Embusan angin malam menerpa wajah cantik Zea dan membuat rambut panjangnya sedikit beterbangan. Ia menghela napas panjang, kembali teringat dengan kejadian tadi.
Deringan telepon yang terdengar membuat Zea menoleh, namun ia tak menerima sambungan telepon itu. Zea lebih memilih kembali melihat bulan purnama yang sangat terang hingga mampu menembus memasuki kamar.
“Gue, harus apa sekarang?” batin Zea.
***
Mata yang awalnya terpejam kembali terbuka. Pandangan mengarah ke langit-langit kamar. Sekali lagi, ia menoleh ke arah nakas tempat sebuah benda pipih berada.
Tangan kekar remaja laki-laki itu terulur, mengambil telepon. Ia berdecak kesal, karena telepon itu tidak ada notifikasi sama sekali.
“Sayang, kamu kenapa gak angkat telepon, aku?” gumamnya, “apa, kamu ada masalah? Please, jangan buat aku khawatir.”
***
Matahari mulai muncul secara perlahan. Sesosok gadis duduk di depan cermin, sembari mengeringkan rambut menggunakan hair dryer.
Setelah selesai pada bagian rambut, ia kemudian memakai moisturizer, dilanjutkan dengan sunscreen, dan terakhir memoleskan lip balm pada bibir.
Merasa cukup dengan penampilannya, gadis itu bergegas bangkit dari duduknya dan mengambil tas yang berada di kasur king size miliknya, guna segera pergi ke ruang makan.
“Zea, nanti ayah anter kamu, ya. Boleh, ‘kan?”
Zea yang baru selesai mengunyah makanan itu pun hanya mengangguk, membuat Zaki tersenyum.
***
“Lo, sudah siap?”
Kayla kala itu baru selesai mengikat tali sepatu langsung mendongak, melihat sosok yang bertanya padanya. Ternyata, Danish.
“Sudah,” jawab Kayla sembari bangkit dari duduknya dan tersenyum tipis.
“Ayo, hari ini lo berangkat sama gue,” ujar Danish yang langsung pergi ke garasi dan mengambil motor sportnya.
Kayla bergeming, ia tidak salah mendengar, ‘kan? Untuk pertama kalinya Danish mengajaknya untuk berangkat bersama. Menyadari hal itu, membuat Kayla tersenyum lebar.
Sesaat kemudian, Kayla tersentak saat mendengar teriakan Danish untuk segera mengunci pintu rumah dan menaiki motor agar tidak terlambat ke sekolah.
***
Kendaraan roda empat itu melaju melintasi jalan yang tidak seberapa padat. Sesosok gadis yang berada di samping pria paruh baya itu menoleh ke arah luar kaca mobil, menikmati pemandangan berupa gedung-gedung tinggi yang menjulang.
“Kenapa, putri ayah dari tadi diem aja?” tanya Zaki yang mengusap lembut rambut anaknya, “kamu lagi ada masalah?” lanjutnya lalu kembali fokus menyetir.
“Ada, Yah. Aku sekarang lagi menyukai seseorang dan pacaran dengannya, tapi aku tahu, ayah secara tegas melarang aku untuk melakukan hal itu,” batin Zea. Ingin sekali, Zea mengatakan langsung tapi ia tidak bisa.
“Zea!” panggil Zaki, “kok malah melamun.”
Zea tersadar dan tersenyum. “Gak, ada masalah kok, Yah,” jawab Zea meyakinkan.
“Ya, sudah kalau begitu,” balas Zaki, “tapi ingat! Kalau kamu ada masalah, cerita aja sama ayah atau bunda,” tambah Zaki secara tegas.
Zea hanya mengangguk. Tak terasa, kini mereka sudah sampai di sekolah. Secara bersamaan, Zea dan Zaki keluar dari mobil.
“Anak ayah yang semangat ya, belajarnya.” Zaki mengusap lembut rambut anaknya dan tersenyum hangat.
“Oke, Yah,” timpal Zea, “kalau gitu, aku langsung ke kelas ya,” sambung Zea sembari mencium tangan kekar Zaki.
“Iya, Nak.”
Zea langsung melangkah memasuki gerbang sekolah, sesekali ia menoleh ke belakang dan melambaikan tangan pada ayahnya.
Melihat tingkah Zea, membuat Zaki teringat di masa lalu saat Zea pertama kali memasuki jenjang pendidikan.
“Zea, takut, Yah,” cicit Zea yang bersembunyi di belakang Zaki.
Mendengar itu, Zaki terkekeh. Ia kemudian berbalik, menghadap ke arah Zea dan berjongkok guna menyamai tinggi Zea.
“Kok anak ayah jadi takut? Kenapa, hmm?”
Bukannya menjawab Zea malah melingkarkan tangan mungilnya di leher Zaki dan terisak. Zaki membiarkan putri kecilnya itu menangis, tangan kekarnya sesekali menepuk pelan punggung anaknya.
“Sstt, ‘kan di sini ada ayah. Jadi, Zea jangat takut.” Zaki melepaskan pelukannya, dan mengusap air mata Zea.
“Ck, dasal manja,” ejek anak laki-laki yang tiba-tiba datang dan berada di dekat Zea dan Zaki
Zea kecil mendelik tajam dan menghampiri anak itu. “Aku gak manja!” tegas Zea.
“Bohong!” bantahnya, “aku tadi liat kamu nangis.”
“Aku gak nangis!” pekik Zea.
“Telselah,” balas anak laki-laki itu yang langsung pergi begitu saja meninggalkan Zea.
“Zea, nada suara kamu jangan begitu lagi, itu gak sopan, Nak,” peringat Zaki.
Zea menoleh dengan mata yang berkaca-kaca. “Dia tadi ejek aku, Yah.”
“Sudah, biarin aja. Anak ayah, ‘kan pemaaf. Jadi, jangan marahan sama dia. Oke?”
Zea mengangguk, lalu pandangannya kembali pada anak laki-laki tadi yang kini sudah memasuki kelas.
“Ayo, sekarang ayah anter kamu ke kelas.” Zaki langsung saja menggendong tubuh mungil Zea.
“Bagi, ayah, kamu tetap jadi Putri kecil sama kayak dulu sampai selamanya,” gumam Zaki sembari melihat punggung Zea yang mulai hilang di antara keramaian.