---------
Setelah momen tatap mata yang menggetarkan di pintu tenda, Vania dan Dimas segera menarik kembali emosi mereka, mengembalikannya ke dalam cangkang profesionalisme yang dingin. Gempa yang mempertemukan mereka adalah bos yang kejam, menuntut fokus total.
Selama tiga hari berikutnya, Vania Larasati dan Dimas Adijaya menjalankan koordinasi yang begitu mulus, seolah mereka sudah bekerja bersama selama bertahun-tahun. Vania mengagumi ketepatan logistik Dimas. Setiap kali ia membutuhkan persediaan—mulai dari jarum benang bedah yang spesifik hingga kantung darah yang harus tiba tepat waktu—Dimas selalu menyediakannya, bahkan dalam kondisi jalur komunikasi yang kacau.
“Dimas, saya butuh mobil four-wheel drive untuk mengangkut tiga korban yang memerlukan rujukan segera ke rumah sakit provinsi. Jalur D,” perintah Vania, sambil membersihkan darah dari sarung tangannya.
Dimas, yang sedang mengarahkan tim SAR di radio, segera menjawab tanpa berbalik. “Mobil four-wheel drive sudah saya amankan. Sopir akan tiba di tenda dalam lima menit. Tolong siapkan data lengkap rujukan dan surat persetujuan dari komandan pusat. Protokol darurat tetap harus dijalankan, Dokter.”
“Tentu, Kapten,” balas Vania.
Gaya interaksi mereka—singkat, padat, dan selalu menggunakan panggilan formal—menciptakan aura ketegasan yang aneh di tengah kekacauan. Namun, di balik formalitas itu, ada komunikasi non-verbal yang intim. Mereka tahu kapan yang lain lelah, kapan yang lain membutuhkan air, dan kapan mereka membutuhkan dukungan emosional tanpa kata-kata.
Suatu sore, saat matahari terbenam menyisakan warna oranye kecokelatan yang menyeramkan di atas debu, Vania sedang mengganti perban seorang anak kecil yang kakinya terluka parah. Tangan Vania yang ahli bergerak cepat, namun kelelahan membuatnya nyaris ambruk.
Dimas datang, bukan untuk memberikan perintah, melainkan hanya untuk berdiri di sampingnya. Ia tidak berbicara, hanya menawarkan kehadiran yang tenang. Kehadirannya terasa seperti jangkar, menahan Vania agar tidak hanyut dalam keputusasaan yang melanda.
“Dimas, aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Persediaan oksigen untuk bayi prematur hampir habis,” bisik Vania, matanya memerah menahan air mata frustrasi. “Aku sudah minta bantuan tim lain, tapi jalur tertutup.”
Dimas tidak berjanji akan menyediakannya dalam lima menit seperti yang biasa ia lakukan. Ia hanya meletakkan tangannya di bahu Vania, memberikan tekanan yang menenangkan.
“Lakukan yang terbaik, Vania. Sisanya, kita serahkan pada takdir, dan pada Tim SAR. Aku akan berusaha mencari jalan lain,” kata Dimas, suaranya mengandung empati yang dalam, melunakkan sedikit sisi Kaptennya.
Saat Dimas berbalik untuk pergi, Vania menahan tangannya tanpa sadar. “Terima kasih,” bisiknya, matanya bertemu dengan mata Dimas.
Dimas tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk, lalu bergegas pergi, meninggalkan Vania yang merasakan sensasi aneh. Mereka berpacaran di tengah bencana. Hubungan mereka dibangun di atas adrenalin, tanggung jawab, dan kelelahan, di mana setiap momen singkat jauh lebih berharga daripada semua pesta di ballroom Jakarta.
Pada malam keempat mereka di lokasi, intensitas pekerjaan sedikit menurun. Tim bantuan dari kota besar mulai berdatangan, memungkinkan Vania dan Dimas untuk beristirahat lebih lama. Vania sedang duduk sendirian di luar tenda medis, menyalakan pemanas kecil untuk melawan dinginnya malam yang menusuk tulang.
Dimas menghampirinya, membawa dua cangkir kopi instan panas. “Aku berhasil mendapatkan ini dari pos komando. Rasanya seperti barang mewah,” katanya, menyerahkan salah satunya.
“Terima kasih,” Vania menerima cangkir itu. Ia menatap Dimas yang duduk di sampingnya, dengan jarak yang lebih dekat dari yang diizinkan oleh protokol profesional mereka.
“Kenapa kamu tidak langsung bilang kalau kamu adalah Kapten tim relawan waktu di acara amal?” tanya Vania. “Kamu hanya memperkenalkan diri sebagai pengusaha Adijaya.”
Dimas menyesap kopinya, ekspresinya serius. “Karena itu bagian dari misiku. Aku tidak suka orang tahu aku punya uang sebelum mereka tahu apa yang aku perjuangkan. Dan saat itu, aku melihat kamu. Aku tahu kamu adalah wanita yang tidak akan terkesan oleh uang. Kamu hanya akan terkesan oleh tujuan.”
“Dan kamu benar,” kata Vania, sedikit tersipu. “Aku tidak terkesan oleh uang. Aku terkesan oleh kenyataan bahwa kamu rela mempertaruhkan segalanya untuk janji konyol kita.”
Dimas menoleh, matanya mencerminkan cahaya bulan yang buram. “Bukan konyol, Vania. Aku sudah lama berhenti melihatnya sebagai tantangan. Aku melihatnya sebagai takdir yang kutunggu.”
Ia kemudian menceritakan bagaimana ia membiarkan dirinya mencari Vania, bagaimana ia berusaha untuk tidak menggunakan koneksinya untuk menghubunginya, karena ia ingin kebetulan itu menjadi murni.
“Aku tahu, kamu pasti punya alasan yang kuat kenapa kamu tidak ingin pacaran saat itu. Mungkin karena pria sebelumnya… dia membuatmu memilih?” tebak Dimas dengan lembut.
Vania terkejut, namun Dimas hanya menatapnya dengan pengertian. “Aku tahu tentang Aldo. Aku tahu ceritamu. Aku mencari tahu, Vania. Aku ingin tahu apa yang membuat matamu menyimpan resolusi yang begitu kuat.”
Vania terharu. Ia merasa Dimas tidak hanya menerima pekerjaannya, tetapi juga menerima trauma dari masa lalunya.
“Dia… ibunya bilang profesiku terlalu tinggi. Bahwa aku akan terlalu sibuk. Bahwa aku harus memilih antara menjadi dokter hebat atau menjadi menantu yang baik,” bisik Vania.
Dimas meraih tangan Vania, membalutnya dengan kehangatan tangannya yang kasar. “Aku tahu pekerjaanmu menuntut, Vania. Tapi aku bukan Aldo. Dan aku tidak akan pernah memintamu memilih. Aku akan selalu menjadi Kapten yang memimpin, tapi aku juga ingin menjadi pria yang mendampingi. Aku akan selalu ada untuk mendukung ambisimu, bahkan jika itu berarti aku harus menunggu di titik akhir.”
Pengakuan Dimas terasa begitu tulus dan tegas, seolah ia sedang memberikan perintah mutlak kepada hatinya. Vania menyadari bahwa Dimas tidak hanya berjanji, tetapi ia sudah membuktikannya dengan aksinya. Dimas tidak hanya mencintai Vania, tetapi juga menghormati Dr. Vania Larasati.
“Aku juga tidak ingin berpisah lagi, Dimas,” bisik Vania, menatapnya dengan penuh harap. “Aku tidak mau kembali ke Jakarta dan kita hanya saling berkirim pesan formal.”
Dimas tersenyum. “Aku janji, kita tidak akan kembali ke formalitas. Begitu kita kembali, kita akan mulai lagi. Tapi, aku harus memastikan kamu aman dulu.”
Mereka berdua larut dalam keheningan yang nyaman itu, mengetahui bahwa ikatan mereka telah dibentuk, tidak di atas emas dan kristal, melainkan di atas kebersamaan dalam bahaya. Namun, mereka tidak tahu bahwa janji manis itu akan segera diuji oleh gempa susulan yang datang tanpa peringatan.