21. Mencari

1168 Kata
Sedikit senang tapi enyak berusaha menyembunyikan perasaan. Ia berdiri dan merapikan kembali selimut Collins. "Ya udeh, enyak masak dulu. Hari enih enyak masak semur daging." "Makasih, Nyak." Sekali lagi, diperhatikan wajah Collins. Wajahnya tidak mirip dengan dirinya, tapi keberadaan Collins lebih dari sekadar menggantikan anaknya yang dulu meninggal karena sakit. Anak lelakinya dulu sakit-sakitan hingga tak pernah bisa membantunya melakukan apapun, bahkan sebaliknya, ia yang harus sering membantunya. Padahal ia mengidam-idamkan punya anak lelaki sehat seperti anak orang lain dan itu semua bisa terpenuhi ketika bertemu Collins. Walau enyak tak tahu Collins anak siapa tapi di rumah ia serasa punya anak laki-laki kembali. Collins pun tergolong sangat patuh pada orang tua sehingga bukan hanya enyak, tapi babe dan Ipah pun juga menyayanginya. Setelah enyak pergi, Collins kembali teringat permintaan Aida sebelum ia masuk kamar. 'Kenapa dia ngontrak ya? Apa itu bukan rumahnya? Tapi syukurlah dia pindah. Aku lihat daerah rumahnya agak rawan dan terlalu sepi. Berbahaya untuk perempuan tinggal di sana sendirian. Tapi bagaimana dengan sepupunya? Apa mungkin karena dia mau menikah dengan pacarnya itu? Hh ....' Pikirannya kemudian melayang ke hal lainnya. 'Apa ... Mbak Aida mau aku jadi tukang ojeknya lagi?' Tiba-tiba Collins tersenyum kecil. 'Dia belum bilang sih, tapi rasanya dia akan melakukannya.' Perasaannya begitu berbunga-bunga membayangkan mereka kembali naik motor bersama. 'Kamu bikin aku gak bisa tidur, Mbak, tapi kamu memang cantik sekali hari ini. Hah ... apa harapanku tidak sia-sia? Kau memberiku kesempatan, jadi jangan bilang aku tidak bisa menikahimu ya, Mbak ....' Seketika pipi Collins memerah karena pikirannya bergerak terlalu jauh. Ia menghela napas panjang. 'Ya Allah, dia kembali padaku. Jangan biarkan dia pergi lagi dari sisiku, ya Allah.' Ia membayangkan kebahagiaan yang akan datang menjelang. **** Beberapa hari berlalu. Aida pindah ke daerah kontrakan dekat toko babe dengan bantuan babe dan Ipah. Seminggu kemudian, Collins mulai bekerja lagi di toko. Sore itu Collins duduk di depan toko ketika sebuah angkot berhenti tepat tak jauh darinya. Sosok Aida turun dari angkot. Bukan main senangnya Collins melihatnya. "Mbak!" Aida yang hafal suara sang pria, menoleh mencari sumber suara. "Bang Bara?" Ia menggerakkan tongkatnya ke arah Collins, tapi pria itu datang lebih dulu. Tongkatnya menyentuh sendal Collins. "Kamu sudah sehat, Bang?" "Alhamdulillah." "Alhamdulillah." Ada haru yang menggetarkan dadda Aida. Setidaknya itu mengurangi rasa bersalahnya karena pernah ragu pada pria ini. "Mau pulang, Mbak?" "Iya, sekarang aku ngontrak dekat sini." "Boleh aku temani jalan sampai kontrakan?" Tawaran yang manis. Aida tersipu mendengarnya. "Eh, maksudku, hanya ingin tahu tempat tinggalmu. Eh ... kalau boleh." Collins mengusap belakang kepalanya karena canggung. 'Apa terlihat sekali aku ingin bersama ustadzah? Ah, peduli apa, dia juga pasti mau.' "Eh ...." Collins terlihat bingung ketika Aida menegakkan tubuhnya menghadap Collins. "Apa Abang bisa anterin aku ke sekolah lagi seperti dulu?" "Eh, iya, boleh." Keduanya tersenyum dan melangkah ke arah gang. Mereka tak lagi bicara apa-apa tapi tampaknya terlihat senang. Sesekali Collins melirik Aida yang tampak berseri-seri. Babe hanya menonton saja dari dalam toko. Ia pun ikut tersenyum bahagia. **** Pagi itu suasana pasar ramai seperti biasanya. Motor Collins baru saja sampai. Enyak turun dari motor. "Nyak, nanti dulu, Nyak. Masih jauh. Ini motornya belum masuk." Collins bingung karena ia baru sampai di pintu pagar tapi enyak udah tak sabar untuk turun. "Lu gak liat antrian panjangnye kayak ape? Mending enyak masuk duluan dah, daripada gosong. Panas gini." Udara memang mulai terik dan antrian untuk masuk ke dalam pasar juga panjang karena banyaknya motor yang ingin masuk. Collins akhirnya memilih keluar dari antrian dan menepi di seberang yang lumayan teduh, di bawah sebuah pohon beringin besar yang sudah tua. Ada beberapa motor dan mobil parkir di sana. Collins memarkir motornya dekat toko peralatan sekolah. Sebuah mobil berwarna abu-abu muda ikut parkir di sana. Seorang pria keluar dan melihat sekeliling. Ia melihat Collins dan mendatanginya. Collins yang hampir membuka helmnya, dikejutkan dengan selembar foto yang disodorkan padanya. "Bang, permisi. Pernah lihat orang ini gak ya, di sekitar sini?" Mata Collins membulat sempurna. 'Ini 'kan fotoku?' Ia menoleh pada pria itu. 'Ah, untung aku belum buka helmnya. Dia tidak mengenaliku ya?' Collins melirik mobil itu. 'Apa Daddy menyewa orang untuk mencariku?' Ia memang tidak mengenali mobil itu. Collins merubah suaranya sedikit serak. Apalagi kulitnya sedikit kecoklatan sejak sering naik motor. "Eh, sepertinya bukan orang sini. Saya belum pernah melihat orang ini selama Saya ngojek di sini." Ia mengembalikan foto itu. "Oh, begitu ya? Terima kasih." Pria itu sekilas melihat ke arah Collins. Buru-buru Collins menunduk. Pria itu kemudian kembali ke mobil. Sempat ia bicara sebentar dengan pria yang menyetir mobil sebelum mobil itu pergi. Collins menghela napas lega. 'Apa kira-kira mereka percaya ya? Ck, bagaimana ini, mereka sudah sampai di sini.' Ia ingin menggaruk-garuk kepala tapi ada helm di kepala! **** Collins tengah melayani pembeli di warung babe ketika menyadari ada Aida ikut mengantri. Wanita itu berada di belakang seorang ibu yang berbadan gemuk. Ketika ibu itu bergeser ke belakang, Collins dengan cepat meraih tangannya. "Ibu, di belakang ada orang." Ibu itu memutar wajahnya ke belakang. Saat itulah, pria itu melepasnya. Aida yang tidak tahu ada apa, hanya diam menunggu. "Oh, ustadzah Aida?" sahut ibu itu. "Iya, bu?" "Eh, maaf. Ibu mau belanja ya? Saya sudah." Ibu itu bergeser ke samping. "Eh tidak apa-apa. Saya belakangan aja. Ada lagi yang mau belanja?" tanya Aida. "Oh, kalau begitu, Saya dulu." Seorang wanita bertubuh kurus maju diikuti dua orang lainnya. "Oh, kalo begitu, bisa ngantri di marih?" Babe ikut membantu Collins dari samping. Karena babe ikut membantu, pekerjaan cepat selesai. Keduanya memasukkan ke dalam bungkusan, pesanan para pembeli dan menerima pembayaran. Pembeli pun keluar dengan membawa plastik belanja masing-masing. "Mbak, mau beli apa?" tanya Collins ketika tinggal Aida sendiri. Sang wanita menyodorkan plastik belanja yang dibawanya. "Ini aku belikan nasi padang buat kalian," katanya malu-malu. "Babe juga dapat nih?" Pria paruh baya ini melebarkan kedua matanya, tak menyangka ia dikirimi makanan juga oleh Aida. "Iya, Be. Terima kasih udah bantu Aida pindahan," sahut Aida sopan. "Oh, begitu? Ye udeh, babe gak perlu sungkan-sungkan lagi." Babe mengambil plastik belanja itu dan memeriksanya. "Tapi kenape Bara juga dikasih?" Pertanyaan ini membuat wajah Aida tersipu-sipu. Collins melihatnya hingga melirik babe dengan kesal. "Babe nih ... iseng!" Babe terbahak. Collins kembali menoleh pada Aida. "Jangan didengerin, Mbak. Babe suka iseng! Sama dengan Ipah!" Pria paruh baya itu makin terkekeh. "Namenye juga anaknye!" Aida tak dapat menahan tawa. Ia tertawa dengan sedikit tertunduk. Untuk pertama kalinya Collins melihat wanita itu tertawa. Sangat manis. Aida senang berkenalan dengan paman Collins yang begitu baik dan menerimanya. Betapa bahagianya Collins bisa bersama mereka. Namun bagaimana dengan orang tua Collins? Apakah mereka bisa menerima keadaan dirinya yang buta dan tidak punya orang tua? 'Eh ... kenapa aku berpikir sampai begini? Belum tentu juga Bara akan melamarku. Aku 'kan sudah menolaknya? Eh ... belum. Aku belum pernah menolaknya. Buktinya aku memintanya kembali untuk jadi tukang ojek. Tapi ... bagaimana kalau sekarang dia sudah punya pacar? Ah, tidak mungkin ... Ah, apa yang aku pikirkan?' Wajahnya tiba-tiba memerah. "Mbak, kenapa mukanya merah?" Collins mengerut dahi. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN