Semua orang sudah berada di kamar masing-masing sekarang. Kelelahan. Beberapa orang masih tertawa ketika masuk ke kamar. Setengah mabuk. Senang. Paling tidak hiburan seadanya yang mereka dapatkan di malam pertama ini cukup menjanjikan. Mungkin saja mereka berada di tempat yang benar bersama orang-orang yang benar.
Lana memperhatikan mereka masuk ke kamar masing-masing. All memberinya kerlingan. Dia sudah terbiasa untuk tidak peduli pada laki-laki seperti All. Sudah terlalu banyak laki-laki seperti itu yang masuk dalam hidupnya.
"Aku tidak tahu pukul berapa ini, tapi...," Silvia tergelak. Langkahnya limbung. Dengan cepat, Lana menangkap bahunya sebelum gadis itu jatuh. "Selamat malam," ucap Silvia lagi.
Lana membantunya berjalan ke kamar. Aroma gadis itu campuran antara keringat dan anggur. Berkali-kali dia bersendawa keras.
"Yah, cuma ini yang kita punya." Lana menidurkan Silvia di tempat tidurnya. "Sweet dream."
"Apa yang ingin kau impikan?" tanya Silvia dengan mata tertutup.
"Aku ingin memimpikan rumah," jawab Lana sambil menutup pintu kamar Silvia.
Lana tidak tidur. Dia memang terbiasa tidak tidur.
Di kepalanya, berputar-putar banyak sekali teka-teki membingungkan yang membuatnya terus terjaga. Suara-suara di kepalanya sekarang menjeritkan banyak pertanyaan.
"Tidak," kata Lana keras pada diri sendiri. "Bukan tentang bagaimana cara keluar dari rumah ini. Yang terpenting adalah kenapa kami semua ada di sini? Kenapa kami yang terpilih?"
Pekerjaan, riwayat kehidupan dan latar belakang mereka semua berbeda. Apakah mereka dipilih begitu saja?
Lana mengerutkan kening menatap ruang kamar serba putih. Ia mencoba mengingat-ingat buku-buku yang pernah ia baca. Pasti ada sebuah pola.
Harusnya setiap orang memiliki peran dalam permainan ini. Ia meraih tas dan memeriksan isinya. Bibirnya menyunggingkan senyum ketika menyentuh agenda kesayangannya. Ia menghela napas lalu menuliskan dalam bukunya.
1. The king. Peran ini diambil oleh All Brown. Mungkin dia adalah King Henry VIII yang suka main perempuan.
2. Si Cerdas. Ada Silvia Grazie. Dia memang belum menunjukkan kecerdasan seperti dia menunjukkan kemampuannya dalam twerking. Tapi, mungkin saja dia menyimpan kemampuan khusus.
3. Ibu pelindung. Jelas ada Gabriella Chase.
4. Monster sudah pasti jabatan yang pas untuk Zac Browson.
5. Remaja yang harus dilindungi dan suka memberontak pasti Ella Chase.
6. Mike Hall adalah laki-laki lemah yang tidak bisa diandalkan. Mungkin saja dia memiliki sesuatu yang bisa membantu kelompok.
Lana memikirkan posisinya sendiri. Lalu kemudian dia mengambil napas dalam-dalam dan menuliskan :
7. Lana f*****g Orlov sebagai p*****r.
Lana tersenyum dengan tulisannya sendiri. Bisa tahu di mana tempatnya yang seharusnya merupakan awal yang baik. Dia jadi tahu apa yang mereka harapkan darinya. Tentu saja, dia tidak akan menjalankan peran seperti yang mereka inginkan.
Pintunya diketuk. Ia terlonjak kaget.
"Maaf aku mengejutkanmu. Kau tidak menutup pintu," ucap Zac agak berbisik. "Boleh aku masuk?" Itu bukan permintaan persetujuan. Dia mengatakannya sambil masuk dan menutup pintu walau Lana belim memberikan jawaban.
Jika belum menyadari posisinya, Lana ingin mengatakan senang atas kunjungan Zac. Dia sudah menuliskan perannya dalam kelompok ini. Dia dipasang untuk menjadi perempuan yang menggoda laki-laki dalam kelompok. Mereka akan berkelahi memperebutkannya atau masalah paling memalukan, cinta. Dia tahu apa yang harus dilakukannya, mundur segera sebelum ada masalah.
"Apa yang kau tulis?"
Lana menutup bukunya cepat-cepat. "Tidak ada."
Zac tersenyum. Dia mendongak ke dinding di atas kepala Lana. "Wow, keren sekali."
Penasaran, Lana berbalik dan mengamati arah yang dilihat Zac. Kelengahan itu menjadi kesempatan bagi Zac untuk menarik buku di tangannya. Dengan kesal, lana menyumpah keras-keras.
"Monster? Kau pikir aku Hulk?" Dia menimbang sebentar. "Hulk? Bagus juga. Hei, apa ini?" Zac mengambil pena dari jari Lana dan mencoret baris ke tujuh. Zac mencoret kata p*****r dan menggantinya dengan 'Thinkerbell.'
Zac mengembalikan buku dan pena kepada Lana. "Jangan rendahkan dirimu sendiri," ucapnya sambil tersenyum. "Tidak ada yang bisa menghormatimu jika kau tidak menghormati diri sendiri."
Garis wajah Zac memang keras. Khas laki-laki yang menghabiskan terlalu lama di gym. Latihan keras, diet ketat dan kehidupan yang buruk. Kulit kecoklatannya membuat wajah itu lebih garang dari yang sebenarnya. Tapi ke dua mata biru Zac seperti dua mutiara surga yang tak sengaja tertempel di situ. Cerah dan lugu. Lana bisa melihat banyak hal di dalamnya.
Mata biru itu kini mengawasi Lana. Mata yang seolah tersenyum kepadanya.
Tiba-tiba Lana merasa kikuk.
"Kenapa kau tidak tidur," tanya Lana pelan.
Zac menyandarkan tubuh pada tangan di belakang tubuhnya. "Aku sudsh tidur lama sekali. Aku bukan beruang. Aku melihat pintumu tidak tertutup, jadi, kupikir bisa berbicara dengan seseorang. Aku melihat pintumu tidak tertutup rapat."
Lana meraih bukunya dari tangan Zac. "Aku lebih suka tidur dengan pintu agak terbuka."
"Tidak di tempat ini," katanya keras. "Kau tidak mengenal siapa pun di sini. Kunci pintumu dan berhati-hatilah."
"Termasuk darimu?"
"Ya, tentu saja."
Lana tertawa. "Baiklah, Hulk. Aku akan berhati-hati."
"Kenapa kamu menulis semua itu?"
"Agar aku tahu peran kita semua di tempat ini. Aku penasaran kenapa mereka memilih kita. Kalau memang karena kita semua orang sial, kenapa memilih All? Dia sukses dan kaya. Kenapa dia ada dalam permainan?"
"Bagaimana kalau dia berbohong?" Suara Zac sangat pelan. "Bagaimana kalau dia berbohong tentang pekerjaan dan kekayaannya? Dia terlihat seperti orang yang suka membual."
Lana tidak menampik pendapat Zac karena memang All memiliki potensi untuk melakukan kebohongan itu.
Tiba-tiba sesuatu mengejutkan Lana. Seperti kilatan kesadaran yang masuk ke kepalanya. Dia berdiri tegak dan membaca tiap kata di dalam surat berembos logo aneh itu.
"Daripada itu, aku berpikir, kenapa mereka mengatakan permainan ini 8th Looser? Kita bertujuh. Apa kah ini artinya akan ada orang ke delapan yang nanti akan menyusul?" Zac duduk di tempat tidur.
Ada pemain yang gagal ditangkap? Mereka jadi hanya memainkan dengan orang seadanya?"
"Kenapa namanya harus 'loosers'?" Lelaki itu tertawa. "Apa kegagalanmu?"
"Gagal adalah nama tengahku, Zac. Aku terlahir untuk gagal," ucapnya sambil menengadah, menatap langit-langit yang putih yang terlihat lebih tinggi dari jarak sebenarnya.
"Aku seharusnya masuk Royal Balet di Moskow. Tapi aku tidak bisa. Ayahku meremukkan tempurung lututku," ucap Lana dalam sebauh bisikan. Ia mengambil napas dalam beberapa kali. "Ayahku orang kampung yang kolot. Pikirannya masih berada di era Stalin. Buatnya, perempuan adalah pencuci piring di rumah. Perempuan yang melakukan pekerjaan laki-laki adalah pemberontak. Perempuan yang menjadi pusat perhatian adalah p*****r. Hukuman untuk itu semua adalah rasa sakit." Ia mengernyit, membayangkan rasa sakit yang dulu akrab pada tubuhnya.
Lana bisa merasakan ayahnya berteriak marah saat ia membaca buku-buku yang berhasil ia curi dari banyak tempat. Membaca buku bisa membuatnya lupa pada kehidupan buruk yang dialaminya. Lana belajar bahasa-bahasa dunia seorang diri dalam kegelapan dengan sebauh senter atau lilin di tangan. Jika ayahnya memergoki, ia pasti mendapatkan pukulan rotan.
"Syukurlah aku memiliki bibi yang baik hati. Dia memberiku obat-obatan yang bisa menghilangkan bekas pukulan ayahku."
Hati Zac melepuh saat melihat Lana menceritakan masa lalunya dengan senyum. Lana masih bisa tersenyum mengingat betapa pahit hidupnya. Sedang dirinya sendiri terlalu mengubur diri pada dendam masa lalu.
"Kau harus memperkenalkan aku pada bibimu. Aku punya luka yang tidak mungkin bisa sembuh. Saat anak lain mendapat hadiah ulang tahun, aku mendapatkan tusukan dari ayahku." Dia tertawa pelan. "Keluargaku dari Manchester. Aku pindah ke New york bersama ibuku. Kami sudah muak hidup dengan pukulan di sana. Tapi ibu tergila-gila pada ayahku dan meninggal karena merindukannya. Aku tidak tahu perempuan bisa mencintai seseorang seperti itu."