-------
Vania – Menyembuhkan, Bukan Melupakan
Dua tahun telah berlalu sejak malam di ballroom kristal itu. Waktu yang cukup bagi Vania Larasati untuk melakukan restrukturisasi total pada hatinya. Luka lama yang ditinggalkan oleh Aldo telah sembuh menjadi bekas luka yang keras, menjadikannya lebih kuat dan lebih berhati-hati. Ia telah menutup rapat pintu hatinya terhadap pria mana pun yang memiliki potensi untuk menuntutnya memilih antara karier dan cinta.
“Cinta yang benar tidak akan memintamu memilih,” begitu moto yang kini ia pegang teguh.
Janji konyol yang ia buat dengan Dimas Adijaya—pria CEO-Kapten Relawan dengan tatapan mata seperti kopi pekat—sudah lama ia masukkan ke dalam kategori ‘kenangan lucu di pesta mabuk kepayang’, meskipun ia tidak mabuk malam itu. Namun, anehnya, gambaran Dimas, dengan aura otoritatifnya, dan tantangan yang ia lontarkan, sering muncul di saat-saat tak terduga.
Vania kini menjabat sebagai Dokter Umum Senior di IGD Rumah Sakit X, dengan jam kerja yang kian brutal dan penuh tekanan. Ia menyukai ketegasan dan kepastian di IGD. Di sana, konflik dan solusi datang dan pergi secepat jarum suntik. Tidak ada kebingungan; hanya hidup dan mati.
“Kamu harus berhenti mencintai pekerjaanmu lebih dari dirimu sendiri, Van,” tegur Nia, perawat senior yang sudah seperti kakak baginya, suatu malam saat mereka berdua sedang makan malam dengan nasi kotak di ruang istirahat.
Vania tersenyum lelah, mengunyah lauk ayam yang sudah dingin. “Ini bukan cuma pekerjaan, Ni. Ini adalah tujuan. Di sini, aku yang memegang kendali atas kehidupanku.”
“Dan di situ masalahnya,” Nia menyahut sambil menghela napas. “Sejak Aldo, kamu takut kehilangan kendali, makanya kamu nggak mau punya pacar lagi. Kamu tahu, Dimas Adijaya itu sempat jadi bahan gosip di kalangan staf medis setelah acara amal itu. Dia pria yang baik, dan kabarnya dia sering menyumbang peralatan mahal secara anonim.”
Mendengar nama Dimas disebut, Vania merasakan gelombang aneh di perutnya—campuran rasa penasaran dan penolakan. “Dia cuma pengusaha gila yang suka main tantangan. Sudah, jangan bahas dia. Aku harus cek pasien di bed empat.”
Vania memang tidak pernah mencoba mencari Dimas di media sosial, dan ia menghindari acara-acara yang berpotensi mempertemukan mereka. Ia merasa takut pada janji itu. Jika mereka bertemu lagi, dan itu takdir, apakah ia siap? Ia belum yakin. Maka, ia memilih untuk menjauh, menjaga jarak agar takdir tak punya kesempatan.
Ia menyibukkan diri dengan mengambil kursus tambahan, menjadi pengajar sukarela, bahkan memimpin tim medis kecil ke beberapa daerah terpencil di Indonesia, menawarkan pemeriksaan gratis. Vania mencari tantangan fisik yang bisa mengalihkan pikirannya dari konflik batin dan luka lama. Ia mencari keriuhan di luar, agar keheningan di dalam dirinya tidak terdengar terlalu nyaring.
Dimas – Kapten dengan Tujuan
Sementara itu, di dunia yang berbeda, Dimas Adijaya menjalani dua kehidupan yang kontras.
Sebagai CEO Adijaya Group, ia adalah mesin tanpa emosi, membuat keputusan cepat senilai miliaran, dan menghadapi tekanan yang tak terbayangkan dari para pemegang saham. Ia membangun kerajaan bisnisnya dengan logika yang dingin dan strategis.
Namun, di waktu luangnya, ia berubah menjadi Kapten Dimas, memimpin tim relawan Adijaya Rescue yang kini telah berkembang menjadi salah satu tim respons tercepat di Asia Tenggara. Di lapangan, ia adalah pria yang berbeda: tangannya kotor, walkie-talkie selalu di tangan, dan fokusnya murni pada kemanusiaan.
Arif, sahabat dan partner bisnisnya, sering menggodanya. “Kamu seharusnya lebih sering pakai tuksedo daripada seragam relawan itu, Dim. Itu baru namanya branding!”
Dimas hanya tertawa kecil. “Tuksedo hanya menutupi. Seragam ini yang menunjukkan siapa aku sebenarnya, Rif.”
Meskipun ia berusaha menyibukkan diri, Dimas tidak pernah melupakan janji yang ia buat di bawah lampu kristal. Sejak malam itu, setiap kali ia menghadiri acara publik, matanya secara otomatis mencari sosok wanita dengan mata penuh resolusi itu. Ia mencari kebetulan yang ia yakini akan terjadi.
“Kenapa kamu nggak telepon saja dia? Kamu punya koneksi,” tanya Arif suatu kali, frustrasi dengan sikap pasif temannya.
“Bukan itu intinya,” jawab Dimas, merapikan peta logistik untuk simulasi bencana. “Aku bukan mau memaksakan kehendakku. Aku mau tahu, apakah semesta mau kita bersama. Kalau aku yang memaksakan, itu bukan takdir. Itu manipulasi.”
Keyakinannya pada takdir yang berani itu menjadi semacam mantra baginya. Ia menolak semua tawaran kencan yang datang, karena tidak ada wanita yang memiliki kombinasi yang sama: ambisi yang berapi-api, kepedulian yang tulus, dan sedikit kegetiran di mata. Vania Larasati telah menetapkan standar yang tidak dapat ia turunkan.
Dimas percaya, semakin ia bekerja untuk kebaikan, semakin cepat takdir akan membalasnya dengan mempertemukan mereka lagi.
Semesta Bergerak: Gempa di Ujung Pulau
Di akhir tahun kedua, saat Dimas baru saja menyelesaikan tender properti besar di Surabaya, berita buruk mendominasi semua saluran berita.
"Gempa Dahsyat Magnitudo 7.2 Melanda Pulau Sumbawa. Kerusakan Parah, Korban Jiwa Diperkirakan Ratusan."
Tanpa pikir panjang, Dimas mengaktifkan timnya. Dalam waktu kurang dari dua belas jam, ia dan tim inti Adijaya Rescue sudah berada di bandara, bersiap untuk lepas landas dengan membawa peralatan berat, obat-obatan, dan tim medis spesialis. Ia meninggalkan semua urusan kantor di tangan Arif. Kali ini, pekerjaannya di kantor terasa remeh dibandingkan panggilan yang lebih besar.
Di tempat yang sama, Vania juga terpanggil. Ia mengajukan cuti mendadak dan memimpin tim medis kecil dari rumah sakit untuk bergabung dengan tim Bantuan Kemanusiaan dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Meskipun lelah secara fisik, semangatnya untuk membantu di medan perang melawan kematian selalu membara.
“Kita akan langsung ke pos terdepan. Kita harus cepat,” perintah Vania, suaranya tajam, tidak memberikan ruang untuk keraguan.
Pada saat yang sama, Dimas memberikan instruksi yang sama di pesawat yang berbeda: “Kita akan masuk ke desa yang paling terisolasi. Logistik dan evakuasi adalah prioritas kita. Jangan ada yang ceroboh. Aku butuh kalian semua kembali dalam keadaan utuh.”
Mereka berdua bergerak menuju titik geografis yang sama, dengan tujuan yang sama, tetapi tanpa tahu bahwa takdir akhirnya memutuskan untuk memenuhi janji yang terucap di tengah kemewahan artifisial.
Vania dan timnya tiba dua puluh empat jam setelah gempa utama, berjuang menembus jalur darat yang rusak dan penuh puing. Mereka mendirikan pos kesehatan darurat di sebuah tenda militer yang remang-remang di area yang paling parah, Desa Pesisir M. Aroma debu, tanah basah, dan luka-luka langsung menyambut mereka. Vania langsung bekerja, menanggapi teriakan kesakitan, memilah pasien, dan mengeluarkan perintah dengan cepat.
Saat ia sedang menjahit luka terbuka seorang anak kecil, pintu tenda tiba-tiba dibuka paksa oleh seseorang.
“Saya butuh dokter dengan kemampuan bedah ringan segera! Kami menemukan tiga korban terjebak di reruntuhan gudang, dan kami hanya punya satu jam!” suara yang berat dan akrab itu menghantam gendang telinga Vania, mematikan semua suara di sekitarnya.
Vania mendongak dari jahitannya. Pria itu berdiri di ambang pintu, tubuhnya dipenuhi debu dan lumpur, seragam relawannya kotor, wajahnya ditutupi noda jelaga, tetapi matanya—mata yang tajam dan pekat seperti kopi itu—tidak berubah.
Dimas menatap Vania, yang mengenakan masker dan jubah medis berlumuran darah. Hanya mata mereka yang terlihat. Namun, dalam keheningan yang singkat dan absolut itu, mereka berdua tahu.
Takdir telah bekerja. Janji telah terpenuhi.
Dimas melangkah masuk, tidak peduli dengan lumpur yang ia bawa. Ia tidak menyapa, tidak tersenyum. Ia hanya mengangguk, tatapannya menyatakan, ‘Ini dia. Ini hari pertama kita.’
Vania melepaskan sarung tangannya yang berlumuran darah, jantungnya berpacu lebih kencang dari adrenalin yang ia rasakan dalam prosedur medis. Ia merasakan sensasi yang familiar: ketakutan, gairah, dan penerimaan.
“Saya bisa. Bawa tandu ke sini,” jawab Vania, suaranya mantap, membalas janji itu dengan keberanian.
Mereka bertemu lagi. Bukan di bawah kilauan kristal, tetapi di bawah langit yang penuh debu dan tangisan. Hari itu adalah hari pertama mereka.