Kesunyian mengambil kendali. Tidak ada yang berani bersuara. Ruangan menjadi semakin dingin dalam keheningan.
"Mereka tidak akan berniat buruk pada kita." Mike berdeham. "Kita sudah membaca surat itu. Mereka memberikan hadiah besar kepada kita agar tinggal di sini. Mungkin ini seperti Big Brother. Mereka membuatnya lebih nyata sekarang. Tidak ada salahnya. Kita hanya tinggal, kan?"
"Aku tidak tertarik," ucap All bosan. "Aku bisa mendapatkan satu juta dolar dalam satu malam. Kenapa aku harus ikut dalam Big-f*****g-Brother?"
Lana menyetujuinya. Mereka tidak akan memilih All jika memang memberi iming-iming uang. Dari merek pakaiannya saja orang tahu kalau All bukan orang miskin. Kenapa dia ada di sini? Apakah All adalah pengalihan?
Mereka memasukkan laki-laki sombong dan sok berkuasa untuk menjadi masalah di sini?
Lana menyeret amplop surat yang ada di tengah meja. Ia mengamati embos di bagian luar amplop dengan seksama, membolak-balik kertas amplop itu sebelum membuka isinya.
Ia benar-benar berharap bisa menemukan sesuatu yang bisa memberinya ide. Dia butuh alasan kenapa mereka semua dikumpulkan di dalam tempat ini dan siapa yang melakukannya.
Apakah dari pemerintah yang menginginkan mereka semua diasingkan?
Mereka semua memang imigran selain All dan Zac.
Pemerintah? Mereka tahu kalau dirinya penduduk gelap?
Ah, sial sekali kalau benar. Bertahun-tahun ia berada di Amerika dengan tenang. Ia berusaha sekali untuk tidak menampakan diri. Ia membaur di antara jutaan penduduk biasa yang mencari penghidupan. Ia tidak melakukan kriminal bahkan sekecil apa pun agar tidak mendapat perhatian kepolisian yang mungkin akan mengusut masa lalunya. Masa lalu yang berusaha dibuangnya.
Kelebatan bayangan tentang sebuah keluarga datang menghampirinya. Keluarga yang memberinya jalan untuk tinggal di Amerika. Keluarga yang menjadi mayat di depan matanya.
Tidak. Itu sudah lama sekali. Semua sudah tertinggal jauh di belakang, tersimpan rapi di dalam peti bergembok besi.
Sekarang ia merasa telanjang. Seseorang atau sekelompok orang telah mempelajari masa lalunya, melihat catatan hitam yang berusaha disimpannya sebagai alasan berada di tempat ini.
"Dapat sesuatu, Miss Holmes?" All duduk di sampingnya, tersenyum manis dengan alis terangkat, membuatnya ingin pergi sebelum punya keinginan menampar laki-laki itu.
"Tidak. Aku hanya... merasa pusing. Tempat ini terlalu dingin," ucapnya datar. Ia melipat kembali surat dan memasukkan ke amplop dengan rapi.
"Kau berpikir terlalu banyak untuk seorang penari."
"Apa kau pikir penari tidak punya otak untuk berpikir?"
All tertawa, makin mendekatkan tubuh padanya. "Aku kenal beberapa penari. Mereka tidak berpikir banyak. Hanya gerakannya yang... amazing."
Lana berdiri. "Anggap saja aku keanehan."
"Tidak banyak orang suka disebut aneh." All tidak berhenti.
"Kalau jadi aneh berarti bisa membuatmu diam dan menjauh, aku sangat ingin jadi orang aneh," ucap Lana sebelum pergi walau dia sangat ingin mengacungkan jari tengah sambil menjerit, "Go f**k yourself!" pada lelaki itu.
Orang-orang sudah berpencar ke sisi-sisi lain di rumah itu. Terlihat mereka semua sudah menemukan tempat yang cocok. Lana memilih lantai paling ujung. Dia duduk dengan kaki terentang di lantai yang dingin. Disandarkannya punggung dan tengkuknya ke tembok. Rasa dingin mencubit tulangnya, mengingatkannya pada bertahun-tahun lalu di sebuah rumah di Siberia.
"Ada yang ingin makan?" Mike berteriak menawarkan sebuah roti perancis besar. Beberapa orang mengeluh mual dan hanya ingin istirahat. Lana menggeleng saat Mike melihat kepadanya. Lelaki itu membawa roti perancis yang nampak lezat ke sofa putih besar dan memakannya dengan lahap seperti di rumah sendiri.
"Aku tidak percaya ada orang yang memberikan uang sebanyak itu hanya untuk tinggal di rumah ini." Gabriella terlihat berpikir. "Memangnya apa sulitnya tinggal di rumah saja?"
"Kalau kau tahu betapa stresnya beberapa jam saja di rumah ini tanpa internet, kau akan memahaminya." Silvia mengeluh keras. "Sial! Mereka benar-benar tidak memberikan kesempatan sekecil apa pun untuk kita berhubungan dengan dunia luar. Bahkan tidak ada televisi."
Kalau tantangannya hanya internet dan TV, mereka seharusnya tidak memilih Lana. Mereka pasti tahu kalau Lana bukan gadis media sosial. Lana lebih suka mengisi TTS atau duduk di taman kota. Kesendirian sudah menjadi temannya selama ini sejak tidak ada lagi manusia yang bisa ia percaya.
Ah, tidak. Ada seorang yang mendengarkannya dengan tulus, seorang dengan senyum menawan dan satu-satunya pelanggan yang memperlakukannya dengan hormat. Mr. A yang senyumnya mengembang sampai lesung pipinya terlihat. Hanya dia.
"Aku tidak peduli pada internet." Zac ikut berkumpul. "Aku juga tidak keberatan kalau tidak keluar rumah."
Jika kekalahan Zac pada pertandingan memalukan yang disebut-sebut All itu benae, seharusnya Zac juga tidak di sini. Di tempat ini dia bisa makan gratis dan hidup tenang, jauh dari media yang bisa memangsanya. Lana berpikir, hidup selamanya di tempat ini pun Zac pasti setuju. Tidak perlu sampai harus dibayar.
"Tahu yang lebih parah?" Mike menelan roti terakhirnya. "Mereka tidak menyediakan musik juga. Manusia-manusia sial itu ingin membuat kita bosan. Tempat apa di dunia ini yang tidak ada musiknya?" Mike menjilati jarinya. "Padahal mereka punya speaker, kan?"
"Kalau musik, Sebut saja namaku. Musik itu nama tengahku." All berjalan ke tengah ruangan dengan penuh percaya diri.
All mulai menghentak-hentakan sepatunya ke lantai dan membuat bunyi-bunyian dengan mulutnya. Beat box. Tangannya menepuk-nepuk telapak tangan dan paha bergantian, menciptakan musik RnB yang dinamis. Seketika suasana rumah serba putih itu menjadi meriah hanya dengan suara dari All sendiri.
"Oh sial! Kalian memainkan laguku. Ini laguku!" jerit Gabriella dalam kesenangan. "Drake baby! Aku mencintainya lebih dari siapa pun di dunia ini."
Tidak menunggu waktu bagi perempuan itu untuk menyanyikan lagu itu, lagu riang yang membuat mereka semua bernyanyi dalam satu suara yang menyenangkan.
All melambaikan tangan kepada mereka untuk mengajak mereka bergabung. Orang-orang berdiri berkeliling sambil tertawa. Suara musik masih keluar dari diri All. Tepukannya, mulutnya, dan kakinya. Semua menggemakan kesenangan.
Silvia berjalan ke tengah lingkaran dan mulai menari. Dia mengayunkan pantatnya dalam twerking yang membuat orang-orang menjerit. Mereka tertawa.
"Apa yang kau tunggu?" kata Mike pada Lana.
"Tidak. Aku tidak..."
Mike mendorongnya ke tengah lingkaran. Mereka menyorakinya untuk bergabung dalam tarian Silvia. Walau mulanya enggan, tarian Silvia membuatnya ikut larut dalam suasana menyenangkan itu.
"Jangan lepas pakaianmu, Lady. Ada anak kecil di sini," Mike berteriak seru.
Silvia menarik tangan Zac untuk menari dengannya. Lana menarik mike, memukul p****t laki-laki banyak mulut itu untuk menggerakkan perut besarnya.
"Kamu butuh lebih banyak menari, bukan bicara," ejek Lana. Untuk pertama kalinya dia merasa berada di tempat lain, bukan di rumah yang terkunci ini.
Tidak ada alasan untuk menolak kesenangan ini. Semua orang bergembira, melepas rasa tidak nyaman dari efek bius yang memabukan. Melepas kegundahan dan resah yang membebani mereka sejak mereka ada di rumah ini.
Musik menyatukan mereka dalam irama kegembiraan yang tentu saja akan berakhir. Tidak akan ada yang abadi. Bahkan di rumah tanpa jalan keluar ini.