I Love You, Fiona

1547 Kata
Kendaraan roda dua itu terhenti tepat berada di depan halte. Remaja laki-laki itu menoleh guna melihat seseorang yang berada di belakangnya. “Lo, turun di sini, ya.” “Iya.” Gadis itu menurut dan segera turun dari motor. “Thanks, udah ngertiin gue,” ungkap remaja laki-laki itu dengan tulus. “Adrian!” panggil Kayla saat Danish kembali menghidupkan motor sportnya, “makasih untuk hari ini. Aku, seneng banget.” Danish tersenyum di balik helm dan mengangguk. Tak ingin ada orang yang melihat mereka berdua Danish segera melajukan motor, meninggalkan Kayla. Untunglah jarak antara halte dan sekolah hanya berkisar lima menit, jadi Kayla tak perlu khawatir untuk terlambat tiba di sekolah. *** Setelah memarkirkan motor, Danish melihat sekeliling yang ternyata sudah cukup ramai siswa dan siswi berdatangan. Hingga, pandangannya terhenti tepat saat melihat Zea di koridor lantai dua. Segera, Danish berlari berusaha mengejar gadisnya itu. “Pagi, Sayang,” ucap Danish sembari mengalungkan tangan di pundak Zea. Mendapatkan perlakuan seperti itu membuat Zea tersentak dan menatap sengit kekasihnya itu. Sedangkan, Danish yang melihatnya hanya terkekeh dan mengacak pelan rambut Zea. Sungguh, gadisnya sangat gemas sekali. “Sayang, kamu tadi malam kenapa gak angkat telepon aku?” tanya Danish. Zea bimbang. Haruskah, ia mengatakan kepada Danish yang sebenarnya dan mengakhiri hubungan mereka? “Sayang.” Danish yang kini sudah berada di hadapan Zea, mengguncang pelan kedua bahunya. “Kamu, kenapa? Ada masalah atau aku yang ada salah sama kamu?” cecar Danish sembari menatap khawatir Zea. “Gak ada masalah kok, dan ... kamu juga gak ada salah” terang Zea. Ia kemudian merapikan dasi Danish dan mendongak, menatap teduh Danish, “mendingan sekarang, kamu pergi ke kelas, soalnya bentar lagi masuk.” “Kamu, lagi gak menyembunyikan sesuatu, ‘kan?” Danish menatap penuh selidik, membuat Zea sedikit risau. Namun, ia berusaha untuk tenang. “Iya, Danish.” Danish menghela napas panjang lalu mengangguk. Tangannya kemudian beralih menggenggam erat tangan Zea dan tersenyum. “Oke, aku percaya. Ya sudah, aku pergi ke kelas dulu.” Zea terus memperhatikan punggung Danish yang kini berjalan menjauh. “Bye, Sayang,” teriak Danish tanpa malu. Bahkan, ia juga mengedipkan genit sebelah matanya, membuat Zea menggeleng. “Si bucin, udah dateng nih,” goda Ghibran saat melihat Danish berjalan mendekati mereka dan duduk di kursinya. Sebenarnya Danish, Dafa, dan Gibran sudah menjadi teman Danish sejak memasuki jenjang menengah pertama. Danish yang mendengar godaan itu hanya terkekeh. Ia tidak menyangkal bahwa dirinya kini sudah menjadi b***k cinta saat berpacaran dengan Zea. Entahlah, pesona Zea memang benar-benar kuat sehingga membuat Danish tidak bisa berpaling ke gadis mana pun. *** Sinar rembulan menerangi gelapnya malam didampingi bintang-bintang. Suasana sepi dan tenang menemani sepasang insan yang tengah menikmati pemandangan danau di hadapan mereka berdua. “Indah dan tenang.” Mendengar celetukan gadis di sampingnya, membuat pria itu menoleh dan tersenyum. Tangan kekarnya terangkat, mengelus lembut puncak kepala dari kekasih hatinya. “Suka?” “Aku suka. Suka banget, malah. Terima kasih, Satria,” ungkap gadis itu. Pandangannya pun tak beralih dari danau. “Aku lebih suka liat senyuman kamu. Tolong, tetap tersenyum apa pun yang terjadi, Kayla,” mohon Satria. Ia kemudian menggenggam erat jemari Kayla. Kayla tersentak dari tidurnya. Keringat dingin membasahi tubuh, napasnya memburu, jemarinya bergetar, matanya memanas bersiap menumpahkan air mata. Mengapa? Mengapa, ia harus memimpikan hal itu lagi. Masih dengan tangan yang gemetar, Kayla mengambil segelas air di atas nakas dan meminumnya. Setelah dirasa membaik, ia kemudian membuka laci dan mengambil sebuah figura berukuran sedang. Senyuman terukir dari bibir Kayla saat melihat foto di dalam figura. Ia kembali terkenang di mana foto itu diambil saat Satria menyatakan perasaannya. Air mata yang tadinya ia tahan, kini meluncur bebas, membasahi pipi. Isakan pun semakin terdengar di dalam kamar yang sunyi. “Satria ....” jerit Kayla sembari memeluk erat figura. Sungguh, ia sangat merindukan sosok pria itu. Sosok yang penuh kasih sayang, kelembutan, dan ketulusan. *** Pasar malam memang punya daya tariknya tersendiri. Tempat hiburan yang satu ini memang cocok didatangi oleh pasangan yang berkencan atau bersama keluarga dan teman-teman secara beramai-ramai. Pasar malam adalah sebuah festival hiburan yang menghadirkan beragam wahana bagi para pengunjungnya. Mirip dengan tempat-tempat seperti Dunia Fantasi tapi versi old school dan sederhana. Ada beragam hal yang bisa lakukan. Dari mulai menikmati makanan dan minuman yang dijajakan di sana. Mengobrol bersama teman-teman yang datang atau berkenalan dengan orang-orang baru. Selain itu, bisa menikmati beragam wahana yang khas yang sudah disediakan, di antaranya ada galeon alias kora-kora. Wahana ini mirip seperti dengan ayunan raksasa yang cukup untuk memacu adrenalin. Ombak banyu adalah wahana yang bisa dinikmati semua kalangan. Wahana ini membuat seseorang merasakan sensasi terombang-ambing di lautan. Menariknya, ombak banyu dioperasikan manual oleh petugas. Petugas beratraksi ria saat memutar ombak banyu diiringi dengan musik. Mereka melompat sampai bergelantungan. Keren banget! Bukan pasar malam namanya kalau gak ada wahana rumah hantu. Wahana satu ini biasanya jadi tantangan tersendiri bagi para pengunjung. Bianglala adalah wahana yang paling digemari pengunjung pasar malam. Secara teknis, Bianglala adalah ikon dari pasar malam itu sendiri. Keindahan pemandangan dapat dilihat dari atas kincir angin raksasa. Lalu ada komedi putar atau carousel. Wahana satu ini membawa pengunjung berputar-putar sementara mereka duduk di kursi berbentuk hewan-hewan yang lucu. Selanjutnya, ada wahana permainan berhadiah. Untuk mengikuti beragam permainan seperti melempar gelang, lempar bola sampai memancing ikan, maka harus membayar terlebih dahulu. Sebagai gantinya, akan mendapatkan hadiah sesuai hasil dari permainan. Terakhir adalah wahana yang sangat digemari oleh anak-anak, yakni kereta api mini. Sama seperti namanya, anak-anak akan duduk di sebuah kereta berbentuk lucu dan warna-warni. Kereta akan melaju mengikuti jalurnya dan anak-anak merasa bahagia saat menaikinya. “Sayang!” panggil Danish, membuat Zea menoleh, “nanti kalau kita punya anak, pasti mereka seneng banget naik kereta api mini itu.” “Ada-ada aja,” gumam Zea. Danish yang masih mendengar gumaman Zea hanya terkekeh. Ia kemudian merangkul Zea dan menatapnya. “Ya sudah. Sekarang, pacar aku ini mau main apa?” Zea mengelus dagu dan menatap sekeliling. “Gimana, kalau kita naik ombak banyu?” tanya balik Zea. Danish pun kemudian melihat wahana itu dan langsung menggeleng, membuat Zea heran. “Aku, gak mau naik itu. Di sana, banyak cowok nanti banyak yang godain kamu.” Nada tegas terdengar jelas di telinga Zea. Tak ingin bertengkar akhirnya Zea mengalah dan mengangguk, kemudian kembali melihat wahana yang lain. Zea menjentikkan jari dan tersenyum. “Oke. Kita naik kora-kora aja. Kebetulan cowok di sana cuman sedikit. Habis naik kora-kora kita pergi ke komedi putar, liat deh kudanya lucu-lucu banget,” ungkap Zea yang menatap kagum hewan-hewan itu, “terus kita pergi ke wahana permainan, lalu terakhir naik bianglala. Soalnya aku pengen liat bulan sabit dari dekat,” sambungnya dengan antusias. Ia benar-benar tidak sabar. Selama Zea berbicara, Danish hanya menatap kagum kekasihnya. Angin yang berembus dan mengenai rambut panjang Zea semakin menambah kecantikannya dan membuat Danish tak ingin melihat apa pun selain Zea. “Danish!” teriak Zea kesal. Ia mencebik kesal bibirnya saat tak kunjung mendapat jawaban dari laki-laki yang masih setia merangkul pundaknya. “Iya, Sayang. Maaf ya, jangan cemberut gitu,” bujuk Danish yang kini sudah berada di hadapan Zea dan mengelus pipinya. “Oke. Sekarang, kita pergi ke mana pun yang kamu mau.” “Beneran?” Zea bersedekap d**a, menatap serius Danish. Danish mengangguk cepat. “Iya, Sayangku Fiona.” Kebahagiaan tak henti-hentinya terpancar dari wajah Danish dan Zea. Mereka berdua menikmati momen indah di malam ini. Setelah menyelesaikan semua permainan, Zea pun memilih beristirahat sembari duduk di kursi panjang yang cukup memuat dua orang. “Sayang! Nih, makanan sama minuman buat kamu.” “Ya ampun, kamu belinya banyak banget, Danish.” Sungguh, Zea benar-benar kaget saat melihat Danish yang membeli banyaknya makanan seperti sate seafood, cilor, martabak mini, bahkan jasuke pun dibeli. “Udah, deh. Makan aja!” seru Danish. Ia kemudian duduk di samping Zea lalu mengambil martabak mini varian keju dan menyuapkan ke mulutnya. “Jangan tatap aku kayak gitu, Fiona,” desis Danish saat melihat Zea yang terus menatapnya meski mulutnya sedang mengunyah makanan. “Kenapa? Baper ya?” goda Zea. Ia bahkan mencolek dagu Danish dan tersenyum mengejek, “Ekhm, pacarnya Fiona lagi blushing nih,” “Jangan nakal, Sayang.” Zea berhenti tersenyum dan menatap datar Danish. Melihat itu, membuat Danish panik, takut Zea marah kepadanya. “Sayang, aku bikin kamu marah, ya?” Tak ada jawaban dari Zea, ia justru mendekatkan tubuhnya ke Danish. “Sa-sayang, bisa agak ja-jauhan dikit gak?” cicit Danish. Sungguh, mati-matian Danish menahan napas saat melihat kini tak ada jarak lagi antara wajah mereka berdua. “Kenapa?” bisik Zea tepat di telinga Danish dan membuatnya meremang. Danish tak menjawab, ia memilih menjauhkan tubuhnya saat melihat Zea semakin mendekat. Namun, tubuh Danish kemudian diam mematung saat Zea menciumnya di pipi. Ia tidak bermimpi, ‘kan? Untuk pertama kalinya selama mereka berpacaran Zea menciumnya dirinya. Beberapa detik setelahnya Danish mengerjap mata, berusaha mengembalikan kesadarannya. Setelah tersadar, ternyata Zea sudah pergi meninggalkannya. Segera, Danish berlari mengejar Zea yang belum jauh darinya. “Fiona! Awas kamu, ya!” Zea berbalik dan tertawa mengejek. Melihat itu, semakin membuat Danish mempercepat lariannya. Tak butuh waktu lama, Zea pun tertangkap di dalam pelukan Danish. “Aku cinta kamu, Fiona!” teriak lantang Danish sembari memeluk Zea dan berputar. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN