CANT STOP ME NOW!

1733 Kata
"Tutup mulut dan matilah!"  Lana mencekik Irina di bawahnya. Wajah gadis itu sudah pucat. Kakinya menendang-nendang liar. Tangannya mencakari tubuh Lana. Percuma, Lana sudah terbiasa dengan rasa sakit. Kuku-kuku Irina tidak menggetarkan cengkeramannya.  Lana menunggu. Dia terus mengeratkan cengkeraman pada leher adiknya dan terus berhitung, berharap Irina cepat lemas.  'Apa aku salah menekan pembuluh darahnya? Kenapa lama sekali?' batin Lana kesal. Dia mengingat cara mencekik yang telah diajarkan A. Seharusnya penekanan di pembuluh besar samping leher ini cepat mematikan. Ibu jarinya pada jalur pernapasan juga sudah sangat kuat. Kenapa Irina masih bisa meronta sampai dua puluh hitungan? Irina tidak selemah penampilannya. Gadis itu seperti robot yang memiliki baterai dan nyawa cadangan. Kekuatan Lana sama sekali tidak membuatnya berhenti melawan. Hingga sampai pada hitungan keempat puluh lima, Irina lemas. Dia melepaskan kuku yang menancap pada tangan Lana. Kakinya berhenti menendang. Bola matanya terputar ke atas, lalu menuup perlahan. Ah, pas sekali. Tenaga Lana juga sudah nyaris habis menekan tubuh adiknya terus.  Saat irina sudah benar-benar tidak bergerak, Lana mengendurkan cekikannya. Saat itulah dia merasakan nyeri luar biasa pada lengan kirinya. Irina menancapkan pisau ke lengannya. Lana mundur, terkejut melihat Irina melompat berdiri. Dia tidak percaya ada gadis sekuat itu. Seharusnya gadis itu sudah lemas. Tidak mungkin gadis kurus itu bisa berdiri lagi dan tersenyum. Lehernya saja sudah merah. Wajahnya sudah membiru. "Kau tidak tahu apa yang kupelajari selama kau pergi, Lana." Suaranya serak dan kering. Seharusnya memang dia merasa sangat tersiksa dengan cekikan itu. Dia terbatuk sebentar, lalu kembali tersenyum penuh kemenangan. Dia memindahkan pisau dari tangan kiri ke tangan kanan dengan gaya seperti pelempar pisau profesional di sirkus. "Kau setan. Kau bekerja sama dengan setan," gerutu Lana sambil memegangi lengannya. Senyum Irina makin lebar. "Tidak, Sistra. Setan tidak bisa mengajarkanku selamat dari kematian. Kau ingat bagaimana Sergei dari sirkus Stumopov selamat dari berbagai aksi berbahaya? Aku belajar dari dia. Jangan khawatir, aku masih punya banyak sekali trik. Semua ajarannya membuatku hidup sampai hari ini." Lana berusaha mengingat Sergei Stumopov. Laki-laki gemuk pendek yang sangat lincah. Kelincahan dan keseimbangan yang seharusnya tidak mungkin dimiliki dengan postur tubuh seperti itu. Sergei seperti membantah kemustahilan. Bertahun-tahun Kana begitu mengidolakannya. Sergei seperti memberikan kekuatan dalam impian Lana kecil untuk keluar dari hidupnya yang mengerikan. Mendengar Irina belajar dari idola yang dipujanya, hati Lana terasa sakit. Kenapa Irina selalu berusaha mendapatkan semua yang disukainya? Lengan kiri Lana terasa panas. Darah mengalir hingga ke jarinya. Biasanya, dia menyukai luka. Dia senang melihat kukit pucatnya merah dan berdarah. Kali ini, rasa luka itu mengerikan, perpaduan antara panas dan kemarahan. Lana ingin menjerit hingga paru-parunya pecah. Irina mengayunkan pisaunya, bersiap melompat untuk menikam Lana. Gadis itu memiliki kecepatan dan keakuratan bagus, hasil latihan dengan semangat dendam di Siberia. Dia tidak membuang kesempatan. Lana lengah. Dia pikir Lana kesakitan karena luka itu. Sebuah tusukan dalam di ulu hati akan menjadi hadiah untuk saudarinya itu. Lana tidak akan mati. Lana akan mengejang dan sekarat selama dia mampu. Irina bergidik merasakan luapan kegembiraan dalam dirinya. Menang. Ia pasti menang. Lana akan lemas sebentar lagi. Kakaknya itu akan kehabisan darah dan sempoyongan. Setelah ususnya keluar, dia akan mengalami penderitaan sepsis sampai mati. Baru membayangkannya saja dia sudah merasa b*******h sekali. Inilah akhir dari impiannya selama ini. Irina menerjang. Ia yakin bisa menusuk ulu hati Lana dengan mudah.  Lana menunduk, merapat pada lantai, mendorong tubuhnya sendiri untuk meluncur dan menendang kaki Irina.  Kena!  Gadis itu jatuh. Wajahnya menabrak lantai. Suara tulang hidung patah terasa indah untuk Lana. Dengan siku, dia menjatuhkan diri ke punggung Irina. Bunyi tulang rusuk patah membuat Lana semakin bersemangat. Dia menarik rambut Irina dengan cepat. Terdengar bunyi gemeretak tulang lagi. Lana bangun dan menginjak pungung bagian bawah adiknya berkali-kali. Dia nyaris tertawa mendengar suara tulang-tulang yang patah. Dia memang benar-benar tertawa. "MATI KAU, JALANG! MATI KAU! JALANG NERAKA j*****m!" Lana terengah, sangat puas. Ia bersandar pada dinding, memandangi tubuh lemas Irina. Dia ingin mendekati tubuh adiknya, tapi rasa muak mencegahnya. Dia hanya memandangi tubuh itu lama, memastikan gadis itu tidak bergerak lagi. Seharusnya dia melakukan ini bertahun-tahun lalu. Ia menyobek seprai untuk membalut lukanya. Luka itu terlalu dalam. Ia tahu. Ikatan seprai tidak akan cukup mencegah keluarnya darah. Tapi, cuma itu yang bisa dilakukannya. Sudah banyak darah yang keluar dari lengannya. Saat bangun, Lana kehilangan keseimbangan. Dia bersandar lagi pada dinding, menjaga tubuhnya agar tetap berdiri. Pandangannya kabur. Kepalanya mulai dingin dan kosong. "Aku tidak akan mati. Aku tidak akan mati hari ini. Tidak hari ini," bisik Lana pada dirinya sendiri, pelan, berulang-ulang. Tugasnya tinggal sedikit lagi. Dia hanya perlu ke kamar Mike dan membuat lubang ke lantai atas. Dia akan berhasil. Dia tahu itu. Dia memerintahkan pada tubuhnya untuk bertahan. Zac berpikir tugasnya sangat mudah. Dia mengeluarkan peluru dari glock-nya dan menyusun logam itu di dalam microwave. Dia sendiri heran, kenapa tidak memikirkan ini? Mereka bisa meledakkan apa saja dengan microwave ini. Di kamar mandi ada banyak bahan pembersih. Mereka bisa menggunakannya juga untuk meledakkan tempat ini. Untuk sekarang, peluru-peluru ini lebih dari cukup. Dia akan menghasilkan ledakan yang bisa merobohkan gedung tiga tingkat. Dia menyusun kursi di atas meja tulis kamar Mike. Dari coretan peta yang diberikan Lana, kamar Mike kemungkinan berada di bawah ruang lain. Dia memang tidak tahu apa, tapi dia bersumpah akan melindungi Lana dari apa pun. Mereka akan keluar dari tempat ini dan membaur dengan yang lain. Amerika adalah negara yang besar. Ada banyak sekali penduduk tidak tercatat yang tinggal di Amerika. Mereka berjalan-jalan dengan santai. Tidak ada yang peduli. Tidak ada mendata. Yang paling menyenangkan, tidak ada pajak. Mereka bebas. "Aku tidak akan melakukan itu kalau jadi kau." Zac menutup microwave dan berbalik. Mike di belakangnya, memegang pisau dengan cara ganjil. Sepertinya, itu memang satu-satunya cara memegang pisau yang diketahuinya. "Taruh lagi! Taruh lagi benda itu!" Mike berkeras.  Zac menatapnya malas, bertanya-tanya dalam hati kenapa bukan orang ini saja yang mati dari tadi.  "b******n, KUBILANG TURUNKAN!" Dia berteriak seperti orang tidak waras. Dengan jeritan panjang dan penuh amarah, dia bergerak menusuk Zac. Tentu saja itu cara paling bodoh. Zac menangkapnya dengan mudah. Dengan satu gerakan cepat, Zac memuntir tangan lelaki itu. Tidak ada perlawanan tentu saja. Zac bisa mengangkat beban sambil memegangi tangan Mike begini seharian. Mike menyumpah. Seharusnya dia tahu, dia bukan lawan monster berotot ini. Tubuhnya merintih hanya dengan perlawanan satu tangan saja. Dia begitu kesal dengan kemampuannya. Sejak kecil ia terlahir sebagai pecundang. Dia tidak bisa melakukan apa-apa selain mengandalkan kemampuan mulutnya dalam meyakinkan orang lain. Mike Hall sudah kenyang memakan perlakuan buruk orang-orang seperti Zac Browson. Mereka yang merasa memiliki dunia hanya dengan otot dan ketampanan. "Lepas!" gerutu Mike. "Tidak jika kau mengganggu urusanku. Ada gadis yang harus kuselamatkan." "Mereka akan mengeluarkan kita. Sudah hanya tinggal kita. Kalau begini, kita tidak akan mendapat apa-apa." Zac berbalik, menatap mata Mike dengan berang. Lelaki itu gemetar membayangkan hal buruk yang bisa dilakukan Zac padanya. "Aku tidak pernah mempercayaimu, Bung. Aku membencimu sampai helaian rambutmu. Kalau bukan karena Lana, aku sudah membunuhmu sejak awal." Zac memuntir tangan Mike lebih dalam. Lelaki itu menjerit kesakitan lagi. Zac melepaskan tangannya dan menekan tombol timer di microwave. Tugasnya selesai. Dia hanya perlu menunggu dan membawa Lana ke tempat aman agar tidak terkubur hidup-hidup. Kamar Lana yang paling jauh dari kamar Mike. Mereka akan aman bersembunyi di situ. "Kau gila?! KAU GILA?!" teriak Mike saat melihat angka timer pada microwave itu. Dia mendongak dengan ngeri, membayangkan microwave itu meledak dan menghancurkan permainan. Dia tidak akan mendapat apa-apa. Uang yang baru digenggamnya akan hilang. Dia akan miskin lagi. Saat Zac lari keluar kamar, Mike menyusun tas uangnya untuk pijakan. Dia berusaha meraih microwave itu. Dia harus bisa menghentikannya. Tanpa mendengar teriakan Zac, dia terus memanjat meja dan kursi, mencari tombol yang tepat untuk mematikan alat itu. Ah, seharusnya dia mendengarkan istrinya. Mike Hall memang tidak bisa melakukan apa-apa. Impulsif, membuatnya tidak berpikie panjang atas segala sesuatu. Banyak orang menyesalkan berbisnis dengannya. Pelayanan buruk yang mereka dapat dari Mike membuat mereka malas melanjutkan kerja sama dengannya. Microwave itu meledak tepat di depannya. Tubuhnya hancur menjadi puing kecil, pecah bersamaan dengan hancurnya tembok dan atas ruangan itu. Hanya saja kali ini tidak ada tas uang untuk merayakan kematiannya.  Gadis itu memeluk Zac yang berlari padanya. Dengan patuh dia menurut saat Zac membalikkan tempat tidur, melindungi tubuh mereka dari ledakan yang akan terjadi. Dia meringkuk di dalam pelukan Zac, merasa sangat nyaman. Bertahun-tahun dia mencari rasa aman ini. Rasanya dia sudah melupakannya sejak terakhir dia memeluk Dmitri. Zac memeluknya rapat pada lantai seolah memastikan seluruh tubuhnya aman dari ledakan itu. Lantai seperti dipukul dengan sangat keras. Dinding kamarnya gemetar. Angin panas terasa menyakitkan di pipi Lana yang tidak terlindung. Gadis itu menutup kupingnya, berusaha untuk tidak teriak, berusaha untuk tetap sadar. 'Aku tidak boleh mati. Aku tidak boleh mati. Tidak di sini. Tidak saat ini,' ucap Lana di dalam hati. Ledakan itu berlalu. Telinga Lana berdenging. Ia bertanya-tanya apa denging itu karena gendang telinganya yang rusak atau memang temlat ini jadi sangat hening? Dia berusaha mengangkat tubuh Zac. Lelaki itu tidak bergerak. Lana menggoyangkan tubuhnya lagi. "Zac, kita bisa melakukannya nanti. Tolong, kita harus keluar dari tempat ini." Dia berusaha bercanda dan menggelitik Zac untuk membuat lelaki itu bangun. Laki-laki itu bergeming. Lana berbalik, berusaha membuka mata. Debu dan batu kecil masih berterbangan. Beberapa masuk ke mata Lana, membuatnya tidak bisa melihat apa-apa. Ia menatap lantai lagi, berusaha mengedip-kedipkan mata untuk membuang partikel debu di dalamnya.  "Zac, jangan pingsan dulu. Tolonglah! Kita harus keluar. Zac!" Laki-laki berat itu tetap bergeming.  Lana menggerakkan kakinya, mencari cara membebaskan diri dari Zac.  Setelah matanya pulih, dia berbalik lagi. Dia menatap ngeri wajah Zac yang penuh debu. Dengan usaha keras, Lana berhasil keluar dari pelukan Zac. Dia menyeret tubuhnya menghindari reruntuhan kamar.  Saat ia berbalik pada Zac lagi, barulah ia tahu kenapa Zac tidak bangun. Di kepala lelaki itu ada lubang menganga, tempat batu besar jatuh. Lana membalik tubuh lelaki itu. Dia seperti tidur. Zac nampak sangat tampan walau dipenuhi debu.  "Kenapa begini? Padahal kupikir aku mendapatkan Dmitri-ku lagi," bisiknya sambil memeluk lelaki itu. Lana menjerit dengan seluruh sisa tenaga yang ia punya. Ia menjeritkan kekesalan, menjeritkan protes pada maut yang selalu membuatnya sendirian. Apa memang ia tercipta untuk terus sendiri? Lana membaringkan Zac pelan-pelan, seolah khawatir lelaki itu akan terbangun. Dia menciumi bibir lelaki itu, berharap bisa membangunkannya.  "Kita milik keabadian. Kita milik kegelapan yang merenggut segalanya," bisiknya sambil berbaring memeluk tubuh tak bernyawa itu. Untuk kedua kalinya, Lana merasa jantung ditarik keluar dari dadanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN