Bab 6 - Pulang

851 Kata
Kelegaan yang Vania rasakan dalam pelukan Dimas di tengah posko darurat harus segera berakhir. Gempa susulan dahsyat telah meruntuhkan jembatan dan memutuskan jalur evakuasi utama, memaksa mereka kembali berpisah. Momen pengakuan tulus mereka di bawah langit kotor harus segera diuji oleh jarak yang dipaksakan. ​Dimas, dengan wajah Kapten yang kembali keras dan penuh tanggung jawab, berdiri di samping helikopter evakuasi Angkatan Udara yang berisik. "Aku sudah bicara dengan pilot, Vania. Ini adalah satu-satunya jendela evakuasi yang aman hari ini. Kamu dan timmu harus naik sekarang." ​Vania menatapnya, ada gumpalan di tenggorokannya. Ia tahu Dimas benar, tetapi ia merasa pahit harus meninggalkannya lagi. "Kamu yakin kamu tidak bisa ikut? Pos komando sudah tidak layak, Dimas. Kamu bisa koordinasi dari Jakarta." ​Dimas menggeleng. Sikapnya tidak meninggalkan ruang untuk negosiasi. "Aku adalah Kapten, Vania. Kewajibanku ada di sini. Aku tidak bisa meninggalkan medan. Aku harus memastikan setiap relawan yang kubawa pulang dengan selamat. Ini adalah tugasku." Ia melangkah lebih dekat, suaranya meredup agar tidak terdengar oleh kru. "Aku harus meninggalkanmu, untuk sementara. Tapi tolong, jangan pernah berpikir bahwa aku memilih pekerjaan ini di atas kamu. Aku melakukan ini agar aku bisa kembali padamu tanpa beban. Aku ingin kita memulai dengan hati yang utuh." ​Ia meraih tangan Vania, mencium punggungnya, sebuah sentuhan yang singkat, tetapi terasa begitu intim dan mendesak. "Hubungan kita dimulai di tengah lumpur, Vania. Kita sudah melalui hal yang paling sulit. Jarak tiga hari tidak akan menghancurkan kita. Aku akan segera menyusul. Jaga dirimu." ​Vania mengangguk, berusaha menekan keraguan yang menusuk. Aku takut pada jarak, Dimas. Aku takut pada kepergian. Meskipun alasannya mulia, rasa sakit lama itu tetap berdenyut. Ia mencintai Dimas, tetapi ia meragukan apakah hatinya siap untuk terus-menerus menghadapi perpisahan yang dipaksakan oleh skala hidup pria itu. Ia memeluk Dimas erat sebelum naik ke helikopter. Pemandangan Dimas yang berdiri tegak di landasan darurat, mengabaikan kelelahan, adalah penegasan terkuat bahwa cinta mereka memang membutuhkan pengorbanan. ​Tiga hari terasa seperti tiga bulan bagi Vania. Kembali ke rutinitas IGD yang sibuk di Jakarta, ia terus-menerus memeriksa ponselnya. Komunikasi mereka terbatas pada pesan teks singkat dan telepon dengan kualitas buruk. Vania sering kali merasa bahwa Dimas berbicara kepadanya dengan nada 'laporan misi' alih-alih 'pesan pacar', menguatkan keraguannya. ​Dimas: "Aku baru selesai mengevakuasi sisa korban longsor di sektor 3. Aku rindu. Aku butuh kamu untuk mengingatkan bahwa setelah ini, aku punya rumah." ​Pesan itu terasa ganda bagi Vania. Rumah. Apakah ia hanya menjadi pelabuhan Dimas untuk pulang, atau ia adalah tujuan utama? Ia meragukan perannya. Namun, ia memutuskan untuk mencoba, berjuang menanggapi setiap pesan Dimas dengan optimisme, menolak membiarkan ketakutan masa lalu meracuni awal yang baru ini. ​Vania: "Kopimu sudah menunggumu di sini, Kapten. Tapi kali ini, aku akan mencampurnya dengan lebih banyak gula. Aku tahu kamu lelah." ​Dimas: "Jangan. Aku butuh kopi pahit untuk mengingatkan bahwa tantangan ini belum selesai. Tapi jangan khawatir, aku akan membiarkan kamu yang memegang kendali atas kopiku. Dan atas hatiku." ​Balasan Dimas yang cerdas selalu berhasil meredakan keraguan Vania, meskipun hanya sesaat. ​Kabar mengenai Dokter Larasati yang tiba-tiba berpacaran dengan Dimas Adijaya telah menjadi gosip hangat di rumah sakit. Vania disambut oleh godaan yang intensif saat ia kembali bekerja. ​"Lihat siapa yang datang, Dokter yang cintanya didatangkan oleh gempa bumi!" seru Nia, perawat senior yang sudah seperti kakaknya. "Aku tidak percaya, Vania. Kamu mengunci hatimu dua tahun, lalu tiba-tiba pacaran dengan CEO yang juga Kapten Relawan? Ini benar-benar kisah novel! Aku dengar kalian berpelukan di tengah reruntuhan!" ​Vania tertawa, pipinya memerah. "Kami hanya bersyukur kami selamat, Nia. Itu saja." ​Dokter Rahmat hanya menggeleng-geleng. "Yang aku dengar, Dimas meninggalkan pos komando yang krusial hanya untuk mencari Vania di tengah longsor. Itu melanggar semua protokol, Vania. Dia benar-benar jatuh cinta padamu, atau dia gila?" ​Vania menegakkan punggungnya. "Dia bukan gila, Rahmat. Dia adalah pria yang menepati janjinya. Dan aku akan mencobanya. Aku tidak mau lari lagi. Kami hanya perlu menemukan titik keseimbangan, meskipun itu akan sulit." ​Nia duduk di sebelah Vania, nadanya kini serius. "Dimas... dia levelnya berbeda, Van. Skala pekerjaannya terlalu besar. Kamu yakin bisa melalui ini? Kamu baru sembuh dari trauma ditinggalkan." ​"Aku tahu. Itu menakutkan," bisik Vania jujur. "Tapi kali ini, aku akan berjuang. Dia tidak memintaku memilih pekerjaanku, Nia. Itu sudah setengah dari pertarungan. Aku hanya berharap, kesibukannya tidak akan menjadi alasan untuk ketidakhadiran." Keraguan itu kembali, kuat dan dingin, menusuk di antara rasa bahagianya. ​Tepat pukul empat sore keesokan harinya, Vania sudah berada di bandara Halim Perdanakusuma. Ia melihat Dimas melangkah keluar dari area kedatangan, dengan seragam relawan yang lusuh, ransel berat, dan kelelahan yang nyata di wajahnya. ​Vania berlari ke arahnya, dan Dimas menjatuhkan ranselnya, merentangkan tangan. Mereka berpelukan erat di tengah keramaian bandara, mengabaikan semua mata yang memandang. Bau asap pesawat bercampur dengan bau lumpur, dan bagi Vania, itu adalah aroma kepulangan. ​"Aku pulang, Vania," bisik Dimas, membenamkan wajahnya di rambut Vania. ​"Selamat datang kembali, Kapten," balas Vania. ​Ia menatap Dimas, dengan segala ketakutan dan keraguannya. Mereka telah bertemu lagi, janji telah ditepati. Tetapi kini, ujian yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN