahnya bersih terawat, rahangnya tegas, dan sorot matanya tajam seperti seseorang yang terbiasa mengambil keputusan penting. Ia tengah berbicara singkat dengan panitia ketika pandangannya tertumbuk pada sosok Vania yang baru masuk. Langkah perempuan itu terlihat tenang namun penuh kehati-hatian, seolah membawa beban yang tidak ingin ditunjukkan. Dimas memperhatikan dari kejauhan, tertarik bukan hanya oleh penampilan Vania, tetapi oleh energi yang terpancar darinya—tenang, kuat, dan... sedikit terluka. “Siapa dia?” tanya Rafi, salah satu anggota timnya, yang ikut memperhatikan ke arah pandangan Dimas. “Aku belum tahu,” jawab Dimas tanpa mengalihkan pandangannya. “Tapi aku suka cara dia membawa dirinya. Perhatikan saja.” Vania berjalan pelan melewati beberapa stand makanan gratis, relawan medis, dan booth registrasi donatur. Suasana ramai namun tertata. Ia mendengar suara anak-anak tertawa dari area permainan di samping gedung, lalu suara toa yang memberi informasi bahwa acara pembukaan akan dimulai dalam waktu 30 menit. Ia menarik napas panjang, mencoba menyesuaikan dirinya. Tak lama kemudian, seorang wanita muda dengan senyum ramah menghampirinya. Ia mengenakan kaos panitia warna biru laut dan membawa clipboard. “Hai, kamu pasti Vania ya?” sapanya ceria. “Aku Nia, dari tim logistik. Aku yang akan bawa kamu ke pos medis.” Vania tersenyum lega. “Senang bertemu, Nia. Terima kasih ya. Aku sempat bingung arah tadi.” “Wajar kok, ini tempatnya besar. Tapi tenang aja, kamu bakal suka,” jawab Nia sambil mulai berjalan memimpin. Mereka berjalan bersama menyusuri koridor luar gedung. Nia menjelaskan bahwa pos medis terletak di bagian barat dekat panggung, karena dari situ bisa menjangkau cepat semua area. Di sepanjang jalan, Vania mengangguk, kadang tersenyum kecil melihat semangat para relawan yang tengah mengangkut dus makanan, membagikan brosur, atau menata peralatan. Saat itulah Dimas bergerak. Dengan langkah santai namun terukur, ia menyesuaikan langkahnya hingga sejajar dengan Nia dan Vania. “Dokter... Vania?” sapanya sambil melihat ke arah nametag Vania, suara baritonnya terdengar lembut namun penuh kendali. Vania menoleh. Sempat terkejut saat melihat pria itu—tinggi, rapi, dengan senyum yang tidak terlalu lebar namun cukup hangat. “Saya Dimas. Senang bertemu denganmu.” Vania membalas senyum sopan. “Senang bertemu juga, Dimas.” Nia melirik keduanya sejenak dan tersenyum kecil, lalu memutuskan mundur perlahan. “Aku tinggal dulu ya, Van. Dimas pasti bisa bantu kamu ke pos medis.” Vania hanya sempat mengangguk sebelum Nia berbalik, membiarkan mereka berjalan berdua. Ia merasa sedikit canggung, tapi tidak bisa menyangkal bahwa pria di sebelahnya ini membawa aura yang sulit diabaikan. Dimas melirik Vania dengan ekspresi tenang. “Aku sudah melihatmu dari jauh tadi,” katanya jujur. “Padahal au baru melihatmu hari ini, dan tidak terlihat canggung sama sekali. Tenang, tapi kuat.” Vania sempat diam. “Kamu menilai seseorang hanya dari cara dia berjalan?” tanyanya pelan. “Bukan cuma itu,” jawab Dimas sambil tersenyum tipis. “Tapi dari bagaimana dia memperhatikan sekeliling, bagaimana dia bersikap pada orang asing. Kamu seperti seseorang yang ramah dan meninggalkan kesan kuat kepada orang lain. Mungkin karena kamu seorang dokter, jadi pembawaanmu terlihat seperti itu.” Mereka mulai mengobrol. Bukan tentang bisnis atau amal, melainkan tentang diri mereka. Vania berbicara tentang kepuasan yang ia rasakan ketika berhasil menstabilkan pasien dalam kondisi kritis, bagaimana adrenalin mengalir di tubuhnya saat ia berjuang melawan kematian. Dimas mendengarkan dengan penuh perhatian, tidak seperti pria lain yang pernah ia temui—mereka cenderung meremehkan pekerjaannya atau memujinya dengan pujian klise. ​Dimas, sebaliknya, berbicara tentang tim relawannya. Ternyata, ia bukan hanya pengusaha. Dia adalah Kapten dari sebuah tim respons cepat bencana yang didanai perusahaan. ​“Uang bukan segalanya, Vania. Itu hanya alat. Alat yang paling memuaskan adalah saat saya bisa mengirim tim saya ke medan terberat, dan mereka kembali dengan selamat, membawa pulang nyawa,” kata Dimas. “Kita berdua sama-sama menghadapi kekacauan, tapi dari sisi yang berbeda. Anda menyembuhkan yang terluka; saya mencoba mengurangi jumlah mereka.” ​Waktu berlalu tanpa terasa. Vania benar-benar terpikat oleh pria ini. Ia adalah pria yang sukses secara finansial, tetapi jiwanya didedikasikan untuk pelayanan—mirip dengannya. ​Tiba-tiba, Dimas menggeser tubuhnya lebih dekat, mengurangi jarak personal di antara mereka. Suasana di sekitar mereka seolah memudar, menyisakan mereka berdua di tengah aula yang riuh. ​“Saya tertarik pada Anda, Vania Larasati. Bukan hanya penampilan, tetapi ambisi di mata Anda. Saya menghargai seorang wanita yang tahu nilainya,” ujar Dimas, nadanya berubah menjadi lebih personal dan menantang. ​Jantung Vania berdetak lebih cepat. “Maaf, tetapi saya sedang tidak mencari hubungan, Dimas. Saya tidak ingin membuat ambisi saya berubah menjadi sebuah masalah,” jawab Vania jujur, membiarkan sedikit kegetiran dalam dirinya terkuak. ​Dimas tersenyum, kali ini senyumnya penuh percaya diri, bahkan sedikit nakal. “Saya tidak melihatnya sebagai masalah. Saya melihatnya sebagai daya tarik. Tapi saya menghormati keputusan Anda.” ​Ia kemudian mendekatkan kepalanya, suaranya kini berbisik rendah, seperti sebuah konspirasi yang hanya bisa mereka dengar. ​“Tapi, saya ingin menantang takdir,” katanya. Vania menatapnya bingung. ​Dimas menegakkan tubuhnya, matanya bertemu dengan mata Vania, menahan pandangannya. ​“Dengar baik-baik, Vania. Kalau kita bertemu lagi secara tak sengaja, di mana pun itu, tanpa kita rencanakan... hari itu adalah hari pertama kita berpacaran. Saya tidak akan menelepon atau mengirim pesan. Saya akan membiarkan semesta yang memutuskan.” ​Vania terkejut, merasa tertantang oleh keberaniannya yang absurd. Dia tertawa, tawa yang lepas dan tulus, tawa yang hilang sejak perpisahan dengan Aldo. ​“Itu ide yang gila, Tuan Adijaya,” balas Vania. “Jakarta ini luas, dan dunia lebih luas lagi. Kesempatan itu sangat tipis. Mungkin hanya satu persen.” ​Dimas mengangkat bahu. “Maka kita biarkan satu persen itu bekerja. Saya percaya pada takdir yang berani.” ​Vania berpikir sejenak. Janji ini tidak mengikat. Ini hanya sebuah permainan. Dan jika ia menolak, ia akan terlihat pengecut. Ia menatap Dimas yang menunggunya dengan ekspresi tenang. Vania menerima tantangan itu dengan anggukan tegas. ​“Baiklah. Kalau kita bertemu lagi, maka itu adalah takdir. Dan saya akan menepati janji itu,” balas Vania, menyembunyikan getaran dalam suaranya. ​Dimas tersenyum. Senyum itu tidak lagi seperti kilat, melainkan seperti api yang baru menyala—hangat dan penuh harapan. Ia kemudian menjabat tangan Vania dengan erat, genggaman itu begitu kuat hingga Vania bisa merasakan janji tak terucapkan yang tersirat di dalamnya. ​“Sampai bertemu lagi, Dokter Vania Larasati,” ujar Dimas, lalu ia berbalik, berjalan menuju kerumunan, meninggalkan Vania yang masih berdiri terpaku. ​Vania menatap punggung Dimas yang menjauh, rasa penasaran yang aneh bercampur dengan sedikit ketakutan. Ia yakin, ia tidak akan pernah bertemu pria ini lagi. Tidak ada yang namanya kebetulan murni di dunia mereka. Tapi ia salah. Ia tidak tahu bahwa takdir telah mencatat janji mereka, dan akan mengumpankannya kembali kepada mereka di tempat yang paling kacau dan tak terduga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN