Suara alarm yang terdengar, membuat Zea terbangun. Beberapa kali ia menggerjap mata guna mengumpulkan kesadarannya.
Langkah kakinya kemudian menginjak lantai marmer yang terasa cukup dingin. Ia berjalan mendekati jendela dan membukanya.
Hawa dingin yang menusuk kulit tak mengganggunya. Senyuman bak bulan sabit pun terlihat dari bibirnya.
Pagi ini terlihat embun yang masih menetes. Membuat tanamannya basah. Terlebih, awan yang masih terlihat sedikit kelabu.
Zea menepuk kening, hampir saja ia lupa melaksanakan salat subuh. Bergegas, ia memasuki kamar mandi dan mengambil wudhu.
***
Sang mentari mulai menampakkan diri. Pintu kamar mandi terbuka, menghadirkan sesosok laki-laki dengan lilitan handuk di pinggangnya.
Tetesan air rambutnya yang masih tersisa mengenai wajah dan lantai. Ia berdecak, kemudian segera mengambil handuk kecil yang tersedia di lemari pakaian.
Sembari menggeringkan rambut, laki-laki itu melirik jam yang terletak di nakas. Ia sedikit terkejut karena sebentar lagi waktunya untuk menjemput gadisnya.
Segera, ia pun memakai seragam sekolahnya dan itu tak butuh waktu lama. Sekali lagi, ia melihat pantulan dirinya di cermin, lalu bergegas keluar kamar.
***
Keheningan terjadi di ruang makan. Tiga sosok itu sibuk mengunyah makanannya masing-masing.
Terlihat sesosok pria paruh baya kini sudah terlebih dulu menyelesaikan makanannya. Ia menoleh ke arah putrinya.
"Nak, gimana sekolahmu?" tanya Zaki yang tak lain adalah ayahnya Zea.
"Alhamdulillah, baik-baik aja, Yah." Zea meletakkan gelas susunya yang tersisa setengah, lalu menjawab ayahnya.
Zaki mengangguk. Kemudian, terdengar notifikasi dari telepon Zea yang membuat kedua orangtuanya menatap ke arahnya. Ah, lebih tepat ke arah teleponnya.
"Pesan dari siapa, Nak?" Wanita dengan jilbab abu panjangnya, bertanya.
"O-oh itu ... dari operator, Bun," jawab Zea yang meremas kuat teleponnya. Kedua pasangan itu hanya mengangguk.
"Hmm, Zea berangkat sekarang ya." Zea kemudian bergegas memakai tas dan menyalimi kedua orang tuanya.
"Assalamualaikum," ucap Zea yang sedikit tergesa-gesa untuk keluar rumah.
"Waalaikumussalam."
***
Sejak dijemput kekasihnya, Zea hanya diam dan memilih melihat ke arah luar kaca mobil, terlihat gedung-gedung yang menjulang tinggi dan padatnya kendaraan.
Danish menghela napas. Sungguh, ia tidak suka saat Zea diam seperti ini. Mobil yang dikendarainya terhenti, bertepatan dengan lampu merah.
Zea masih termenung, hingga genggaman hangat di tangan mungilnya, membuatnya tersentak. Ia menoleh, melihat Danish yang menatapnya penuh kekhawatiran.
"Sayang kamu kenapa? Kamu marah sama aku? Aku punya salah, ya?" Rentetan pertanyaan terlontar dari mulut Danish. Ia kemudian mengecup singkat telapak tangan Zea.
"Gak kok. Aku cuma agak pusing aja." Zea tersenyum tipis. Ini kesekian kalinya ia berbohong pada Danish.
"Kamu tadi gak sarapan? Ck, kenapa gak bilang dari tadi, sih?!" Danish berceloteh. Kekhawatiran dan kepanikan menghampiri.
Melihat reaksi Danish, membuat Zea tersenyum getir. Ia benar-benar takut jika nantinya harus berpisah dari Danish saat kedua orang tuanya mengetahui hubungan keduanya.
Membayangkannya saja sudah membuat d**a Zea terasa sesak. Bahkan, sedari tadi buliran air mata membasahi wajah, ia tidak menyadarinya.
"Sayang ... kenapa nangis, hmm? Pusing banget ya? Apa perlu aku hubungi dokter pribadi buat periksa kamu?"
Kedua ibu jari Danish menghapus air mata Zea, lalu mengecup singkat kedua matanya. Sikap hangat Danish yang seperti inilah berhasil membuat Zea sejatuh-jatuhnya.
Suara klakson mobil yang bersahutan membuat keduanya tersentak. Ternyata lampu hijau sudah menyala, membuat semua orang tak sabar untuk segera sampai di tempat tujuan.
Dengan perasaan tak karuan, Danish melajukan kembali mobilnya.
"I'm okay," ujar Zea membuat Danish menoleh.
"Seriuosly?"
Zea mengangguk. Ia menggenggam tangan Danish, berusaha membuatnya tenang.
***
Kedua tangan itu saling tergenggam, seolah enggan untuk saling melepaskan. Sesekali laki-laki itu memperlihatkan senyumannya saat sang kekasih melirik ke arahnya.
Kini mereka berdua sudah berada di koridor sekolah. Banyak pasang mata yang melihat mereka, namun tak dihiraukan.
"Sayang, kamu gak capek ya?" Suara Danish memecah keheningan di antara mereka berdua.
"Maksudnya?" Zea mengerutkan kening, tak mengerti maksud dari perkataan Danish.
"Maksud aku, apa kamu gak capek tiap hari tampil cantik terus? Nanti cowok-cowok di sini makin banyak yang suka sama kamu," ucap Danish yang terdengar putus asa.
Zea terkekeh dan berkata "Kalau pun banyak yang suka sama aku, tetap kamu yang jadi pemenangnya. Karena ... aku cuma punya kamu."
Tubuh Danish panas dingin. Jantungnya berdegup kencang bahkan kini telinganya sedikit memerah karena merasa baper dengan perkataan dari Zea.
Hanya senyuman tipis dan elusan lembut dipuncak kepala Zea, menjadi jawaban dari Danish. Sungguh, bibir Danish sekarang benar-benar kelu, tak sanggup berkata.
***
"KEPADA SELURUH SISWA DAN SISWI SMA SAEBOM UNTUK SEGERA BERKUMPUL DI LAPANGAN DAN MELAKSANAKAN UPACARA."
Suara dari Ketua OSIS yang terdengar di speaker membuat semua siswa dan siswi bergegas ke lapangan. Meski, tak sedikit ada yang menggerutu karena cuacanya mulai sedikit panas.
Lima belas menit berlalu. Upacara masih berjalan lancar, tak ada kendala apa pun. Namun, sepertinya tidak bagi gadis yang berada di samping Zea dan tak lain adalah Kayla-- sahabatnya. Wajahnya pun terlihat pucat lalu perlahan pandangannya menghilang bersamaan dengan kesadarannya.
Zea panik. Beberapa petugas PMR yang melihat langsung bergegas ke arah Kayla. Namun, itu semua terlambat sesaat sesosok laki-laki yang terlebih dulu menghampiri Kayla dan menggendongnya ala bridal style.
Zea yang melihat itu seketika membeku. Masih tak percaya apa yang baru saja dilihatnya.
Laki-laki itu ...