18. Gas

1169 Kata
Wanita itu kembali merengut tapi ia berusaha mengekor Collins yang melangkah keluar. "Jangan sibuk terus dong, Bang. Sekali-sekali istirahat." "Eh, iya. Terima kasih," sahut pria itu dengan sopan. "Eh, ini, Bang. Duitnya belum." Wanita itu mengulurkan tangan. Saat Collins mengambilnya, wanita itu meraih tangannya. "Kok gak mau sih, Bang, jalan-jalan sama aku?" Dengan pelan, pria itu menarik tangannya. "Maaf." Collins bergegas ke motor, naik dan segera meninggalkan tempat itu. Tinggal wanita itu kembali merengut memandangi kepergiannya. Collins sebenarnya malas pergi ke rumah wanita itu. Ia tahu janda itu sering menggodanya. Padahal sang wanita punya satu anak yang sudah sekolah SD. Ia melakukan itu saat sang anak sedang tak di rumah. Ada yang bilang wanita itu bekerja sebagai pellacur tapi Collins tak ingin tahu apapun soal wanita ini. Ia hanya segan karena itu langganan babe. Selama bekerja di sana, Collins bisa menghitung keuntungan toko itu yang tidak banyak. Kalau ia mengurangi dengan pelanggan-pelanggan babe yang menyebalkan, toko itu bisa bangkrut. Di sisi lain, ternyata Aida tengah menunggu seseorang datang. Ia menunggu di ruang tengah. "Gas!" Segera wanita itu berdiri. "Bawa masuk saja, Bang!" teriaknya dari tempatnya berdiri. Seorang pria berkulit gelap masuk membawa gas yang dipesan. "Ini, Mbak. Mau ditaruh di mana?" Sekilas pria yang tidak tinggi itu melirik tongkat yang dipegang Aida. "Tolong pasangin ya, Bang. Di dapur." Pria itu menatap paras wajah sang wanita yang cantik. Terutama mata di mana sorot dari manik matanya tidak ke arahnya. 'Oh, dia buta.' Kemudian melangkah ke dapur. Ia memasang gas dengan mudah dan kembali pada Aida. "Sudah, Mbak." Wanita itu mengulurkan tangannya. "Ini, Bang. Makasih. Orang baru ya, Bang? Suaranya beda." Ia tersenyum manis. Pria itu mengambil uang dari tangan Aida dan tak sengaja menyentuh kulit tangannya yang lembut. Ia tergoda. Seketika sang pria menggenggam tangan Aida. "Eh?" Wanita itu berusaha menarik tangannya tapi pria itu malah menyeretnya dengan kasar. "Kau mau apa?" tanyanya ketakutan. Tongkatnya sampai jatuh. Pria itu menghempas tubuhnya ke sofa dan kemudian menindihnya. Aida merasakan sang pria mulai menyentuh tubuhnya. "Eh, berhenti. Bang ... jangan!" teriaknya sambil menyilang tangan di depan dadda. Namun pria itu tak peduli. Ia bahkan berusaha membuka paksa pakaian sang wanita. "Tidak ... jangan! Tolong! Tolong ...!" Aida menggeleng-gelengkan kepala dengan kuat. Pria itu menarik lengan baju sang wanita hingga robek. "Di sini daerah sepi. Kita tinggal menikmatinya saja, cantik," bujuknya setengah berbisik. Ia menyeringai licik. "Tidak!" Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan. Namun, belum sampai wajahnya mendekati wajah Aida, sebuah tangan menarik tubuhnya dengan kasar dan menjatuhkannya ke lantai. "Hei, jangan kurang ajar kamu ya! Brengssek!" Beberapa kali tendangan mendarat ke perut pria itu. "Agh! Agh! Agh!" Aida mengenali suara pria yang menolongnya. 'Bang Bara?' Matanya melebar sempurna. Ia segera duduk tapi di saat bersamaan sang wanita juga harus merapikan pakaiannya yang berantakan. Dalam keadaan gemetar ia menarik lengan bajunya yang hampir lepas. Aida hampir menangis. Kenapa selalu ada saja orang yang datang untuk memanfaatkannya? Collins menarik kasar kerah baju pria itu dan melemparnya ke dinding. "Apa begitu caramu bertandang ke rumah orang, hah?! Memanfaatkan orang yang sedang lemah?!" teriak Collins geram. Sebelum kena tendangan, pria itu melawan. Ia menghindar dan menyerang Collins. Namun yang orang itu tidak tahu, Collins bisa menangkis dan bahkan membantingnya ke tanah. "Ahh!" Collins menginjak tangan orang itu dengan sendalnya sehingga kembali sang pria menjerit kesakitan. "Agh ...!" Aida masih syok dan kebingungan. Ia tidak tahu apa yang terjadi tapi ia bisa menebaknya. Ternyata kegaduhan itu mengundang warga datang. Beberapa pria melihat Collins tengah memiting tangan pria itu ke belakang dan menempelkan tubuh sang pria ke dinding. Seorang wanita juga ikut masuk. "Ya Allah, ada apa ini?" "Orang ini hampir menoddai pemilik rumah!" terang Collins sambil menyerahkan pria itu pada warga yang datang, sedang wanita itu mendatangi Aida. Sang wanita memeluk Aida. "Kamu tidak apa-apa, Ustadzah?" Aida mengangguk menahan tangis. Tubuhnya masih gemetar ketakutan. Collins tak tega melihatnya, tapi ia tak berani mendekat. Ia hanya tahu Aida tidak ingin bertemu dengannya. Walaupun ia punya kesempatan untuk itu, ia takkan melakukannya. Namun saat ia ingin pergi, warga yang datang malah menahannya. "Tunggu, kamu juga harus ada saat polisi datang," sahut seorang pria muda. "Tidak apa-apa. Dia keluarga babe Sabeni. Nanti gampang, kita bisa datang ke tokonya," sahut pria yang lebih tua. Collins pun dilepas. Ia kembali ke toko dengan hati yang tak karuan. **** Aning menggebrak meja dengan keras. "Sudah tak ada tawar-menawar lagi! Kakak harus keluar dari rumah ini!" Wajahnya memerah karena marah. "Aning ... kakak ini korban. Lagipula, bukan tukang ojek itu yang melakukannya, justru dia yang menolong, kakak," sanggah Aida yang tubuhnya masih lemas sejak kejadian tadi sore. "Aku tidak mau tahu, Kak. Bukankah aku sudah bilang, kalau sekali lagi Kakak bikin masalah di rumah, Kakak harus keluar? Aku tidak mau rumah ini jadi perhatian umum seperti saat ini. Mending ada pesta. Kemalangan terus yang ada di rumah ini, dan itu semua karena Kakak, apa Kakak gak sadar juga, hah!" Aning menunjuk wajah sepupunya itu dengan geram. "Aning ... Kakak tidak dengan sengaja melakukan itu." Aida tidak mengerti kenapa sang sepupu menyalahkan dirinya. Memang orang tua Aning meninggal saat membawa dirinya tapi itu semua karena kesalahan orang tua Aning sendiri, bukan kesalahannya. Dirinya bahkan buta karena kejadian itu. Namun ia tak bisa mengatakan hal yang sebenarnya pada Aning dan hal itu malah menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Aning menyalahkan dirinya atas kematian orang tuanya. "Aning kasih waktu seminggu, dan setelah itu Kakak harus pindah!" "Aning ... ini 'kan rumah kakak ...." "Oh, jadi kakak mau ngadu ke Paman dan Bibi, Aning nyiksa Kakak, gitu?!" Aning semakin panas, dan Aida paham betul bila Aning sudah menginginkan sesuatu, harus dituruti. Sudah bertahun-tahun Aida mengalah dan sepertinya kali ini pun sama. Ia hanya bisa menghela napas seiring sepupunya itu keluar dari kamar dengan membanting pintu. 'Ya Allah, kalau ini jalan yang terbaik, hamba hanya bisa berpasrah diri.' Aida menerawang. Ia merasa bersalah pada Collins. Ia mencurigai pria itu punya maksud tertentu, padahal tidak. Semua ini gara-gara Aning. Padahal Collins hanya jatuh cinta, dan selebihnya, Aida sendiri tak yakin Collins adalah pria jahat. Apa sekarang ia akan memberi kesempatan pada Collins untuk mendekatinya lagi? Di waktu yang sama, Collins berbaring di atas ranjang. Sebentar, ia menoleh pada ponselnya yang berada di atas meja. Betapa ia mengkhawatirkan Aida. Apakah wanita itu baik-baik saja? Collins ingin sekali menelepon tapi ia tak berani. Ia takut Aida semakin membencinya. Ia berusaha meminta hatinya untuk bisa melepas Aida sebab wanita itu sudah tak menginginkannya lagi. "Bara, jangan lupa nanti malah ngeronda, kata Babe!" Teriakan Ipah terdengar jelas dari balik pintu. "Iya!" **** Malam itu terlihat tenang. Kali ini Collins berkeliling bersama Pak Fauzi. Pria berusia hampir 40 tahun itu, pemilik sebuah bengkel. Collins melihat sesuatu yang mencurigakan di rumah yang ada di hadapan. "Eh, Pak." Ia berhenti dan memperhatikan lebih teliti. "Sst." Ternyata Pak Fauzi juga melihat hal yang sama sehingga mendorong Collins ke pepohonan rindang untuk bersembunyi. Mereka fokus dengan pergerakan tiga orang manusia yang berpenutup kepala keseluruhan wajah. Orang-orang itu bergerak mengendap-endap sambil membawa sesuatu yang dibungkus keluar lewat pagar. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN