Kemilau emas mendampingi gumpalan kapas putih. Langit yang menjulang tinggi menjadi atap semesta.
Melihat mentari yang semakin terik, membuat sesosok gadis itu menatap khawatir pada laki-laki yang sesekali mengusap keringatnya.
Ya. Sesosok laki-laki yang kini sedang bertanding basket guna mewakili sekolah.
Pandangan keduanya pun bertemu, membuat gadis itu tersenyum tipis dan mengepalkan tangannya ke udara, seolah memberikan semangat.
Laki-laki itu tersenyum lebar dan mengangguk, lalu kemudian melanjutkan pertandingannya.
***
Derap langkah kaki yang terdengar, tanpa suara berusaha membelah kerumunan, berusaha mencari seseorang.
Tanpa mempedulikan tatapan penuh kekaguman, sosok itu terus berjalan. Setelah sampai di depan gadisnya, ia terhenti.
Gadisnya pun langsung bangkit dan berhambur ke pelukannya.
"Selamat! Danish Adrian."
"Terima kasih, Sayangku Fiona Zea Hakimah, " ucapnya sembari mengelus rambut gadisnya dengan lembut.
Zea kemudian melepaskan pelukannya dan mengambil handuk kecil yang berada dalam tasnya. Dengan penuh perhatian ia mengelap keringat Danish.
Jarak yang sedekat ini membuat detak jantung Danish berdetak cepat. Tatapannya terus memandang wajah cantik Zea.
"Capek banget ya, tandingnya?" tanya Zea. Ia membawa Danish untuk duduk di kursi miliknya dan memberi air mineral yang juga sudah ia siapkan.
"Gak kok. 'Kan, kamu jadi penyemangat aku."
Zea yang mendengar itu, hanya terkekeh kecil. Danish pun kemudian meminum air mineralnya dan menutupnya kembali.
"Permisi Kak."
Mendengar ucapan dari seseorang, membuat Danish dan Zea menoleh. Ternyata ada dua gadis yang menghampiri mereka.
"Ada apa, ya?" tanya Zea.
Keduanya hanya diam. Tak menjawab pertanyaan dari Zea. Langkah kedua gadis itu justru mendekati Danish.
Kemudian salah satu di antara keduanya mengulurkan sebuah telepon. Danish yang melihatnya, mengerutkan dahi. Tak mengerti maksud dari gadis yang ada di hadapannya ini.
"Boleh foto bareng? Atau boleh minta nomor telepon kamu?" Masih dengan memegang teleponnya, gadis itu kemudian bertanya.
"Maaf, gua gak bisa." Danish langsung merubah raut wajahnya menjadi datar. Sungguh, ia tidak suka saat waktunya bersama Zea diganggu.
"Kenapa?"
Danish berusaha menahan amarahnya saat mendengar pertanyaan bodoh itu. Apa gadis itu tidak menyadari bahwa Zea adalah kekasihnya?
"Lo gak tahu kalau gua udah ada pacar? Sekarang, lo liat cewek itu ...." Danish menunjuk tepat pada Zea.
"... Dia pacar gua. Paham lo?" Kedua gadis itu menggeram kesal saat melihat sosok Zea. Sesaat kemudian, Danish menggenggam tangan Zea dan pergi begitu saja meninggalkan keduanya.
***
Kendaraan roda empat melaju dengan kecepatan rata-rata. Pegangan erat pada stir mobil dari tangan kekar Danish terlihat jelas.
Zea yang melihat itu pun kemudian mengusap pelan bahu kekasihnya. Danish menoleh, melihat Zea yang tersenyum tipis padanya.
"Kenapa, hmm? Masih marah karena kejadian tadi?"
Danish mengangguk. Ingin sekali ia memberi pelajaran pada kedua gadis tadi. Moodnya sekarang benar-benar hancur.
"Emang, kenapa kamu marah? Mereka cuman minta foto bareng loh. Itu artinya mereka kagum sama kamu," ujar Zea. Tangan mungilnya kini beralih mengusap rambut Danish.
Terdengar ban mobil berdecit di jalan cukup keras. Dan, itu membuat kepala Zea terbentur dashboard karena terkejut saat Danish mengerem mendadak.
Zea kini meringis saat merasa sedikit sakit di dahinya. Tepat saat ia menoleh ke arah Danish, terlihat olehnya tatapan yang dingin dan tajam.
"Aku gak suka saat gadis-gadis lain deketin aku. Ingat! Aku cuma punya kamu," ucap Danish. Kemudian, ia mendekatkan tubuhnya pada Zea.
"Dan ... kamu juga cuma punya aku. Hanya punya Danish Adrian," bisik Danish tepat di telinga Zea.
***
Malam tampak kelam, sesosok gadis dengan piyama biru sedang membuka buku. Membaca dan mempelajari kembali materi yang sudah diajarkan sebelumnya.
Tak terasa kini ia akan segera menduduki bangku kuliah, yang menurutnya bangku adalah masa dimulainya untuk lebih mengenal arti kehidupan, pertemanan, dan cinta.
Cinta, membuatnya jadi teringat pada seseorang. Sosok yang hampir setahun menjadi kekasihnya.
Apakah Danish sudah tidur?
"Zea, ingat jangan mikirin Danish terus!" Berkali-kali ia menepuk kening, memikirkan kebodohannya.
Segera, Zea kembali membaca bukunya, berharap bisa mengalihkan pikirannya dari kekasihnya itu. Namun, semuanya sia-sia. Pikirannya terus tertuju pada laki-laki itu.
Benda pipih berwarna gold di sampingnya bergetar, membuyarkan lamunannya. Ia menggeser tombol hijau, kemudian mendekatkan di telinga.
"Halo, Sayang," ucap seseorang dari seberang sana.
"Halo, Danish. Ada apa?" Zea melirik jam yang terpasang di dinding, sudah hampir jam sepuluh malam dan Danish menghubunginya.
"Ck, aku kangen sama kamu ...."
Zea terkekeh kecil. Akhir-akhir ini Danish sangat manja padanya.
"Ya ampun, besok 'kan kita ketemu," jawab Zea yang masih sedikit terkekeh.
Keheningan pun terjadi, membuat Zea melihat teleponnya dan ternyata panggilan di akhiri begitu saja.
Zea memilih untuk merebahkan tubuhnya dan tidur. Namun, berbagai pertanyaan justru menghampiri Zea. Apa Danish marah? Apa Danish tersinggung? Sungguh, ia tak bermaksud seperti itu.
Benda pipih itu kembali bergetar, menghentikan lamunannya. Ternyata, itu Danish. Tapi, kini justru Danish ingin melakukan video call. Tak ingin membuat kekasihnya marah, Zea segera menggeser tombol hijau dan memposisikan teleponnya pada wajahnya.
"Pokoknya kamu harus temenin aku sampai tidur!" ucap Danish yang menekankan setiap kata yang diucapkannya.
Zea menghela napas, kemudian mengangguk, membuat Danish tersenyum lebar. Melihat itu, Zea pun ikut tersenyum.
"Sayang, tunggu sebentar ya." Danish langsung bangkit dari kasur king size miliknya, tanpa menunggu jawaban dari Zea.
Ternyata, Danish mengambil gitar miliknya, kemudian bersiap untuk menyanyikan lagu.
Petikan gitar dan suara bariton Danish membuat hati Zea bergetar. Ia merasa sangat dicintai.
But darling, just kiss me slow, your heart is all I own
And in your eyes, you're holding mine
Baby, I'm dancing in the dark with you between my arms.
Perlahan mata Zea terpejam, seolah terhipnotis. Rasa kantuk pun mulai menghampiri dan membuat Zea tertidur.
Now I know I have met an angel in person
And she looks perfect
I don't deserve this
You look perfect tonight
Petikan gitar Danish selesai. Saat ia menoleh ke arah kamera ternyata gadisnya itu tertidur. Ia terkekeh kecil dan mengamati wajah cantik Zea.
"Good night, Sayang."