Danish menatap gelisah gadis yang tertidur di brankar. Sekarang upacara sudah selesai tapi mata gadis itu masih tertutup sayu, wajah dan bibir yang terlihat pucat pasi.
Seolah ada magnet yang menarik dirinya, Danish kemudian berjalan mendekati Kayla dan mengelus pipi pucat itu, setelahnya Danish menunduk dan menciumi kening Kayla. Perasaan sesak tiba-tiba hadir saat melihat kondisi Kayla seperti ini.
"Gua mohon lo sadar, jangan buat gue khawatir kayak gini."
Suara knop pintu yang terdengar membuat Danish sadar dan kembali menjauhi brankar.
Sementara di tempatnya, gadis itu terpaku, tubuhnya mematung saat melihat sahabatnya yang begitu pucat. Zea berjalan semakin mendekat dan duduk di tepi brankar.
"Danish ... keadaan Kayla baik-baik aja, 'kan?" Zea beralih menatap Danish yang berdiri di sisi brankar.
"Iya Sayang. Udah, jangan terlalu khawatir gitu," tutur Danish dengan senyuman tipis dan elusan lembut di puncak kepala Zea.
"Makasih," ucap Zea setelah sepersekian detik dalam keheningan.
"Buat?"
"Udah nolongin Kayla." Danish mengangguk, tangannya masih setia mengelus puncak kepala Zea.
"Karena bagaimanapun Kayla juga tanggung jawab aku," Danish membatin. Ia berusaha untuk bersikap normal di depan Zea karena tak ingin dicurigai dan kehilangannya. Bagi Danish kehilangan Zea sama saja dengan berakhirnya warna kehidupannya.
"Eugh ...."
Lenguhan kecil yang terdengar lalu disusul mata yang terbuka perlahan hingga akhirnya terbuka sempurna. Zea yang melihatnya langsung memeluk sahabatnya. Sementara itu, Danish tersenyum tipis yang hanya dirinya tahu.
"Ya ampun, Kayla! Lo tuh suka banget bikin gue khawatir," ucap Zea setelah pelukannya terlepas dan berkacak pinggang. Wajahnya dibuat segarang mungkin, namun hal itu justru membuat Kayla terkekeh.
"Udah! Muka lo gak cocok kayak gitu. Bukannya takut, gua malah gemas sama lo."
Zea berdecak kesal dan justru semakin membuat Kayla terkekeh. Hingga kekehannya terhenti saat tak sengaja menatap Danish yang menampilkan wajah datar.
"Oh ya, lo harus bilang makasih sama cowok gua. Karena .... "
Zea menggantung ucapannya lalu berdiri dan memeluk mesra lengan Danish. "... Dia yang nolongin lo dan bawa lo ke UKS."
Kayla membeku. Ia masih menatap Zea dengan bingung. Antara percaya dan tidak dengan apa yang didengarnya.
"O-oh ma-makasih," ucap Kayla terbata. Tak ada balasan dari Danish selain wajah datar. Tapi, Kayla tak peduli, ia sangat senang karena Danish menolongnya dan membuatnya berusaha menyembunyikan senyumannya.
***
Keheningan menyelimuti kelas XII IPA 1. Semua mata tertuju di depan, di mana Sang Guru sedang menjelaskan materi. Goresan tinta pena mengisi lembaran buku yang kosong.
"Sshh ..." Ringisan kecil dari bibir Kayla membuat Zea menoleh. Ia melihat Kayla yang memegang kepalanya.
"Ck, 'kan udah gue bilang kalau lo istirahat di UKS aja. Tapi, lo ... lo malah kekeuh pengen ke kelas," celoteh Zea dengan panjang kali lebar. Kayla tak membalas, rasa sakit di kepala semakin menjadi. Zea mengacungkan tangan dan bersuara, membuat guru menoleh ke arahnya.
"Ada apa Zea?" tanya Bu Andita sembari membenarkan kaca matanya yang sedikit merosot ke bawah.
"Bu, saya izin bawa Kayla ke UKS dia sedang sakit." Bu Andita melirik Kayla sekilas kemudian mengangguk. Segera, Zea memapah Kayla untuk keluar kelas dan pergi ke ruang kesehatan itu.
***
Kemilau emas mulai bergeser ke arah barat disusul dengan deringan bel yang terdengar. Semua siswa dan siswi SMA Saebom bergegas keluar kelas dan menuju parkiran. Rasa lelah setelah seharian belajar membuat mereka ingin bergegas pulang dan mengistirahatkan tubuh di kasur empuk.
"Sayang, buruan naik!" titah Danish saat melihat Zea yang hanya terdiam.
"T-tapi Kayla gimana?" tanya Zea khawatir. Danish menghela napas panjang kemudian turun dari motor dengan tangan yang memegang helm.
"Aku udah suruh Dafa buat pulang bareng sama Kayla," ucap Danish setelah selesai memakaikan helm pada Zea.
"Beneran?"
"Iya Sayangku ...." Danish tersenyum. Ekspresi Zea saat ini benar-benar gemas dan membuatnya memeluk erat kekasihnya itu.
"Makasih Sayang." Kalimat yang dilontarkan Zea lagi-lagi berhasil membuat Danish mematung. Bahkan, jantungnya sudah berdetak abnormal.
Tak jauh dari mereka berdua, ada sesosok gadis yang melihatnya. Serasa ada ribuan panah yang menyerang d**a, membuatnya sulit bernapas. Seperti ini rasanya saat melihat orang yang dicintai lebih bahagia bersama orang lain.
"Sampai kapan lo bertahan, Kayla?"
"Entahlah." Kayla menengadah, berusaha menahan air matanya.
"Lo tahu, 'kan Kay, kalau lo lebih berhak atas Danish," beritahu Dafa. Sungguh, ia benar-benar muak diamnya Kayla.
"Gua tahu. Tapi ... lo juga tahu, 'kan hati Danish masih sepenuhnya milik Zea, sahabat gue," tanya balik Kayla sembari melihat keduanya yang kini sudah menaiki motor dengan Zea yang memeluk erat pinggang Danish.
"Ck, terserah lo." Dafa memilih pergi dan mengambil motor miliknya.
"Apa bisa gue ngerasain hal yang sama seperti Zea, tentang rasa gimana dicintai oleh Danish."