Di ruangan keluarga, sebuah layar televisi menyala di hadapan sesosok gadis. Namun, ia hanya menatap kosong, pikirannya tertuju pada hal lain.
Hingga suara pintu yang terdengar, membuatnya menoleh. Terlihat jelas sesosok laki-laki lengkap dengan seragam sekolahnya. Segera, ia mendekati sosok itu.
"Kamu dari mana aja?" tanya Kayla, "aku khawatir."
"Ck, gue abis anter Zea," decak Danish.
Kalimat sederhana yang terdengar di telinga Kayla membuatnya sesak. Mengapa ia bisa lupa tentang kejadian di parkiran yang tadi ia lihat.
"Minggir!" titah Danish yang sudah muak berhadapan dengan Kayla--Istrinya.
Kayla sedikit tersentak lalu menepi guna memberi Danish jalan. Tatapan sendu Kayla perlihatkan saat melihat Danish yang mulai perlahan menghilang dari pandangan.
Tak ingin larut atas kejadian tadi, Kayla memilih ke dapur dan memasak untuk makan malam.
***
Selama kegiatan seorang gadis yang baru saja keluar dari walk in closet tak luput dari pandangan Zakia. Pandangan yang sangat mengintimidasi, membuat gadis itu ketakutan.
"Sini, duduk dekat bunda!" Perlahan langkahnya mendekat ke arah kasur, dimana ada Sang Ibu.
"Jadi, kamu sama dia pacaran?" tanya Zakia yang melihat anaknya memainkan kedua tangannya.
Gadis yang tak lain adalah Zea hanya mengangguk, membuat Zakia menghela napas panjang.
"Berarti selama ini kamu berbohong dengan ayah dan bunda?" terka Zakia. Lagi-lagi Zea mengangguk.
Sungguh, Zakia tak menyangka anaknya akan terus berbohong jika ia tidak mengetahui ini lebih awal.
Niatnya tadi hanya ingin memberi camilan yang tadi baru dibuatnya. Namun, ternyata Zea sedang mandi.
Zakia awalnya memilih ingin meletakkan piring camilan di dekat telepon Zea dan segera bergegas keluar, menunggu suaminya pulang kerja. Namun, suara notifikasi pesan yang terdengar membuatnya terhenti dan penasaran.
Meski tak membuka langsung pesan itu, tapi sebuah kalimat yang terlihat berhasil membuatnya terkejut.
"Sayang, aku sudah rumah."
Selang beberapa detik notifikasi pesan pun kembali terdengar.
"Sayang, nanti malam aku ...."
Kalimat itu terpotong dan membuat Zakia tak bisa membaca lanjutannya. Akhirnya, ia melakukan sidang secara mendadak.
"Kenapa, Zea? Bukannya ayah kamu sudah melarang kamu untuk pacaran? Tapi kamu ...."
"Itu karena aku cinta dia begitu pun sebaliknya," cela Zea.
"Cinta? Itu bukan cinta Nak, tapi nafsu. Jadi, bunda mohon ... tolong akhiri hubungan kalian," bujuk Zakia. Bagaimanapun ia harus menahan amarahnya agar tak memperkeruh suasana.
Zea mendongak, menatap Zakia dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Ta-tapi bunda ...." Air mata Zea serasa ingin membasahi pipi, tapi ia tahan.
" ... aku gak mau putus sama dia."
Zakia mendekat dan tersenyum tipis. Tangannya mengelus lembut puncak kepala Zea.
"Nak, kamu tahu, 'kan kalau hubungan kalian udah termasuk zina. Lagi pula, zina bukan hanya berhubungan intim, Nak.
Misalnya nih, ada zina 'ain yaitu waktu kamu liat dia dengan perasaan senang atau penuh nafsu. Lalu, ada zina qalbi atau zina hati. Maksudnya, kamu sering mikirin atau menghayal tentang dia.
Terus ... ada zina lisan yang berarti kamu senang ngomongin dia. Dan, ada juga zina _
yadin yang berarti zina tangan."
"Aku sama dia gak ngelakuin hal aneh kok bun," cicit Zea.
Zakia berhenti mengelus puncak kepala Zea. Kedua tangannya beralih menangkup pipi anaknya dengan tatapan teduh.
"Justru itu, semakin lama kalian bersama semakin bunda takut hal itu terjadi."
Zea ingin kembali membuka suara, namun suara klakson mobil terdengar, membuat Zakia segera berdiri dari kasur.
"Bunda harap kamu pikirin lagi ...."
" ... sebelum ayah tahu semuanya." usul Zakia yang berdiri di ambang pintu lalu menutupnya.