Bab 5 - Harga dari Sebuah Kehadiran

931 Kata
Udara di posko terasa lebih tipis, bukan karena ketinggian, melainkan karena ketegangan yang menggantung setelah pengakuan tak terduga Dimas. Janji untuk bertemu lagi, yang Vania anggap sebagai dongeng mewah, kini menjadi kenyataan yang terasa hangat di tengah dinginnya malam. Vania merasakan kebahagiaan yang asing, sebuah janji akan masa depan yang tidak menuntutnya memilih. Namun, takdir rupanya belum selesai menguji mereka. Bumi tiba-tiba bergetar lagi, kali ini dengan raungan yang lebih memekakkan telinga. Lampu darurat berkedip sebelum akhirnya mati total, menyisakan kegelapan yang dipecah oleh teriakan panik dan debu yang beterbangan. Gempa susulan itu terasa brutal, seolah ingin meruntuhkan bukan hanya bangunan, tetapi juga harapan yang baru saja mereka bangun. ​Vania dan Dimas segera berdiri, naluri profesional mereka mengambil alih. Namun, sebelum mereka bisa mengeluarkan perintah, seorang relawan Tim SAR berlari masuk ke tenda komando, wajahnya pucat pasi. "Longsor! Sial, longsor di desa hulu, Kapten! Jalur evakuasi utama tertutup total, dan tim medis Dokter Vania masih di sana!" ​Jantung Vania mencelos. Tiga perawat dan satu dokter muda dari timnya—Aldi dan Nurul ada di antara mereka—sedang bertugas di desa terisolasi yang baru ia kunjungi sehari sebelumnya. Mereka adalah tanggung jawabnya. Ia segera meraih tas medis yang sudah terisi penuh, mata penuh resolusi. "Aku harus ke sana. Aku tahu jalurnya, dan mereka adalah tanggung jawabku," ucapnya tegas, langkahnya mantap menuju pintu tenda. ​Namun, Dimas mencekal lengannya. Genggaman itu kuat, memaksanya berhenti. "Tidak, Vania! Jalur itu berbahaya, terlalu riskan! Kamu adalah dokter senior yang paling dibutuhkan di posko ini. Kamu harus tetap di sini. Kamu kunci utama pertolongan untuk korban yang akan datang." Dimas berbicara dengan nada Kapten yang tak terbantahkan, tetapi Vania melihat ketakutan yang nyata di matanya—ketakutan yang sama yang Dimas akui beberapa saat yang lalu. ​Vania menepis tangan Dimas, matanya memancarkan api. "Dan mereka adalah kunciku, Dimas! Aku tidak akan meninggalkan timku. Aku bukan tipe pemimpin yang hanya menunggu laporan. Aku akan pergi!" Ia tahu itu adalah tindakan yang sembrono, melanggar semua protokol, tetapi ia tidak punya pilihan. Kepemimpinan menuntut kehadiran. ​Dimas menghela napas, rahangnya mengeras. Ia sadar, ia tidak bisa menghentikan Vania, dan ia juga tidak bisa membiarkannya pergi sendirian. Dalam hitungan detik, ia membuat keputusan yang mengabaikan hierarki dan logistik timnya. "Baik!" suaranya menggelegak, mengambil alih komando situasi. "Kamu tidak pergi sendiri. Aku ikut. Arif!" teriak Dimas, memanggil partner bisnis dan relawannya yang kini terlihat khawatir. "Kamu ambil alih komando posko utama. Koordinasikan dengan TNI dan tim bantuan yang baru datang. Aku dan Dokter Vania akan menuju lokasi longsor." ​Arif berlari mendekat, protesnya sudah di ujung lidah. "Dimas, kamu gila? Kamu Kapten! Kamu tidak bisa meninggalkan komando saat krisis!" ​"Aku Kapten yang bertanggung jawab pada setiap relawanku! Dan aku tidak akan membiarkan ada satu pun yang hilang hari ini!" Dimas menatap Arif dengan tatapan yang membungkam semua bantahan. Ia tahu ini adalah risiko terbesar yang ia ambil sejak memimpin tim relawan. Ia mempertaruhkan kredibilitasnya, bahkan nyawanya, demi seorang wanita yang baru lima hari ini ia akui sebagai kekasihnya. Ini adalah harga dari janji yang ia buat: Aku tidak takut kehilanganmu, aku takut kamu tidak ada. ​Mereka bergerak cepat, hanya membawa peralatan rescue minimal dan tas medis. Perjalanan itu adalah ujian yang sesungguhnya. Mereka harus menempuh jalur memutar, merangkak di atas puing, dan melintasi tebing yang nyaris runtuh. Dimas ada di depan, gerakannya gesit, menguji setiap pijakan sebelum Vania melangkah. Keberaniannya terasa menular, tetapi Vania yang masih lelah dan tertekan, akhirnya terpeleset di tanah yang licin. Pergelangan kakinya terkilir, rasa sakit yang menusuk membuatnya meringis. ​Dimas segera berbalik dan berlutut, mengabaikan lumpur yang membasahi celana mahalnya. Dengan tangan yang terampil dan mendadak lembut, ia membalut kaki Vania. "Tahan, sebentar lagi." ​"Tinggalkan aku, Dimas," desis Vania, menahan air mata yang bukan karena sakit fisik, tetapi karena frustrasi. "Kamu harus cepat. Mereka butuh kamu." ​Dimas menyelesaikan balutan itu, lalu menatap Vania dengan tatapan yang nyaris memohon. "Aku tidak akan meninggalkanmu, Vania. Aku sudah menunggu dua tahun. Aku tidak akan membiarkan longsor ini mengambil kamu dariku." Ia menyandarkan bahu Vania ke tubuhnya, menyalurkan setengah berat Vania ke dirinya. Mereka melanjutkan perjalanan dalam keheningan yang penuh perjuangan. Vania hanya bisa melihat Dimas. Ia tidak lagi melihat pengusaha arogan atau Kapten yang dingin. Ia melihat seorang pria yang meletakkan hatinya di garis depan, yang memilih kehadirannya di sisi Vania di atas segalanya. ​Saat fajar mulai menyingsing, mereka akhirnya mencapai pinggiran desa. Syukurlah, tim Vania sudah berusaha menyelamatkan diri, tetapi terjebak oleh timbunan lumpur dan pohon tumbang. Setelah berhasil membebaskan mereka, Vania merasa lega yang luar biasa. Ia menatap Aldi, dokter muda di timnya, yang tampak terguncang namun selamat, lalu beralih menatap Dimas. ​Saat semua timnya aman, Vania tidak lagi bisa menahan bebannya. Ia ambruk. Bukan karena cedera, tetapi karena kelelahan emosional yang luar biasa. Dimas dengan cepat menangkapnya, tubuh Vania merosot ke dalam pelukan Dimas yang kotor dan bau lumpur. ​Vania memeluknya erat, air mata bercampur lumpur di pipinya. "Aku pikir aku kehilangan kamu," gumam Dimas, suaranya parau. Vania memejamkan mata, membiarkan tubuhnya melemas dalam pelukan yang terasa seperti rumah. "Aku... pikir... aku nggak akan lihat kamu lagi," jawabnya pelan. "Sekarang aku di sini." ​Mereka berpelukan di tengah pos relawan yang kembali sibuk, di bawah tatapan para relawan lain. Detik-detik intim itu terasa abadi. Dimas akhirnya tersadar, malu dengan perilaku spontannya, tetapi lega yang tak terlukiskan jauh lebih dominan. Setelah melepaskan pelukan, Vania tersenyum, senyum lega, murni. Di mata Vania, Dimas melihat pantulan keberaniannya sendiri. Dan untuk pertama kalinya, Vania merasa perjalanan mereka bukan lagi pelarian dari masa lalu, melainkan kepulangan ke tempat yang seharusnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN