Lana pernah melihat irina dengan ekspresi seperti itu. Dulu, lama sekali. Gadis kecil yang biasanya lembut tiba-tiba berubah menjadi serigala putih kelaparan, menatapnya sebagai satu-satunya mangsa.
Tubuhnya menggigil melihat mata yang begitu penuh dengan keinginan membunuh. Wajah lembut Irina terlihat seperti monster yang siap memakan apa saja. Rasanya tetap sama saat melihat wajah itu, takut. Lana sangat mengenal Irina. Kali ini gadis itu tidak akan berbelas kasihan lagi. Dendam membuat tekadnya bulat. Hanya ada satu pilihannya, membunuh Irina.
Di dalam hati, Lana meminta maaf pada ibunya karena akan membunuh satu-satunya saudara yang masih dimilikinya. Akhirnya dia mengkhianati janji untuk menjaga saudara-saudaranya. Ah, tentu saja ibunya akan memaafkannya. Tuhan juga mungkin malah akan mengangkatnya ke surga karena berhasil membunuh setan berbentuk gadis jelita itu.
"f**k you, Irina," bisik lana terlalu pelan untuk didengar orang lain. Namun, Irina tahu yang diucapkan kakaknya. Dia tahu kebencian kakaknya sebesar kebenciannya sendiri.
"Terima kasih, Sistra," jawab Irina dengan nada mengejek.
"Dan kita di sini menyaksikan perkelahian saudari? Ayolah, kalian bisa bersikap lebih dewasa dari ini," keluh All sambil menggeleng. "Selesaikan urusan kalian dengan cara yang lebih Amerika."
Irina menoleh pada All, gemas pada lelaki itu. "Bagaimana cara yang lebih Amerika, Mister?"
"Duduk di sana dan bicarakan dengan kepala dingin. Seharusnya kamu bisa melakukannya." All menunjuk kursi di dalam kamar. "Apa kalian hanya diajarkan cara membunuh di sana?"
Gadis itu tersenyum. "Aku belum pernah merasakan Amerika. Aku tidak tahu apa itu Amerika. Yang kutahu cuma ini, Mulut besar."
Lana menahan napas saat Irina menusuk dan menyobek perut All. Laki-laki itu masih berdiri dan bergerak saat pisau di perutnya ditarik dan ususnya terburai ke luar. Laki-laki itu masih mengaduh dan berjalan beberapa langkah, menjerit melihat isi perutnya sendiri.
Di belakangnya, Mike muntah. Dia bersandar pada dinding dan muntah lebih banyak.
"Aku tidak tahu cara itu sudah cukup Rusia atau tidak," kata Irina sambil mengibaskan pisaunya, membuang darah All yang tertinggal. "Tapi aku senang melakukannya."
"Bagaimana caranya dia dilahirkan sebenarnya?" desis Zac di belakang Lana. "Apa ibumu tahu kalau melahirkan iblis?"
Lana tidak menjawab. Dia tidak bisa mengingat bagaimana Irina dilahirkan. Gadis itu seperti memiliki masalah sejak lahir. Dia aneh, sangat aneh. Dia tidak seperti bayi lain. Lana benar-benar ingat bagaimana Irina sejak kecil selalu bisa memanipulasi orang lain. Dia selalu bisa mengandalikan orang lain untuk melakukan perbuatan buruk. Apa memang gadis itu tercipta untuk menjadi monster pembunuh seperti ini?
Ah! Dia tidak juga tidak ingat untuk apa dirinya dilahirkan. Untuk menjadi korban Irina lagi?
Bunyi sesuatu yang berat jatuh. Mike mengelap mulutnya dengan pergelangan tangan, lalu terlihat senang. Walau dia berusaha menutupi senyum dengan dehaman, ekspresi bahagia itu tidai busa lepas dari wajahnya. Lana bertanya-tanya apa yang akan dilakukan Mike padanya jika nanti yang tettinggal hanya dia dan Mike. Bagaimana cara Mike membunuhnya untuk mempertahankan uang-uang itu?
"TEMAN-TEMAN! KITA MENDAPAT TAS LAGI." Suara Mike terdengar gembira. Sepertinya ketakutan dan kengeriannya sudah dibayar tunai.
Tidak. Tentu saja dia tidak akan membiarkan Mike menguasai semua uang itu sendirian. Dia akan selamat. Dia dan Zac akan keluar dari tempat ini hidup hidup.
Lana mengeluarkan kertas dari sakunya. Kertas lusuh yang penuh dengan gambar dan tulisannya bersama Silvia, cetak biru pelarian mereka.
"Zac, baca ini dan siapkan apa pun yang tertulis di kertas itu. Kita tidak punya waktu. Kita harus keluar dari tempat ini sebelum Mike memutuskan menghabisi kita."
Zac menatapnya seperti menatap orang gila. Lana tahu ini memang gila. Ini hanya perkiraannya dan Silvia. Bisa jadi, semua rencana itu hanya omong kosong. Bisa jadi sebenarnya mereka memang tidak bisa ke mana-mana. Namun, siapa tahu tahu hasil jika belum mencoba, kan? Paling tidak, mereka telah mencoba satu kemungkinan dan membuat kerusakan besar di tempat ini.
Walau sangat ingin bertanya dan membutuhkan penjelasan, Zac tahu ini bukan saat yang tepat untuk berdebat. Dia membaca isi kertas itu, lalu menarik napas dalam, bersiap untuk kemungkinan terburuk kegagalan mereka. "Lalu, apa yang akan kau lakukan?"
Lana menatap lurus saudarinya yang berusaha menghindari genangan darah All. "Menyelesaikan masalah yang seharusnya kubereskan di Rusia."
Zac menggeleng, tidak habis pikir bagaimana seorang gadis memiliki kekeraskepalaan seperti mereka. "Jangan sampai dia mengeluarkan ususmu. Kurasa, aku menyukaimu."
Dalam kondisi normal, ucapan Zac akan terasa hangat untuk Lana. Tidak ada yang benar-benar menyukainya. Laki-laki datang dan pergi untuk menunaikan urusan mereka dengan tubuh gadis itu, tidak ada yang benar-benar menetap, bahkan Mr. A juga tidak.
"Kalian sudah selesai bercinta?" Suara Irina terdengar mengejek. "Aku tidak menyangka kau bisa tidur dengan laki-laki selain Dmitri. Kipikir cinta kalian begitu kuat."
"Aku tidak mencintai orang mati."
"Sudah kukatakan padanya kalau kau tidak benar-benar mencintainya. Dia tidak percaya padaku. Dia malah menuduhku mengkhianatimu. Apa sih kelebihanmu?" Suara Irina terdengar sedih, tapi tidak dengan ekspresinya. Gadis itu siap menyerang.
"Kelebihanku?" Lana berkonsentrasi pada pisau di tangan Irina. "Aku tidak suka banyak bicara."
"Kau terlalu terburu-buru, Svetlana. Dari dulu kau selalu canggung dan tidak hati-hati." Irina berjalan mendekat dengan tenang. Dia berputar ke samping Lana, mencari celah yang tidak terjaga. "Seharusnya kau mendengarkan Dmitri. Berkali-kali dia mengatakan agar kau tidak gemetar. Kau berkelit dengan mengatakan kau takut masa depan. Kau memang tidak harus selalu ketakutan melihat masa depan. Kau tidak memilikinya."
Irina menggerakkan pisaunya dengan cepat, tepat saat Lana menghindar. Ia menggerakkan pisaunya lagi, mengincari perut Lana. Gadis itu selalu suka rasa pisau yang membelah perut. Ada empat lapisan perut yang melindungi organ pencernaan di dalam perut. Setiap lapisan memiliki ketebalan yang berbeda.
Ia masih ingat bagaimana rasanya pertama kali membelah perut manusia. Seorang lelaki pemabuk yang ukuran perutnya yang terlalu besar untuk tubuh yang kurus. Irina butuh tiga kali goresan dalam untuk mengeluarkan usu pucat lelaki itu. Dia geram melihat gumpalan kotoran yang belum dikeluarkan di usus besar. Laki-laki jorok. Pantas saja istrinya malas melihatnya pulang.
Korban keduanya, perempuan tua yang memakinya di pinggir jalan. Perempuan itu punya tubuh berlemak yang kendur. Irina membutuhkan empat sayatan dalam untuk bisa mengeluarkan semua usus tuanya. Sata itu, dia baru mengerti kalau manusia tidak hanya mengalami penuaan di kulit, tapi juga organ tubuh bagian dalam. Dia bersumpah untuk menjaga pola makan dan tidak minum alkohol terlalu banyak. Dia butuh kesehatan untuk bisa membalas dendamnya.
Kali ini, dia memperhatikan perut saudarinya. Untuk perut seramping Lana, dia menebak hanya peru satu sayatan ringan. Di tengah, tebak Irina dengan hati senang. Sebuah sayatan dalam di bagian tengah bisa menyelesaikan semua. Svetlana tidak akan mati. Dia akan melihat ususnya sendiri jatuh ke lantai dan menderita karena ketakutan akan kematian. Rasanya pasti bisa lebih ringan dibanding saat menyayat perut berotot All tadi.
Irina merinding karena semangat. Kegembiraan di dalam dirinya membuncah. Inilah yang diimpikannya seumur hidup, bisa menyakiti saudari yang telah mendapatkan segalanya dan meninghalkannya di lubang hitam bernama Ayah, orang yang tidak berhenti memerkosanya. Untung laki-laki itu sudah terpotong menjadi sobekan daging mentah kecil yang disimpannya untuk memberi makan anjing-anjing peliharaannya.
Lana bergerak perlahan, menggiring Irina agar menjauhi Zac. Dia tahu benar Irina dalam kondisi siaga. Sedikit saja gerakan dari Zac, pasti membuat Irina berpaling dan menyabetkan pisaunya. Zac bukan laki-laki yang bisa menghajar perempuan. Kelemahan lelaki baik.
"Bagaimana kalau kau diam dan biarkan aku melakukannya, Sistra." Irina mengeluh. "Kau tidak bisa membuatku berkeliling ruangan ini terus." Dia menyibakkan rambut pirang dan memasang tampang mengambek.
"Jangan salahkan aku kalau kau terluka, Perempuan Sial!"
Lana meraih tangan Irina yang memegang pisau. Kena! Gadis itu terseret ke depannya, berusaha melepaskan tangannya. Lana membalik tangan Irina sampai menjatuhkan pisau. Gadis itu mengaduh, lalu menampar Lana dengan tangannya yang bebas. Lana menedang perutnya dengan lutut. Gadis itu membalas dengan jambakan rambut. Kulit kepala Lana seperti dikoyak. Sebuah gerakan cepat yang pernah dipelajarinya dari kelas Judo membuat Irina jatuh telentang.
Zac memanfaatkan perkelahian mereka untuk keluar dari kamar itu. Dia mengeluarkan pistolnya, berjaga jika Mike mendapatkan pistol baru di dalam tas uang yang baru turun. Aman. Laki-laki itu sedang menghitung uang di meja makan dengan tenang, seolah ia bisa membelanjakan uang itu sebentar lagi.
"Kau tidak mendapat apa-apa," kata Mike setelah melihat Zac. "Aku yang mendapatkan tas ini. Ini semua untukku. Kau tidak akan mendapatkan apa-apa, pecundang. Kau tidak akan mendapatkan milikku." Suara Mike seperti orang gila yang kecanduan sesuatu.
Zac tidak memedulikannya. Ia sudah pernah mendapat banyak uang. Pertarungan demi pertarungan berdarah yang dilewatinya memberi lebih banyak uang dari yang bisa dihasilkan seorang broker Wall Street. Tapi, tidak ada kebahagiaan yang dihasilkan dari uang itu. Semakin banyak pertarungan, semakin banyak uang, semakin ia merasa hampa. Di dalam dirinya ada rasa sakit yang tidak bisa ditutupi dengan perban. Ia tidak bisa mendapatkan lagi orang-orang yang dicintainya dengan uang itu. Ia tidak punya siapa pun untuk berbagi kekayaan.
Setelah melewati Mike yabg terus menyerocos tentang pembagian uang, Zac mengikuti petunjuk Lana. Ia mengambil microwave dan bahan lain di dapur. Ia tidak mengerti banyak tentang instalasi listrik. Pengalamannya dengan listrik sebatas menghancurkan gardu listrik besar saat mabuk bersama teman-temannya. Ia bingung harus menarik lepas kabelnya atau hanya microwave saja?
Berdiri lama di depan microwave tidak membuahkan hasil. Zac masih kebingungan. Ia kecewa dengan diri sendiri yang tidak bisa bergerak cepat. Akhirnya dia memutuskan menarik menghancurkan dinding dan menarik kabel yang tertanam di dalam dinding itu. Ia bersyukur mereka membeli perabotan dari besi yang berat.
"Ini tidak akan berhasil, Lana. Mereka akan menghancurkan kita karena ini," katanya pelan pada diri sendiri sambil menghancurkan tembok. Kabel hitam dan putih terlihat. Zac meyakinkan diri sendiri kalau itu adalah harapan. Paling tidak, dia tidak diam saja saat Lana mempertahankan hidupnya.
"Apa yang kau lakukan?" Mike berdiri di dekatnya. "Apa tidak cukup dua gadis itu membuat genangan darah baru? Ayolah! Rumah ini sudah mirip rumah jagal, Man!"
Zac diam saja, tetap meneruskan usahanya membongkar microwave. Jika harus berkomunikasi dengan lelaki itu, pasti dia tidak akan bisa menahan kepalan tangannya.
"t***l! Letakkan benda itu. Gadis-gadis membutuhkannya untuk memasak. Apa yang akan kita makan?"
Zac memecahkan bagian terakhir. Kabel sudah terlihat semua. Dia menarik kabel dari ikatan.
"KUBILANG BERHENTI!"
Zac menangkap kerah laki-laki itu, lalu membantingnya ke lantai. Dengan kuat dia menindih laki-laki iu dengan lutut.
"Kalau bukan karena Lana, aku sudah memecahkan kepalamu sejak awal," desis Zac yang dengan yakin sudah membuat lelaki itu ketakutan.
Dia kembali pada tugasnya, mengambil microwave berat. Dia menggulung kabel dan mengangkat microwave besar itu. Setelah merasakan bobot benda itu, Zac jadi percaya rencana Lana dan Silvia bisa jadi benar. Gadis-gadis itu akan menyelamatkan mereka.
Zac menggendong benda itu ke kamar, tepat pada titik yang digambar Silvia. Ia sudah menghapal semua rencananya. Adrenalinnya meningkat seiring bertambahnya semangat untuk mengerjakan tugas ini. Ia sampai lupa kalau lelaki itu sangat licik. Lelaki yang kini menarik pisau dari meja dapur itu menyimpan dendam yang membujuknya untuk mengotori tangan dengan darah.